
Kesadaran
"Tidak..tidak mungkin..kenapa dengan anak kami pak polisi." Tiba-tiba terdengar suara wanita yang tak lain adalah mamanya omed.
"Maaf Ibu dan bapak .., kami ditugaskan untuk menangkap saudara Omed. Ini surat penangkapannya dengan tuduhan dalang perampokan. dan korbannya seorang wanita.." pak polisi menjelaskan yang sebenarnya terjadi . Dia menyerahkan selembar surat kepada Papa Omed.
"Dasar anak kurang ajar. Tak tau diri. Maumu apa hah...? kurang uang yang papa kasih ? hah... memalukan. Bawa saja pak polisi , silahkan." Papa marah besar pada Omed. Dia merasa malu sekali.
" Tidak pa ..anak kita Pa..pasti ada kesalahan ini. Tidak mungkin anak kita melakukan hal itu.. Sayang...sayang..Omed katakan pada mama ini semua tidak benar.. bohong kan sayang.." Mama menangis melihat anak satu-satunya dibawa polisi. Dia peluk Omed dengan sangat erat.
" Ma, maafin Omed ma..ini salah Omed.Walaupun ini terjadi dengan tidak sengaja.. maafin Omed Pa.. Ma ... Omed salah " Omed bersimpuh di kaki mamanya. Omed sangat menyesali perbuatannya itu
" Maaf bapak..Ibu . kami akan membawa saudara Omed . Siapkan saja pengacara untuk pembelaannya. " Kedua polisi tadi membawa Omed ke mobil.
Mama Omed menangis meraung-raung. Dia tidak percaya anaknya melakukan perbuatan itu .
"Sudahlah Ma ..malu di dengar tetangga. Besok kita jenguk dia ke kantor polisi . Semoga ini hanya kesalahan. Nanti papa akan keluarkan dia dengan jaminan. Semoga Omed bisa keluar dengan jaminan ."
Papa menenangkan Mama. Mereka melepas Omed dengan perasaan sedih. Anak semata wayangnya masuk penjara . Padahal seharusnya Omed tidak kekurangan. Dia termasuk keluarga yang berada. Omed memandang dari jauh kedua orang tuanya. Perasaannya ikut hancur. Dia merasa telah melukai hati kedua orang tuanya. "Maafkan Omed Pa..Ma..omed menyesal." Mobil polisi semakin menjauhi rumah Omed. Nasib Omed kini akan berakhir dibalik jeruji. Dengan kesalahan yang seharusnya tidak dia lakukan. Terlalu terobsesi menjadikan dia rugi sendiri. Seandainya dia tidak punya rencana konyol.
🌸🌸🌸
Bram terbangun. Dilihatnya jam di pergelangan tangannya. Masih jam sebelas. Jadi dia sudah tertidur cukup lama. Bara dan Bram belum sampai. Kemudian terdengar langkah kaki ramai orang berjalan menuju kamar Arin.
" Ini kamarnya Ayah bunda. Masuknya dua orang dulu ya. Biar ayah sama bunda dulu.." Bara memberi arahan kepada mereka.
"Baik Dok.." jawab mereka serempak.
Bram keluar kamar bertepatan dengan ayah dan bunda yang akan masuk.
" Maaf.. orang tua Arin ya.. silahkan masuk . Saya Bram yang tadi menunggu Arin. " Bram memperkenalkan diri agar kedua orang tua Arin tidak salah paham.
Ayah sama bunda mengangguk. Mereka masuk ke kamar Arin. Dilihatnya Arin terbaring dengan selang infus. Bunda mengangkat baju Arin sedikit di bagian perut. Ada perban terpasang tidak begitu lebar. Lukanya memang tidak begitu lebar .
" Kasian kamu nak, Ada saja yang kamu alami. Semoga kamu semakin kuat ya nak... " Bunda menghapus airmata yang menetes. Dielusnya tangan Arin. Hatinya ikut merasa sakit melihat keadaan Arin. Mengapa selalu Arin yang mengalami ini semua. Bukan berarti bunda ingin anaknya yang lain yang kena musibah.
" Maafin ayah nak , ayah tidak bisa menjaga kamu dengan baik. Cepat sadar ya. Ayah mau lihat kamu yang selalu ceria yang selalu bisa menghibur ayah.. Bangun Arin, jangan lama-lama tertidur nya.. " Ayah pun juga menangis. Arin anak gadisnya yang paling dia sayang, tapi sayangnya dia yang selalu mendapat cobaan yang tak hentinya.Kenapa nasibnya begitu buruk untuk Arin.
"Kok belum sadar ya Bund, kata dokter lukanya tidak parah . Sudah lima jam lebih efek biusnya kok belum hilang." tanya ayah. Ayah takut akan ada trauma di diri Arin. Apalagi dia mengingat apa yang pernah dia lakukan kepada Arin.
" Ya sudah Yah, nanti tanya pak dokter. "
" Ayah mau disini mau nungguin Arin bund, bunda pulang aja ya.."
" Jangan yah ,ayah harus jaga kesehatan . Kan dokter Bara sudah bilang tidak boleh kecapekan. Kalau disini ayah ga bisa istirahat dengan benar. Yuk mending kita pulang saja . Biar Rama yang menunggu. "
" Tapi ayah ingin menunggu Arin sadar.. ayah tak mau meninggalkan dia ,bund .Nanti kalo Arin sadar dan mencari ayah bagaimana ? " Ayah masih saja memaksa ingin tetap menunggu Arin.
"Tidak usah ditunggui Ayah , Biarlah team dokter saja yang menunggu, ayah istirahat saja di rumah, besok bisa datang lagi .Arin dalam pantauan kami.." Tiba- tiba Bara sudah ada di dalam ruangan.
"Tidak bisakah kami menunggu Pak dokter. Nanti kalau Arin bangun dan mencari saya bagaimana." Ayah masih saja memaksa dokter agar memperbolehkan dia menunggu.
" Maaf Ayah, sebaiknya Ayah dan bunda pulang . Nanti bila Arin sadar saya langsung memberi kabar sama Ayah. Ada nomer yang bisa saya hubungi nanti ?"
__ADS_1
" Baiklah kalau begitu Pak dokter. Nanti minta nomer sama Nia saja ,dia yang pegang hp . Terima kasih banyak pak dokter. Titip anak saya. Tolong selamatkan Arin pak dokter."
" Itu pasti Ayah ,bunda . Itu sudah tugas kami para team dokter yang akan berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan pasien. " Jawab Bara dengan menyakinkan.
Akhirnya ayah mengalah setelah mendengar penjelasan Bara .Mereka bertiga keluar ruangan. Nia dan Rama sedang berbincang dengan Bram dan Bima.
" Nia , Rama mau masuk ga, nengokin Arin. " ucap Bunda kepada Rama dan Nia. " Terus kita pulang, kasian Ayah , takut dia kecapekan.," sambung bunda.
" Iya bund.. Ayo kak kita masuk dulu .." ajak Rama pada Nia.
Mereka berdua masuk ke ruangan Arin. Bunda mendekati Bara.
"Maaf pak dokter mau tanya.. Sampai kapan Arin seperti itu .Kok belum sadar ,bukankah seharusnya efek biusnya sudah hilang ,Bukankah sudah cukup lama dari dia dibius.. ." Bunda memberanikan diri bertanya pada Bara.
" Eh iya bunda, sabar ya mungkin sebentar lagi. Semoga segera sadar. " Bara menjawab untuk menenangkan bunda. Sebenarnya dia pun heran kenapa kok belum sadar juga.
" Ayah dan bunda sebaiknya pulang saja biar Rama saja yang menunggu, besok kemari lagi. nanti kami anter . " Bima menawarkan diri. Dia kasihan melihat ayah dan bunda yang terlihat lelah .
" Iya sebentar nunggu Nia dulu. Itu Nia keluar..Nia ayo kita pulang biar Rama saja yang menunggu. Sebenarnya bunda ingin menunggu Arin tapi pasti Ayah mau ikut menunggu, Nanti ayah tidak bisa istirahat, malah ikutan sakit . Malah tambah repot nanti, makanya mendingan bunda pulang saja. "
" Iya bunda.. Ayo kita pesen taksi online aja bund. Sudah malam tidak ada angkutan lewat." Nia sudah membuka aplikasi di ponselnya.
" Kami antar aja Nia. Tidak usah pesen sudah terlalu malam ." Ucap Bima.
" Apa tidak merepotkan kan mas,.. "
" Tidak kok.. ya udah ayok.. Bara, Bram gue anterin mereka dulu ya.. " pamit Bima.
Sementara di rumah sakit Bara,Bima dan Bram masih duduk di luar sedangkan Rama menunggu di dalam ruangan.
" Kalian tidak pulang . Ga dicari ortu lo." tanya Bara
" Kita udah pamit tadi , lo sendiri bagaimana apa ga dicari mama, lo kan anak mama. hahaha.. " Bima berkata pada Bara , memang Bara anak rumahan tidak pernah main jauh.
" Sialan lo.. " Bara memukul lengan Bima ." Gue udah ngasih kabar sama Mama . Kalau belum pasti mama udah nelpon dari tadi.." Memang Bima dari dulu senang mengejek Bara.
" Bukankah seharusnya Arin sudah sadar ya, ini kan sudah melebihi waktu kerja obat biusnya. " Bram bertanya karena memang ini tidak wajar.
Mereka bertiga belum ingin beranjak masih menunggu didepan ruangan. Masih penasaran dengan keadaan Arin.
Sementara di dalam ruangan perawatan Arin. Terdengar suara Arin mengigau. ' Ayah ..tidak ayah.. Arin takut .. Ayah ..sakit ayah .. sakit... hiks..hiks .hiks ..ayah takut.."
Rama yang duduk tertidur disebelah Arin terbangun kaget. Dilihatnya kakaknya berkeringat dan mengigau.
" Kak.. kak Arin..kakak kenapa..kakak.. bangun kak. "
" Tidak ayah.. takut ..ayah..sakit..ayah.."
Rama berlari keluar. " Pak dokter..kak Arin kak.Tolong kak Arin pak dokter. "
Bara, Bram dan Bima kaget .Mereka berlari masuk.
" Kenapa Ram, ada apa.. Masa Allah. itu Kenapa Arin berkeringat. Dia mengigau. Kayaknya dia bermimpi. bagaimana ini Bar.." Bima sedikit panik.
__ADS_1
"Suhu tubuhnya juga naik. Kayaknya dia demam. Atau mungkin dia trauma. Sehingga di alam bawah sadarnya pun dia ketakutan. sehingga dia tidak ingin bangun dari tidurnya " Bram menjelaskan segala kemungkinan yang terjadi.
Bram benar- benar khawatir dengan apa yang terjadi dengan Arin.
" Gue kasih obat dulu lewat infus nya aja." Bara segera mengambil obat dan menyuntikkan dalam kantong infus." Bisa jadi , karena ini kedua kalinya gue bertemu dia dalam keadaan tidak baik. Rama maaf, boleh Abang tanya ke kamu? Semoga kamu bisa menjelaskan.." Sambung Bara. Memang benar apa yang diucapkan Bara. Ia bertemu Arin selalu dalam keadaan tubuh yang terluka.
" Tanya apa Bang, kalau bisa jawab ya saya jawab." Jawab Rama. dia merasa ada sesuatu yang pribadi yang akan ditanyakan.
" Tiga tahun lalu gue ketemu Arin di rumah sakit ini dalam keadaan pingsan dan tubuh banyak luka, kenapa dia ,apa kamu tau." Bara bertanya langsung ke intinya. Dia tidak mau berbelit- belit. Karena menurut asumsi dia Arin mengalami trauma.
"Apa Bar, tunggu dulu .tubuh Arin penuh luka, maksudnya luka apa. " Bram begitu penasaran dengan apa yang terjadi dengan Arin. Rama hanya menunduk . Dia takut sekaligus tidak tega mengingat kejadian tiga tahun lalu.
" Benar , Bram seluruh tubuhnya penuh luka lebam, wajahnya juga . Seperti bekas penganiayaan dengan benda tumpul. Tapi ketika gue tanya dia ga mau menjawab, selalu mengalihkan pembicaraan. Rama coba jawab, apa lo tau apa yang terjadi dengan Arin." Bara mendesak Rama. Rama hanya menunduk,dia merasa serba salah . Harus diceritakan atau tidak . karena ini menyangkut nama Ayahnya juga.
" Gimana ya bang. Saya bingung harus bercerita dari mana , atau biarin kak Arin aja yang cerita saat dia sadar nanti. " ucap Rama. Dia masih bimbang harus cerita apa tidak.
" Ini demi kakak kamu Rama. Biar kita tau langkah apa yang harus kita ambil. " Bima menengahi
" Baiklah bang ,saya cerita. Jadi tiga tahun lalu Kak Arin dipukul ayah karena pergi mancing dengan teman-temannya yang cowok semua, Ayah marah karena Kak Arin diberitakan yang tidak- tidak oleh tetangga." Rama akhirnya menjelaskan juga apa yang terjadi tiga tahun lalu.
" Astaghfirullah.. jadi begitu kejadiannya. Apakah Arin pernah mengigau seperti tadi Rama . Atau bermimpi buruk.." Bram merasa heran kenapa hanya kesalahan seperti itu dihajar sampai lebam. Apalagi anak sudah segede Arin ,tak bisa kah seorang ayah menasehatinya pelan-pelan.
" Jadi bagaimana Bar langkah selanjutnya. Kalau boleh setelah dia sadar biar gue yang tangani.."
" Ekhm....ekhm ga ada modus kan.. hahaha." Bima menggoda Bram. Bara memalingkan wajah merasa punya saingan. Hatinya berdenyut serasa perih. Ada sedikit rasa tidak rela . Tapi Bram memang kompeten di bidang itu. Ya Arin butuh penanganan khusus dari ahlinya dan itu Bram.
" Baiklah, bagaimana baiknya aja. Buat kesembuhanmu Arin aku setuju." Bara menjawab dengan perasaan tidak karuan.
" Ngomong - ngomong ini udah malam , kalian tidak lapar ,tidak ngantuk juga. Apa kita akan terus berjaga disini." Bima mengalihkan topik pembicaraan, karena memang dia merasa lapar.
" Iya bang, Rama boleh tidur kan. Rama mengantuk."
" Tidurlah Ram, biar kita yang menjaga Arin. Kalian berdua juga tidur, kalian pasti capek. Biar aku yang jaga . " Bara tidak tega melihat mereka bertiga yang terlihat mengantuk.
" Iya ni gue mau istirahat sebentar, atau kita pulang aja Bim, besok kesini lagi. " ucap Bram sambil menguap. Semuanya memang sudah mengantuk dan kecapekan.
" Tidur di bangku yang di koridor boleh ga Bar, kita tidak mungkin bisa pulang malah bahaya menyetir dalam keadaan mengantuk Bram."
" Boleh saja ,sono tidur . Gue mau ke ruangan gue sebentar. Atau mau tidur di ruangan gue juga boleh. Ada tempat tidurnya. Lumayan buat istirahat ." Bara memberi usul . Tapi Bram dan Bima menolak. Mereka memilih tidur di bangku koridor.
Malam sudah mendekati pagi . Akhirnya mereka tertidur semua. Tidak ada yang tidak capek. Dari siang sampe larut malam ini mereka belum istirahat.
🌸🌸🌸
Sementara malam beranjak pagi . Di penjara ada tiga orang yang tidak bisa tidur juga . Mereka Omed, Asep dan Maul. Terbiasa tidur di kasur empuk , sekarang tidur hanya beralas tikar pandan.
" Maafin gue Med, Seharusnya gue tidak menusuknya. Tapi jujur itu semua karena gue panik. Gue takut , banyak warga berdatangan. "
" Ya sudahlah,semua sudah terjadi .Gue ga menyalahkan lo kok Ini murni salah gue. Gue yang punya rencana konyol jadi pahlawan kesiangan. Sudah tau Arin hanya menganggap gue teman. Mimpi gue yang ketinggian. Gue yang ga tau diri. "
" Omed , ga gitu juga kali. Mungkin memang ini jalan hidup kita untuk merasakan di balik jeruji, mungkin ini teguran buat kita, yang kerjaannya hanya menghabiskan uang orang tua. "
Mereka bertiga merenung . Menyadari segala kesalahan yang mereka bertiga buat selama ini. Semoga kedepannya akan menjadi lebih baik...
__ADS_1