Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 86


__ADS_3

Mobil melaju membelah gelapnya malam. Langit terlihat hitam. Mendung menggantung di langit. Serasa ikut sedih mengiringi kepergian Fian. Fian memang harus meninggalkan kota ini. Dia harus menenangkan hati dan pikirannya.


Fakta yang dia dengar kemarin membuatnya yakin memilih jalan ini. Bukan dia seorang pengecut. Bukan pula tidak ingin memperjuangkan cintanya. Namun bila semua itu menyakiti banyak pihak, haruskah dia bertahan. Haruskah dia terus maju.


Fian yakin Arin juga mengerti dan bisa memahami semua yang dia lakukan. Dan Fian juga yakin kalau Arin juga akan melakukan hal yang sama dengan yang dia lakukan. Sebenarnya dia tidak tega melihat wajah Arin kemarin. Arin terlihat sedih, walaupun tidak dia perlihatkan.


Tiba-tiba Fian ingat sesuatu. Dia mengambil ponselnya yang dia taruh di dalam tas ranselnya. Kemudian menyalahkannya. Dia membuka galeri fotonya. Dia belum melihat hasil foto yang kemarin dia ambil berdua Arin.


"Tersenyumlah terus seperti ini Arin."


Fian berkata pelan. Dia tidak mau Somad mendengar ucapannya. Namun ternyata perkiraannya salah. Karena tiba-tiba terdengar suara Somad.


"Kenapa Mas. Foto siapa itu. Cantik sekali." Somad melirik ponsel yang sedang di pegang Fian.


"Ada deh.. Jangan kepo." Fian menutup ponselnya dengan tangan satunya.


"Mas Fian pelit. Cuma pengen lihat saja. Cewek mas Fian ya." Somad semakin mencondongkan tubuhnya.


"Jangan, nanti kamu naksir."


"Dih..masa iya saya naksir pacar orang. Tapi memang manis mas. Tidak bosan untuk dipandang." Somad malah semakin menggoda Fian.


"Nah.. nah kan. Bang Somad nyetir saja. Jangan melirik ke samping. Bahaya.."


"Bilang aja kamu pelit mas.." Somad mencondongkan tubuhnya lagi. Dia semakin ingin menggoda Fian.


"Bukan pelit, tetapi bahaya kalau menyetir sambil melihat HP."


"Baiklah.. baiklah kalau begitu."


Somad fokus lagi memandang ke depan. Sesekali melirik ke arah Fian. Somad tersenyum jenaka. Ingin sekali dia menggoda Fian lagi.


Somad belum lama mengenal Fian. Baru sekitar tiga bulan. Dia karyawan baru di tempat Fian bekerja. Namun walaupun begitu mereka langsung bisa beradaptasi. Mereka langsung cocok dalam hal kerjaan. Makanya mereka berdua mendapatkan promosi dan diberi beasiswa.


Fian masih memandangi foto yang tadi siang dia ambil. Arin memang tampak begitu manis hanya dengan kaos polo putih dan celana jeans biru. Tampak natural. Cantik alami.


"Bagaimana gue bisa melupakan lo. Tunggu gue mencari fakta apa yang sebenarnya terjadi. Semoga semua segera bisa gue dapatkan."


Ucap Fian dalam hati. Dia sangat berharap apa yang dia dengar kemarin dari ruang kerja Adam adalah sebuah kebenaran. Makanya begitu Adam menawarkan beasiswa ke Surabaya, Fian langsung menyetujuinya.Karena orang yang bisa memberi penjelasan ada di sana.


"Sudah sampai Mas."


Fian terkejut. Dia sedang melamun ketika Somad menepuk pundaknya pelan.


"Eh.. sudah sampai ya. Ya udah gue turun. Kamu ga ikut."


"Besok aku menyusul sama Pak Hari, Mas."


"Ya sudah gue turun ya. Pulangnya hati-hati. Jangan lupa pakai rem."


"Iyalah Mas, Mas Fian juga hati-hati."


Fian turun dari mobil. Tak lupa kopernya juga dia turunkan. Somad melakukan mobilnya kembali. Fian melambaikan tangan.


Fian harus cek in dulu. Masih ada waktu saat keberangkatan. Fian duduk di kursi tunggu. Fian melihat ke kanan dan kiri mencari Adam. Namun belum keliatan juga. Fian mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi WhatsApp. Dia melihat kontak Arin ternyata dalam status online. Fian melirik jam, baru jam sembilan tiga puluh. Tiga puluh menit lagi pesawat akan berangkat.

__ADS_1


"Fian.."


Ada seseorang yang menepuk pundaknya. Fian menoleh. Ternyata Adam sudah ada disampingnya.


"Eh. iya pak. Maaf tidak melihat bapak tadi."


"Ayo kita bersiap-siap. Sebentar lagi pesawat akan berangkat."


"Baik Pak."


Fian mengikuti Adam. Mereka harus segera masuk ke pesawat. Sebentar lagi pesawat akan berangkat. Mereka berdua berjalan beriringan.


Sebelum pesawat lepas landas sekali lagi Fian melihat foto Arin. Dan dia mencari kontak WhatsApp Arin. Terlihat status WhatsApp Arin batu saja online. Fian mengirim beberapa foto yang dia ambil tadi. Dia lupa belum sempat mengirimkan pada Arin. Dan tak lupa beberapa kalimat dia tulis di bawahnya.


"Ini foto yang tadi.Lo terlihat sangat cantik. Apalagi senyum lo, seperti gula dalam kopi pahit. Sangat pas untuk menjadi pelengkap. Sangat indah seperti senja di sore kemarin. Teruslah tersenyum seperti ini. Jangan pernah bersedih untuk hal yang tidak perlu. Jadilah Arin yang selalu kuat. Dalam keadaaan apapun."


Fian membaca ulang tulisan tersebut. Pantas kah untuk kalimat perpisahan. Tapi dia tidak ingin menulis kata-kata perpisahan. Pasti akan terasa berat untuknya dan juga pasti untuk Arin. Akhirnya Fian mengirim pesan itu juga. Dia sudah yakin dengan tulisannya itu, bukan sebagai kata perpisahan.


Setelah itu Fian mencari nomer kontak Bara. Dan melihat status WhatsApp Bara juga masih online. Fian menulis beberapa kata buat Bara.


"Assalamu'alaikum, Bang maaf Fian pamit. Fian harus pergi. Seperti kata Fian tadi, Fian menitipkan Arin kepada Abang. Bukan bermaksud menganggap Arin sebagai barang. Namun Fian sangat menyayangi Arin. Fian berharap Abang mau menjaga Arin. Kita sama-sama tau Arin gadis seperti apa. Saya yakin Abang yang pantas menjaga Arin. Jaga dia ya Pak Dokter Bara. Buat dia bahagia. Dan jangan biarkan airmata jatuh. Terimakasih Pak Dokter Bara. Saya yakin Pak Dokter pasti sanggup menjaganya karena saya tau Pak Dokter menyayanginya juga. Selamat tinggal Fian pamit untuk pergi jauh dari kehidupan Arin. Wassalamu'alaikum."


Fian membaca ulang tulisan itu lagi. Takut saja ada kata-kata yang tidak pas. Setelah di rasa cukup pantas Fian mengirimkan pesan tersebut.


Fian mematikan ponselnya. Dan kemudian mengambil ponsel baru. Memasangkan kartu dan nomer telepon baru. Dia menyimpan ponsel yang lama. Dan memasukkannya ke dalam tas ranselnya.Dan saat bersamaan terdengar suara pramugari yang memberitahukan kalau pesawat akan lepas landas.


Fian memejamkan mata. Dia menarik nafas panjang. Memenuhi dadanya yang terasa sangat sesak. Airmata jatuh setetes membasahi pipinya. Buru-buru dia hapus. Dia tidak mau terlihat cengeng.


"Selamat tinggal Arin. Berbahagialah selamanya."


Dan terbanglah burung besi itu menuju kota yang jauh diujung timur pulau jawa. Selamat tinggal Jakarta.


Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Arin sudah berada di kamarnya. Setelah tadi membantu bunda membereskan sisa makan malam dan juga membantu bunda membuat kue pesanan tetangga buat acara besok.


Sekarang bunda hanya di rumah. Dan Alhamdulillah banyak pesanan kue berdatangan. Semenjak Arin mempromosikan kue buatan bunda kepada teman-temannya lewat media sosialnya. Orderan mengalir walaupun tidak banyak.Tapi terus menerus selalu ada.


Arin duduk bersandar di dinding ranjang. Dia belum bisa tidur. Dia masih teringat kejadian tadi siang. Saat Fian tiba-tiba menciumnya. Dia merasa Fian berbeda. Apalagi saat Fian mau pulang. Tidak biasanya Fian memeluknya begitu erat. Tadi dia sudah sangat takut kalau ada yang melihat.


Arin sempat bertanya pada Rama tadi. Dan jawaban Rama membuatnya bernafas lega. Kata Rama Ayah dan bunda sedang keluar saat itu. Dan tanpa Arin tau sebenarnya dari tadi Rama mengawasi mereka. Bukan ingin tau tapi Rama tidak ingin apa yang dilakukan kakaknya ada yang melihat.


Arin mengambil ponselnya. Dia membuka aplikasi WhatsApp. Tak ada satupun pesan masuk. Arin berharap Fian mengirimi pesan saat ini. Perasaan Arin tidak nyaman. Namun pesan itu belum juga datang. Padahal tadi Fian dalam status online. Namun hanya sebentar. Arin meletakkan kembali ponselnya. Tiba-tiba terdengar notifikasi pesan masuk . Arin mengambil kembali ponselnya. Dilihatnya ada pesan dari Bara.


Bara : Assalamu'alaikum, Arin apakah sudah tidur.


Arin membaca pesan yang masuk. Dia tidak langsung menjawab.


"Eh tumben Aa kirim pesen, ada apa ya." Arin mengetikkan balasan buat Bara.


Arin : Wa'alaikumsalam Aa, Belum . Ini lagi chatan.


Dia tunggu sebentar. Tak lama ada balasan masuk.


Bara: Sama siapa. Saya mengganggu dong.


Arin :Sama Aa , siapa lagi 🤭🤭

__ADS_1


Bara : Oh saya kira sama yang lain. Tadi siang habis dari mana sama Fian.


Arin bingung dengan pertanyaan Bara. Sedetail itu kah? Tapi akhirnya Arin jawab jujur juga.


Arin : Tadi nonton bioskop Aa. Film horor lagi . Kan aku penakut. Tau tuh Fian seperti yang mengambil kesempatan gitu.


Bara : Mengambil kesempatan bagaimana?


Arin : Eh.. bukan begitu . Maksud aku Fian kaya yang berbeda gitu A. Kenapa ya dengan Fian.


Arin merasa dia keceplosan tadi. Arin tidak ingin Bara berpikiran negatif tentang Fian. Toh tadi dia menikmati semua perlakuan Fian padanya. Arin senyum-senyum sendiri mengingat kejadian tadi. Sampai lupa kalau sedang berbalas pesan dengan Bara.


Bara : Arin coba jelaskan ada apa. Apa yang Fian lakukan ke kamu.


Arin : Tidak ada Aa. Cuma tadi pas pulang Fian meluk Arin sangat erat. Seperti mau berpisah gitu.


Bara tertegun membaca pesan dari Arin. "Apa ini arti ucapan Fian tadi siang. Apa dia benar-benar pergi." Ucap Bara pelan.


Bara : Apa Fian ada berkata sesuatu kepada kamu?


Arin : Tidak Aa. Cuma sikapnya saja yang tidak biasa. Tapi ya sudahlah A. Toh hubungan kita tidak bakal mendapatkan restu dari kedua orang tua Fian.


Setelah mengirim pesan tersebut Arin tertegun sendiri. Dia merasa keceplosan lagi.


"Eh.. kenapa aku cerita sama Aa ya. Duh jadi ga enak."


Lama tidak ada balasan. Tapi status Bara masih online. Arin menunggu respon dari Bara atas tulisannya tadi.


Lalu terdengar notif pesan masuk lagi.


Bara : Jangan berpikir macam-macam. Ok sekarang kamu istirahat. Besok kamu kerja kan. Boleh saya antar jemput kamu. Sehari ini saja. Ada yang mau saya bicarakan dengan kamu.


Arin membaca pesan dari Bara tersebut. Kemudian membalasnya.


Arin : Tapi Aa. Apa tidak sebaiknya kita bertemu saja sepulang kerja. Bertemu di mana.


Bara : Baiklah kalau begitu. Kita bertemu di depan rumah sakit saja.


Arin : Baiklah Aa. Sepulang kerja kan.


Bara: Iya Arin. Sampai besok ya. Sekarang istirahat. Sudah malam. Ingat jangan tidur malam-malam. Jaga kesehatan kamu.


Arin tersenyum membaca pesan yang panjang dari Bara. Benar- benar pesan seorang dokter.


Arin menutup ponselnya. Lalu meletakkan. Di atas meja. Dia melihat jam di dinding. Sudah jam sepuluh malam. Dia harus tidur saat ini.


Baru saja diletakkan, sudah ada lagi notif pesan masuk. Arin membiarkan saja.


"Mungkin dari Aa, biarkan saja deh." Arin menarik selimutnya. Udara terasa dingin. Dia sudah mulai memejamkan mata. Namun bunyi notif pesan terdengar lagi. Arin membiarkan saja. Beberapa kali ada bunyi pesan masuk. Namun Arin sudah masuk ke alam mimpi. Hari ini dia merasa lelah. Seharian pergi bersama Fian dan dia memang tidak istirahat lagi.


Arin tidur nyenyak malam ini. Besok pagi harus sudah melakukan aktivitas seperti biasanya. Dia merasa harus bisa istirahat dengan tenang dan tak ingin memikirkan apapun. Di hari Senin pekerjaannya pasti akan tambah banyak.


Namun ditengah malam tiba-tiba dia merasa sangat gelisah tidurnya mulai banyak bergerak. Keringat dingin membasahi keningnya. Tampak bajunya juga basah oleh keringat. Sepertinya Arin bermimpi buruk. Posisi tidurnya sebentar-sebentar berganti. Kadang telentang. Sebentar kemudian miring. Dan itu hanya sebentar. Kemudian telentang lagi dan kemudian miring lagi.


Apa yang sebenarnya Arin alami. Mimpi apa dia. Mungkinkah dia mendapatkan firasat dari mimpinya.

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa tinggalkan like dan komen Terimakasih ❤️❤️❤️


__ADS_2