
Bara dan Arin berjalan berdampingan menuju ruangan Bara. Mereka berjalan sambil berbincang. Arin sudah terbiasa dengan Bara, karena mereka memang sudah sering bertemu.
"Ayo masuk dulu. Saya cuma sebentar. Cuma mau mengambil ponsel saya yang tertinggal."
"Saya di luar aja A.. takut di periksa nanti di dalam." Arin tersenyum. Dia memang hanya ingin di luar saja.
"Diperiksa bagaiman?" Bara bingung mendengar jawaban Arin.
"Kan ini ruang praktek Aja kan?"
"Iya, terus.."
"Ruang praktek buat apa?"
"Buat memeriksa pasien.."
"Nah, nanti kalau saya masuk, saya jadi pasien dong."
"Eh, tidak begitu juga."
Bara tersenyum mendengar jawaban Arin. Dia tau Arin sedang bercanda.
"Tapi benar juga. Kamu kan juga pasien saya. Tapi kamu pasien hati saya Hahaha.."
"Ikh.. Aa bisa juga becanda." Arin tersipu mendengar jawaban Bara. Ternyata Bara tidak bisa juga mengimbangi candaan dia.
"Saya tidak becanda. Saya kan dokter cinta buat kamu."
"Dihh.. Aa semakin pintar gombal."
"Hahaha... saya tidak gombal. Karena semua benar adanya. Ayo sekarang kita makan bakso."
"Sudah selesai urusannya?"
"Kan saya bilang cuma mau mengambil ponsel yang tertinggal."
"Ok.. let's go. Kita makan bakso."
"Ekhm.. ekhm.."
Mereka berdua terkejut mendengar ada suara orang lain.
"Lhoo .. ada orang. Sejak kapan ada disini."
"Kalian ini memang ya. Sejak tadi saya tiduran di sofa tidak ada yang melihat? Saya tau mata kalian tertutup oleh cinta. Oh cinta .. kenapa kau butakan kedua temanku ini."
"Dokter Bram ga jelas."
"Udah biarin saja. Dia memang begitu. Kena sawan dia."
"Hahaha.. Bara sudah pintar bicara sekarang. Kalian mau kemana. Gue ikut dong." Ucap Bram. Dia mengedipkan mata kepada Bara.
"Ada deh. Ayo Arin kita tinggalkan dia."
"Siap Aa...."
"Tunggu.. gue ikut.."
Arin dan Bara tetap melenggang. Mereka pura-pura tidak mendengar teriakan Bram. Mereka berjalan beriringan sambil terus berbincang. Bram menyusul mereka dengan sedikit berlari. Bram memang sengaja ingin mengganggu mereka berdua.
"Hos... hos.. akhirnya sampai. Kalian berdua jahat. Masa gue ditinggalin."
"Lo ganggu aja. Kita kan mau pacaran. Iya kan Rin."
"Ga percaya gue. Atau benar kalian sudah jadian ya. Asyikk pj jadian dong. Gue kabarin Bima ya. Kita ketemu di tukang bakso kan." Bram mengambil ponselnya. Kemudian menelpon Bima.
"Eh.. eh.. Jadian apaan. Tidak ada.. tidak ada. Kita mau makan berdua saja. Kalian mengganggu saja."
Bara mengerucutkan bibirnya. Dia merasa kesal. Dia ingin berduaan dengan Arin karena memang banyak hal yang ingin Bara ketahui tentang keputusan Arin.
"Bima segera meluncur. Dia dalam perjalanan. Asyik kita makan bakso lagi."
Arin cuma tertawa melihat tingkah Bara dan Bram. Arin senang. Dia bisa melupakan sejenak kejadian tadi. Dia senang berada di dekat Bram dan Bara yang selalu seru. Dia merasa terhibur dengan tingkah mereka. Selalu ada debat-debat kusir yang mengundang tawa.
Arin jadi teringat kejadian-kejadian dahulu. Saat dimana dia sering berkumpul dengan Fian dan teman-temannya. Saat malam Minggu, saat main di sungai. Arin jadi merasa sedih. Akankan semua bisa terulang lagi?
Sekarang saja mereka sudah jarang berkunjung ke rumahnya. Sejak Fian menghilang dan mereka semua pun menghilang. Entah ada kabar apa yang mungkin belum dia dengar, sehingga semua orang menghindarinya.
"Kenapa melamun. Ada yang mengganggu pikiran kamu kah?"
Arin terkejut. Ternyata dari tadi Bara memperhatikannya. Dia tidak menyadari itu. Bara memang selalu perhatian padanya.
"Tidak Ada, hanya teringat pesan bunda. Kalau pulangnya jangan terlalu malam. Karena ada hal yang ingin beliau sampaikan."
__ADS_1
"Beneran.. tidak ada hal lain."
"Iya Aa .. aku baik-baik saja kok."
"Hm.. syukurlah. Ayo kita segera memesan. Kita sudah sampai."
"Dokter Bram mana. Kok tidak ada."
Arin melihat ke sekeliling. Dia baru menyadari kalau Bram tidak ada di dekat mereka.
"Bram sedang ke toilet. Kebelet katanya."
"Oh.."
Mereka mencari tempat duduk dan segera memesan makanan yang mereka inginkan. Tidak lama pesanan mereka datang. Mereka menikmati bakso yang mereka pesan dengan lahab.
Keadaan Arin memang sedang tidak baik-baik saja. Maka dari itu dia lampiaskan dengan makan bakso yang super pedas. Dia menuang beberapa sendok sambal ke dalam mangkoknya. Arin ingin melupakan kejadian tadi. Tapi sangat susah tentunya. Walaupun dia sering mendengar perkataan Maria. Namun kata-kata tadi yang paling menyakitkan. Apalagi dia mendengar sendiri Fian sampai diancam sedemikian rupa.
Arin tak mungkin tega jika orang yang disayanginya sengsara karena dia. Arin sudah bertekad untuk menyerah saja. Tapi tidak semudah itu ternyata. Kebersamaannya dengan Fian telah dilaluinya sepanjang dia hidup di dunia ini. Tidak mungkin bisa lepas begitu saja. Butuh proses yang panjang dan juga bantuan dari pihak luar juga.
Bara bukan tak melihat semua kesedihan Arin. Bara ingin Arin jujur bercerita padanya. Bercerita sendiri tanpa diminta. Karena itu artinya Arin nyaman bersamanya. Bara masih menunggu waktu itu. Namun sampai sekarang Arin tidak membuka mulut sedikitpun.
Arin malah melampiaskan semuanya ke dalam makanan yang dimakannya.
"Arin, cukup. Itu terlalu pedas. Nanti kamu sakit perut."
"Tidak Aa ... Aku sudah terbiasa kok."
"Lihat wajah kamu sudah merah. Keringat kamu bercucuran. Bahkan sampai airmata kamu pun ikut keluar."
"Tidak apa-apa Aa. Arin sudah terbiasa."
"Arin, dengarkan saya. Saya tahu kamu sedang tidak baik-baik saja. Kamu tidak boleh melampiaskan semuanya seperti ini. Ini tidak baik buat kesehatan kamu."
Bara mencoba mengambil mangkok yang Arin pegang. Dia ingin menyingkirkan bakso yang super pedas itu. Dia kasian melihat keadaan Arin.
Sebenarnya Bara tau apa yang terjadi tadi. Tanpa sengaja dia mendengar semua perkataan Maria.
Waktu itu dia sedang memeriksa pasien di depan kamar Maria. Dan saat itu Bara pas mau keluar dan dia melihat Arin berdiri di pintu kamar dengan raut wajah yang sangat sedih. Namun Bara tak langsung mendekati karena dia ingin tau apa yang sedang Arin lakukan. Namun tanpa sengaja dia mendengar perkataan Maria yang begitu keras sedang memaki Fian. Dia sangat terkejut mendengar semua perkataan Maria.
Bara menjadi tau alasan Fian mundur. Bara mengerti kenapa Fian menyerah. Bara jadi tahu juga kenapa Arin mengambil keputusan seperti tadi.
Bara ikut bersedih ketika mengetahui pasangan yang saling mencintai terhalang restu. Bahkan makian yang begitu menyakitkan itu masih terngiang di telinga nya.
Bara baru sadar ketika melihat Arin berlari. Tak lama di susul Fian yang keluar dari ruangan. Dan Bara hanya mengamati dari kejauhan. Dia bingung harus berbuat apa. Dia hanya bisa merasa prihatin.
Dan ternyata Arin juga melihatnya. Dan tidak disangka pula Arin malah memberi jawaban atas pernyataannya. Sebenarnya Bara juga ragu atas jawaban Arin. Namun demi menenangkan Arin, Bara mengiyakan saja. Nanti di waktu yang tepat dia akan bertanya secara perlahan tentang semuanya.
Ada rasa bahagia ketika Arin memberi jawaban menerima atas pernyataannya. Namun melihat latar belakangnya, Bara malah merasa sedih. Dia tidak ingin memanfaatkan situasi.
"Aa.. Aa.."
Bara diam saja. Dia masih memegang erat mangkok bakso milik Arin.
"Aa.. "
Bara belum menyaut juga. Entah pikiran kemana. Dia masih asyik dengan lamunannya.
"Pak Dokter Bara.."
Arin gemas dan juga sedikit jengkel. Dia sedikit berteriak memanggil Bara. Pasalnya makanannya disita oleh Bara. Dia masih lapar dan juga masih butuh bakso tersebut.
"Pak Dokter.."
"Eh.."
Bara baru mendengar ketika Arin berteriak. Arin cemberut.
"Ada apa Arin. Teriak-teriak di tempat umum seperti itu."
"Aa sih, tidak mendengar panggilan saya. Sudah tiga kali saya memanggil Aa. Masih saja tidak mendengar. Apa yang Aa pikirkan sih. Aa kan saya masih lapar. Itu bakso saya kenapa dipegangi erat begitu. Aa menyebalkan."
Arin masih cemberut
"Wkwkwk.. "
Bara tertawa melihat tingkah Arin. Dia merasa lucu melihat wajah Arin. Terlihat sangat menggemaskan.
"Malah tertawa. Mana bakso saya.. Saya masih lapar Aa.."
"Muka kamu lucu kalau cemberut begitu. Apalagi bibirnya. Hmm ." Bara memandang Arin dengan intens. Dia pandangi sambil tersenyum.
"Dih apa deh."
__ADS_1
Arin membuang muka, Dia merasa malu diperhatikan oleh Bara sedemikian rupa.
"Ya sudah kalau masih lapar ganti saja baksonya. Pesen lagi saja. Bang pesen satu mangkok lagi ya."
Bara berteriak. Dia tidak mau Arin makan bakso yang super pedas tadi.
"Ingat, sambelnya jangan yang sebanyak tadi. Sayangi tubuh kamu sendiri. Kalau sakit siapa yang repot. Kamu ga kasihan bunda."
"Baik pak dokter.."
"Bagus.."
Bara mengacak rambut Arin. Dia gemas dan juga merasa kasian melihat Arin. Dia hanya bisa menemani saja. Semoga Arin merasa terhibur.
"Aa.. dokter Bram mana? Bakso kita sudah habis kok mereka belum datang."
"Eh iya juga. Kemana mereka ya. Udah Biarkan saja. Mending begini juga kan. Hanya kita berdua tidak ada yang mengganggu."
"Dih Aa ga jelas."
"Benar kan. Hahaha.. Biar kita bisa mesra-mesraan. Kan kita baru saja Jadian."
Arin tertegun mendengar ucapan Bara. Dia baru ingat kalau tadi dia sudah menyetujui dan mau menerima Bara. Muka Arin berubah sendu. Namun dia berusaha menutupinya.
Bara melihat itu. Dia pura-pura tidak tahu. Dia yakin Arin merasa terpaksa menerimanya. Bara yakin Arin tadi spontan berbicara begitu.
"Aa.. Arin sudah kenyang. Arin mau pulang. Aa yang bayar kan. hehehe.."
"Iya, tenang saja. Nanti Aa bayarin sama abangnya juga."
"Boleh Aa..Arin bisa makan bakso setiap hari sepuasnya. Hehe.."
"Memangnya tidak bosen makan bakso terus."
"Eh iya juga. Belum pernah mencoba juga. Hehehe..."
"Ya udah ayo pulang saya antar."
"Tidak usah kan Arin bawa kendaraan sendiri."
"Tidak apa-apa. Saya iringi dari belakang."
"Tidak usah, lagian rumah Arin dekat juga dari sini. "
"Tidak ada penolakan. Ayo kamu jalan duluan saya di belakang kamu."
"Aa, untuk kali ini saja. Arin mohon, biarkan Arin pulang sendiri. Ya.. please boleh ya."
Arin mengatupkan kedua belah tangan. Memohon pada Bara untuk tidak mengantarkannya. Dia sedang ingin sendiri. Keadaan hatinya sedang tidak baik-baik saja.
Dan Bara pun berpikir demikian. Dia khawatir terjadi sesuatu dengan Arin. Karena Bara tahu keadaan Arin yang sebenarnya. Namun akhirnya Bara mengalah. Daripada terus berdebat dan hari semakin malam.
"Ya sudah. Tapi janji ya kamu harus pulang dalam keadaan baik-baik saja. Nanti sesampainya di rumah kamu harus memberi kabar pada saya."
"Siap pak Dokter Bara."
Arin memberi hormat layaknya bawahan kepada atasan dengan mengangkat tangannya seperti militer. Bara cuma tersenyum melihat sikap Arin.
Akhirnya mereka berpisah di sini. Arin pulang dengan mengendarai motornya. Sedangkan Bara pulang dengan mengendarai mobilnya. Arah rumah mereka berlawanan arah. Mereka mengambil jalan masing-masing.
Namun baru beberapa ratus meter Bara mengendarai mobilnya, dia berbalik arah. Perasaan nya merasa tidak enak. Jantungnya berdetak lebih cepat. Dia merasakan sesuatu yang terjadi dengan Arin. Tiba-tiba saja pikiran nya tertuju pada Arin.
Bara memutar arah jalan pulangnya menuju ke arah rumah Arin. Arin pasti belum jauh. Dia merasa khawatir terjadi sesuatu dengan Arin. Untung saja jalanan sore itu tidak macet. Tidak lama dia menyusul dari kejauhan dia melihat sebuah motor yang mirip dengan motor Arin terparkir di pinggir jalan dekat dengan jembatan.
Pikiran Bara sudah macam-macam. Dia benar-benar merasa takut. Dia takut Arin pendek akal dan berbuat nekad.
Bara begitu terkejut melihat apa yang terjadi. Dia menghentikan mobilnya dan segera berlari ke arah jembatan. Bara berteriak keras.
"Ariiiinn......"
Apa yang terjadi dengan Arin. Apakah Arin benar-benar nekad atau ada kejadian lain.
Bersambung.
Maaf buat para pembaca. Saya belum bisa sering up.
Oh ya karena ini dalam suasana lebaran Saya mengucapkan
Taqoballahu minna wa minkum taqobal ya karim
Minal Aidzin Wal Faizin
Mohon Maaf Lahir dan Batin
__ADS_1
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI. 1444 H / 2023 M
Terima kasih ❤️❤️❤️❤️❤️