
Apa yang terjadi
Fian berjalan perlahan meninggalkan kamar Arin. Dia berniat untuk pulang. Tapi dia ingat kalau malam ini dia sudah mendapatkan ijin dari mama untuk menunggui Arin. Ya mama mengijinkan Fian untuk menginap. Tentu saja Fian tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Kapan lagi. Walaupun dia sudah sampai di lobby rumah sakit. Tapi akhirnya dengan semangat empat lima, Fian kembali lagi ke atas. Kembali lagi ke kamar Arin.
"Kapan lagi bisa berduaan sama Arin. Berduaan bagaimana ada bunda juga. Hihihi... Jadi bukan berduaan tapi bertiga an. HiHihi..."
Fian berbicara sendiri. Dia tersenyum . Dia merasa geli, membayangkan malam ini dia bisa tidur di sisi Arin. Walaupun tidak mungkin satu ranjang. Paling tidak bisa satu ruangan sama Arin.
Dengan penuh semangat Fian berbalik arah.Fian sengaja naik tangga. Tidak naik lift . Dia sengaja berjalan pelan. Sengaja mengulur waktu. Agar tiba di ruangan Arin, Arin sudah tidur. Fian ingin menunggu Arin dalam diam. Dalam kesunyian malam. Fian Ingin memuaskan diri memandang wajah Arin. Malam ini saja. Karena setelah Arin pulang ke rumah sudah tidak ada kesempatan lagi.
Ketika tiba di lantai dua, telinga Fian mendengar suara tangisan dari ruangan yang sama seperti kemarin. Yaitu dari kamar Tia. Dia mencoba mengintip dari jendela. Di dalam kamar Tia, Fian melihat seorang laki-laki yang sedang berbicara dengan Tia. Laki-laki itu sepertinya sedang membujuk Tia agar tiada menangis lagi. Fian sudah hampir mengetuk pintu, namun tidak jadi. Fian berpikir itu orang tua Tia. Sudah ada orang tuanya. Apa pantas dia ikut campur. Tapi dilihatnya Tia sudah kembali diam dan sudah tidak terdengar suara tangisnya lagi.
Fian meneruskan langkah menuju kamar Arin. Koridor rumah sakit terlihat sangat sepi. Mungkin semua pasien sudah tertidur. Mungkin yang masih berkeliaran hanya makhluk- makhluk tak kasat mata. Fian bergidik mengingat itu. Pikirannya jadi membayangkan yang tidak-tidak. Tapi dia tidak boleh merasa takut. Dia laki- laki masa takut dengan yang begituan.
Fian sudah semakin dekat dengan kamar Arin. Dia menjadi ragu. karena hari memang sudah larut malam. Bahkan sudah mendekati dini hari. Tapi sudah kepalang tanggung. Sudah dekat juga. Fian sudah sampai di depan kamar. Dia mengintip lewat jendela kaca kecil yang ada di pintu. Suasana di dalam sudah sangat sepi.
"Arin pasti sudah tidur. Gue masuk atau di luar saja ya. "
Fian malah mulai merasa ragu.Tapi akhirnya dia membuka pintu juga. Dengan sangat pelan Fian melangkah. Takut bunda dan Arin terbangun. Fian melihat Arin sudah tidur. Fian mendekati tempat tidur. Dia mengambil kursi dan duduk di kursi itu. Dia duduk di samping tempat tidur Arin.
Fian tidak tau kalau Arin belum tidur. Arin masih memejamkan mata. Arin masih pura-pura tidur. Dia tahu yang masuk adalah karena bau parfum Fian sangat dia hapal. Dia ingin tau apa yang akan dilakukan Fian. Arin hanya diam dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Fian hanya duduk di kursi tanpa melakukan apapun. Dia menunduk. Entah dia sedang apa. Mungkin sedang berpikir mau apa di kamar Arin. Arin menjadi bingung dengan maksud Fian. Untuk apa malam-malam masuk kamar tanpa ada tujuan. Arin masih menunggu. Tiba-tiba bahu Fian terguncang. Terdengar suara isakan. Fian menangis. Kenapa dia. Apa yang terjadi dengan Fian. Arin ragu mau membuka mata atau pura-pura tidur. Dia tidak tega melihat keadaan Fian yang tidak biasanya. Karena penasaran, Arin sedikit membuka matanya bermaksud ingin mengintip , ingin tau yang sebenarnya terjadi pada Fian. Arin melihat bahu Fian yang terguncang perlahan. Arin sudah mau bertanya, Namun tidak jadi. Arin melihat Fian sudah mengangkat wajahnya. Arin pura-pura tidur lagi.
Fian menggenggam tangan Arin yang paling dekat. Terdengar suara Fian yang lirih seperti bisikan.
"Arin. Maafkan gue."
Arin terkejut. Apa maksud Fian berkata begitu. Tapi tak terdengar lagi suara Fian. Fian diam lagi. Tapi tangannya masih menggenggam tangan Arin. Satu tangan yang lain menghapus air mata yang jatuh di pipi Fian.
Arin ingin bangun dan memeluk Fian. Arin tau Fian sedang mengalami suatu kejadian yang pasti sangat menyedihkan. Fian tidak pernah menangis. Fian tidak pernah terlihat seperti ini. Arin ingin membuka matanya dan bertanya kepada Fian, Ada apa yang sebenarnya. Tapi dia urungkan. Arin tidak ingin melihat Fian malu terlihat dalam keadaan yang seperti ini. Arin pikir bisa ditanyakan nanti.
Arin merasa nyaman dalam genggaman tangan Fian. Arin ingin terus seperti ini.Dia tidak ingin jika dia bangun,Fian malah melepaskan genggamannya. Rasa nyaman yang selama ini selalu dia dapatkan dari Fian, tidak ingin Arin lewatkan begitu saja. Lama kelamaan Arin malah benar-benar tertidur dengan tangan dalam genggaman Fian.
Fian mengangkat wajahnya. Dia pandangi Arin cukup lama. Kemudian fian kecup tangan Arin.
"Gue sayang sama lo. Ingat pesen gue tadi ya. Jaga kesehatan dan jangan pernah lupa bahwa lo punya hak untuk mendapatkan bahagia." Kemudian Fian merebahkan kepalanya disisi tubuh Arin yang kosong. Fian merasa hari ini sangat melelahkan. Karena rasa kantuk yang tidak bisa dia tahan, akhirnya dia tertidur juga. Mereka tidur masih dengan saling menggenggam. Arin tertidur dengan berbagai pertanyaan dibenaknya. sedangkan Fian tertidur dengan rasa sesak di dada. Namun mereka beruntung masih bisa tidur walaupun dengan beban pikiran masing-masing. Semoga besok saat mereka terbangun mereka bisa menemukan jawaban dari semua pertanyaan yang ada di benak mereka. Tidur yang nyenyak Arin dan Fian. Semoga mimpi indah.
🌸🌸🌸
Hari telah pagi. Tia membuka matanya. Dia melihat sekeliling. Masih gelap. Mungkin masih sangat pagi. Tia menoleh ke sampingnya. Ternyata ada Papanya. Tia tersenyum. Tia bahagia bisa tidur di pelukan sang Papa. Semalam dia menunggu papanya pulang sampai ketiduran. Padahal dia ingin makan di suapin sang papa.
Tia ingat semenjak mama tidak ada, sikap papa berubah padanya. Tia masih ingat bagaimana saat mamanya menyelamatkan dia dari terjangan truk yang berjalan begitu kencang karena remnya blong. Seharusnya Tia yang tertabrak, Namun justru dia melihat mamanya bersimbah darah. Setelah itu Tia tidak ingat karena dia langsung tidak sadarkan diri. Tia juga terluka namun tidak separah sang mama.
Dia masih ingat bagaimana sang papa berteriak begitu kencang memanggil nama sang mama yang terlempar cukup jauh dari lokasi kejadian. Ya semenjak itu sikap papa berubah. Papa menjadi jarang pulang. Kalau pun pulang itu sudah tengah malam. Tia kesepian. Tia ingin dipeluk papa.Tia juga ingin dipeluk mama. Tia ingin menangis. Tapi kata pak dokter baik, Tia harus jadi anak yang kuat. Tidak gampang menangis. Tapi Tia kan masih kecil. Kalau kata kakak cantik, Tia boleh melakukan apapun asal tidak merepotkan orang lain.
__ADS_1
Tapi sekarang sudah tidak mungkin lagi Tia bisa memeluk sang mama. Mama sudah tidak ada. Mama sudah meninggalkan Tia untuk selama- lamanya. Sekarang hanya tinggal papa. Dan Tia ingin papa selalu ada untuknya. Dia ingin papa bisa memeluknya setiap hari.
Tia menggeser tidurnya. Dia mendekati sang papa. Tia mengelus pipi sang papa. Kemudian menciumnya.
"Selamat pagi papa. Tia senang bangun tidur papa sudah ada di samping Tia. Tia sangat sayang sama papa dan mama. Maafkan Tia yang selalu merepotkan papa."
Ucap Tia lirih. Dia memandang wajah papanya yang tertidur nyenyak. Tia mencium pipi Arga lagi.
Sebenarnya Arga sudah terbangun tadi saat Tia mulai bergerak mendekatinya. Namun Arga pura-pura masih tidur. Dia pejamkan matanya lagi. Arga ingin tau apa yang akan Tia lakukan padanya. Ternyata Tia ingin menciumnya. Arga terharu. Apalagi mendengar apa yang Tia ucapkan. Justru dia lah yang merasa bersalah karena tidak punya waktu untuk Tia. Karena Arga lah yang selama ini mengabaikan anak sekecil Tia, Yang seharusnya masih sangat butuh perhatian dan kasih sayang dari orang tua. Dia malah menelantarkan Tia. Arga sangat menyesal telah melakukan itu semua.
Apalagi sejak mendengar vonis dokter tentang penyakit Tia. Arga berjanji akan merubah segala sikapnya pada Tia.
Arga menggeliat. Dia membuka matanya.
"Sayang, Tia sudah bangun. Sini deket papa. Papa mau peluk Tia."
Dengan sangat gembira Tia mendekati Arga dan masuk dalam pelukannya. Arga menangis tanpa sepengetahuan Tia. Dia sekarang merasakan bagaimana seorang anak membutuhkan pelukan hangat dari seorang papa.
"Papa tidak lupa kan dengan janji papa semalem?" Tanya Tia dengan manja.
"Janji apa yang sayang. Tia bisa ingakan lagi kan?"
"Janji papa untuk menemani Tia mencari kakak cantik."
Lalu Tia menceritakan awal pertemuan nya dengan Arin dengan penuh semangat. Arga tertawa melihat tingkah Tia. Arga bahagia Tia bisa ceria seperti dulu lagi.
"Baiklah sayang, kita sholat subuh dulu.ok."
"Baik papa."
Tia merasa bahagia. Papanya telah kembali. Papa nya yang dulu hilang telah kembali. Semoga papa dan Tia bisa bertemu dengan kakak cantik.
🌸🌸🌸
Ayam jantan telah berkokok. Pagi telah tiba. Semburat warna jingga sudah mulai terlihat di ufuk timur. Adzan subuh berkumandang. Saatnya semua orang bangun dari tidurnya. Bangun dari mimpinya. Kembali ke kehidupan nyata kembali. Memulai rutinitas aktivitas seperti biasanya. Bangun dengan badan yang segar, dengan otak yang bugar dan dengan jiwa yang kembali bertenaga.
Pagi ini Bara bangun dengan senyum ceria. Semalam dia tidur sangat nyenyak. Setelah kemarin sempat tidak bisa tidur dan istirahat beberapa hari, hari ini dia bisa tidur sangat nyenyak. Bangun tubuh menjadi sangat bugar. Hilang semua rasa lelah. Pikirannya juga tenang. Apalagi Arin sudah semakin membaik . Baik fisik dan mentalnya. Arin sudah tidak lagi pingsan bila ingatannya kembali ke kejadian yang telah di alami. Bara menjadi lebih bersemangat. Walaupun tentu akan selalu ada pasien- pasien dengan kasus yang berbeda yang harus dia tangani. Tapi paling tidak kasus Arin, orang yang telah mengusik hatinya telah selesai. Tinggal masa pemulihan dan hanya tinggal di pantau dari jauh. Tapi menurut Bara inilah saatnya dia bisa mulai mendekati Arin. Dia telah bertekad untuk mendapatkan hati Arin. Bara belum pernah merasa jatuh cinta. Ini baru pertama kali. Mungkin dia sudah terlambat usianya sudah mendekati kepala tiga dan baru merasakan jatuh cinta. Tidak apa dari pada tidak sama sekali. Mungkin jodohnya baru datang saat ini.
Sehabis mandi dan sholat subuh, Bara langsung bersiap untuk berangkat kerja. Dia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan pujaan hatinya. Bara sudah tidak sabar ingin bertemu Arin. Hari ini Arin pulang , dia harus bertemu dulu. Karena ijin kepulangan Arin sudah dia tandatangani. Jadi tanpa dia hadir pun, Arin bisa langsung pulang. Tapi Bara ingin bertemu Arin dulu. Dia ingin mengulur waktu Arin sebentar saja, agar dia masih bisa berbincang dengan Arin.
Bara menuruni tangga rumahnya. Padahal masih jam lima pagi. Jam dinasnya mulai jam delapan namun karena tidak ingin terlambat untuk bertemu Arin, dia sengaja datang lebih pagi. Dia sudah siap dengan pakaian dinasnya. Bara menuju dapur mencari mamanya.
"Mama... mama.."
"Iya sayang, Ada apa? Wah pagi-pagi sudah rapi. Mau kemana? Duh gantengnya anak mama."
__ADS_1
"Bara berangkat dulu ya , Ma. Ada kunjungan pasien pagi ini. Karena dia mau pulang jadi ini kunjungan terakhir."
",Kok pagi sekali. Hayo pasien istimewa ya...."
"Tidak Mama, cuma pasien ini ingin pulang pagi-pagi, jadi Bara harus mengecek kesehatannya dulu."
"Iya deh. Tapi kok dandanannya beda. Sekarang rapi dan wangi sekali."
Mama melihat Bara dari atas sampai bawah. Bahkan mama sampai memutar tubuh Bara.
"Ada apa si Ma? Sama saja. Setiap hari Bara kan juga rapi seperti ini."
"Anak mama lagi jatuh cinta ya?"
"Dih apaan sih ma. Mama ada-ada saja. Ya udah Bara berangkat dulu."
"Kamu tidak sarapan dulu. Tapi belum ada yang mateng juga."
"Nanti sarapan bubur aja ma di rumah sakit. Bara berangkat ya Ma. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati ya sayang."
"Iya Ma "
Setelah pamit pada mama , Bara berangkat. Sampai pintu depan dia berpapasan dengan Arkan dan papa yang pulang dari lari pagi. Setiap hari biasanya mereka bertiga menyempatkan waktu walaupun cuma tiga puluh menit untuk berolahraga.
"Wuih.. pagi-pagi sang dokter sudah berangkat. Tumben pagi banget. Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa bang, cuma ada sedikit urusan . Pa, bang, Bara berangkat dulu. Keburu siang. Assalamu'alaikum."
"Iya deh hati-hati."
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati Nak."
Bara berangkat kerja dengan hati yang berbunga. Ini masih pagi pasti jalanan masih lengang. Masih sepi belum macet. Dengan penuh semangat dia menyetir mobilnya. Sambil bersiul menyanyikan lagu cinta. Bara tidak menyadari jika semua tingkahnya tidak biasanya. Dia tidak memikirkan itu. Yang pasti harinya sedang bahagia. Padahal dia belum jadian sama Arin. Namun dia sudah seperti memiliki Arin. Semangat ya pak dokter.
Benar saja jalanan memang masih sepi. Dalam waktu Dua puluh menit Bara sudah tiba di rumah sakit. Sebelum memarkirkan mobilnya, Bara memesan Tiga bungkus bubur ayam dia tukang bubur langganannya. Karena masih pagi jadi belum antri. Hanya dalam waktu lima menit tiga bungkus bubur ayam telah siap di angkut.
Bara berjalan menuju ruangan Arin dulu sebelum ke ruangan kerjanya. Karena memang sengaja dia datang lebih pagi tujuannya memang itu. Padahal hari masih sangat pagi. Baru jam lima lebih empat puluh menit. Dengan menenteng dua kantong plastik berisi bubur ayam dan satu kantong lagi berisi cemilan. Setelah sampai di depan pintu ruangan Arin, Bara berhenti sebentar. Dia merapikan bajunya. Setelah dilihat sudah rapi, Bara membuka pintu kamar begitu saja.Dia terkejut melihat. Melihat apa yang ada didepan matanya. Bara berbalik. Dadanya terasa sesak. Ternyata dia yang akan memberi kejutan malah dia yang terkejut.
Apa yang dilihat Bara ya. Semoga bukan hal yang tidak boleh dilihat oleh umum.
Bersambung.
Jangan lupa tinggalkan like dan komen. Terima kasih❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1