Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 50


__ADS_3

Tak masuk akal


"Dingin sekali"


Arin menggeliat. Dia terbangun karena kedinginan. Apalagi dia tidur di kamar mandi. Biasanya semakin pagi udara akan terasa semakin dingin. Dia membuka mata. Dia memicingkan mata. Dia melihat sekeliling. Dia teringat semalam terkunci di kamar mandi.Dia tersenyum saat mengingat Terdengar adzan subuh berkumandang. Tapi Arin tidak mendengar suara bunda bangun. Arin masih menunggu. Tapi tidak terdengar suara apa-apa.


"Mungkin bunda masih tidur. Pasti bunda kecapekan selama seminggu ini menemani gue di rumah sakit. Maafkan Arin ya bunda. Arin berjanji akan berusaha untuk menerima semua kenyataan yang Arin alami."


Arin berbicara sendirian. Rasanya memang sedih,sakit dan juga kecewa bila mengingat semuanya.


"Arin janji bunda, mulai hari ini Arin akan menjadi Arin yang kuat. Arin yakin Arin akan bisa melewati semua ini."


Arin tersenyum. Dia harus bisa berubah. Siapa lagi yang akan memberi semangat kecuali diri sendiri. Orang lain hanya sedikit pengaruhnya. Semua berasal dari diri sendiri. Jika mau berubah harus tumbuh dari keinginan sendiri, itu akan lebih mudah menjalaninya.


Semenjak berbincang dengan Dokter Bara semalam, pikiran Arin mulai terbuka. Mungkin kita membutuhkan kata-kata bijak dari orang lain untuk memotivasi diri kita. Tapi semua berpulang lagi dari keinginan kita. Kadangkala banyak orang hanya bisa menyalahkan dan menganggap apa yang terjadi pada kita terlalu dilebih- lebihkan. Ada juga orang yang berpikiran kalau kita terlalu memakai perasaan. Sebagian orang ada juga yang memvonis kita terlalu lebay. Semua kembali pada sudut pandang orang dalam menghadapi masalah itu. Mungkin sebaiknya kita memandang suatu masalah dengan obyektif dan bijaksana. Karena memang sifat dan kepribadian orang berbeda- beda.


Kembali pada Arin. Mungkin setelah ketemu Dokter Bara pemikirannya terbuka karena penyampai Bara yang pas dengan kepribadian dan keinginan Arin. Karena tidak semua kata-kata bijak bisa langsung diterima mentah- mentah. Butuh waktu dan pikiran yang tenang untuk mencernanya.


Arin masih diposisi yang sama. Dia masih duduk di closed. Menunggu ada suara dari luar. Tapi sejauh ini tidak ada pergerakan apapun. Adzan subuh sudah dari tadi terdengar. Mungkin sudah lebih dari tiga puluh menit. Tapi bunda belum ke kamar mandi juga. Arin bangun dari duduknya. Dia ingin memanggil bunda. Siapa tahu bunda sudah bangun.


"Bunda..Bunda.. bunda."


Arin diam sejenak. siapa tau bunda baru bangun. Arin mulai memanggil lagi.


"Bunda..Bunda..Bunda.."


Arin memanggil lagi kali ini sambil mengetuk pintu. Tapi belum juga ada pergerakan.


"Bunda di mana. Ini pintu kenapa macet segala. Hukuman bunda kenapa lama. Arin berjanji tidak akan cengeng lagi." Ucap Arin lirih.


Sementara itu Bunda masih menangis. Dia sedih tidak menemukan Arin di dalam ruangan. Bunda panik. Bunda takut Arin melakukan hal-hal yang tidak di inginkan. Bara terus menenangkan bunda.


"Bunda ayo kita cari Arin. Apakah Bunda sudah panggil tenaga medis tadi?"


"Sudah dok,tadi saya panik saya langsung saja pencet tombol saklar ."


" Ya sudah kita ke kamar dulu siapa tahu Arin sudah kembali."


Dengan sabar Bara membujuk bunda. Bara percaya Arin tidak akan pergi jauh. Bara juga percaya Arin tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh. Setelah sampai kamar, ternyata benar dokter Rizal dan dua orang perawat telah mendatangi kamar Arin.


"Dokter Rizal sudah disini.?" tanya Bara. Dia sudah menduga. Karena jika saklar itu dipencet berarti keadaan darurat.


"Iya, Tadi saya mendengar alarm berbunyi. Dan langsung menuju kemari. Ada yang terjadi dengan pasien?"


"Maaf dokter, Arin hilang. Tadi pas saya bangun, Arin tidak ada di tempat tidur, saya mencari di sekeliling ruangan, tapi dia tidak ada." Jawab bunda.


Bara melihat ke sekeliling. Dia tidak menemukan keanehan sama sekali.


"Bunda sudah cek kamar mandi belum?" Tanya Bara setelah tadi memperhatikan sekitar.


"Astaghfirullah, Pak Dokter." Bunda berteriak. Dia semakin panik.


"Ada apa bunda. Bunda jangan panik seperti ini. Saya jadi bingung."


"Arin.. Arin. " Bunda sudah tidak dapat berkata-kata. Tangannya hanya menunjuk ke arah kamar mandi.


"Arin kenapa bunda? Bunda ngomong ada apa?" Bara ikut panik juga .dia cemas kalau-kalau terjadi sesuatu pada Arin.


"Apa yang terjadi dengan pasien?" Tanya dokter Rizal.


" Maaf Dokter. Semalam Arin di kamar mandi. Dan saya ketiduran. Bangun tidur saya panik, lupa kalau Arin belum keluar dari kamar mandi."


"Jadi...."


Bara berlari menuju kamar mandi. Dan menggedor pintunya dengan keras.


"Arin... Arin.. kamu di dalam?"


Tentu saja Arin terkejut mendengar suara itu. Dia langsung bangun dari duduknya.


"Iya, saya di dalam. Tolong buka pintunya. Pintunya macet." Teriak Arin lemah.


"Arin, Masya Allah..bunda lupa. Alhamdulillah .. akhirnya kamu ketemu. Maafkan bunda Arin." Bunda merasa senang sekaligus menyesal karena telah ketiduran.


"Ok saya coba buka ya." Bara mencoba membuka pintu itu. Tapi memang susah.


"Kok susah ya, Tidak bisa di buka juga dari luar. Bunda memangnya sebelumnya pintunya sudah macet dari kemarin?"

__ADS_1


"Setau saya tidak Dok, semalem sebelum Arin masuk saya memakai kamar mandi pintu masih bisa di buka dan tutup dengan normal kok.Tapi kenapa giliran Arin yang pakai kok macet."Jawab bunda.Tentu saja bunda merasa heran. Tapi benar selama seminggu berada di kamar ini. saat memakai kamar mandi pintu nya baik- baik saja.


"Sudah dobrak saja Dokter Bara. Sudah dari semalem. Takut pasien kenapa-napa."


Sebelum mendobrak Bara mencoba membuka kenop pintu sekali lagi. Memang macet. Diulang lagi tetap ga bisa. Di ulang berkali-kali tetap ga bisa. Akhirnya bara berniat mendobrak pintunya.


"Arin menjauh dari pintu. Saya mau mendobrak pintu nya." Bara bersiap- siap.


Tapi Arin tidak memperhatikan ucapan Bara. Dia tidak mendengar dengan jelas apa yang Bara ucapkan. Arin masih mencoba membuka pintunya juga. Arin mencoba memutar kenop pintu kali ini kenapa begitu mudah. Dan pintu pun terbuka.


Pintu terbuka pas bareng saat Bara mendobrak. Bara terlempar menubruk Arin. Mereka bertubrukan. Dengan sigap Bara memeluk Arin. Untungnya mereka tidak sampai jatuh. Syukurlah mereka berdua tidak apa-apa.


Arin sangat terkejut .Karena dia dalam keadaan tidak siap. Dan tahu-tahu sudah berada dalam pelukan Bara. Arin tidak terjatuh saat ditabrak Bara tadi. Untung saja Bara bisa meraihnya. Dan memeluk tubuh Arin. Arin gelagapan di peluk Bara sedemikian rupa. Walaupun ini ketidaksengajaan. Mereka saling pandang.


Karena merasa canggung dengan spontan Bara melepaskan pelukannya. Arin dalam posisi tidak siap, dia hampir jatuh lagi. Dan dengan sigap Bara meraih tubuh Arin kembali. Bara memeluk Arin lagi. Keduanya bertatapan lagi.


Kali ini Bara berani menatap mata Arin. Tidak seperti tadi yang merasa canggung, Bara sudah lebih berani. Arin menghindari tatapan Bara. Dia yang kini merasa canggung.


"Lepas Pak Dokter. Sudah tidak apa- apa." Ucap Arin pelan.


"Hm, Iya."


Bara melepaskan pelukannya. Dengan tertatih Arin berjalan keluar dari kamar mandi terlebih dahulu. Baru kemudian Bara mengikutinya. Bunda dan dua orang suster serta Dokter Rizal hanya menonton pertunjukan itu dengan senyuman. Mereka merasa seperti menonton adegan di film-film. Tapi ini live di depan mata.


Bunda langsung memeluk Arin.


"Sayang, sekali lagi maafkan bunda ya. Bunda teledor. Bunda ketiduran. Tadi pas bangun saking paniknya malah lari keluar. Bunda bener-bener lupa kalau kamu masih ada di kamar mandi."


"Ga apa-apa bunda. Untung kamar mandinya bersih bund, jadi Arin bisa tidur dengan nyaman."


Bara tersenyum mendengar perkataan Arin. Sakit saja bisa bergurau apalagi sehat, pikir Bara.


"Sekarang Arin berbaring di tempat tidur ya, akan kami periksa. Semoga tidak ada yang perlu di khawatirkan."


Dokter Rizal mulai memeriksa seluruh tubuh Arin. Dibantu dua orang suster tadi.


"Secara fisik semua baik-baik saja. Lukamu sudah bagus jahitan. Tinggal menunggu kering. Ingat jangan banyak bergerak dan melakukan aktifitas yang berat. Biar lukanya cepat sembuh." Tambah Dokter Rizal . Dia menjelaskan dengan rinci keadaan Arin.


"Kapan saya boleh pulang Dok, Saya sudah tidak betah di sini." ucap Arin.


Arin memandang Bara. Dia ingin penjelasan dari Bara. Bara tahu arti tatapan Arin.


" Nanti menunggu Dokter Bram datang. Baru saya bisa mengambil keputusan." Jawab Bara Akhirnya.


"Ya sudah saya permisi, semoga lekas sembuh ya Arin. Tetap semangat dalam menjalani hidup."


Dokter Rizal dan kedua suster pergi meninggalkan ruangan Arin. Bunda mendekati ranjang.


"Arin, apakah kamu sudah siap."


"Siap apa bunda?"


Bunda melirik Bara. Mau berbicara yang sebenarnya takut Bara mendengar apa yang mau diberitahukan pada Arin. Bara melihat gerak-gerik bunda.


"Tidak apa-apa kalau saya tidak boleh mendengarkan. Saya permisi dulu. Mari bunda, Arin."


"Dokter, boleh kok ikut mendengarkan." Ucap bunda merasa tidak enak pada Bara.


"Maaf bunda, saya mau keluar dulu. Mau membeli sarapan. Ada yang mau nitip. Bunda mau sarapan apa. Kalau Arin makan makanan rumah sakit aja."


"Tidak usah Dokter, nanti saya mencari sendiri ke kantin."


"Baiklah kalau begitu, Saya permisi dulu. Ingat Arin, Tersenyumlah dan selalu berpikir positif." Pesan Bara sebelum pergi.


Bara berbalik badan. Dia mau keluar mencari makanan buat sarapan dia dan bunda. Kasian kalau bunda harus pergi keluar.


"Dokter sudah keluar, bunda mau bicara apa."


"Astaghfirullah, bunda lupa belum sholat subuh. Jam berapa sekarang. Masih ada waktu sedikit. Lebih baik terlambat daripada tidak mengerjakan. Bunda tidak sengaja ini."


Bunda langsung lari ke kamar mandi. Dia benar-benar lupa. Tadi bangun tidur langsung mencari Arin. Untung masih ingat dan juga masih ada waktu sedikit. Harus di manfaatkan sebaik-baiknya.Tidak lupa bunda juga membantu Arin memakai mukena. Mereka sholat berjamaah. Walaupun Arin harus dengan cara duduk di ranjang karena dia diinfus tidak boleh terlalu banyak gerakan tangannya. Sakit bukan alasan untuk tidak beribadah. Justru inilah saatnya kita mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa.


Bunda sholat subuh dengan khusuk. Selesai sholat bunda berdoa. Banyak doa dia panjatkan untuk sang putri tercinta. Doa buat Arin, Agar segera disembuhkan luka batinnya. Agar Arin selalu kuat menghadapi segala cobaan hidup. Dia masih muda. Ini baru awal ujian. Ujian yang sebenarnya masih menunggu. Dunia ini sangat kejam. Jika kita tidak kuat batinnya kita akan mudah terjatuh.


Dunia ini panggung sandiwara. Ceritanya mudah berubah. kisah Mahabarata atau tragedi dari Yunani Setiap kita dapat satu peranan. yang wajib kita mainkan. Ada peran wajar dan ada peran berpura-pura.


Semakin tinggi pohon itu tumbuh angin akan bertiup semakin kencang. Perkuat dulu pondasi hidup kita. Jalan terjal menuju kesuksesan pasti sudah menunggu. Semangat Arin. Hidup itu penuh liku-liku. Tidak lurus terus. Sesekali berbelok. Suatu waktu menanjak dan di lain waktu bisa juga menurun. Semangat Arin. Tetaplah menjadi diri sendiri.

__ADS_1


Doa bunda sangat banyak dan panjang. Bukan hanya untuk Arin tapi juga untuk kedua anaknya yang lain. Rama dan Nia.


Selesai sholat bunda dan Arin memilih keluar ruangan pergi ke taman untuk menghirup udara segar. Arin memakai kursi roda. Bunda mendorong Arin sambil berbincang.


"Bunda, boleh tahu ga."


"Mau tahu tentang apa?"


"Tadi bunda berdoa sangat lama, berdoa apa si."


"Kasih tahu ga ya?"


"Dih bunda, sudah seperti Rama saja. Jadi teringat Rama. Arin kangen Rama bunda. Kapan Rama kesini lagi bund."


"Semoga hari ini kamu sudah bisa pulang."


"Amin, iya bunda "


Arin terdiam. Dia ingat apa kata Bara. Tersenyumlah dan besok pulang. Arin menjadi bersemangat. Dia harus bisa menahan semua rasa sesak di dada agar bisa cepat pulang. Arin harus bisa mengendalikan perasaannya. Arin harus bisa mengendalikan dirinya juga.


Kursi roda terus berputar pelan menunju taman. Sudah tidak terdengar lagi suara bunda berbicara. Arin juga diam. Dia sedang mencerna ucapan Bara. Menelaah setiap kata yang diucapkan Bara. Arin tersenyum. Ada ketenangan dalam jiwanya.


Arin tidak sadar kalau yang mendorong kursi roda sudah berganti orang. Dia asyik melamun. Asyik mengingat setiap kata-kata Bara.


Tiba-tiba dia teringat Fian. Apa kabar Fian sampai di rumah. Pasti kena marah Mamanya.


"Kasian Fian." Ucap Arin pelan. Bara mengerenyitkan dahi.


"Ternyata Arin sedang memikirkan Fian." kata Bara dalam hati. Tapi dia masih saja diam.


Sedikit lagi mereka sampai di taman. Arin masih saja belum sadar. Tapi dia merasa heran. Kenapa setiap berpapasan dengan dokter dan perawat mereka selalu tersenyum dan mengangguk. Arin sama sekali tidak menengok ke belakang. Yang dia tahu yang mendorong adalah bunda. Padahal tadi pas di dekat kantin Bara dan bunda bertukar. Bara yang mendorong kursi roda sedangkan bunda kembali ke kamar sambil membawa sarapan yang Bara beli tadi. Bara melihat Arin yang duduk di kursi roda di dorong bunda dan dia punya ide untuk menggantikan bunda menemani Arin berbincang di taman sekalian terapi. Bara memberi kode pada bunda dan beruntungnya bunda mengerti.


"Sudah sampai. Mau tetap duduk di kursi roda atau mau pindah ke bangku taman."


Arin terkejut. Kok bukan suara bunda. Arin menengok ke belakang.


"Dokter, sejak kapan?"


"Hahaha... Saking asyiknya memikirkan sang pacar jadi tidak sadar yang mendorong sudah berganti."


"Siapa yang mikir pacar. Dokter mulai jadi cenayang ini."


"Itu tadi, siapa yang disebut-sebut. Fian.. Fian. Hahaha.. " Bara menggoda Arin. Muka Arin sudah merah.


"Fian bukan pacar aku Dokter, dia sahabat aku."


"Sahabat apa sahabat. Sampai terbawa mimpi juga kan."


"Ikh pak Dokter apaan deh. Siapa yang mimpiin Fian."


"Kemarin, pas kamu tidur, Kamu mengigau memanggil namanya."


Bara sengaja memancing Arin. Sejauh mana Arin mengganggap Fian itu sebagai apa.


*Yang benar pak Dokter, aku mengigau memanggil Fian?"


"Iya, coba nanti tanya bunda"


Arin merasa malu. Dia mengingat kembali, kemarin mimpi apa.


"Jangan dipaksakan untuk mengingat sesuatu kalau memang tidak bisa diingat dan jangan terlalu berat berpikir. Ingat, Semua ada saatnya. Saat suatu kenangan lupa dari ingatan kita itu berarti saatnya kita harus membuat kenangan baru."


"Ikh, pak Dokter aneh deh."


Arin tersipu. Padahal maksud Bara memang sesuai makna sebenarnya. Tapi Arin malah memikirkan hal yang lain.


"Aneh bagaimana. Benar kan? Suatu saat kenangan itu akan kembali dengan sendirinya. Untuk saat ini jangan di paksakan dulu. Sayangi otak kamu. Kamu baru sembuh. Jangan dipergunakan untuk berpikir hal-hal yang tidak berguna. Ingat apapun yang terjadi tersenyumlah. Dan tetaplah baik-baik saja."


Arin tersenyum. Arin terhibur. Udara pagi yang sangat segar. melihat bunga yang bermekaran. Melihat sesama pasien dengan berbagai penyakit berkumpul di taman. Arin tersenyum lagi.


Teruslah tersenyum, apapun masalahmu. Apapun keadaanmu.


Bersambung.


Jangan lupa tinggalkan like dan komen.


Terima kasih ❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2