
Fian masih beristirahat di masjid ditemani sang ustadz. Rasa sesak di dadanya sudah berkurang. Rasa nyeri juga sudah tidak terasa lagi.
"Nak, sebenarnya kamu sakit apa?"
Pak Ustadz memandang Fian dengan penuh perhatian. Dia melihat ada gurat kesedihan di wajah Fian. Rasa lelah yang terukir di wajah Fian bisa di baca oleh sang Ustadz.
"Tidak tau Ustadz. Tiba-tiba saja sakit itu datang. Dan ini baru pertama kali terasa. Saya tidak tau apa penyebabnya."
"Apa kamu sedang dalam masalah?"
Fian terdiam. Apakah dia harus cerita apa yang sebenarnya terjadi pada sang ustadz. Dia merasa tidak pantas untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Fian merasa dia baru saja mengenal pak ustadz.
"Ada sedikit masalah yang sedang saya alami ustadz."
Fian menunduk. Fian tidak tau ada apa dengan dirinya. Sakit yang tiba-tiba datang, sesak yang tiba-tiba menerpa dirinya. Namun hilang dalam sekejap. Pikiran nya melayang jauh pada seorang gadis Yang sangat dia rindukan.
Ya Fian teringat Arin. Apakah terjadi sesuatu dengan Arin? Fian sangat merindukan Arin. Haruskah dia melanggar janjinya untuk tidak menghubungi Arin lagi.
Tapi perasaan rindunya sangat dalam. Dan juga rasa khawatirnya. Dia hanya merasa takut kalau dia menghubungi Arin, usaha nya selama ini untuk menjauh akan sia-sia.
"Nak, kenapa diam. Apakah ada yang terasa sakit lagi?"
"Eh.. maaf pak Ustadz. Akh tidak saya hanya sedang berpikir. Saya teringat orang tua saya yang ada di Jakarta."
"Oh.. Jadi adik ini sedang merantau di sini."
"Iya pak ustadz."
"Ya sudah kalau adik sudah tidak apa-apa. Saya mau pulang. Mampirlah ke rumah saya. Itu di seberang jalan. Rumah yang bercat warna biru."
Fian melihat ke arah yang ditunjukkan oleh pak ustadz. Sebuah rumah yang tidak begitu besar terlihat sangat nyaman di seberang. Mungkin karena di huni oleh seorang ahli agama.
"Terimakasih pak Ustadz. Lain waktu saya akan berkunjung ke rumah pak Ustadz. Maaf saya jadi merepotkan."
"Tidak merepotkan. Kita sebagai sesama manusia harus saling membantu. Kalau begitu saya pamit dulu ya. Eh siapa nama adik. Kita malah belum kenalan."
"Saya Fian."
"Nama yang bagus. Panggil saja saya Ustadz Zakaria."
"Baik ustadz Zakaria. Lain waktu saya akan menyempatkan diri mengunjungi Pak Ustadz. Sekali lagi saya mengucapkan banyak terima kasih."
"Sama-sama nak Fian. Mari saya duluan."
"Baik pak Ustadz. Silahkan."
Fian mengiringi kepergian Ustadz Zakaria. Dan kemudian dia menaiki motornya bermaksud mau pulang ke tempat kosnya. Dia merasa hari ini sudah cukup berpetualang mencari keberadaan suster Ika.
Baru saja dia menghidupkan motornya, dari jauh terlihat seorang gadis berjalan menyebrangi jalan. Fian seperti mengenali gadis itu. Namun hanya pandangan Fian yang mengikuti ke mana gadis itu melangkah. Ternyata dia memasuki rumah pak Ustadz Zakaria.
"Eh.. itu bukannya Ran ya. Eh masuk rumah pak ustadz. Apa mungkin anaknya. Atau saudaranya. Ya sudahlah. Lain waktu saja gue memastikannya. Yang penting sudah tau rumahnya."
Fian menjalankan motornya. Dia merasa lelah. Hari ini sudah cukup dia mencari keberadaan suster Ika. Sedikit petunjuk sudah dia dapatkan. Besok lagi dia akan berpetualang lagi.
Badan dan pikiran nya terasa lelah. Masalah pekerjaan dan kuliah saja sudah menyita waktunya. Belum lagi masalah dengan suster Ika. Di tambah masalah hatinya.
Sesampainya di rumah Fian membersihkan tubuhnya agar terasa segar. Setelah mandi dia merebahkan tubuhnya ke ranjang. Tempat tidur yang hanya cukup untuk dirinya sendiri sengaja di pilihnya. Padahal Adam dan Hari memberikan fasilitas yang lebih. Namun Fian menolak. Dia merasa tidak pantas mendapatkan kemewahan itu. Dia ingin hidup sederhana di kota perantauan ini.
Fian sangat menikmati hidupnya saat ini. Diluar semua masalah yang dia hadapi, Fian sangat merasa tenang hidup sendirian. Bukan dia tidak bahagia hidup dengan keluarganya. Namun karena dia merasa bisa hidup mandiri dan tidak lagi menjadi beban orang tuanya.
Kalau boleh jujur, bagaimana pun keadaannya pasti lebih menyenangkan hidup dengan keluarganya. Namun karena melihat sikap sang mama yang terlihat selalu ikut campur dengan urusan nya, membuat Fian merasa sedikit terbebani.
Memang tidak salah kalau orang tua ingin tau urusan sang anak, namun melihat sikap sang mama yang terlalu arogan membuat Fian merasa serba salah dalam bersikap.
Setelah cukup lama melamun, Akhirnya Fian terlelap juga. Mungkin karena sudah larut malam ditambah tubuh dan pikiran nya yang lelah juga. Dia sudah terbang ke alam mimpinya. Mimpi bertemu Arin tentunya.
🌸🌸🌸
Arin dan Bara masih duduk menikmati wahana bianglala. Sengaja Bara membeli tiket untuk tiga kali putaran. Itu dia sengaja karena Bara ingin mencoba menghilangkan Fobia ketinggalan yang diderita Arin.
Namun bukan itu saja tujuan Bara. Ada satu maksud terselip di pikirannya.
"Arin, bagaimana rasanya sekarang. Apa masih takut." Bara sengaja mengalihkan pembicaraannya. Dia melihat Arin merasa tidak nyaman dengan pernyataan Bara tentang isi hatinya.
"Eh..."
Arin terkejut. Ternyata Arin sedang melamun. Pikiran pergi jauh. Pikirannya sedang berkelana mencari sang pujaan hati yang sebulan ini tidak dia lihat.
__ADS_1
"Kenapa.. masih takut kah?"
"Sedikit takut. Tapi sudah lumayan terbiasa. Eh ..ini kok lama sekali. Yang lain sudah turun. Kita kok belum A." Arin memandang ke sekeliling. Dilihatnya gerbong-gerbong yang lain sudah berganti penghuninya.
"Sengaja saya beli tiket tiga putaran."
"Buat apa Aa."
"Agar kamu terbiasa dengan ketinggian."
"Aaaaaa..... "
Tiba-tiba gerbong Arin bergoyang. Arin menjerit ketakutan. Dia memeluk Bara.
"Sudah jangan takut."
Bara membalas pelukan Arin memberi ketenangan. Walaupun sebenarnya Bara juga merasa takut juga. Terdengar bunyi besi bergeser yang tidak biasa dari wahana tersebut.
"Ini ada apa A. Tidak bahaya kan."
"Sudah tidak apa-apa. Kamu yang tenang duduknya."
Bagaimana tidak merasa takut. Posisi gerbang mereka berada di puncak ketinggian. Arin memejamkan mata. Sama sekali dia tidak berani melihat ke sekeliling. Dia semakin erat memeluk Bara.
Sedangkan Bara berusaha menenangkan Arin. Dia tau ada masalah dengan wahana tersebut. Dia melihat satu persatu penumpang di turunkan. Bianglala berputar lambat untuk bisa menjaga kestabilan posisi As nya.
"Ingat Arin. Kalau memang takut tidak usah membuka mata. Pejamkan saja terus. Tapi jika kamu berani pandanglah dunia ini dari ketinggian itu akan terlihat sangat indah."
Mendengar ucapan Bara, perlahan Arin membuka mata. Namun dia tidak melihat ke sekeliling. Dia memandang wajah Bara. Dia pandangi terus menerus tanpa beralih pandangan. Orang yang tanpa sengaja selalu hadir di saat dia terkena masalah. Orang yang selalu memberi kesejukan. Orang yang sangat tenang dalam menghadapi setiap masalah. Itu yang Arin lihat selama ini.
Bara menyadari kalau Arin sedang memandangi nya. Namun dia pura-pura tidak tau. Bara tidak ingin membuat Arin malu. Bara tersenyum. Walaupun sebenarnya hatinya berdebar sangat kencang. Namun dia berusaha menutupinya dengan sikap tenangnya.
Namun Bara tidak tahan. Dia tergoda juga untuk memandang Arin. Sebenarnya dia melirik sekilas. Dia melihat mulut Arin yang sedikit terbuka saat memandanginya. Terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
Bara tidak tahan juga. Akhirnya dia menoleh ke arah Arin. Dia pandangi wajah Arin yang memang sangat menggemaskan.
"Sudah belum melihatnya. Jangan lama-lama. Nanti naksir. Hahaha.." Bara malah menggoda Arin.
"Eh.. " Arin tersipu mukanya merah. Dia merasa malu karena ketauan apa yang dia perbuat. "Ikh.. Apa sih Aa.." Arin memalingkan muka. Mukanya sudah terasa sangat panas. Dia malu sekali. Tiba-tiba.
"Cie.. cie.. cie.."
"Sudah turun.Sudah aman. Malah asyik saling pandang. Hahaha.."
"Eh... Kalian berdua kok disini."
Bara terkejut. Ternyata gerbong mereka sudah ada di bawah sejak tadi. Dia tidak menyadari itu. Dan lebih sialnya lagi di depan nya berdiri dua orang sahabatnya yang paling rese sedunia.
Arin dan Bara turun dari gerbong dengan perasaan malu. Mereka di tonton banyak pasang mata saat berpelukan.
"Maaf buat para penumpang wahana bianglala. karena ada sedikit kesalahan tehnis wahana ini tidak beroperasi untuk beberapa waktu.
Terdengar pemberitahuan dari pusat informasi. Ternyata benar wahana yang mereka tumpangi mengalami masalah. Untung para penumpang bisa turun dengan selamat. Dan tidak ada korban satupun.
Bara memandang kedua temannya dengan heran. Dia merasa aneh, kenapa juga kedua temannya ada di situ.
"Kalian berdua kok ada disini." Tanya Bara Setelan mereka agak jauh dari wahana bianglala.
"Kita kan juga pengen senang-senang. Iya kan Bim." Jawab Bram asal.
"Iya betul itu Kamu aja yang ga setia kawan. Pergi ga ngajak kita."
"Maksudnya apa..?"
Tangan Bara memiting leher kedua temannya yang berjalan di kedua sisi kanan kiri nya.
"Sakit.. Lepas. Hahaha.." Bram malah tertawa melihat tingkah Bara. Bram dan Bima memang tidak sengaja melihat Bara masuk wahana tadi. Mereka berdua tidak dengan sengaja mengikuti. Namun karena terlanjur melihat,mereka jadi ingin tau apa yang dilakukan Bara.
"Sudah dong Aa, Arin lapar. Makan yuk" Arin menengahi ketiga sahabat itu yang sedang berdebat. Selalu saja kalau bertemu mereka selalu memperdebatkan hal yang tidak penting.
"Betul itu Arin. Saya juga lapar." Jawab Bima .
"Eh siapa yang ngajak pak dosen. Aku kan cuma mengajak Aa. Iya kan A.."
Bara mengangguk mengiyakan. Bara tertawa melihat tingkah Arin. Sekarang Arin memang terlihat lebih berani berekspresi. Dia sudah semakin bisa membuka diri.
"Eh.. kalian berdua ya. Cie.. cie yang kompakan sekarang. " Tambah Bram. Bram dan Bima suka sekali menggoda Arin dan Bara. Karena sudah cukup lama mengenal mereka, sekarang Arin menjadi terbiasa dengan candaan mereka.
__ADS_1
"Iya dong, sekarang kita kan udah kompak. Iya kan Rin." Bara berjalan mendekati Arin dan menggandeng tangannya dan kemudian berjalan menjauh mendahului Bram dan Bima.
"Eh tunggu kita.. Malah ditinggal." Bram Dan Bima mengikuti Bara. Mereka berdua sangat senang. Sahabatnya itu sudah tidak sekaku dahulu. Sekarang sudah bisa lebih terbuka.
Mereka berempat berjalan beriringan menuju angkringan yang ada di sekitar area pasar malam. Sebenarnya Arin merasa risih berjalan di gandeng Bara. Namun demi menjaga perasaan Bara, Arin membiarkan saja. Toh demi keamanan dia juga Karena pasar malam ini terlihat sangat ramai orang berlalu lalang.
"Mau makan apa? " Tanya Bara kepada Arin.
"Terserah kalian saja." Jawab Arin pendek.
"Yakin apa saja. Bagaimana kalau kita makan angin saja." Jawab Bima usil.
"Pak dosen aja sana. Aku mah ogah." Jawab Arin sambil masuk ke tenda angkringan yang menjual beraneka ?macam jenis sate.
"Eh songong ya mahasiswi satu ini. Lihat saja skripsi nya aku kasih nilai C."
"Dih.. Pak dosen ngancam. Tidak takut weh." Arin masih saja menggoda Bima. Bara tersenyum melihat Arin yang terlihat sangat ceria. Bram juga. Mereka berdua yakin kalau Arin pasti sudah bisa mengatasi trauma nya.
"Sudah-sudah malah berdebat. Ayo kita makan. Wah pilihan Arin memang selalu pas. Ini menu banyak banget. Jadi ingin mencoba semua." Ucap Bram yang sudah mengambil tempat dan sudah menunjuk makanan yang dia inginkan.
Akhirnya mereka berempat makan dengan lahap sambil terus bergurau. Saling mengejek dan saling menjatuhkan. Ada saja yang menjadi bahan ejekan buat mereka. Sampai- sampai pengunjung yang lain ikut tersenyum dan tertawa melihat tingkah mereka berempat. Bahkan pejalan kaki yang lewat pun ada yang menyempatkan diri untuk berhenti dan ingin tau ada apa di tenda angkringan tersebut yang begitu ramai. Ada diantara mereka yang ikut membeli juga.
Suasana angkringan menjadi ramai dan banyak juga pembeli yang datang karena melihat kehebohan mereka berempat. Pemilik tenda sangat senang tentunya. Dagangannya menjadi laku terjual dan mendapatkan keuntungan yang lumayan juga tentunya.
Makanan nya sangat enak. Bahkan Arin bermaksud ingin membungkus untuk di bawa pulang. Jarang-jarang keluarganya makan makanan seperti ini. Namun belum sempat memesan Bara sudah memberi Arin sekantong plastik beberapa makanan tadi.
"Ini oleh-oleh buat Rama dan Bunda."
"Eh Aa. Tidak usah. Arin bisa beli sendiri."
"Sudah ini saja. Atau mau nambah lagi?"
"Tidak usah ini sudah cukup." Arin mengeluarkan dompetnya bermaksud membayar makanan yang mereka makan.
"Sudah di bayar semuanya mbak." Kata sang pemilik warung.
Arin tidak melihat ada yang mengeluarkan uang tadi. Tapi kok sudah di bayar. Tentu saja Arin menjadi heran.
"Kapan bayarnya."
"Sudah di bayar semua sama Bram. Ayo kita pulang. Sudah malam. Nanti kamu di marahi sama bunda."
Arin melihat sekeliling. Di mana Bram dan Bima. Tidak melihat mereka pergi. Sudah tidak ada di tempat tersebut.
"Aa. Dimana pak dosen sama pak dokter Bram."
"Mereka sedang ke toilet. Ayo kita ke parkiran. Keburu hujan juga. Langit sudah terlihat gelap."
Akhirnya mereka berdua menuju tempat parkir kendaraan. Ternyata Bram dan Bima sudah ada di sana.
"Bang Bram, makasih ya sudah di traktir."
Bram menoleh. Dia sedang berbincang dengan Bima jadi tidak melihat kedatangan Arin.
"Iya sama-sama. Eh kita duluan ya. Keburu hujan. Hati-hati juga kalian pulangnya."
Bram dan Bima melajukan motornya. Ternyata mereka naik motor juga. Mereka juga buru-buru takut kehujanan.
"Ayo naik. Kita harus segera pulang juga. Jangan sampai kehujanan juga."
Bara memakaikan helm ke kepala Arin. Arin sedikit terkejut. Namun dia pasrah saja. Dia segera naik ke boncengan di belakang motor Bara. Motor melaju sedikit kencang. Mengejar waktu agar tidak keduluan sang hujan Karena di langit terlihat awan hitam berarak mengikuti mereka. Udara menjadi semakin dingin. Untung Arin membawa jaket. Namun begitu hawa dingin masih juga bisa masuk ke dalam tubuh Arin.
Bara melihat Arin dari kaca spion. Kemudian dia menyentuh tangan Arin dengan tangan kirinya.Terasa dingin.
Dengan sedikit menoleh Bara berkata.
"Kalau terasa dingin boleh kok memeluk saya."
Bara tersenyum mendengar kalimat yang keluar dari mulutnya sendiri. Bara heran kenapa dirinya sekarang seberani ini berucap pada Arin.
Arin hanya diam mendengar ucapan Bara. Dengan sedikit ragu tangannya maju ke tubuh Bara dan sedikit memeluknya. Bara diam. Dia seperti tersengat aliran listrik. Dadanya jadi ikut berdebar. Namun tersungging senyum di bibirnya. Bara menatap Arin dari kaca spion. Laju motor mulai berkurang kecepatannya.
"Cepat A.. gerimis sudah turun."
Bara tersadar dia buru-buru menambah kecepatannya lagi. Tinggal beberapa ratus meter lagi sampai di rumah Arin. Dan hujan semakin deras mengguyur mereka.
Di malam yang dingin. Ditemani sang hujan , sepasang muda-mudi mengukir kenangan. Entah hanya karena situasi Ataukah akan terus tercipta kenangan indah yang lainnya.
__ADS_1
Bersambung
Terima kasih buat semuanya ❤️❤️❤️