Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 70


__ADS_3

Langkah Baru


Seminggu telah berlalu. Luka Arin sudah kering dan dia sudah mulai bisa beraktivitas seperti sebelumnya. Arin juga sudah masuk kerja. Dan sorenya dia juga sudah bisa kuliah.


Demikian juga dengan Fian. Dia juga sudah sembuh. Sudah bisa kuliah lagi. Fian sudah siap menjalani kehidupan barunya. Dia akan melangkah dengan pasti menuju cita-citanya.


Sebentar lagi ujian semesteran . Fian harus mempersiapkan itu semua. Dia ingin mempertahankan bea siswa yang dia dapat selama ini. Mengingat semua perlakuan orang tuanya, Fian selalu bertekad untuk bisa mandiri. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak merepotkan kedua orang tuanya.


Walaupun orang tuanya juga masih menanggung semua biaya pendidikan dan uang jajannya. Namun semua uang yang orang tuanya berikan dia simpan di tabungan dia tanpa berkurang sedikitpun. Selama ini Fian bekerja tanpa sepengetahuan mama papanya. Fian pintar dan dia memanfaatkan kepandaiannya untuk bekerja paruh waktu. Tanpa sepengetahuan siapapun Bahkan Nando pun juga tidak tau. Fian sengaja menyembunyikan Semuanya demi kebaikan semua.


Memang dulu Fian tak sepandai sekarang. Namun sejak kejadian Arin yang sempat sakit sampai enam bulan itu, dia mulai berpikir. Selama itu dia selalu tergantung pada Arin. Dan pada saat Arin sakit, nilai akademis nya sempet turun dan saat itulah pikiran Fian mulai terbuka, Fian berjanji untuk tidak tergantung pada Arin. Dia mulai berusaha keras untuk belajar. Entah dari buku ataupun dari internet. Dan memang benar sekarang ada hasilnya. Bahkan kedua orangtuanya tidak mengetahui itu semua. Tidak tau kalau Fian sekarang bisa diandalkan. Tidak tau kalau Fian kuliah dengan mendapatkan beasiswa.


"Ma.. Fian berangkat dulu ya."


"Iya Fian. Pulang kuliah langsung pulang ya. Ujian semesteran apa sudah selesai."


"Belum, kurang tiga hari lagi Ma."


"Ok deh. Belajar yang rajin ya. Biar apa yang kamu cita-citakan tercapai."


"Iya ma, Amin terima kasih Ma.Fian berangkat dulu."


Fian mencium tangan Mama dengan takzim. Perasaannya selalu terasa hangat jika melihat perhatian mama yang seperti ini. Namun di lain waktu mama akan terlihat begitu tega kepadanya. Namun bagaimanapun sikap mama dia tidak pernah sedikitpun membenci mamanya.


Fian melajukan motornya dengan perlahan.Dia tidak ingin buru-buru. Waktunya masih banyak. Kali ini sengaja dia tidak berangkat bareng Nando karena Fian mau mampir dulu ke perusahaan tempat dia bekerja.Dia menerima jasa membuat laporan keuangan buat perusahaan-perusahaan kecil yang butuh jasanya. Gajinya lumayan cukup untuk membayar kuliah dan juga buat jajan dia selama sebulan. Karena memang yang dia pegang tidak hanya satu perusahaan tapi ada beberapa perusahaan yang mempercayainya.


Pekerjaannya ini dulu di dapat tidak dengan sengaja. Suatu hari saat dia belanja di sebuah toko, toko tersebut mengalami masalah keuangan dan pada saat itu Fian datang dan bisa mengetahui kecurangan yang dilakukan karyawan toko tersebut. Sehingga sampai sekarang pemilik toko masih menggunakan jasa Fian tersebut. Dan juga sangat percaya pada Fian. Dan Fian baru tahu kalau ternyata toko tersebut mempunyai tiga cabang.


Dan pemilik toko tersebut sangat baik. Dia merekomendasikan Fian kepada teman-temannya. Jadilah Fian seperti sekarang. Mendapatkan tawaran juga dari teman-teman pemilik toko. Pekerjaan itu sudah dia jalani selama dua tahun ini.


"Akhirnya sampai juga. Semoga pak Adam sudah datang."


Fian menghentikan motornya di sebuah toko kelontong yang terlihat begitu rame walaupun masih pagi. Banyak pembeli sedang mengantri di kasir. Padahal waktu masih menunjukkan pukul Sembilan pagi. Tapi toko telah rame. Karena memang disini lebih murah dan pelayanannya memuaskan.


"Santi, apa pak Adam sudah datang?" Fian bertanya kepada Santi salah satu karyawan yang bekerja di toko.


"Belum mas, mungkin masih dalam perjalanan. Silahkan tunggu di dalam seperti biasanya saja." Jawab Santi. Dia sedang melayani pembeli yang sedikit cerewet. Nanya ini dan itu. Tapi sebagai karyawan kita harus melayani pembeli dengan ramah dan sopan.


"Ok San, Gue masuk ya. Di dalam ada siapa?"


"Biasa mas, ada mbak ika dan Mas Haikal."


"Ok deh. Kesana dulu ya."


Fian berjalan menuju ruangan kantor dari toko tersebut. Dia memang sudah terbiasa keluar masuk dengan bebas. Fian sudah mengenal beberapa karyawan yang bekerja di toko tersebut. Pemilik toko yaitu pak Adam sudah sangat percaya sama Fian.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam. Eh Fian masuk sini. Sudah ditanyain sama Bapak kemarin." Haikal yang sedang sibuk mengetik laporan menghentikan pekerjaannya dan menyambut kedatangan Fian. " Silahkan duduk dulu . Sebentar lagi Bos datang. Mungkin macet."


"Iya mas. Lanjutkan saja pekerjaan Mas Haikal. Biar saya menunggu di situ."


"Iya Fian. Maaf ya tidak bisa menemani. Maklum akhir tahun. Pekerjaan sedang banyak-banyaknya."


"Iya mas. Silahkan."


Fian duduk di kursi yang sudah disediakan buat para tamu. Dia duduk sambil melihat-lihat ruangan yang yang terlihat sepi. Memang biasanya cuma ada lima orang dalam ruangan ini. Termasuk pemiliknya yaitu Pak Adam. Ini ruangan khusus buat orang- orang kepercayaan pak Adam. Sedangkan karyawan yang lain disediakan ruangan tersendiri.

__ADS_1


"Ini Mas Fian minumnya."


Fian terkejut tiba-tiba Santi sudah datang dengan sebotol minuman mineral. Dia sedang fokus melihat- lihat ruangan yang terlihat berbeda.


"Makasih San."


"Cie... cie.. yang gercep."


"Uhuukk.."


Haikal dan Ika menggoda Santi. Mereka berdua tahu kalau Santi menyukai Fian. Dan Santi pasti akan menarik perhatian Fian jika Fian berkunjung ke toko.


"Apa sih kalian. Kan Mas Fian tamu. Dan tamu harus di jamu kan. Jangan berlebihan deh." Santi terlihat santai. Karena yang dia lakukan masih dalam batas kewajaran.


"Diminum mas Fian. Sebentar lagi Bapak datang tadi aku udah kasih kabar ke bapak kalau Mas Fian sudah datang." Ucapnya lagi sambil memandang Fian.


Fian hanya mengangguk. Dia terlihat tidak terpengaruh dengan candaan Ika dan juga Haikal Fian sudah terbiasa. Pasti setiap datang selalu diperlakukan sedemikian rupa oleh Santi.


Santi adalah keponakan pak Adam. Umurnya sepantaran dengan Fian yaitu dua puluh tahun. Santi adalah anak dari adik pak Adam. Dia datang ke Jakarta atas himbauan Adam . Karena menurut Adam Santi bisa bekerja di tokonya dan bisa sambil melanjutkannya pendidikannya.


Santi duduk di mejanya. Dia baru saja mengecek persediaan barang yang di jual di toko tersebut. Dia sangat teliti dan cepat belajar. Maka dari itu Adam percaya pada Santi. Bukan karena Santi adalah saudara Tapi karena kemampuan Santi tidak diragukan lagi.


"Aku sambil bekerja ya Mas Fian. Tinggu bentar lagi bos pasti datang."


Santi sudah mulai serius bekerja. Dia harus profesional. Ini saatnya kerja. Tidak boleh main-main.


"Assalamu'alaikum."


Pintu terbuka. Adam memasuki ruangan. Walaupun sudah berumur tapi dia masih terlihat gagah.


"Wa'alaikumsalam.. selamat pagi Pak."


"Selamat pagi juga. Eh Fian sudah datang. Mari ke ruangan saya."


Fian mengangguk. Dia mengikuti langkah Adam yang berjalan menuju ke dalam ruangan pribadinya.


"Silahkan duduk dulu Fian. Apa sudah disediakan minuman."


"Terima kasih Pak.. sudah ini. Seperti biasa Santi yang telah melayani saya."


"Baguslah. Kita duduk di sofa saja ya. Biar lebih nyaman berbincangnya."


"Baik Pak.. Mari."


Fian duduk di depan Adam. Fian memandang sekilas wajah Adam. Tiba-tiba dia teringat seseorang. Wajah Adam mirip dengan seseorang. Atau wajah seseorang mirip Adam. Tapi siapa ya. Fian masih berusaha mengingat. Dia mengetuk-ngetuk jarinya di meja.


"Ada apa Fian. Apa ada masalah.?"


"Eh .. maaf Pak.. Tidak..Tidak."


"Kenapa malah melamun."


"Tidak Pak. maaf sekali lagi."


Adam tersenyum. Adam jadi teringat seseorang. Kebiasaan Fian sama persis dengan sahabatnya. Namun entah dimana sahabatnya itu. Adam menarik nafas panjang.


"Tidak apa-apa Fian. Mana laporan bulan ini."

__ADS_1


"Oh ya.. Ini pak."


Fian membuka tasnya dan menyerahkan sebuah map kepada Adam.


"Ini saya periksa dulu ya. Tunggu sebentar ya."


Adam membuka map tersebut. Dan memeriksa isinya. Dia membaca sekilas laporan yang ditulis Fian. Sangat rapi.


"Ini sudah saya simpan dalam flashdisk."


Fian menyerahkan Flashdisk yang dia pegang pada Adam. Adam menimang flashdisk tersebut sebentar. Kemudian menyimpannya.


"Fian. Ini akan saya periksa nanti. Terima kasih telah membantu saya."


"Sama-sama pak. Saya merasa sangat terhormat dan berterima kasih telah dipercaya untuk membantu bapak."


"Fian tunggu sebentar.Ada yang mau saya tanyakan."


"Iya pak. Silahkan."


Adam berpikir sebentar. Dia menarik nafas panjang. Ada sedikit rasa sesak di dada. Dia teringat ketiga sahabatnya yang menghilang begitu saja. Adam menggelengkan kepala.


"Maaf Fian. Nanti saja. Kamu boleh pulang."


Fian merasa bingung. Ada apa dengan Bos nya itu .Namun Fian tidak ingin bertanya. Fian tidak ingin menyinggung perasaan Adam.


"Baiklah. Kalau begitu saya mohon ijin untuk undur diri dulu."


"Iya Fian. Gaji kamu bulan ini akan segera saya transfer."


"Terima kasih pak. Saya permisi. Assalamu'alaikum."


"Wa"alaikumsalam. Hati-hati Nak Fian."


"Terima kasih pak."


Fian pergi meninggalkan ruangan Adam. Dia harus segera ke kampus. Mata kuliah akan segera di mulai. Dia tidak ingin terlambat. Masih ada waktu tiga puluh menit. Untung jarak kampus dan toko tidak begitu jauh.


Sepeninggal Fian, Adam masih saja termenung. Dia teringat sahabatnya yang mempunyai kebiasaan seperti Fian. Dia masih mengingat dengan baik semua kejadian dua puluh tahun lalu. Dia masih mengingat kenangan yang paling pahit dalam hidupnya.


"Di mana kalian. Aku merindukan kalian. Merindukan semua perjuangan yang telah kita lakukan bersama. Kapan kita bisa berjumpa lagi."


Adam memijit pelipisnya yang tiba-tiba terasa nyeri. Bayangan kejadian dua puluh tahun yang lalu berkelebat di ingatannya. Ada rasa sedih yang hadir begitu saja. Kesedihan dan rasa kehilangan yang telah lama dia simpan rapat, Muncul lagi. Adam mengusap mukanya dengan kasar. Dia sugar rambutnya yang sebagian sudah memutih.


Adam bangun dari duduknya dan menuju pintu. Dia melongokkan kepala.


"Santi.. Tolong buatkan saya teh panas ya dan bawa ke ruangan saya sekarang."


"Baik pak."


"Oh ya.. Nanti taruh saja diatas meja. "


"Baik pak."


Adam kembali masuk ke dalam ruangannya. Dia kembali termenung. Ada beban yang sedang dia tanggung. Ada sedikit resah yang menggangu pikiran nya. Ada gundah yang tiba-tiba mengganggu hatinya.


Apa yang kira-kira membuat Adam merasa demikian. Kejadian apa sebenarnya terjadi.

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa tinggalkan like dan koment Terima kasih ❤️❤️❤️❤️


__ADS_2