Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 48


__ADS_3

Senyum Arin


Hari beranjak malam. Bara memberi kode kepada Bram. Sesuai apa yang mereka rencanakan tadi. Bram mengangguk. Bram mendekati bunda dan berbisik.


"Bunda, makan di luar yuk bareng kita. Bunda belum makan malam kan."


Kata Bram pada bunda dengan pelan agar Arin tidak mendengar ucapan mereka. Dia ingin mengajak bunda keluar. karena Bara akan memulai pengobatan yang mereka rencanakan. Sebenarnya ini tugas Bram, tapi karena dilihat Arin lebih merasa nyaman sama Bara, Akhirnya mereka sepakat Bara saja yang mengobati Arin. Jika Bara tidak berhasil baru Bram yang akan turun tangan.


"Bagaimana dengan Arin. Apa dia ditinggal sendirian. Tidak usah saja. Kalian saja yang makan. Saya tidak tega meninggalkannya Arin sendirian. Seandainya ada Fian, pasti dia yang menemani."


Bara ,Bram dan Bima saling pandang mendengar perkataan bunda walaupun pelan. Fian lagi dan Fian lagi. Bukan tidak suka sama Fian, cuma yang ada dipikiran mereka kapan Bara bisa masuk dalam kehidupan Arin. Kalau selalu ada Fian terus di samping Arin. Jadi bunda pun mengandalkan Fian. Pikir mereka bertiga.


"Bara yang akan tinggal di sini bunda. Sekalian mau memeriksa perkembangan kondisi kesehatan Arin." Jawab Bima pelan juga.


"Saya di bantu suster kok. Bunda jangan khawatir." Tambah Bara.


"Bukan itu maksud saya. Eh.. kalau begitu baiklah saya mau." Ucap bunda akhirnya. Bunda merasa tidak enak mendengar jawaban Bara. Dia memang harus percaya pada Bara. Dan juga memang merasa lapar.


"Arin, kita ajak bunda makan diluar ya, kasian bunda duduk terus di sini. Biar bunda melihat keluar sebentar."


Bram mendekati Arin.


"Iya pak Dokter, Silahkan. Tapi apa tidak merepotkan." Jawab Arin.


"Tentu tidak, tenang saja nanti kami masukan dalam tagihan biaya rumah sakit." Arin sudah mau protes.


"Tidak... Tidak. Bima cuma becanda. Bima memang senang becanda Arin. Jangan takut kami yang mentraktir bunda. Sebagai hadiah karena bunda telah melahirkan anak semanis kamu." Kelakar Bram untuk menenangkan Arin.


"Baiklah pak Dokter. Titip bunda ya." Arin sudah mau menahan bunda sebenarnya. Tapi mendengar jawaban Bram Arin lega. Arin kasian kalau sampai benar-benar dibebankan pada tagihan biaya rumah sakit.


Mereka bertiga akhirnya pergi makan malam di luar lingkungan rumah sakit. Memberi waktu pada Bara untuk mendalami keadaan Arin sebenarnya.


Bram dan Bima memang sangat pengertian. Mereka memberi kesempatan pada Bara agar bisa berbincang berdua. Sambil menyelam minum air. Mengobati sambil pendekatan juga. Modus yang sangat bagus.


Hari sudah lumayan malam. waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Tapi Bara ingin mengajak Arin keluar sekedar melihat suasana diluar ruangan dengan memakai kursi roda. Sekalian ingin mengetahui kondisi luka Arin bagaimana kalau dibuat berjalan. Tidak tiduran terus.Bara membawa Arin hanya di depan ruangan.


"Bagaimana apakah sakit buat duduk seperti ini? "Tanya Bara sambil mendorong kursi roda.


"Tidak pak Dokter." Jawab Arin pendek.


Bara berhenti di dekat kursi tunggu. Ini sudah malam. Jadi dia tidak ingin membawa Arin terlalu jauh.


"Disini saja ya, Besok pagi baru kita bisa berjalan-jalan di taman."


Arin hanya diam saja. Dia menarik nafas panjang. Masih ada sesak di dada. Tapi Arin harus bisa menyembunyikan semua ini.


"Pak Dokter apakah besok saya sudah bisa pulang. Saya tidak betah di rumah sakit." Tanya Arin.Dia memandang sang dokter yang jongkok di depannya.


" Mana ada orang yang betah berlama- lama di rumah sakit. Tidak tentunya. Tapi kalau kamu tersenyum terus seperti ini kamu secepatnya bisa pulang."


"Begitu ya, tapi kalau saya senyum- senyum sendiri nanti di kira orang, saya gila Dok."


"Hahaha.. Kamu bisa saja. Ya senyumnya jangan sendirian. Tersenyumlah bersamaku." Ucap Bara pelan. Dia merasa sedikit ragu mengucapkan kata-kata tersebut.


Arin terdiam lagi. Dia mengalihkan pandangannya.


"Pak dokter tidak dicari orang tua. Beberapa hari ini pak dokter selalu berada di rumah sakit."


"Tentu saya sudah ijin sama orang tua saya. Ini adalah keadaan darurat. Tidak setiap hari juga."


"Oh begitu. Dokter hebat ya. Betah tidak tidur, tidak istirahat."


"Hahaha... itu kata kamu. Saya masih manusia biasa. Masih punya rasa kantuk dan capek. Saya juga masih butuh istirahat." Bara tersenyum mendengar perkataan Arin. Arin sudah mau bicara banyak. sudah bisa mengeluarkan pendapatnya. Bara melihat jam yang dia pakai. Malam semakin larut ternyata.


"Sekarang sudah malam, mari kembali ke kamar. Besok pagi saja kita berjalan- jalan lagi ke taman. Agar terlihat lebih indah dan pasti udaranya lebih segar. Sekarang istirahat dulu." Lanjut Bara. Hari memang semakin malam udara juga semakin dingin.


Bara mendorong kursi roda kembali ke kamar. Sampai kamar dia membantu Arin naik ke tempat tidur.


"Tidak usah pak Dokter saya bisa sendiri."Arin menolak secara halus. Dia merasa bisa melakukannya sendiri. Dan juga dia merasa malu sama Bara. Kalau harus digendong Bara.

__ADS_1


Bunda belum kembali. Entah Bram dan Bima membawa bunda makan di mana. Mungkin sedikit jauh dari rumah sakit. Sudah hampir satu jam mereka belum kembali. Bara belum berani mengajak Arin berbicara terlalu dalam. Takut Arin akan shock kembali. Arin sudah kembali berbaring di tempat tidur. Bara merapikan selimut Arin.


"Sekarang tidurlah. Hari telah larut. Jangan lupa berdoa, semoga besok pagi bangun dengan suasana hati yang gembira. Agar sore hari bisa pulang.


Ok .. Arin."


Arin mengangguk. Dia memejamkan mata. Tapi belum tidur. Arin merasa malu dengan Bara yang selalu menjaga dia dari kemarin. Bara belum beranjak. Bara masih menunggu Arin sampai tertidur. Namun Arin belum tidur juga. Walaupun matanya terpejam tapi Arin belum benar-benar tidur.


"Maaf pak Dokter kok tidak kembali ke ruangan pak Dokter." Arin merasa heran. Bara belum pergi.


Bara bingung mau menjawab apa. Dia mau memulai mulai memancing kondisi mental Arin. Tapi belum menemukan kalimat yang pas. Mau mengajak bicara tapi Bara bingung mau mulai dari mana.


"Menunggu kamu tidur dulu, baru saya kembali. Ingat Arin, berpikirlah positif. Semua orang menyayangimu. Jangan pikirkan segelintir orang yang pernah berbuat jahat padamu. Maafkanlah mereka. Karena dengan memaafkan kita akan merasa lega."


Arin diam saja mendengar perkataan Bara. Dia sedang mencerna apa yang tadi Bara ucapkan. Arin mulai berpikir. Memang Arin sudah memaafkan. Namun belum bisa melupakan .Rasa sakit yang dia rasakan tidak bisa dia gambarkan. Hatinya terasa begitu perih dan nyeri. Dadanya terasa sesak lagi. Bara memperhatikan mimik wajah Arin. Bara tau kalau Arin sedang menahan sesuatu, menahan semua yang dia rasakan.


"Arin, tarik nafas panjang. hembuskan. Tarik lagi , hembuskan lagi. Jika kamu teringat masa lalu yang menyakiti kamu. Bertahanlah. Beristighfar lah. Jika dadamu terasa sesak. Tariklah nafas panjang berulang kali sampai kamu merasa lega. Ucapkanlah dalam hatimu bahwa Arin kuat.. Arin kuat. Arin tidak akan jatuh hanya dengan hal seperti itu."


Bara terdiam. Dia perhatikan bahasa tubuh Arin. Bara tahu, Jiwa Arin sedang bergejolak menahan semua rasa sakit yang di alaminya. Bara sengaja menunggu momen itu. Karena dia yakin Arin pasti akan kembali merasa tersakiti. Apalagi di saat dia sendiri seperti ini. Bara tahu Arin akan mengalami ini. Fase dimana dia sendirian dan ingatan itu pasti akan muncul tiba-tiba.


Arin ingin menangis. Arin ingin berteriak. Namun dia tahan. Dadanya semakin terasa sakit. Nafas terasa sesak.


"Menangislah kalau ingin menangis. Berteriaklah. Keluarkan semua beban yang kamu rasakan. Saya siap mendengarkan apa yang mau kamu keluhkan. Menangis bukan karena kamu cengeng. Mengeluh bukan karena kamu tidak bersyukur. Ada kalanya manusia berada dititik dimana dia merasa lelah dengan kehidupan yang di hadapi."


Arin diam saja. Bara tahu kalau Arin menahan semua yang dia rasakan. Bara tau kalau Arin sedang merasa tertekan. Arin memandang Bara. Tiba-tiba Arin sesenggukan. Dia menangis.


"Jangan kamu tahan. Itu malah semakin membuat kamu merasa sakit. Lepaskan saja."


Arin semakin sesenggukan. Tangisnya terdengar semakin kencang. Untung tadi Bara menyuruh bunda keluar. Sengaja tadi Bram membawa bunda keluar agar Bara leluasa berbincang dengan Arin. Inilah tujuannya . Agar ketika Arin menangis bunda tidak melihatnya. Kasian bunda jika tau keadaan Arin yang sebenarnya.


"Sa..kit. sa..kit. Sa.....kit... "


"Berteriaklah. Lepaskan semua beban yang kamu rasakan."


"Aaaaakkhhhh... sa..kit. Sa..kit."


"Boleh pukul saya. Boleh tendang saya. Lampiaskan apa yang kamu rasakan. Lakukan apa yang kamu inginkan."


Tangis Arin mulai melemah. Tinggal sesenggukan nya yang masih terdengar. Seharusnya habis ini Arin pingsan. Bara masih menunggu. Bara mengamati bahasa tubuh Arin. Dan benar saja Arin pingsan lagi. Tapi Bara sudah siap. Untung Arin berada di tempat tidur. Jadi tidak berbahaya untuknya.


Bara memberi Arin minyak kayu putih kedua kaki dan tangannya yang dingin. Terlebih dulu Bara memanggil suster untuk membantunya. Dia tidak mau menyentuh tubuh Arin selain yang terlihat,makanya dia memanggil suster untuk membantunya mengoles minyak kayu putih di sekujur tubuhnya yang dingin.


Bara sengaja tidak memberi Arin obat penenang lagi. Bara ingin melatih Arin mengendalikan semua perasaan yang timbul saat dia merasa terpuruk. Karena menurut Bara, masalah bukan untuk dihindari tapi untuk dihadapi. Biar Arin bisa tahan menghadapi semuanya. Biar Arin semakin kuat.


Tidak berapa lama Arin sadar dari pingsannya. Kali ini dia pingsan hanya sebentar. Berarti sudah ada kemajuan.


"Arin sudah bangun, Syukurlah."


"Saya kenapa lagi Dok, kenapa saya merasa sedikit pusing."


"Kamu pingsan lagi barusan. Kamu belum minum obat kan? Sekarang minum obat dulu dibantu suster ya. Lalu kamu tidur kembali. Sudah sangat larut."


Arin diam saja. Dia merasa sedikit pusing. Arin melihat ke sekeliling. Dia tidak melihat bunda.


"Bunda kemana Dok? Kok tidak ada " Dia tentu saja ingin tidur di temani bunda. Dia tidak ingat apa yang baru saja dialami.


"Sebentar lagi bunda datang. Beliau sedang makan sama Dokter Bram dan Bima."


Tidak lama kemudian terdengar pintu di ketuk. Dan ternyata bunda yang datang bersama Bram dan Bima.


" Sudah kenyang kita. Ini gue bungkus buat lo. Kasian lo nanti kelaparan." Bima menyerahkan bungkusan makanan kepada Bara. Bara juga lapar. Dia belum sempat makan di rumah tadi.


"Thank's , Gue memang laper banget. Arin mau. bagaimana kalau kita makan berdua?" Bara menawarkan makanan yang dia pegang.


Arin menunduk. Sebenarnya dia mau tapi malu.


"Sudah tidak usah malu. Itu dua bungkus, sengaja kita beli buat kalian berdua."


Arin tersenyum dan dia mengangguk. Semua orang tertawa. Rejeki jangan ditolak.

__ADS_1


"Mau makan sendiri atau disuapin. Biar dokter Bara yang suapin kamu." Tanya Bima menggoda Arin.


"Arin makan sendiri aja Dok." Jawab Arin malu-malu.


"Sini bunda bantu." Bunda menyiapkan makanan yang akan dimakan oleh Arin.


"Kalau begitu kami kembali ke ruangan ya. Arin kamu makan yang banyak. Dan inget jika kamu terus tersenyum besok kamu pulang." Ucap Bara.


"Bunda, Arin kita bertiga kembali ke ruangan kita ya. Jika kamu merasa sedih,Makanlah coklat dari Aa Bima. Pasti sedihnya hilang. Ok.. setuju." Semua orang tertawa. Arin cuma tersenyum. Bara, Bram dan Bima keluar dari ruangan. Arin meneruskan makannya. Dia makan dengan lahap. Mungkin lapar karena habis menangis dan berteriak-teriak. Tapi Arin belum mengingat kejadian yang baru saja terjadi. Saat ini yang penting makan dan makan. Apalagi makanan gratis. Karena makanan gratis itu terasa sangat nikmat ya.


🌸🌸🌸


Fian sangat gelisah. Dia tidak bisa tidur. Dia ingin mengetahui keadaan Arin. Apakah Arin sudah stabil atau belum. Sebenarnya dia tadi tidak ingin pulang. Tapi karena Arin memaksanya, makanya dia pulang. Arin mengancam tidak akan mengenal Fian lagi kalau Fian tidak pulang. Karena Arin tau Fian pasti akan di omelin mamanya kalau tetap di rumah sakit. Sebenarnya sama saja. Pulang atau tidak pasti kena omel juga. Semua hal kalau Fian berhubungan dengan Arin pasti akan menjadi masalah. Entah apa yang merasuki mama Fian sampai begitu membenci keluarga Arin. Semoga misteri itu segera terungkap.


Fian tidak tahu harus bagaimana. Fian merasa serba salah. Mau pergi pasti tidak mendapatkan ijin. Nekad dia merasa bersalah sama mama. Tidak pergi tapi ingin tahu keadaan Arin. Mau menelpon Arin takut mengganggu istirahat Arin. Akhirnya dia hanya berguling-guling di tempat tidur.


Terlentang salah. Tengkurep salah. Fian merasa kesal sendiri. Akhirnya dia bangun dan keluar kamar. Fian menuju kamar Andra.


Tok...tok.. tok.


"Abang, Fian masuk ya." Pintu kamar Andra tidak terkunci. Fian membuka pintu dan masuk begitu saja. Andra tidak terlihat di kamar. Tapi ponselnya ada. Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Ternyata Andra lagi berada di kamar mandi.


Fian melihat ponsel Andra berbunyi. Dia lihat siapa yang menelpon. Fian tidak kenal. Tapi Fian terkejut. Dia melihat wallpaper ponsel Andra. Ternyata foto Arin dan Andra pada waktu kecil. Fian kemudian berpikir. Dia tahu abangnya menyukai Arin. Tapi apakah sampai harus menjadikan foto Arin sebagai wallpaper ponselnya. Tidak salah juga tapi, kan Andra tahu Kalau Fian juga menyukai Arin.


Pintu kamar mandi terbuka. Andra keluar. Fian buru-buru meletakkan ponsel Andra.


"Bang ponsel kamu berbunyi. Ada yang menelpon tuh."


Andra terkejut. Andra memandang Fian. Andra yakin Fian pasti melihat wallpaper ponselnya.


"Dari siapa?"


"Ga tau. Ga kenal juga dan ga penting juga." Jawab Fian sedikit sinis.


Andra memandang Fian. Andra tahu kalau Fian melihat wallpaper ponselnya.


"Lo kenapa? Cemberut begitu. Jelek tahu. Tapi memang sudah jelek dari sononya. Hahaha..." Andra mencoba berkelakar untuk mencairkan suasana. Dia tahu Fian marah.


"Ga apa-apa."


"Kok sewot begitu."


"Bang, kenapa wallpaper nya foto Arin sama lo?"


"Memangnya kenapa. Lo cemburu ya. Hahaha... Tenang saja. Gue tidak akan merebut Arin dari lo."


"Terus itu, kenapa wall nya foto kalian berdua?"


"Astaga Fian. Ini tidak berdua. Mau gue buka. Ini kan foto kita bertiga. Memangnya lo tidak ingat foto ini. Gue tidak akan merebut Arin dari lo. Lo adik gue. Gue ga sebodoh itu untuk menghancurkan hubungan kita"


Andra diam. Walaupun dia menyukai Arin. Dia akan mengalah untuk Fian. Biar adiknya saja yang bisa mendapatkan Arin.


Fian juga diam. Dia memandang Andra. Memang benar selama ini Andra tidak pernah menunjukkan sikap pada Arin. Andra bahkan selalu bilang kalau Arin calon adiknya.


"Makasih bang. Maafin Fian yang menuduh abang."


"Iya tidak apa-apa. Gue mah santai. Gue juga berharap Arin dan lo bisa bersatu."


"Amin bang. Terima kasih sudah membantu gue selama ini."


Fian mendekati Andra dan mau memeluknya. Andra menghindari.


"Mau apa lo? Lebay. Tidak usah peluk- pelukan segala, kaya Teletubbies saja."


Mereka berdua tertawa. Tawa sumbang Andra dan Fian. Andra yang harus mengalah demi Fian.Dan Fian yang harus mengalah demi mama. Keduanya sama-sama merasa sakit. keduanya sama-sama mengalah demi kebahagiaan orang lain. Cinta sejati tidak harus memiliki. Cukup melihat orang yang mereka cintai berbahagia. Biarlah hati ini hancur asal orang yang kita cintai bahagia.


Cintamu sebesar itu Fian, Andra. Semoga kalian akan selalu mendapatkan kebahagiaan dari cinta yang lain. Tetap semangat buatmu.


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like dan komen


Terima kasih ❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2