
Senyum Tia
Bara mendorong kursi roda yang diduduki Arin. Sebenarnya Arin merasa tidak enak karena terus menerus merepotkan Bara dan Bram. Bunda bersikukuh mau mendorong kursi roda itu. Tapi diminta oleh Bara dengan alasan karena kasihan sama bunda, nanti capek. Tapi memang benar kalau ada yang muda kenapa orang tua yang harus melakukan. Yang muda harus pengertian tentunya.
Kamar Tia berbeda lantai dengan kamar Arin. Kamar Tia ada dilantai dua sedang Arin ada di lantai Tiga. Tidak begitu jauh Sebenarnya. Tapi karena memang Arin belum tau letak kamar Tia makannya dia minta di antar Bara. Bara memang sengaja mau ke tempat Tia, karena sudah janji sama Tia untuk mengunjungi nya jika senggang. Dan sekarang memang dia sudah senggang sehingga bisa bersama-sama ke ruangan Tia.
"Kakak cantik."
Tia berteriak kegirangan melihat Arin memasuki kamarnya. Apalagi Arin datang bersama Bara dan Bram.
"Selamat sore Tia."
"Eh.. Ada pak Dokter Baik dan Pak Dokter Ganteng juga." Tia tersenyum bahagia. Wajahnya langsung ceria.
"Hahaha...Tia bisa saja. Komplit ya sekarang. Ada kakak cantik, Dokter Baik , Dokter ganteng. Tambah satu lagi ada Nenek juga. Tia Salim sama nenek ya." Bara memperkenalkan bunda kepada Tia. Dengan penuh semangat Tia melaksanakan perintah Bara.
"Tia baru saja merajuk ingin bertemu dengan kak Arin." Kata Ayu.
"Iyakah? Kenapa sayang. Sudah kangen sama kak Arin ya." Ucap Arin lembut.
Sejak melihat Tia untuk pertama kali Arin sudah merasa gadis cilik itu sangat menarik. Arin ingin lebih dekat dengan Tia. Arin bersimpati dengan yank dialami Tia.
"Di sini sepi kak, cuma berdua sama suster. Tia jenuh. Tapi kata suster Tia harus makan dulu baru bisa ketemu Kakak cantik."
"Kan ini rumah sakit. Kalau ingin yang ramai itu di pasar Tia." Ucap Bram sambil mengelus kepala Tia. "Tapi bener juga kata suster. Tia harus makan yang banyak biar cepat sembuh dan bisa main sama kakak cantik." Tambah Bram. Kali ini dia cubit pipi Tia dengan gemas.
"Dokter ganteng jahat. Masa di cubit kan sakit." Tia cemberut. Tapi semua orang tertawa. Melihat kelucuan Tia semua menjadi gemas. Tak ada yang tak menyukai anak kecil selucu Tia.
"Sakit ya, sini sama kak Arin aja. Jangan deket-deket sama dokter ganteng."
Arin bangun dari duduknya di kursi roda dan duduk di samping Tia di atas ranjang. Melihat Arin bangun dengan sigap Bara langsung membantu Arin.
"Duh yang siap siaga. Hahaha.." Bram meledek Bara.
Bara sudah terbiasa dengan ledekan dan godaan Bram. Bara hanya tersenyum. Sudah kebal dengan sikap Bram sekarang. Sudah tahan banting .
Arin juga tidak menyahut. Dia terima uluran tangan Bara.
"Cie... cie kakak cantik sama Pak Dokter Baik." Tia ikut menggoda Bara dan Arin.
"Cie..cie kenapa Tia. Kan hanya membantu kakak cantik aja." Jawab Bara singkat.
Mereka terus saja bercanda sampai senja. Selalu ada bahan untuk candaan mereka. Bahkan Bara yang biasanya irit bicara. Sekarang malah bisa terbahak. Tia bisa membawa keceriaan buat mereka semua. Walaupun dalam keadaan sakit tidak dia rasakan. Tia merasa sangat senang sore itu. Dia terus tersenyum dan tertawa.
Tanpa mereka sadari dari luar ada sepasang mata yang memperhatikan. Dia hanya mengintip suasana di dalam ruangan. Sengaja tidak ingin bergabung. Saat melihat mereka pamit mau keluar, orang tersebut pergi bersembunyi. Sengaja menghindar. Orang tersebut langsung menghilang entah pergi kemana. Menjauh dari kamar Tia.
🌸🌸🌸
Hari telah senja. Kamar Tia telah sepi. Arin dan bunda sudah kembali ke kamarnya. Sedangkan Bara dan Bram sudah pulang ke rumah masing- masing. Jam kerja mereka telah usai. Saatnya mereka pulang ke peraduan.
Di dalam mobilnya Bara tercenung. Setelah beberapa hari ini, dia sibuk dengan pekerjaan di rumah sakit. Sibuk dengan berbagai macam problema para pasien. Termasuk kasus Arin dan Tia. Dia teringat Arin dengan segala kejadian buruk yang dia alami. Yang sempat membuatnya trauma. Bara juga teringat Tia. Anak sekecil itu sudah divonis mempunyai penyakit yang sampai saat ini obatnya masih langka. Ibunya pun juga sudah meninggal. Penderitaannya yang datang bertubi- tubi buat dirinya yang masih sekecil itu Bara berpikir, dia seharusnya merasa sangat beruntung di usianya yang dewasa ini, dia masih mempunyai orang tua yang lengkap. Dia masih mempunyai orang-orang yang sangat menyayanginya. Bara jadi ingin segera sampai di rumah. Ingin segera memeluk mamanya. Dia jadi merindukan mamanya.
Bara melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Mana bisa kenceng. Jam pulang kantor pasti jalanan macet. beruntung arah rumah Bara tidak terlalu macet. Dia jadi cepat sampai rumah.
"Assalamu'alaikum.."
Bara masuk rumah bertepatan dengan suara adzan isya berkumandang. Mama yang menyambutnya.
"Wa'alaikumsalam. Anak mama sudah pulang." Mama yang membukakan pintu. Setiap hari selalu begitu. Mamanya lah yang selalu menyambut kedatangan nya. Bara memeluk mamanya.
"Mama, Bara kangen."
"Eh, kenapa kamu sayang. Tidak seperti biasanya kamu manja begini. Datang- datang main peluk aja."
"Tidak apa-apa mama. Bara hanya rindu sama mama."
"Kamu ga kejedot kan? Kamu ga lagi demam kan? Kamu ga lagi mengigau kan? Kamu ga sedang bergurau kan?" Mama heran dengan kelakuan Bara. Tidak biasanya Bara bersikap seperti ini. Mama meraba dahi Bara. "Tidak panas. Kamu kenapa sih sayang?"
Mama membawa Bara duduk di sofa. Mama duduk di atas sofa sedangkan Bara duduk di lantai. Kepalanya dia taruh di pangkuan mama.
"Sayang, kamu kenapa. Apa ada yang terjadi? Cerita sama mama. Siapa tahu mama bisa membantu." Mama mengelus kepala Bara dengan penuh kasih sayang.
" Tidak ada apa-apa Ma. Bara hanya kangen sama Mama. Sudah seminggu ini Bara sibuk dengan pekerjaan Bara. Hari ini Bara hanya merasa sangat bersyukur masih punya orang tua yang lengkap. Yang selalu menyayangi Bara."
"Iya sayang, Tapi biasanya juga kamu tidak sampai seperti ini. Pasti terjadi sesuatu di rumah sakit. Ayo cerita. Jangan bikin mama penasaran."
"Tidak ada apa-apa Ma, Bara hanya sedikit lelah dan mengantuk."
"Benar hanya itu. Kamu tidak bohong."
"Kapan Bara bohong Ma?"
"Sekarang. Saat ini. Ayo mengaku atau tidak."
"Mama maksa banget. Kalau sudah begini mana bisa Bara menolak mama."
__ADS_1
"Bukan maksa, Tapi mama yakin, ada sesuatu yang telah kamu alami. Iya kan. Mama apa sekali dengan kebiasaan kamu sayang." Seorang Ibu pasti bisa merasakan jika terjadi sesuatu yang tidak biasa pada sang anak.
"Iya deh Bara akan cerita. Ini tentang pasien Bara ma. Mama masih ingat Arga ga. Temen sekolah Bara waktu SMA."
"Arga ya. Sebentar Mama ingat-ingat dulu. Arga.. ya... ya mama ingat. Yang anaknya ganteng itu kan. Tinggi , putih potongan rambut kaya oppa korea."
" Mama kok tau oppa- oppa korea segala. Mama pasti sering nonton televisi ya. Tapi masih ganteng aku dong ma. Mama malah memuji anak orang "
"Hahaha.. kamu cemburu mama memuji dia. Iya deh ganteng kamu. Anak mama yang paling ganteng. Satu rumah. Hahaha.." Mama menggoda Bara. Bara akan sangat menggemaskan kalau sedang merajuk. Dari dulu sikapnya tidak berubah. Selalu begitu. Mama dan Arkan sangat senang menggodanya.
"Mama, aku ga jadi cerita aja deh." Bara cemberut. Dia mau bangun tapi ditahan sama Mama .
"Iya... iya. Habis kamu lucu. Kamu sudah dewasa sayang. Masih saja seperti anak kecil. Ya udah lanjutkan ceritanya." Mama mengelus kepala Bara dengan lembut, dengan penuh kasih sayang. Kapan lagi. Jarang sekali Bara punya waktu seperti saat ini.
"Arga sudah menikah dengan Sheila dan punya anak ma.."
"Tunggu.. Sheila... Sheila. Sebentar.. mama ingat-ingat dulu. Ya.. ya.. mama ingat. Yang pernah datang kesini dan mengaku pacar kamu?"
"Iya, benar yang itu. Sheila sudah meninggal dua tahun lalu."
"Innalilahi wainnailaihi rojiun. Terus bagaimana dengan Arga dan anaknya?"
"Bara ketemu Arga dua hari yang lalu. Saat Bara mengunjungi pasien Bara. yang ternyata anak Arga dan Sheila." Bara berhenti berkata. Dia jadi teringat Tia. Gadis cilik yang selalu bisa memeriahkan suasana itu sedang sakit. Kata Ayu ,suster Tia dulu Tia tidak seceria ini. Apalagi saat mamanya meninggal karena kecelakaan saat menyelamatkan Tia. Lukanya sangat parah, kepalanya terbentur trotoar. Nyawanya tidak tertolong.
Tia selalu bersedih semenjak ditinggal Sheila. Ditambah lagi Arga yang jadi gila kerja. Selain kerja di rumah sakit Arga juga mengurusi perusahaan milik keluarga. Waktu Arga hanya untuk bekerja dan bekerja.Dia menyembunyikan kesedihannya dengan bekerja dan terus bekerja. Sampai dia menelantarkan Tia. Itu cerita Ayu dua hari yang lalu saat Bara melihat Tia yang terus murung.
Itulah awal dia jadi dekat sama Tia. Bara jadi bersimpati. Setiap berkunjung Bara selalu membawa kan mainan atau makanan yang aman buat Tia. Makanya Tia selalu memanggilnya dokter baik.
"Malah melamun. Teruskan ceritanya. Mama pengen tahu."
"Eh,maaf Ma. Sampai mana tadi. Lupa"
"Sampai ketemu Arga."
"Oh iya. Anak Arga pasien Bara. Usianya baru enam tahun. Dia mengidap leukimia."
"Astaghfirullah, kasian sekali. Anak sekecil itu sudah mengidap penyakit yang obatnya masih sangat langka. Mana sudah tidak punya mama lagi." Bunda berkaca-kaca. Bunda ikut merasa sedih.
"Iya ma, sekarang setiap hari Bara selalu menyempatkan bermain dulu sama Tia. Kasian dia. Arga sangat sibuk. Dia datang hanya kalau malam hari. Maaf ya Ma, Bara sering pulang terlambat sekarang."
"Tidak apa-apa Nak, Mama senang kamu bertanggung jawab dengan tugas profesi kamu. Dah sono sekarang mandi dulu lalu makan. Sebentar lagi Arkan pulang kita bisa makan bersama."
"Baik ma."
Bara bangun dan berjalan menuju kamarnya. Badannya terasa sangat lengket. Tapi hatinya sedikit lega. Hari ini dia bisa memeluk mamanya.
🌸🌸🌸
"Hah.. ada orang di kamar?"
Arin terkejut saat melihat di sofa orang yang sedang tidur mendengkur. Dia masuk pelan- pelan. Di sofa sesosok manusia tidur tengkurap. Tidak terlihat wajahnya. Namun dari potongan rambutnya Arin tau siapa dia.
"Siapa yang tidur itu Bun?"
"Kok bisa ada orang masuk?"
Mereka berdua mengamati orang tersebut dengan hati-hati.
"Astaghfirullah.. Bukannya itu Fian Bund."
"Eh iya. Mungkin dia menunggu kamu kelamaan jadi tertidur."
"Bisa jadi, dadar *****. Bangunin aja bun, sebentar lagi magrib."
"Biarin aja kasian mungkin dia capek. Bunda mau mandi dulu udah sore."
Bunda menuju kamar mandi. Setelah bunda menutup pintu, Arin mendekati Fian. Arin memandang wajah ganteng Fian. Wajah sahabat kecilnya. Wajah orang yang selalu ada disaat dia susah. wajah orang yang mengisi relung hatinya. Orang terdepan yang memasang badan untuk selalu menjaganya.Fian sang sahabat sejatinya.
"Hai Fian, nyenyak banget tidur kamu." Arin tersenyum. Tak bosan-bosannya dipandangi wajah Fian.
"Tetaplah sehat dan bahagia. Aku hanya ingin mendengar tawamu. Tetaplah menjadi anak yang berbakti pada orang tuamu Fian."
Tangan Arin terulur. Dia ingin menyentuh wajah Fian. Namun dia urungkan. Perasaannya campur aduk. Dia menunduk. Setetes air mata jatuh di pangkuannya. Arin menjauh. Dia bangun dari kursi rodanya dan duduk di ranjang dengan perlahan. Lukanya masih terasa perih.
Fian membuka matanya. Dia tersenyum. Sebenarnya dia sudah bangun, tapi pura-pura tidur saat tadi Arin dan Bunda datang. Pintu kamar mandi terbuka. Bunda sudah selesai mandi. Bunda keluar dengan wajah yang terlihat segar. Mata Fian tertutup lagi. Dia pura-pura tidur lagi.
"Fian belum bangun juga. Biar bunda bangunkan. Sudah adzan juga. Tidak baik tidur waktu Maghrib." Ucap bunda. Dia mendekati sofa untuk membangunkan Fian.
Bunda menepuk bahu Fian pelan.
"Fian.... Fian.. bangun Nak. Udah magrib."
Fian pura-pura menggeliat. Tapi memang Fian merasa nyaman sekali tidur di sofa. padahal sofa itu sempit. Semalam dia tidak bisa tidur. Setelah berbincang dengan Andra sampai malam, dia masih juga tidak bisa tidur. Dia tidur sudah menjelang dini hari. Fian selalu kepikiran Arin. Dia tidak bisa ke rumah sakit semalam. Jadinya dia tidak bisa tidur.
"Fian... Fian.. Fian."
__ADS_1
Bunda menggoyang tubuh Fian agak sedikit kencang. Fian menggeliat lagi. Kali ini dia membuka mata.
"Eh.. di mana ini. Lho..kok ada bunda."
Fian sengaja melakukan itu agar Arin tidak malu, kalau tadi dia mendengar apa yang dia ucapkan . Dia melihat sekeliling.
"Hehehe.. maaf ketiduran."
Fian malah cengengesan.
"Nyenyak banget tidur lo kebo."
"Siapa yang kebo. Tega banget ngatain gue kebo."
"Bagaimana tidak, di rumah sakit masih bisa tidur nyenyak. Mana ngorok lagi."
"Mana ada Fian yang ganteng ini tidur ngorok. Tidur gue seperti pangeran yang berwibawa." Ucap Fian membusungkan dada.
"Pangeran kodok yang ada. Hahaha..." Arin tertawa lepas.
"Walaupun pangeran kodok tapi tetep pangeran kan? Dan lo suka kan." Fian mendekati Arin.
"Jauh-jauh sono. Bau iler. Tuh di pipi lo masih ada bekasnya."
"Lo fitnah ya. Mana ada gue ngiler."
Fian meraba pipinya dan semakin mendekati Arin. Dia menyapukan tangannya yang bekas dia usap pipi tadi di baju Arin.
"Fian jorok. Bunda Fian jorok nih. Masa bekas iler dia usap ke baju aku."
"Dih ngadu. Arin ngadu..Arin ngadu."
"Biarin... biarin."
"Hush .. kalian ini sudah gede masih saja kaya bocah." Hardik bunda pada mereka berdua.
"Hahaha.."
Fian dan Arin tertawa terbahak. Dari dulu mereka memang begitu. Selalu ada saja bahan untuk saling meledek.
"Udah adzan, sholat sana. Malah becanda terus."
"Iya bunda sayang, Fian sholat di mushola aja. Sekalian nanti mau mampir beli makanan. Arin mau apa. Bunda mau makan apa."
"Bunda merepotkan kamu terus,."
"Tidak kok bund, Tenang saja Fian tidak pernah merasa direpotkan. Fian malah seneng bisa bantu bunda."
"Ya udah terserah kamu aja mau beli apa. Ini uangnya. Jangan ditolak. Harus diterima. Kali ini bunda tidak menerima penolakan." Bunda membuka dompetnya dan mengambil dua lembar uang seratus ribuan. Bunda serahkan pada Fian.
"Iya deh bunda sayang. Ini uangnya aku terima." Fian menerima uang dari bunda. Karena kalau sudah begini bunda memang sudah tak bisa di lawan. Fian hanya ingin menyenangkan hati bunda dan Arin.
"Fian, gue mau cimol sama tahu bulet ya. Siomay juga. Dimsum juga."
"Beli sendiri, banyak amat pesenan lo. Lagi sakit jangan banyak jajan."
"Fian, mau..."
"Tidak ."
"Mau."
"Tidak.."
"Kalian ini, sudah sono Fian berangkat. Brisik bunda puyeng." Omel bunda akhirnya. Sebenarnya bunda merasa bahagia melihat keakraban mereka. Tapi mereka belum sholat magrib. Nanti keburu waktunya habis.
"Fian, jangan lupa sholat dulu."
"Iya pasti bunda.Fian berangkat dulu."
Fian melangkah keluar. Dia tersenyum bahagia. Arin sudah bisa diajak berdebat. Arin sudah kembali menjadi Arin yang dulu. Yang ceria dan suka berisik.
Langkah Fian terasa ringan. Menuju mushola untuk melaksanakan sholat Maghrib. Sedangkan bunda dan Arin sholat di dalam ruangan. Tak lupa selesai sholat mereka berdoa. Banyak doa yang mereka panjatkan. Rasa syukur yang tak terhingga karena telah lepas dari semua rasa sakit yang Arin alami.
Arin termenung sendiri sehabis sholat. Dia memikirkan banyak hal dalam otaknya. Hikmah atas semua kejadian ini. Semua hal yang dia alami selama ini. Yang meninggalkan bekas luka yang tidak bisa sembuh. Tidak bisa kembali seperti sediakala.
Mata Arin berkaca-kaca. Dia teringat semua kejadian yang telah dia alami beberapa tahun belakangan ini. Saat dulu dia dilecehkan oleh Adit, saat dia dihajar Ayah, dan saat perampok kemarin. Dia kemudian berpikir. Semua yang dia alami membuat dia membuka mata pada kenyataan yang ada.Bahwa apa yang terlihat belum tentu yang sebenarnya.
Banyak hikmah yang bisa ambil dari semua kejadian itu. Dia harus waspada dan berhati-hati. Tidak semua yang orang bilang kita telan mentah-mentah. Kita telaah dulu kebenarannya. Jangan langsung di terima dan disebarkan begitu saja.
Benar kata Bram. Bahkan orang terdekatmu pun bisa jadi orang yang paling berpotensi menyakitimu.Siapkan hati dan mental. Tetap tersenyum dan selalu berpikir positif.
Bersambung.
Jangan lupa tinggalkan like dan komen.
__ADS_1
Maaf bila banyak typo.
Terima kasih ❤️❤️❤️❤️❤️