
Akhirnya yang ditunggu telah datang
Pov Arin
Gue dimana? Badan gue pegal semua. Rasanya sakit semua. Apalagi perut gue. Apa yang terjadi sebenarnya pada tubuh gue. Sepertinya gue sudah terlalu lama tidur. Kebanyakan tidur badan ternyata juga terasa sakit. Gue harus bangun. Tapi ini di mana. Hijau semua. Rumah siapa ini kok catnya berwarna hijau. Kok gue diinfus. Kenapa gue. Duh rasanya haus sekali. Siapa yang duduk di samping tempat tidur gue. Seperti Fian. Gue haus tapi tangan gue tidak bisa digerakkan. Gue pengen minum. Minta tolong sama Fian aja kali ya.
Eh.. Mulut gue kenapa? Gue tidak bisa membuka mulut. Bagaimana cara gue minta tolong?
"Ha..us... ha..us..mi..num..mi..num.. to...long... Haus."
Fian benar-benar mendengar suara itu. Dan...
"Arin.. kamu sadar?"
Fian terkejut mendengar ada suara. Dia langsung menoleh ke arah Arin. Fian yang tadi sedang fokus bermain ponsel, langsung mengantongi ponselnya dan mendekati Arin. Bahkan dia sampai loncat dari tempat duduknya.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu bangun. Lo haus ya. Sebentar gue ambil minum dulu."
"Fian, ada apa? Suara siapa itu? Apa itu suara Arin? Arin sudah sadar?"
Bunda yang sedang makan, langsung loncat bangun dari duduknya. Fian mengambil air minum dan menyuapi Arin.
"Pelan-pelan minumnya." Ucap Fian sambil menyuapi Arin air putih dengan sendok. Fian takut Arin tersedak.
"Alhamdulillah Nak, Akhirnya kamu bangun juga." Bunda meneteskan air mata karena saking bahagianya. Fian tersenyum bahagia. Dia peluk Arin.
"Fian, gue se..sak, Ga bi..sa na..fas. Ini meluknya jangan kenceng-kenceng."
"Maaf Arin. Maaf ya."
"Fian panggil Dokter dulu."
Fian memencet tombol saklar.Tak berapa lama Dokter Rizal dan dua orang perawat datang.
"Pak Dokter, Arin telah sadar." Bunda langsung melaporkan apa yang terjadi pada Arin.
Dokter Rizal memeriksa Arin. Dan hasilnya Arin sudah sadar seratus persen. Dia telah bangun dari tidur panjangnya.
"Alhamdulillah.Selamat Arin, selamat kembali ke dunia nyata. Bagaimana keadaanmu? Apakah anda merasa pusing? Atau ada yang terasa sakit?" Dokter Rizal bertanya pada Arin yang terlihat hanya diam saja.
"Saya, saya hanya sedikit bingung Dok."
"Ada apa? Boleh saya tahu, apa yang membuat anda merasa bingung?"
"Dokter, berapa lama saya tertidur?"
"Anda tertidur selama satu minggu. Hm...apa ada sesuatu yang anda ingat."
Arin diam saja. Dia masih merasa bingung. Dia merasa hanya tidur satu hari. Tetapi ternyata sudah satu minggu.
"Luka di perut anda sudah mulai mengering. Tapi belum boleh banyak bergerak dulu. Agar lukanya tidak terbuka dan cepat sembuh. Sekarang istirahat dulu. Semua sudah baik-baik saja. Tinggal pemulihan. Besok saya periksa kembali. Semoga semua semakin baik ya. Maaf kami permisi dulu." Dokter Rizal dan kedua suster pergi. Bunda mendekati Arin.
"Arin, Alhamdulillah kamu sudah bangun Nak. Kamu makan dulu ya. Pasti lapar beberapa hari tidak makan."
"Nanti aja bund. Mulut Arin masih belum bisa buat makan."
"Arin, akhirnya lo bangun. Gue bahagia banget. Apa yang lo rasakan sekarang? Mana yang sakit?" Fian memberondong Arin dengan berbagai pertanyaan. Dia merasa begitu bahagia. Akhirnya Arin sadar juga.
"Arin, apa ada yang telah terjadi dengan Arin?" Bara datang tergopoh-gopoh. Dia tadi mendengar bunyi alarm dari kamar Arin. Tapi karena sedang ada pasien, jadinya dia tidak bisa langsung datang. Bara terkejut melihat Arin sudah membuka mata. "Kamu sudah sadar Arin. Syukur Alhamdulillah."
Arin tersenyum. Bunda juga.
"Alhamdulillah Dok, Akhirnya Arin bisa sadar kembali." Bunda yang menjawab pertanyaan Bara. Arin hanya diam saja. Begitu juga Fian.
"Apa ada yang kamu rasakan? Pusing atau sakit kepala mungkin?"
Arin menggeleng.
__ADS_1
"Baguslah, bunda Arin sebaiknya di kasih makan yang teksturnya halus dulu ya Organ tubuhnya baru saja istirahat jadi jangan dipaksakan bekerja keras dulu."
"Baik dokter, apa ada pantangan makanan yang harus di makan ?"
"Itu saja dulu, makanlah bubur dulu. secara bertahap baru nasi."
"Baik Dokter."
Bara memandang Arin. Hatinya merasa sangat senang. Akhirnya Arin mau bangun. Akhirnya dia kembali sehat.
"Ini sudah malam, sebaiknya kalian istirahat. Fian bisa kita bicara sebentar di luar."
"Baik pak dokter, Mari kita keluar."
Bara dan Fian ke luar dari ruangan Arin. Biar bunda dan Arin bisa istirahat. Hari sudah malam. Sekarang sudah pukul Sepuluh malam. Waktunya istirahat.
Sementara di luar ruangan Bara dan Fian duduk bersebelahan di kursi tunggu.
"Ada yang Dokter Bara mau bicarakan?" Fian penasaran dengan Bara yang mengajaknya berbincang diluar. Fian berpikir pasti ada sesuatu yang penting.
"Begini Fian. Saya tau, kalau kamu teman Arin sejak kecil." Bara memulai percakapan.
"Iya Dok, memang begitu adanya. Kami besar secara bersama-sama. Semua hal kita lalui berdua."
Ada rasa perih di hati Bara mendengar jawaban Fian. Tapi semua memang benar. Fian adalah seperti belahan Arin. Dan juga sebaliknya Arin seperti belahannya Fian. Bara hanya orang asing yang tiba-tiba hadir di kehidupan Arin.
"Begini, pasti kamu tau apa yang terjadi dengan Arin selama ini. Apa yang Arin alami pasti kamu tau semua." Bara berhenti sejenak. Dia mengambil nafas panjang. Ada rasa sesak jika mengingat itu semua.
"Iya Dok, Tapi ini maksudnya bagaimana? Gue masih bingung."
" Begini Fian. Saya mohon kedepannya jagalah Arin baik-baik. Saya tidak tahu jika sekali lagi hal buruk terjadi pada Arin. Saya tidak berani membayangkan kemungkinan yang terburuknya."
Fian terdiam. Dia berpikir apa yang diucapkan Bara adalah benar. Jika Arin sampai mengalami hal buruk lagi, bisa jadi dia tidak ingin bangun selamanya. Fian tertunduk. Hatinya begitu khawatir dengan keadaan Arin nantinya. Apalagi mamanya yang begitu benci pada Arin. Bisa jadi mamanya lah yang bisa membuat Arin down lagi. Fian bingung harus bagaimana. Dia tidak mungkin membantah perkataan orang tuanya. Tapi dia juga sangat mencintai Arin.
"Dokter, boleh gue nitip Arin pada Dokter."
"Begini Dok, gue mau jujur. Kemarin gue melihat Arin mencium bibir Dokter. Maaf tidak sengaja gue melihat dari celah pintu."
Bara terkejut mendengarnya. Pantas saja kemarin Bara merasa Fian agak sinis memandangnya.
"Maaf. Maafkan saya. Tapi Arin yang memulai mencium saya."
"Tidak Dok, Tidak apa-apa. Gue melihat semua itu. Memang Arin yang memulainya." Fian menarik nafas panjang. Dadanya terasa sesak membahas hal tersebut. Tapi hal ini harus segera diselesaikan sekarang.
"Sebenarnya dulu Arin juga pernah mencium saya." Bara berkata sambil menunduk. Dia tidak berani memandang Fian. Bukan karena takut.Tapi takut kalau Fian memandang Arin rendah. Menilai Arin menjadi cewek murahan yang mau. mencium dan dicium siapa saja.
Fian terkejut."Jadi sebelumnya kalian telah saling kenal?" Ucap Fian memandang Bara dengan intens.
"Belum, Lebih tepatnya kita tidak mengenal sama sekali."
"Bagaimana hal tersebut bisa terjadi Dok?"
" Kamu ingat kejadian lima tahun lalu? Waktu kejadian Arin dilecehkan. Sayalah yang menolong Arin. Saya dan Bram yang menolong Arin. Waktu itu saya dan Bram melewati ruko tersebut dan melihat kejadian itu. Dan kami Yang menolong Arin."
"Memang pihak rumah sakit bilang ada dua orang yang menolong Arin. Jadi itu Dokter Bara dan Dokter Bram."
"Iya Fian. Waktu itu kami berdua sedang buru-buru mau ke bandara. Kami tidak bisa menunda kepergian kami. Jadi Arin cuma kami taruh di rumah sakit. Dengan jaminan dan pihak rumah sakit menyetujui semua itu. Saya berusaha mencari Arin lagi setelah saya pulang dari luar negeri. Tapi tidak pernah ketemu." Bara terdiam. Dia teringat kembali peristiwa lima tahun lalu.
"Terima kasih Dokter, telah menyelamatkan teman gue." Fian menjabat tangan Bara.
"Tidak perlu berterima kasih. Sebagai sesama manusia kita harus saling tolong menolong. Dan juga saya senang bisa menyelamatkan gadis yang tidak bersalah."
Mereka berdua terdiam. Dengan pikiran masing-masing. Banyak hal ingin mereka ungkap sebenarnya. Tentang perasaan masing-masing. Tapi mereka merasa tidak pantas untuk memperebutkan seorang gadis yang sedang terluka.
"Maaf Fian. Maksud kamu tadi menitipkan Arin pada saya apa ya?"
Fian terdiam. Dia berpikir akan melepaskan Arin. Dia takut tidak bisa menjaga Arin. Dia takut malah dia yang akan melukai perasaan Arin nantinya. Dia takut mamanya semakin menyakiti Arin jika tau dia menyukai Arin juga. Fian masih mempertimbangkan apa yang mau dia katakan pada Bara.
__ADS_1
"Dokter maukah anda menjaga Arin. Ini semua demi kebaikan Arin. Gue tidak bisa menjaga dia dengan baik." Fian terdiam lagi. Hatinya sangat sakit mengucapkan hal tersebut. Tapi mungkin ini yang terbaik buat Arin. Fian tahu kalau Bara menyukai Arin.
"Fian maksud kamu apa. Tanpa kamu suruh pun saya pasti akan menjaga dia. Dia sudah saya anggap seperti adik saya."
Fian memandang Bara. Matanya berkaca-kaca. Bukan dia cengeng. Tapi memang begitu berat mengungkapkan yang sebenarnya.
"Mari kita jaga Arin bersama-sama Fian. Saya tahu maksud kamu. Biarlah Arin yang memilih."
Bara pun merasakan hal yang sama. Begitu berat beban yang dia rasakan. Apalagi jika mengingat kejadian saat Fian mencium Arin. Dan Arin membalasnya dengan mimik wajah yang sangat bahagia.
"Baiklah Dokter. Kita jaga Arin sama- sama. Biarlah jodoh yang akan memilih kita. Mau dipaksakan seperti apa kalau bukan jodoh tidak akan bersatu. Dan mau ditolak seperti apapun kalau jodoh tidak bisa dipisahkan." Ucap Fian. Akhirnya memang mereka harus pasrah dan menerima semua ketentuan takdir.
"Betul Fian. Kata-kata kamu sungguh indah. Hahaha...kenapa kita jadi bicara seserius ini?"
Bara tertawa. Diikuti Fian. Mereka berdua tersenyum. Beban berat telah mereka ungkapkan. Tidak ada yang mereka tutup-tutupi lagi.
"Sekarang kita teman ya Dok."
"Benar Fian, sekarang kita teman."
Mereka berdua tersenyum. kemudian saling berjabat tangan dan akhirnya mereka berpelukan.
"Ada apa ini? Ada yang gue tidak tau? Atau jangan-jangan kalian. Kalian berdua masih normal kan?"
Mereka berdua terkejut tiba-tiba ada Bram dan Bima disitu. Fian melepaskan pelukannya. Sedangkan Bara langsung menyambut kedua temannya itu.
"Hahaha... tentu masih normal dong. Kalian mau datang tidak bilang-bilang. Selalu bikin surprise." Ucap Bara menghilangkan kecanggungan karena yang baru terjadi tersebut.
"Malah kami yang mendapat surprise ya Bim. Hahaha..." Bram masih saja menggoda Bara. Dia tau apa yang sebenarnya terjadi. Karena tadi Dokter Rizal sudah memberi kabar.
"Astaga kalian berdua ini. Gue dan Fian hanya terlalu senang karena Arin sudah sadar. Begitu kan Fian? "
Fian hanya mengangguk mengiyakan ucapan Bara. Dia juga merasa malu pasti kedua temen Bara mengira yang tidak-tidak dengan kejadian tadi.
"Arin sudah sadar? Syukur Alhamdulillah. Kami turut senang mendengarnya." Bima tersenyum senang.
"Baguslah, apa boleh kita melihatnya Bar? Apa Arin sudah tertidur kembali. Ini juga sudah malam. Pasti sudah tertidur." Bram pura-pura tidak tahu tentang berita tersebut. Dia tidak tega merusak suasana bahagia kedua orang tersebut.
"Kalau hanya sekedar melihat, silahkan. Tapi tunggu dulu, kira-kira bunda sudah tidur belum ya Takut mengganggu istirahat beliau saja." Fian ikut menyahut ucapan Bara.
"Iya juga, kalau begitu biar gue intip dulu." Bara mendekati pintu dan mengintip ke dalam lewat jendela kaca yang ada. "Keliatannya udah sepi. Sudah tidak ada suara. Mungkin mereka sudah tidur. Kalau begitu besok pagi aja menengok Arin nya." Tambah Bara.
"Bagaimana kalau sekarang kita makan saja. Gue lapar. Kalian berdua pasti juga lapar. Habis perang kan. Hahaha.." Bima masih saja menggoda Fian dan Bara. Bisa sangat senang melihat wajah teraniaya Bara. Lucu dan menggemaskan.
"Ayo, gue juga lapar." Tambah Bram.
Mereka berempat akhirnya keluar untuk makan. Memang perut mereka terasa lapar setelah mereka memerankan drama barusan. Fian tersenyum. Walaupun umur mereka terpaut jauh tapi ketiga orang itu sangat terbuka. Bahkan bisa langsung akrab. Tidak membedakan status apapun. Dia jadi teringat mamanya. Fian bertekad harus bisa merubah sifat mamanya. Dia tidak ingin kedua orang tuanya terus saja menghina dan membenci keluarga Arin. Fian berjanji harus bisa mengurai benang permusuhan di antara kedua keluarga. Bukan demi dirinya. Tapi demi Arin. Orang yang sangat di sayanginya.
"Malah melamun, di makan itu makanan. Keburu dingin. Tidak enak nanti." Bram menyenggol lengan Fian. Fian yang dari tadi malah melamun sambil mengaduk-aduk makanannya.
"Iya Dok." Jawab Fian pendek.
"Ini di luar panggil abang saja, kalau ga panggil nama saja boleh. Senyaman lo." ucap Bram lagi. Bram merasa Fian mempunyai beban pikiran. Dia ingin membantu Fian tentunya. Karena memang itu profesi Bram.
"Iya Bang."
"Kalau ada masalah boleh kok cerita ke gue. Siapa tahu gue bisa bantu. Jangan sungkan dan gratis juga. jangan khawatir. Hehehe.." Bram terkekeh sendiri. Fian hanya tersenyum. Dia senang mendapat teman baru yang bisa menghargai orang lain walaupun umurnya lebih muda.
Bara pun terlihat melamun. Dia teringat kata-kata Fian tadi. Dia tahu maksud dan tujuan Fian. Tapi apa semudah itu Fian menyerah. Sedangkan rasa sayang Fian ke Arin begitu besar . Apa mungkin cinta yang tulus itu tidak harus memiliki? Apa mungkin cinta yang tulus itu bisa tidak egois? Cinta yang tulus itu bila bisa melihat orang yang kita sayangi bahagia walaupun tidak bersama kita Cinta yang tulus itu tidak egois. Cinta yang tulus itu saling menghargai. Cinta yang tulus itu rela berkorban demi kebahagiaan orang yang dicintainya.
Adakah cinta yang tulus kepadaku Adakah cinta yang tak pernah berakhir
Adakah cinta yang tulus kepadaku Adalah cinta yang tak pernah berakhir
Bersambung
Jangan lupa tinggalkan like dan komen
__ADS_1
Terima kasih❤️❤️❤️❤️