
"Ramaaaaaaa....."
Arin berteriak kencang karena Rama yang tiba-tiba datang membuatnya terkejut.
"Hahahaha...."
Ternyata Rama yang menggangu mereka. Arin merasa malu ketauan sang adik. Fian bersikap biasa aja. Rama hanya melintas. Dia dari luar mau masuk ke rumah dan melihat Arin dan Fian sedang saling berpandangan. Sebenarnya dia sudah dari tadi melihat itu semua. Sebenarnya dia ingin membiarkan saja. Namun Rama melihat sang Ayah juga akan masuk ke dalam rumah. Dia hanya ingin menyelamatkan sang kakak.
"Dari mana Ram." Tanya Fian sebelum Rama masuk rumah.
"Dari rumah teman bang. Kerja kelompok. Kan sebentar lagi ujian semesteran."
" Oh iya... Sekolah yang rajin."
"Tentu dong bang.. Gue masuk dulu bang. Haus. Kak lihat ke belakang."
Arin menoleh ke arah Rama menunjuk. Dia melihat ayah. Arin jadi mengerti maksud Rama tadi mengganggunya.
"Makasih ya Ram.."
Rama mengangguk dan berlalu masuk rumah. Mereka berdua duduk di bawah pohon jambu. Karena sudah siang Arin dan Fian memutuskan pergi setelah sholat duhur. Biar tenang. Karena sudah melaksanakan kewajiban dulu.
Ayah memasuki rumah tak lama setelah Rama masuk. Fian mengangguk ke arah Ayah. Dan Ayah membalas dengan anggukan juga.
"Untung.. untung.. slamet gue."
"Kenapa sih.. Takut ketauan ayah ya. Takut ketauan kalau lo lagi terpesona sama gue."
"Dih apaan dah. Kepedean deh. Bukannya lo yang terpesona sama gue."
"Hahaha.. lo kok tau sih Arin."
Fian memandang Arin. Dia mengambil anak rambut yang menutupi dahi Arin dan menyelipkannya di telinga. Wajah Arin jadi memerah.
"Dih mukanya merah. Hahaha.."
"Fiaan .. apaan sih."
Arin semakin malu. Fian malah tertawa senang. Dia senang bisa membuat Arin jadi salah tingkah. Fian bahagia bisa membuat pipi Arin menjadi kemerahan seperti buah jambu. Ingin sekali Fian mencium pipi itu. Tapi itu tidak mungkin. Mereka berdua ada di halaman. Kalau ada yang melihat bakal jadi gosip di kampung mereka. Fian tidak ingin membuat nama Arin tercemar lagi.
Adzan Dzuhur terdengar berkumandang.
"Ayo Fian kita sholat dulu. "
"Gue di mushola aja ya. Nanti kita ketemu di gang depan sana aja ya."
"Oke deh.. Sip."
Fian pergi ke mushola untuk melaksanakan sholat dhuhur. Sedangkan Arin sholat di rumah. Setelah itu mereka akan pergi berdua menikmati hari minggu yang cerah.
Arin hanya memperbaiki sedikit riasannya yang telah hilang terkena air wudhu. Menambah bedak tipis-tipis dan memoles lipstik di bibir mungilnya. Itu saja sudah membuatnya sangat cantik.
Arin berangkat setelah semua rapi. Dia sudah memeriksa isi tasnya. Jangan sampai dia lupa membawa uang tentunya. Bisa repot nanti.
Arin berjalan pelan menuju pertigaan tempat dimana dia janji bertemu Fian. Ternyata Fian sudah menunggu di sana. Sudah siap di atas motornya.
"Ayo naik.." Ucap Fian . Dia serahkan helm yang sudah dia siapkan.
"Kita mau kemana.." Jawab Arin. Dia menerima helm tersebut dan memakainya sambil naik duduk di belakang Fian.
"Ikut saja.."
Fian menjalankan motornya perlahan. Dia sengaja ingin mengulur waktu agar bisa lebih lama bersama Arin. Fian menjalankan motornya ke arah mall. Rencananya dia akan mengajak Arin menonton Film.
Setelah berjalan sekitar lima belas menit, Berhentilah Fian di sebuah mall.
"Eh .. kok ke mall." Arin terkejut. Sebenarnya Arin paling malas ke mall. Dia tidak suka keramaian. Arin lebih suka di alam bebas.
"Kita nonton ya. Ada Film bagus." Ucap Fian. Dia membantu Arin melepas helm yang Arin pakai.
"Kenapa tidak ngomong. Kan mending nongkrong di taman kota. Lebih enak ngobrolnya."
"Nanti sepulang kita nonton ya. Kita ke taman. Ok sayank."
"Dih mulai aneh-aneh deh."
"Aneh bagaimana sih. Tidak boleh ya manggil sayang."
Arin semakin salah tingkah. Untung dia sudah duduk di boncengan. Fian memandang Arin dari kaca spion. Fian tersenyum. Tapi Arin tidak menyadarinya.
"Ayo jalan. Nanti terlambat lagi."
Arin menepuk pundak Fian pelan. Fian menjalankan motornya dengan perlahan. Dia tidak ingin buru-buru. Fian ingin memanfaatkan waktu yang tersisa. Dia ingin lebih lama lagi bisa berduaan bersama Arin. Tapi karena jaraknya yang sangat dekat. Akhirnya mereka tiba juga di mall yang ada gedung bioskopnya.
Setelah memarkirkan motornya, mereka berdua menuju gedung bioskop. Tidak sadar Fian telah menggandeng tangan Arin. Dan Arin pun hanya di saja.
"Eh.. " Arin pura-pura terkejut. Sebenarnya dia juga menginginkannya. Sebagai seorang yang menyukai pasti mengharapkan hal yang sederhana tersebut.
" Kenapa.. Tidak bolehkah?" Fian menoleh. Dia memandang Arin yang pipinya terlihat memerah.
" Malu dilihat banyak orang. Itu lihat."
__ADS_1
Arin berusaha menarik tangannya yang digenggam Fian.
"Tidak apa-apa. Lihat tuh. Banyak juga yang bergandengan tangan. Tidak perlu malu."
Fian masih saja menggenggam tangan Arin. Akhirnya Arin menyerah. Dia mulai menikmati apa yang Fian lakukan. Walaupun hatinya terasa berdebar lebih cepat. Dia berjalan sambil menundukkan muka. Arin tidak biasa seperti ini. Dan Fian tau itu. Fian memperhatikan segala tingkah Arin.
"Berjalan saja seperti biasa. Tidak usah memperhatikan orang lain. Ok.. anggap saja dunia ini isinya cuma kita. Hehehe...."
Arin mencubit Fian dengan satu tangan yang lepas. Fian mengaduh kesakitan. Namun dia tertawa juga. Senang sekali Fian menggoda Arin.
"Ikh .. lo ya. Mencari kesempatan ya.."
"Hahaha... "
Fian masih saja tertawa. Dia tidak perduli. Sudah biasa anak muda bergandengan tangan.
"Lo tunggu di sini ya. Gue beli tiket dulu ya. Lo mau nonton film apa?"
"Film Action ada deh.."
"Film romantis aja ya.. Atau horor aja."
"Terserah lo aja deh.. Percuma nanya kalau lo yang nentuin juga."
" Hahaha...pinter lo. Penurut banget sih."
Fian mengacak rambut Arin. Arin berusaha menghindar. Akhirnya Fian berjalan menuju loket. Ada sedikit antrian. Untung tidak panjang. Cuma sepuluh menit Fian mengantri. Akhirnya dia mendapatkan dua tiket film horor romantis.( Mang ada ya genre film seperti itu. Anggap aja ya . Hihihi.)
Sementara Arin membeli minuman dan cemilan. Biar seperti penonton yang lain. Biasanya mereka akan membawa minuman dan Popcorn saat menonton Film.
"Ayo gue sudah dapat tiket. Kita masuk . Sebentar lagi Filmnya di putar."
Fian menggandeng tangan Arin. Arin hanya menurut saja. Arin merasa hari ini Fian berbeda. Fian lebih agresif tidak seperti hari sebelumnya. Semenjak Arin masuk rumah sakit Fian memang terlihat lebih perhatian. Bukan dulu dia tidak perhatian tapi memang sekarang lebih perhatian lagi. Arin malah merasa takut. Arin takut dia semakin jatuh cinta sama Fian.
Arin berjalan di belakang Fian. Tangan Fian masih tetap menggandeng tangan Arin. Takut terpisah katanya. Arin memandangi Fian dari belakang.
"Fian.. pelan- pelan. Main tarik aja."
"Takut lo ilang. Lo kan suka pecicilan. Disitu tempat duduk kita. Di pojokan."
"Dih.. kenapa milih di pojok sih."
"Kan kita memang mau mojok. Hehehe.."
"Gimana sih. Mau mojok atau nonton film sih sebenernya."
"Yang pasti mau berduaan sama lo. hehe..."
Arin tersipu. Untung suasana gedung bioskop temaram . Fian tidak bisa melihat wajah Arin yang memerah. Arin merasa takut sekali sebenarnya. Arin merasa Fian sedang dengan sengaja menciptakan momen yang indah. Arin merasa Fian sedang ingin menyenangkan dirinya. Tapi perasaan Arin malah tidak enak. Ada rasa takut yang dia tidak tau sebabnya. Ada rasa resah yang menggelayuti jiwa.
Lampu telah padam. Film akan segera diputar. Suasana tampak hening. Tidak ada yang bersuara sama sekali. Musik yang pertama kali terdengar membuat suasana sangat mencekam. Arin masih bisa menahan rasa takut. Dari samping Fian memperhatikan sikap Arin. Dia tersenyum. Dia bahagia bisa berduaan dengan Arin. Namun hanya sesaat rasa itu hadir. Saat berikutnya wajahnya terlihat sendu. Ini kali terakhir Fian melihat Arin. Malam nanti dia harus pergi jauh. Dan entah kapan akan berjumpa lagi.
"Kenapa Fian. Ada apa."
Arin berbisik. Arin heran melihat Fian yang terlihat melamun dan malah memandang dirinya, bukan menonton ke arah layar. Fian masih diam saja. Dia masih berada dalam pikiran kalutnya.
"Fian.. ada apa?"
Arin menggoyang lengan Fian. Dan Fian terkejut.
"Eh.. Ada apa memangnya."
"Lo malah melamun. Itu filmnya sudah mulai."
"Hm.. Eh maaf."
Fian mulai fokus memandang ke arah layar. Walaupun pikirannya tidak ada disana. Pikirannya sedang berkelana menjelajah dunia Arin.
Arin pun demikian. Walaupun matanya fokus memandang layar pikirannya pun tidak disana. Dia sedang berfikir tentang sikap Fian yang sedikit berbeda dan aneh akhir-akhir ini.
Tiba-tiba orang berteriak Arin dan Fian terkejut. Arin jadi ikut berteriak. Dia memeluk Fian dengan ketakutan. Ternyata adegan di layar sedang menampilkan adegan yang sangat mengerikan. Arin semakin erat memeluk Fian. Dia menyembunyikan mukanya di dada Fian.
Fian hanya tersenyum. Inilah yang dia inginkan. Fian sengaja memilih genre film horor agar punya kesempatan memeluk Arin. Dalam keadaaan sadar Arin tidak mungkin mau. Fian merasa tidak punya waktu lagi. Dan inilah kesempatan yang memang dia harapkan. Tidak sengaja namun bisa menciptakan kenangan indah.
"Masih takut. Setannya udah pergi."
"Ikh.. nanti pasti ada lagi. Kenapa sih lo milih filmnya yang seperti ini. Sengaja ya biar gue meluk lo."
"Lo kali yang sengaja ingin meluk gue."
"Dih mana ada. Berpikir pun tidak."
"Masa.. kok ini ga dilepas"
"Eh.. "
Arin melepas pelukannya pada Fian. Dia merasa malu.Tapi tadi dia memang bener-bener takut. Arin menggerutu. Dia merasa Fian sengaja memilih genre horor supaya Arin ketakutan.
"Lo sengaja ya. Kan lo tau gue takut hantu."
"Eh masa. Setau gue lo itu pemberani."
__ADS_1
"Cih.. sengaja kan lo. Ingin mencari kesempatan memeluk gue."
"Kalau iya kenapa."
"Tau akh..."
Fian tertawa pelan. Tentu saja. Dia tidak mau diomelin semua orang yang ada di dalam gedung bioskop.
"Sini peluk gue kalau lo takut.Tidak usah malu. Ga ada yang tau juga."
Fian menarik Arin ke dalam dekapannya. Fian mencium pucuk kepala Arin. Dia merasa sangat bersedih. Fian ingin menangis rasanya. Dadanya terasa sesak. Tapi ini sudah pilihannya. Dia peluk Arin begitu erat seolah tak ingin dilepas. Setetes air mata jatuh di tangan Arin.
Arin terkejut. Dia melihat ke arah Fian.
"Kenapa.. Eh kenapa lo nangis. Ada masalah apa."
"Eh siapa yang menangis. Itu mah iler gue tadi."
"Ga usah bohong. Gue tau kok. Memangnya gue ga bisa bedain."
Fian semakin erat memeluk Arin.
"Hm.. sudah diam saja. Gue pengen seperti ini sebentar. Gue..."
Arin meletakkan telunjuknya di bibir Fian.
"Gue tau.. lakukan saja apa yang pengen lo lakukan."
Fian diam. Tapi pelukannya semakin erat. Dia juga mencium pucuk kepala Arin sangat lama. Matanya terpejam. Mata Fian berkaca-kaca. Rasanya begitu berat melepaskan orang yang disayanginya.
"Makasih Arin.. "
Fian semakin tenggelam dalam perasaanya. Kenapa harus begini nasib cintanya. Tanpa restu orang tua. Fian serasa ingin berteriak sekencang- kencangnya. Ingin melepaskan sesak di dadanya. Dan tiba-tiba seisi bioskop berteriak. Fian menoleh ke arah layar. Dan adegan di film sedang menayangkan hal yang sangat menyeramkan dan menakutkan. Dia ikut berteriak. Fian menghela nafas panjang.
Sedangkan Arin juga larut dalam momen itu. Dia menikmati dekapan Fian yang hangat. Dia tidak ingin melewatkan hal ini. Kapan lagi dia bisa begini. Arin tau ini hal langka. Fian tidak pernah seperti ini. Arin merasakan hal yang janggal dengan tingkah Fian. Tapi Arin tidak ingin bertanya. Dia tidak ingin semua menjadi berat buat Fian.
Tiba-tiba lampu menyala. Semua orang berdiri.
"Eh Fian. Kok terang." Arin melepas dekapan Fian. Dia melihat sekeliling orang-orang sudah mulai berjalan keluar gedung.
"Kan udah selesai filmnya. Tidak usah buru-buru. Kita belakang saja."
"Ok deh."
Mereka berdua masih duduk di tempatnya. Menunggu semua orang keluar. Mereka tidak ingin berdesakan. Tiba-tiba Fian meraup wajah Arin. Dia menyatukan bibirnya pada bibir Arin. Arin tentu saja terkejut. Tapi dia tidak menolak. Dia menikmati apa yang Fian lakukan. Arin membalas pagutan bibir Fian. Arin terbawa suasana.
Namun semua itu tidak lama. Fian melepaskan bibirnya. Fian memandang Arin sendu.
"Terimakasih.."
"Untuk.. "
"Untuk yang ini.."
Fian mengelus bibir Arin sekilas.
"Ayo keluar. Nanti kita diteriaki petugas."
"Eh... "
Arin tersadar. Dia bangkit dari duduknya. Mengikuti Fian yang sudah bangkit duluan. Mereka berjalan beriringan keluar dari gedung bioskop yang sudah benar-benar sepi.
"Kita makan dulu yuk.."
"Makan bakso aja ya.."
"Terserah kamu."
"Di depan Rumah sakit aja ya.."
Arin hanya mengangguk. Dia mengikuti kemana Fian akan membawanya. Arin memeluk erat pinggang Fian. Arin merasa tidak ingin kehilangan Fian.
Mereka berhenti di warung bakso yang ada didepan rumah sakit. Mereka segera masuk dan memesan bakso yang mereka inginkan.
"Kita duduk di pojok saja ya. Mumpung kosong."
Fian mengikuti Arin. Untung masih kosong tempat duduk yang dipojokan. Tak lama pesanan datang. Mereka menikmati bakso yang mereka pesan. Memberi sambal sesuai selera masing- masing tak ada yang mengeluarkan suara.
Sebenarnya Fian tidak benar-benar menikmati makanannya. Dia hanya mengaduk dan sesekali menyuap kuahnya. Pikirannya berkelana.
"Fian.."
Fian tidak mendengar panggilan Arin. "Fian......"
Masih saja Fian tidak menjawab. Arin menjadi gemas. Fian sedang memikirkan apa sebenarnya.
"Fiaaaaaan......."
Ada apa dengan Fian sebenarnya.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like dan komen Terima kasih ❤️❤️❤️