Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 84


__ADS_3

Fian menuang jus ke dalam kedua gelas yang dibawa Arin tadi. Kemudian dia menyerahkan satu gelas kepada Arin. Yang satu dia minum hingga habis. Fian memang merasa haus.


Suasana yang panas apalagi setelah berpergian, pasti sangat nikmat minum jus yang dingin dan segar.


Arin menerima pemberian Fian. Namun dia tidak langsung meminumnya. Dia hanya memandangi gelas tersebut. Tiba-tiba Arin tersenyum. Mukanya memerah. Entah apa yang sedang dipikirkan Arin.


Fian hanya memperhatikan sikap Arin. Dia melihat saja apa yang sedang Arin lakukan. Fian berpikir Arin pasti sedang mengingat sesuatu yang indah. Itu terlihat dari senyumannya dan mukanya yang memerah.


"Arin..."


Arin diam saja. Dia tidak mendengar panggilan Fian. Fian memanggil lagi. Kali ini sambil menepuk tangan Arin.


"Arin..."


"Eh..."


Arin terkejut. Hampir saja gelas yang dia pegang terjatuh. Untung Fian sigap. Dia menangkap gelas itu bersamaan Arin yang tersadar.


"Untung ga jatuh.. " Ucap Arin yang merasa terkejut.


"Lo mikir apa sih. Senyum-senyum sendiri seperti orang gila."


"Dihh.. kata siapa."


Muka Arin sudah memerah lagi. Dia merasa malu. Kepergok Fian sedang melamun yang tidak-tidak.


"Di minum dulu jusnya. keburu ga dingin lagi. Nanti ga segar lagi."


"Eh iya.."


Arin meminum jus tersebut. Tenggorokannya terasa dingin. Sangat segar di minum suasana yang panas.


"Minum seperti anak kecil."


Tau-tau Fian sudah di dekatnya. Dan tiba-tiba juga Fian mencium bibirnya yang belepotan jus. Tidak hanya mencium. Fian juga ******* bibir Arin. Arin terkejut. Dia diam terpaku. Dia benar-benar sangat terkejut. Namun dia tetap diam saja. Fian masih ******* bibir Arin dengan penuh kelembutan. Lama-lama Arin terlihat menikmati dan bahkan membalas perlakuan Fian.


Cukup lama mereka berciuman. Tiba-tiba terdengar bunyi batu yang mengenai batang pohon bambu. Buru-buru mereka melepaskan ciuman mereka. Mereka berdua saling pandang. Arin menunduk. Dia merasa malu.


"Maaf.." Ucap Fian lirih.


"Untuk apa.." Arin pun menjawab dengan pelan. Dia belum menyadari apa yang barusan terjadi. Arin masih merasakan sensasi dari ciuman tadi Dadanya masih berdebar. Dia yakin mukanya pasti sangat merah. Arin merasa malu. Bisa-bisanya di sore ini di halaman dia berciuman. Bagaimana kalau ada yang melihat. Pasti akan ada gosip yang akan mengguncang dunia .


"Maaf .." Ucap Fian lagi. "Bibir kamu manis. Maaf kalau gue ingin mencicipinya."


Arin semakin menunduk. Dia semakin malu mendengar ucapan Fian.Dadanya semakin berdebar. Ada rasa takut, malu dan bahagia bercampur aduk.


"Hm.. Tidak apa-apa Fian."


Arin masih menunduk juga.


"Elo sih. Minum seperti anak kecil. Belepotan di mulut. Kan mubazir kalau di lap pakai tisu. Sayang kan kesegaran jus mangga yang lo bikin susah-susah cuma dibuang."


"Ikh modus lo aja itu."


Arin menepuk pundak Fian sangat keras.


"Haduh.. sakit tau. Tega banget sih sama Aa Fian."


"Elo nya sih. Nyebelin.."


"Tapi suka kan. Mau lagi ga.."


Arin diam saja. Dia memandang sekeliling. Tadi suara apa ya. Kok seperti ada orang yang melempar batu. Arin takut ayah atau bunda yang melihat adegan tersebut.


"Fian.."


"Hem.. iya.Kenapa?" Fian menoleh memandang Arin.


"Tadi suara apa. Seperti ada orang yang sengaja melempar batu ya."


"Iya memang. Rama yang melakukan. Lihat di pintu halaman. Ada ayah dan bunda. Mungkin Rama sengaja mengingatkan kita."


"Oh.." Arin tersadar. " Eh.. Untung saja bukan Ayah sama bunda yang melihat. Elo sih nyosor aja."


Arin memukul Fian lagi. Kali ini sangat keras.


"Kok gue. Elo juga menikmati nya kan."


"Dihh.. mana ada."


"Tuh muka lo merah. Tandanya benar. Hahaha.."


"Ikh.. Fiiaannn..."


"Hahaha.. malu tapi mau kan.. Hahaha.."


"Fian.. Males ikh. Goda terus.."


"Iya deh ya . Ga goda lagi deh..."


Mereka saling melempar ejekan. Itu sudah kebiasaan mereka kalau bertemu. Pasti ada saja hal yang membuat mereka saling meledek. Tiba-tiba Fian dan Arin terdiam bersamaan. Entah apa yang ada di pikiran mereka. Mereka berkelana dengan pikiran masing- masing. Fian bingung mau berkata apa untuk perpisahan ini. Dia tidak ingin membuat Arin sedih. Dia harus bisa memilih kata-kata yang pas yang tidak melukai Arin. Namun juga menyiratkan bahwa dia menyayangi Arin juga.


Fian benar-benar bingung. Fian berpikir lebih baik tidak berpamitan. Pasti dia tidak sanggup melihat Arin bersedih. Fian melihat jam di tangan kirinya. Sudah jam lima. Waktunya tinggal sebentar lagi. Dia nanti akan dijemput sehabis isya. Fian harus bisa memanfaatkan waktu yang sedikit ini.

__ADS_1


Tiba-tiba Fian memegang kedua tangan Arin. Tentu saja Arin terkejut. Arin memandang Fian. Fian pun memandang Arin. Mereka berdua saling berpandangan. Penuh Arti. Penuh luka. Di mata Fian menyiratkan begitu banyak luka yang ditahannya. Begitu juga Arin.


Arin merasa Fian bersikap aneh hari ini. Namun dia tidak ingin bertanya. Dia tidak ingin mendengar jawaban yang bisa melukai hatinya dan pasti akan melukai Fian juga.


"Fian.."


"Arin.."


"Eh.."


"Eh.."


"Hahaha.."


"Hahaha.."


"Kenapa selalu bersamaan.."


"Lo yang mengikuti gue.."


Mereka berdua akhirnya tertawa bersama. Semua hal yang mau diucapkan. Keluar bersamaan dari mulut mereka.


"Ya udah lo dulu aja Fian."


"Lo dulu aja Rin.. Gue belakangan tidak apa-apa."


"Dih.. malah rebutan. Gue mah ga penting. Gue cuma mau bilang, gue kepengen pipis.."


"Diihh pe a. Dah sono buruan ke kamar mandi. Kalau lo ngompol, ogah gue deket sama lo. Bau Pesing."


"Ya udah tunggu bentar ya gue pipis dulu."


Arin bangkit dari duduknya. Dia berjalan masuk ke rumah. Sebenarnya dia tidak benar-benar ingin pipis. Cuma tidak tau perasaannya merasakan sesuatu yang berbeda pada diri Fian.


Di kamar mandi, Arin melepaskan Semua yang dia tahan dari tadi. Tiba-tiba saja air mata sudah keluar tanpa di sadarinya.


"Eh.. kenapa perasaan gue tidak enak ya.Dari tadi berdebar terus. Tapi kok rasanya tidak nyaman begini. Semoga bukan firasat buruk."


Arin membasuh mukanya. Biar tidak ketahuan kalau habis menangis. Dia kembali ke halaman di mana Fian berada.


"Udah.."


"Udah.."


"Ya udah sini duduk lagi. Ngapain malah berdiri di situ."


"Fian.."


"Lo ga di marahi mama lama di sini dari tadi. Pasti sudah ada yang laporan sama nyokap lo."


"Bisa ga kalau tidak usah bahas mama. Di sini kan yang cuma kita. Tidak perlu membahas orang lain."


Fian memandang Arin intens. Karena memang saat ini dia hanya ingin fokus pada Arin. waktunya tinggal satu jam lagi.


"Iya deh.."


Fian memegang kedua tangan Arin dan menggenggamnya dengan sangat erat. Arin memandang Fian lekat.


"Kenapa...?"


Fian menggeleng. Dia sudah tidak sanggup berkata-kata. Dia takut pertahanannya runtuh. Fian memang memutuskan untuk tidak memberitahu pada Arin kalau dirinya akan pergi jauh.


"Arin.. "


Arin memandang Fian. Arin tidak mengerti kenapa Fian jadi seserius begini. Biasanya Fian selalu mengajaknya berdebat. Biasanya Fian selalu mengajaknya perang argumen. Selalu perang bulian. Ini ada apa sebenarnya.


"Arin.. Lo harus jaga kesehatan ya."


"Heh.. ada apa ini Fian. Lo kenapa sih. Aneh deh.."


"Kan lo memang suka teledor. Ingat ga boleh sakit lagi."


"Dihh.. sakit kan yang ngasih Allah. Kita mah hanya bisa berusaha."


"Iya tau Arin.." Fian sangat gemas mendengar jawaban Arin. Ingin sekali dia menarik Arin dalam pelukannya. Namun dia takut kalau tiba-tiba ayah atau bunda melihat mereka. Akhirnya Fian hanya mencubit hidung Arin dengan keras.


"Sakit Fian.. Jahat ikh..Pasti merah ini."


"Hahaha... iya merah seperti buah jambu.."


"Lo mah begitu sama gue.."


"Habis lo nyebelin"


"Mana ada. Gue manis begini."


"Manis dari mana. Yang ada lo akan di kerubuti semut."


"Semut ga berani colek gue ya.."


"Sok iye.. Hahaha..."


Akhirnya mereka berdua tertawa keras. Dari dalam rumah Rama hanya menggelengkan kepala. Dia tidak heran melihat itu semua. Karena memang setiap kali mereka berdua bertemu selalu akan menjadi sangat ramai.

__ADS_1


"Eh udah mau sore. Lihat Arin cahaya senja sudah mulai nampak. Warna jingga yang begitu indah. Walaupun hanya sekejap, senja selalu memberi kesan yang indah. Seperti kita. Seperti persahabatan kita. Persahabatan kita akan selalu indah selamanya."


Fian mengambil ponselnya. Kemudian menyalahkan kameranya.


" Kita selfi yuk.. Mumpung suasana sangat indah. Berlatar langit senja yang mulai temaram."


Arin hanya menurut saja. Beberapa kali Fian mengambil foto mereka berdua. Berlatar senja yang memang terlihat sangat menawan sore itu. Langit yang cerah juga sangat mendukung. Warna jingga dan mentari yang sebentar lagi tenggelam ikut menambah suasana menjadi bertambah syahdu.


Tiba-tiba Fian memeluk Arin begitu erat. Arin terkejut. Tapi dia diam saja. Arin hanya mengikuti apa yang dilakukan Fian. Entah kenapa dia sama sekali tidak ingin menolak seperti biasanya. Dia nikmati saja apa perlakuan Fian hari ini. Dia mempunyai firasat kalau Fian akan meninggalkannya. Dan Arin hanya diam. Dia tidak ingin bertanya.


Arin menyadari jika hubungannya dengan Fian tidak akan pernah mendapatkan restu orang tua Fian. Jadi Arin sudah pasrah jika sewaktu-waktu Fian pergi meninggalkannya.


Persahabatan yang dia jalani sejauh ini, mungkin akan kandas begitu saja. Arin hanya bisa pasrah. Semua demi kebaikan bersama.


"Terimakasih. Gue pulang ya.."


Fian mengusap kepala Arin dengan penuh perasaan. Dia cepat-cepat memalingkan muka. Dia tidak mau terlihat sedih di depan Arin.


Arin diam saja. Dia tidak ingin berkata apapun. Dia yakin satu kata terucap, pertahanannya pasti runtuh.


Fian melangkah menjauh. Dia sudah tidak mau menengok lagi. Dia terus berjalan ke arah motornya di parkir. Fian menyalakan motornya dan segera menjalankannya dengan cepat. Dia sudah tidak berani menengok lagi. Dia takut dia akan berubah pikiran.


Fian mempercepat laju motornya.Dia harus segera tiba di rumah. Mama pasti sudah menunggu.


Dan benar saja begitu dia sampai rumah, mama sudah ada di depan pintu.


"Sore sekali kamu pulang."


"Maaf ma.."


Fian mencium tangan mama dan segera berjalan masuk ke dalam rumah. Dia bergegas masuk kamar mandi. Bahkan dia tidak melepas sepatunya.


Begitu masuk, Fian mengunci pintu kamar mandi dan tidak lupa pintu kamarnya juga. Fian menyalakan shower. Dia berdiri di bawah shower masih dengan pakaian lengkap. Dia tidak perduli sepatu dan pakaiannya basah. Yang dia lakukan saat ini hanya ingin melampiaskan perasaannya.


"Arin.. Arin.. maafkan gue tidak berjuang buat lo. Maafkan gue karena menyerah. Bukan gue ga mau berjuang. Tapi gue tidak ingin menyakiti hati lo jika tau apa yang sebenarnya."


Fian meninju dinding kamar mandi dengan keras. Tangannya terluka. Perih sakit tapi dia tidak rasakan. Lebih sakit hatinya saat ini. Berkali-kali Fian meninju dinding kamar mandi. Tangannya berdarah. Harusnya terasa perih. Namun dia tidak peduli.


"Aakkhhhhh...."


Fian berteriak keras. Dia tidak perduli bila ada yang mendengar. Dia hanya ingin melepaskan rasa sesak di dadanya.


"Aaakkkhhh..."


Sekali lagi Fian berteriak. Kali ini lebih keras. Dadanya semakin sesak. Fian melepaskan Semua pakaiannya. Dia mengisi bathub dan masuk ke dalamnya. Fian memejamkan mata. Dia ingin tertidur sebentar. Dia ingin sejenak melupakan kejadian tadi.


Adzan Maghrib sudah berkumandang sejak tadi. Fian tersadar kalau dia belum sholat. Buru-buru dia menyudahi mandinya. Karena sehabis isya nanti dia harus berangkat. Dia akan di jemput sendiri oleh pak Adam.


Dengan segera Fian berganti baju. Lalu melaksanakan sholat maghrib. Karena ternyata waktu Maghrib segera habis. Ini karena Fian terlalu lama berendam.


Dan ternyata benar, begitu Fian mengucapkan salam, adzan isya sudah berkumandang. Fian langsung menyambungnya dengan sholat isya.


setelah sholat Fian mempersiapkan semuanya. Dan tak lama dia sudah siap berangkat. Tinggal menunggu jemputan.


Tok... tok.. tok


Terdengar suara pintu di ketuk. Fian beranjak bangun dia memutar anak kunci. dan membuka pintunya. Ternyata ada Andra di depan pintu.


"Ada apa bang."


"Lo mau kemana. Udah rapi aja."


"Mau jalan-jalan sebentar."


"Lo jangan bohong.Kenapa lo harus bohong sama gue." Mata Andra terlihat merah. Antara sedih dan marah. Marah pada Fian dan juga pada keadaan.


"Gue ga bakal bohong sama lo abang."


Fian menyingkir dari pintu. Dia berjalan ke arah meja membuka laci dan mengambil sebuah album foto. Kemudian memasukkannya ke dalam kopor.


Sedangkan Andra hanya mengawasi segala tindakan Fian dari sisi pintu.


"Itu apa yang di dalam koper. Lo mau kemana.Lo sudah siap mau pergi jauh. Lo tega ninggalin gue." Andra masuk ke dalam kamar dan mendekati Fian. Memeluk dengan erat. Sambil memukul-mukul punggung Fian.


"Apaan sih bang. Gue hanya pergi sebentar." Fian membalas pelukan Andra. Dia Harus tega demi kebaikan semua.


Andra melepaskan pelukannya. Dia memandang Fian . " Semoga lo berhasil meraih cita-cita lo."


"Makasih bang." sekali lagi Fian memeluk Andra.


Fian keluar kamarnya sambil menarik kopernya. Fian hanya membawa satu koper dan satu tas ransel. Dia memang tidak membawa banyak barang. Hanya yang penting-penting saja.


Di bawah mama sama papa sudah menunggu di ruang makan.


"Ayo kita makan malam dulu. mama sudah masak makanan kesukaan kamu."


"Iya ma.."


Fian menarik kursi dan mendudukinya. Di susul Andra di belakangnya. Mama mengambilkan makan semua anggota keluarga. Tidak ada percakapan apapun. Semua makan tanpa bersuara. Yang terdengar hanya suara sendok dan garpu yang beradu. Mereka semua larut dalam pikiran masing-masing. Menikmati makanan yang disediakan, Namun pikiran entah kemana.


Apa seberat ini sebuah perpisahan. Apa sesakit ini sebuah perjalanan. Apa sehening ini sebuah hubungan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2