Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 60


__ADS_3

Ada apa Fian


Arin rebahan di tempat tidur. Dia hanya ingin mengistirahatkan tubuhnya. Dia tidak ingin benar-benar tidur. Dia masih memikirkan ucapan ayah. Seperti ada sesuatu yang terjadi di masa lalu. Kejadian yang mungkin sangat berpengaruh pada kehidupan ayah. Arin sebenarnya ingin tanya apa yang sebenarnya terjadi. Namun melihat sikap ayah, dia harus bisa mencari waktu yang tepat. Ayah masih terlihat terpukul saat tadi diingatkan sama Tante Mia. Semoga keadaan ayah segera membaik. Semoga ayah baik-baik saja.


Arin tidak bisa tenang. Berkali-kali dia ganti posisi. Dia merasa tidak nyaman dengan posisi tidurnya. Mungkin karena kasurnya tidak empuk seperti kasur di rumah sakit. Akhirnya Arin bangun. Dia memilih duduk selonjoran bersandar pada dinding.


Arin membuka ponselnya. Sudah hampir seminggu dia tidak membuka ponselnya. Ada banyak panggilan tak terjawab. Banyak sms dan pesan singkat dari wa juga. Semua teman- teman mencarinya. Dia ingat belum memberi kabar pada atasannya di tempat kerjanya. Dia juga belum memberi kabar pada Ocha, dan juga sahabatnya yang lain.


Tapi Arin tak berniat membalas satupun pesan dari teman-temannya itu. Yang dia lihat hanya pesan dari Fian. Pesan Fian malam kejadian sebelum dia tertusuk. Ya malam Minggu yang dia habiskan berbalas pesan dengan Fian. Padahal Fian dari rumahnya. Masih juga dia berkirim pesan.


Arin jadi teringat Fian. Sikap dan ucapan Fian semalam sangatlah aneh. Tidak seperti biasanya. Arin takut terjadi sesuatu pada Fian. Arin takut Fian akan meninggalkannya.


Arin membuka galeri tersimpan banyak memori antara dia dan Fian di sana. Begitu banyak foto tersimpan di sana. Dari yang masih kecil sampai kemarin, seminggu yang lalu, sebelum dia kecelakaan.


Arin berhenti pada satu foto. Foto yang diambil Nando sepuluh hari yang lalu, saat meraka berkumpul di rumah Arin. Fian yang sudah berpakaian rapi. Yang terlihat aneh tidak seperti biasanya. Entah apa maksud Fian datang lebih dahulu dengan pakaian yang tidak seperti biasanya.


Arin ingat, Fian terlihat sangat tampan. Arin tersenyum. Kenangan yang tak akan pernah terlupakan.


"Fian,jika kita harus mengalah karena ketidaksukaan orang tuamu, gue ikhlas. Tapi jangan pernah meninggalkan gue. Kita masih bisa ngobrol seperti dulu secara sembunyi."


Arin menarik nafas dalam.Terasa sesak dan sakit. Kebersamaan mereka selama lima belas tahun ini, dengan beribu kenangan yang tercipta,Tidak mungkin hilang begitu saja. Lama Arin termenung mengingat semua kenangan tentang Fian. Lama kelamaan Arin merasa mengantuk dan tertidur juga. Tidur dengan segala rasa gundah dan tidak menentu dalam hatinya.


🌸🌸🌸


"Fian... Fian... Bangun Nak. Kenapa harus begini?" Mama datang ke kamar Fian dengan secangkir teh panas dan bubur ayam yang baru di beli nya.


"Fian di minum tehnya. Mumpung masih hangat. Biar perutnya terasa hangat."


Mama membujuk Fian. Namun Fian diam saja. Tubuhnya mulai menghangat. Kepalanya terasa sakit. Dia masih menggigil di balik selimut tebal. Tapi sudah tidak pucat dan dingin lagi seperti tadi saat baru keluar dari kamar mandi.


"Nak, kamu kenapa sih. Kenapa bisa seperti itu di kamar mandi? Jangan membuat mama khawatir."


Fian masih diam. Dia sendiri merasa bingung. Sebenarnya tadi dia kenapa. Yang dia ingat,dia masuk kamar mandi dan Menyalakan shower tanpa membuka baju. Tau-tau sudah duduk di lantai kamar mandi dengan rasa dingin yang teramat sangat sampai dia menggigil.


"Ya sudah sekarang kamu tidur Nak. Istirahat ya. Jangan kemana-mana."


Fian tidak bisa menjawab. Dia masih bingung. Tubuhnya masih terbalut selimut tebal sampai batas leher. Yang terlihat hanya kepalanya saja. Mama keluar dari kamar Fian. Andra ikut naik di tempat tidur. Dan rebahan di samping Fian.


"Lo nekad banget sih. Lo sengaja mau bunuh diri. Pikiran lo pendek amat."


Fian merasa tersinggung, tapi dia tidak ingin menjawab. Kepalanya terasa sakit. Badannya juga. Fian merasa suhu tubuhnya mulai naik. Wajah Fian terlihat memerah. Andra melihat hal itu. Andra memegang kening Fian.


"Panas, lo demam ya. Ada-ada saja sih. Makanya kalau mandi jangan lama- lama."


Andra bangun dan keluar kamar. Namun hanya sebentar. Masuk lagi sambil membawa baskom dan lap buat mengompres Fian.


"Kan lo jadi sakit. Kita tidak jadi liburan dong."


Fian menoleh ke arah Andra minta penjelasan.


"Kenapa? Bingung ya. Memang mama ga bilang sama lo kalau kita mau liburan?"


Fian menggeleng. Dia ingat kemarin malam mama cuma bilang supaya menyiapkan pakaian. Fian ingat, apa kata mama kemarin malam. Mama bilang kalau Fian harus bersiap untuk meninggalkan kota ini.Fian harus menyiapkan baju yang agak banyak karena dia mau dipindahkan ke kota lain.


Fian berpikir mama mau memisahkan dia dengan Arin. Makanya Fian minta syarat sama mama untuk diijinkan menunggu Arin semalam. Tapi kenapa Andra bilang mau liburan. Yang benar yang mana. Fian tidak mengerti.


Badan Fian semakin panas. Kepalanya juga semakin terasa sakit. Dia tidak tau apa yang terjadi tadi. Dia tidak bisa mengingat apapun. Tiba-tiba dia sudah merasa kedinginan di lantai kamar mandi.


"Fian, minum tehnya dulu. Biar hangat perutnya."


Dengan telaten Andra mengompres kepala Fian. Dia juga menyuapi Fian teh hangat dan juga bubur yang di bawa mama tadi.


"Di habiskan buburnya. Cepet sembuh. Biar kita bisa liburan ke luar kota. Kamu sih pakai acara berendem segala. Mana pakai air dingin lagi. lo jadi sakit kan."


Andra mengomeli Fian. Tapi masih sambil menyuapi juga. Dari tadi Andra selalu bilang mau liburan. Fian hanya diam saja. Karena Fian tidak tahu apa yang sebenarnya direncanakan kedua orang tuanya. Fian menurut saja semua yang mama bilang semalam. Fian tidak ingin membantah . Dia tidak ingin jadi anak durhaka.


"Sudah bang, gue pengen muntah."


"Ya udah ini minum dulu teh nya. Terus minum obatnya. Jangan sakit. Gue denger Arin pulang hari ini ."


"Iya bang, tadi bareng gue pulang dia juga pulang."


"Bagaimana lukanya."


"Luka di perut sudah mengering. Tinggal pemulihan."

__ADS_1


"Terus dia trauma ga seperti dulu."


"Hampir. Dia kan sudah ga mau bangun juga kan bang, Tapi Alhamdulillah dia udah mendingan. Udah bersemangat lagi untuk menjalani kehidupannya."


"Syukurlah. Semoga ini kejadian tidak enak yang terakhir buat Arin."


"Semoga bang.Kata dokter kalau Arin mengalami kejadian serupa sekali lagi mungkin dia akan jadi trauma berat yang susah disembuhkan."


"Semoga. Kita hanya bisa membantu doa. Kita tidak bisa setiap saat berada di sampingnya. Semoga Allah selalu melindungi Arin di manapun berada."


"Amiin."


Fian memejamkan mata. Obat yang dia minum mulai bereaksi. Dia mulai merasa mengantuk dan akhirnya Fian tertidur juga.


Andra membenahi semua peralatan makan yang dipakai Fian. Juga baskom dan lap. semua dia bawa ke dapur.


Andra melihat kedua orang tuanya sedang duduk bercengkrama di ruang keluarga. Andra mendekati mereka.


"Pa, Ma. Sebenarnya apa yang kalian rencanakan pada Fian. Benarkah kita pergi kali ini hanya untuk liburan."


"Andra, kamu mikir apa sih. Ya memang murni mau liburan. Lama kita ga pergi berlibur kan?"


Mama menjawab pertanyaan yang Andra ucapkan. Andra memandang kedua orang tuanya secara bergantian. Andra hanya ingin tahu apa ada sesuatu yang mereka sembunyikan atau tidak.


"Andra, maksud kamu apa. Memang benar kita mau liburan. Sudah lama kita tidak jalan-jalan. Mumpung papa bisa mengajukan cuti." tambah papa.


"Sekarang Fian sakit. Apa kita jadi berangkat."


"Pasti jadi. Sesuai rencana nanti sore kita berangkat."


"Kalau keadaan Fian belum membaik apa kita tetep akan berangkat." Andra merasa keberatan dengan jawaban yang papa berikan.


"Apapun keadaan Fian kita akan tetap berangkat. Toh kita akan membawa kendaraan sendiri." Jawab papa tegas.


Papa berpikir , semuanya tidak boleh ditunda. Semua yang telah dia rencanakan dengan matang tidak boleh gagal.


Andra memandang papanya. Andra tau papa dan mamanya menyembunyikan sesuatu. Ada yang mereka rencanakan entah buat dia atau buat Fian.


"Pa, Ma.Ada apa sebenarnya."


"Iya pa."


Andra kembali ke kamarnya. Dia masih merasa curiga dengan sikap papa dan mamanya. Dia yakin mama papanya mempunyai rencana besar yang mereka sembunyikan. Apalagi semalam dia mendengar mamanya mengijinkan Fian untuk menunggu Arin di rumah sakit, bahkan mengijinkan Fian untuk menginap juga.


Selama ini kan kedua orang tuanya sangat membenci Arin. Mana mungkin dia memberi ijin pada Fian. Tanpa ada maksud di dalamnya. Andra merebahkan tubuhnya di ranjang. Dia malas berbenah. Dia tidak bersemangat untuk pergi liburan. Apalagi melihat keadaan Fian yang sedang sakit. Tiba-tiba Andra mendengar suara Fian berteriak. Andra langsung berlari ke kamar Fian.


"Fian ada apa."


Di lihatnya Fian sudah dalam keadaan duduk. Keringat membasahi seluruh muka dan juga tubuhnya. Andra mendekati Fian.


"Kenapa Fian. Kamu bermimpi."


Fian memandang Andra. Andra mendekat dan meraba tubuh Fian.


"Astaga,badan lo panas banget."


Fian hanya diam. Dia seperti kebingungan. Dia tadi bermimpi. Mimpi yang membuatnya berteriak sangat kencang. Mata Fian berkaca- kaca. Mukanya merah. Mungkin karena suhu tubuhnya yang sangat tinggi.


Andra dengan tergesa keluar dari kamar Fian. Dia menuju dapur untuk mengambil baskom dan kain lap tadi yang dia pakai untuk mengompres Fian. Di tengah jalan Andra bertemu mama.


"Ada apa Dra, kok kamu buru-buru."


"Badan Fian panas banget ma."


"Yang bener, bukannya tadi sudah turun."


"Iya tadi udah. Fian tadi juga sudah tidur.Kayaknya dia bermimpi buruk deh ma. Sekarang suhu tubuhnya naik lagi."


Mama dan Andra bergegas menuju kamar Fian. Fian masih dalam posisi duduk.


"Sayang, kok jadi parah begini sih. Kamu kenapa. Suhu tubuh kamu panas banget."


"Apa sebaiknya kita bawa saja Fian ke rumah sakit ma. Suhu tubuhnya sangat tinggi. Andra takut terjadi sesuatu pada Fian ma."


"Kita kompres dulu. Kita lihat perkembangannya. Kalau dua jam lagi masih seperti ini. Kita bawa ke rumah sakit."

__ADS_1


"Kenapa tidak sekarang saja sih ma."


"Denger ucapan mama. Dua jam lagi."


"Iya deh ma."


"Kamu kompres adik kamu dulu. Lalu beri dia obat penurun panas. Mama mau ke kamar dulu."


"Iya ma."


Andra tidak bisa membantah lagi. Andra mengompres kepala Fian lagi. Andra merasa kasian melihat Fian. Fian tidak pernah sakit. Daya tahan tubuhnya kuat. Tapi kali ini dia terlihat tergolek lemah. Tidak berdaya.


"Fian,apa yang lo rasakan sebenarnya."


Fian diam saja. Dia memejamkan mata. Badannya terasa ngilu. Kepalanya sakit. Sebenarnya dia sudah merasa badannya tidak enak dari kemarin. Namun tidak dia rasakan. Dan mungkin sekarang saatnya semua penyakitnya muncul.


"Fian ayo ngomong. Jangan diam saja. Gue bingung. Lo minum obat lagi ya."


"Iya bang."


Fian mengangguk. Dia meminum obat yang disediakan oleh Andra. Dari dulu kalau dia sakit selalu Andra yang mengurusinya. Mamanya tidak pernah menungguinya. Paling hanya menengok sebentar. Fian tidak mengerti kenapa mama selalu bersikap seperti itu padanya.


Lain kalau Andra yang sakit. Mamanya akan dua puluh empat jam menemani nya. Kadang Fian berpikir dia anak kandungnya apa bukan. Tapi selama ini Fian tidak pernah mempermasalahkan itu semua. Dia selalu menikmati apa yang ada. Tak ingin mengeluh karena akan menjadi lebih berat menjalani nya.


"Bang."


"Iya kenapa?"


"Gue mau tidur."


"Tidurlah. Abang temani."


"Abang tidak capek mengurus Fian dari tadi."


"Tidaklah. Lo saudara gue satu- satunya. Masa mengurus saudara sendiri, merasa capek."


"Terima kasih ya bang."


"Tidak usah berterima kasih. Ini adalah bentuk sayang gue ke lo. Tidak usah ngomong yang aneh-aneh."


" Cuma bilang terima kasih kok aneh. Yang ada abang yang aneh."


" Iya Fian. Cepet sembuh. Jangan sakit gue yang repot."


"Iya bang."


Andra membetulkan selimut yang dipakai Fian. Fian sudah memejamkan mata. Entah sudah tidur atau belum.


"Gue ke kamar gue dulu ya. Kalau ada apa-apa, teriak aja. Panggil gue aja. Seperti biasanya."


"Iya bang."


Fian menjawab sambil memejamkan mata. Dia merasa mengantuk.Tapi kali ini dia tidak bisa tidur. Ada yang sedang di pikirkan nya. Mimpi yang dia alami tadi sangat menggangunya. Apa ini firasat.


Fian hanya memejamkan mata. Dia hanya bisa pasrah. Semalam dia sudah menyetujui semua keinginan mama. Dia tidak akan mundur. Dia tidak ingin mengecewakan orang tuanya. Dia sudah berjanji sama mamanya. Dan dia harus menepatinya. Walaupun sebenarnya dia tidak tahu apa rencana kedua orang tuanya. Dia hanya mengikuti alur yang akan terjadi dalam kehidupannya.


Bukan Fian menyerah, Namun hanya ingin mengulur waktu agar bisa mengetahui kejadian apa yang ada dibalik sikap kedua orang tuanya.


Lama kelamaan Fian tertidur juga. Obatnya sudah bekerja. Ini lebih baik buat kesembuhan Fian. Dia bisa istirahat dengan baik kalau dia bisa tidur.


Entah kehidupan seperti apa yang akan temui Fian di depan sana. Fian sudah siap. Seandainya harus berpisah dengan Arin pun dia juga sudah siap. Dia tahu cinta tidak harus memiliki. Membahagiakan orang tua mungkin lebih penting.


Hidupnya milik kedua orang tuanya. Itulah prinsip Fian. Bukan dia menyerah pada keadaan. Bukan dia tidak ingin berusaha. Yang Fian tahu apapun yang kita lakukan jika dalam ridho orang tua semua akan mendapatkan juga ridho Allah.


Fian hanya ingin membahagiakan kedua orangtuanya. Bukan dia mengabaikan kebahagiaannya sendiri. Namun Fian selalu berpikir. Mumpung orang tuanya masih hidup dia ingin membuat mereka selalu tersenyum.


Jika memang Arin adalah jodohnya dia pasti akan dipersatukan dengan jalan yang tidak disangka-sangka. Dan jika Arin bukan jodohnya, sedekat apapun dia dengan Arin, pasti ada sesuatu yang akan memisahkan mereka.


Fian tidur dalam damai. Pikirannya sudah tenang saat dia berpikir yang baik- baik. Jika nanti dia terbangun, dia ingin bangun tetap dengan senyum keikhlasan untuk kedua orang tuanya.


Papa Mama, Fian ikhlas apapun yang menjadi rencana kalian. semoga ini jalan terbaik buat Fian. Apa kira-kira rencana kedua orang tua Fian. Semoga rencana yang indah buat kehidupan Fian.


Bersambung


Jangan lupa tinggalkan like dan komen

__ADS_1


Terima kasih ❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2