Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 94


__ADS_3

Siang itu Fian sudah bersiap memenuhi janjinya untuk bertemu dengan suster Ika. Bahkan dia sudah siap jauh sebelum waktunya. Fian berangkat setelah sholat dhuhur. Jarak cafe dengan tempat tinggalnya tidak jauh. Bisa di tempuh dalam waktu lima belas menit. Namun Fian sengaja datang lebih awal.


Sesampainya di tempat yang dijanjikan, Fian mencari tempat di sudut ruangan. Sengaja biar bisa mengawasi siapa saja yang masuk. Tempat yang dia pilih memang sangat strategis.


Fian sengaja belum memesan apa-apa. Menunggu sang suster datang terlebih dahulu. Namun seorang pelayan selalu melihat ke arahnya. Fian menjadi tidak enak hati. Jadilah dia memesan segelas kopi capuccino.


Sudah hampir tiba waktu yang ditentukan, namun suster Ika belum juga terlihat. Fian masih sabar menunggu. Tentu saja dia harus sabar. Demi suatu hal yang sangat penting buat hidupnya, dia harus selalu bersabar.


Fian melihat jam yang ada di dinding ruangan. Jam sudah menunjukkan pukul satu lebih lima belas menit. Namun orang yang berjanji belum juga datang. Fian mulai merasa gelisah. Dia yang berjanji dia juga yang mengingkari. Suster Ika bilang jangan sampai terlambat. Namun malah dia sendiri yang terlambat sekali.


Ciiiiitt.. Brak...


Tiba-tiba terdengar suara bunyu rem dan bunyi kendaraan bertabrakan. Orang- orang berhamburan keluar. Mereka semua ingin melihat apa yang terjadi di luar. Tak terkecuali Fian. Ternyata ada tabrakan dua kendaraan. Sebuah mobil menabrak sebuah motor. Fian mendekat. Tiba-tiba perasaannya tidak enak. Dia semakin mendekat sang korban. Fian menyibak kerumunan masa.


Dan apa yang Fian takutkan terjadi. Dia melihat Suster Ika tergeletak penuh luka. Fian mendekati suster Ika. Dia ingin memastikan kalau suster Ika masih bernafas. Terdengar suara orang berteriak.


"Panggil ambulans. Cepat. Korban masih bernafas.


Fian bisa bernafas lega. Dia masih punya harapan. Orang yang memegang kunci hidupnya masih selamat. Tak lama terdengar suara sirine ambulans berbunyi. Suster Ika di masukkan ke dalam ambulans. Fian mengikuti mobil ambulans tersebut. Dia ingin tau dimana sang suster di rawat.


Sebelum berangkat Fian sempat melihat mobil si penabrak. Fian sedikit berpikir. Sepertinya dia mengenali si penabrak. Namun Fian masih ragu. Dia melihat dengan seksama. Tapi pandangannya terhalang orang-orang yang berkerumunan. Akhirnya Fian memilih mengikuti mobil ambulans sebelum kehilangan jejak.


Sepanjang jalan Fian terus berpikir.


"Eh.. gue tidak salah lihat kan. Orang itu tadi seperti ... seperti yang gue lihat kemarin. Tapi di mana ya? Gue lupa. Atau ini sengaja ya. Eh iya... orang yang gue lihat pas gue makan bubur tadi pagi.. Atau jangan-jangan.. tidak.. tidak mungkin."


Pikiran Fian sudah tidak karuan. Apakah benar ini hanya kecelakaan biasa atau memang disengaja. Agar dia tidak bisa mendapatkan bukti itu.Fian hanya berharap semoga Suster Ika selamat. Semoga luka yang di derita suster Ika tidak parah.


Fian terus memantau keadaan suster Ika. Kata petugas rumah sakit, suster Ika koma. Lemas lah tubuh Fian. Haruskah semua sia-sia. Haruskah perjuangannya berhenti sampai di sini.


Tak terasa ada setetes air mata jatuh. Fian merasa putus asa.


"Kenapa begini. Harus bagaimana lagi? Ya Allah semoga suster Ika selamat."


Fian berdoa dalam hati. Perasaan nya sungguh sengat kacau. Fian merasa sangat lemah saat ini. Tiba-tiba terdengar langkah kaki mendekatinya.


"Fian."


Fian mendongak. Dilihatnya Adam ada di sebelahnya. Fian heran kenapa Adam ada di sini juga.


"Eh, pak Adam. Kok ada disni."


Adam terkejut dengan pertanyaan Fian. "Eh.. tadi menengok teman yang sakit. Tidak sengaja melihat kamu duduk di sini. Kamu sendiri kenapa ada disini. Siapa yang sakit."


Fian tak segera menjawab. Fian memandang Adam dengan seksama. Fian merasa ada kejanggalan di sini. Fian merasa ada yang aneh dengan jawaban Adam. Sikap Adam yang tak biasanya membuat Fian merasa curiga padanya. Fian merasa ini bukan hal yang tak di sengaja.


"Maaf .. boleh saya bertanya?"


"Mau bertanya apa? Silahkan Fian. Jika saya bisa menjawab akan saya jawab. Tapi sebelumnya boleh saya tau kamu di sini ada apa? Siapa yang sakit?"


"Suster Ika yang sakit.Dia kecelakaan." "Siapa suster Ika?"


Fian diam saja. Dia sedang berpikir. Adam pura-pura atau memang ga kenal.


"Benar Bapak tidak mengenalnya. Bahkan saya pernah mendengar Bapak menyebutkan namanya saat berbincang dengan Pak Hary."


Adam terhenyak. Dia merasa Fian telah salah sangka selama ini.


"Nak Fian. Bapak boleh bertanya? Tapi Saya harap kamu jawab dengan jujur."


"Silahkan Pak. Saya akan berusaha menjawab dengan sejujurnya."


Adam menghela nafas. Dia merasa kasian dengan Fian. Pasti Fian berpikir jauh tentang semua ini.


"Apa kamu pernah mendengar percakapan saya dengan Pak Hary di Jakarta?"


Fian masih diam saja. Dia masih berpikir, apa maksud pertanyaan Adam. Karena memang banyak percakapan yang mereka lakukan berdua saja.


"Maksud Bapak percakapan yang mana. Bukankah bapak sering bercakap-cakap berdua dengan pak Hary?"


"Iya betul sekali. Saya memang sering berbincang berdua dengan Beliau. Namun ini perbincangan empat bulan lalu. Perbincangan di ruangan saya. Pasti kamu mendengar percakapan saya dengan Hary yang menyebutkan namamu kan?"


Sekilas Fian mengingat masa empat bulan yang lalu. Ya mungkin percakapan yang membahas tentang papanya dan juga Ayah Arin.


"Benar. Saya mendengarnya. Maaf kan saya. Bahkan saya sengaja mendengarkan percakapan itu. Saya hanya ingin membuktikan sesuatu."


Adam semakin terhenyak. Dia mengingat kembali apa yang dia bahas pada waktu itu. Adam yakin Fian menjadi salah paham.

__ADS_1


"Fian maafkan saya. Saya tidak bermaksud membuka aib orang tua kamu. Tapi tak seharusnya kamu mendengar ini semua."


"Iya saya tau. Tapi apa benar semua yang terjadi di masa lalu itu?"


"Kebenarannya kamu tanyakan sendiri pada kedua orang tuamu."


"Tapi mereka tidak pernah mau berterus terang. Saya mencintai Arin. Kalau kedua belah pihak tidak berdamai, Maka kandas lah semua. Sia- sia semua perasaan ini."


Tiba-tiba suasana rumah sakit sedikit sibuk. Ada beberapa tenaga medis berlarian. Perasaan Fian menjadi tidak enak.


"Ada apa sus?"


Fian bertanya ketika ada salah satu suster lewat.


"Korban kecelakaan yang tadi masuk meninggal dunia karena pendarahan hebat. Nyawanya tidak tertolong."


Fian kembali terduduk. Dan semua menjadi hitam. Fian merasa semua sia-sia. Kepergian ke Surabaya menjadi tak berguna. Orang yang di gadang bisa membuktikan masalah nya sudah pergi.


"Fian"


Fian diam menunduk. Adam menepuk- nepuk bahu Fian pelan berusaha menenangkan.


"Fian ayo kita pulang. Besok pak Hary mau datang. Kamu bisa bertanya padanya."


Fian berdiri. Dia melangkah gontai di samping Adam. Siapa harapan dia sekarang. Siapa yang bisa memecahkan misteri kehidupannya. Sedangkan orang tuanya hanya diam. Apakah dia harus bertanya pada Ayah Arin. Tapi Fian tidak setega itu Dia tidak ingin menyakiti hati Orang tua orang yang disayanginya. Pasti pertanyaan itu akan membuka luka lama.


Adam pun juga merasa serba salah. Dia merasa bersalah karena percakapannya di dengar oleh Fian. Dan menjadikan Fian berpikir yang tidak-tidak.


"Fian, saya berjanji akan membantu kamu. Sampai kamu bisa menemukan siapa diri kamu sebenarnya."


"Terima kasih Pak."


Akhirnya mereka pulang ke rumah masing-masing. Besok masih ada pekerjaan penting yang harus mereka selesaikan. Dan itu pekerjaan terakhir Fian di Surabaya. Surat perjanjiannya hanya tiga bulan di Surabaya. Namun jika sebelum itu masalah bisa terselesaikan, Fian bisa pulang kembali ke Jakarta.


Tiba-tiba terdengar bunyi dering telepon. Ternyata ponsel Adam yang berbunyi.


"Sebentar saya angkat telpon dulu ya Fian."


Adam sedikit menjauh. Hary menghubungi nya. Pasti ada sesuatu yang penting. Makanya dia sedikit menjauh dari Fian. Hanya takut Fian mendengar hal-hal yang tidak boleh di dengar Fian karena semua pasti akan berakibat sangat fatal. Seperti kejadian tiga bulan yang lalu.


Setelah selesai berbincang dengan Hary, Adam menyusul Fian.


Fian hanya mengangguk. Ini berarti kepulangannya ke Jakarta di undur. Entahlah dia tidak punya semangat balik ke Jakarta. Dia telah menyerahkan Arin pada Bara. Pasti mereka sudah jadian.


Lalu untuk apa Fian pulang. Fian merasa kalah sekarang. Lalu untuk apa dia mencari bukti. Toh semua sudah tidak ada gunanya. Semua sudah tidak penting lagi buat Fian.


"Kenapa Fian? Ada yang kamu pikirkan?"


"Tidak Pak. Tidak ada apa-apa."


"Baiklah kalau begitu. Kita sudah sampai di tempat parkir. Kamu bawa motor kan?"


"Iya pak."


"Kalau begitu kita berpisah di sini. Mobil saya di sana. Mari saya duluan."


"Baik Pak. Silahkan."


Adam berjalan menjauh dari Fian. Mobil nya parkir beda area dengan motor Fian. Adam parkir di tempat parkir khusus mobil tentunya.


Fian tidak langsung mendekati motornya. Fian masih penasaran dengan Suster Ika. Benarkah dia sudah meninggal. Karena tadi Fian melihat kalau luka suster Ika tidak begitu parah.


Fian kembali masuk ke dalam rumah sakit. Dia ingin mencari informasi tentang keadaan suster Ika. Dia masih penasaran.


Fian menuju ruang informasi dan bertanya pada petugas. Dan jawaban petugas membuat Fian semakin curiga.


"Pasien kecelakaan yang mana ya?"


"Yang datang tadi sekitar pukul satu tiga puluh menit. Wanita yang berusia sekitar lima puluh tahunan."


"Sebentar saya lihat datanya."


Petugas mengotak-atik komputernya mencari data yang disebutkan Fian.


"Oh .. pasien tersebut sudah meninggal dunia dan jenazahnya sudah diambil keluarganya."


Padahal baru satu jam yang lalu. Benarkah secepat itu jenazah bisa di bawa pulang. Fian ingin tau lebih lanjut tentunya.

__ADS_1


"Secepat itu jenazahnya di bawa mas. Kalau boleh tau di mana rumahnya?"


"Mas ini siapanya. Kalau kerabatnya masa tidak tau rumahnya di mana."


"Baiklah, terimakasih informasinya."


Akhirnya Fian mengalah. Dia memilih pergi daripada menjadi masalah nantinya. Namun dia tidak akan berhenti di situ. Dia akan terus mencari keberuntungan suster Ika kalau memang informasi yang di dapat benar.


🌸🌸🌸


Siang itu keadaan Bara sudah stabil. Suhu tubuhnya sudah tidak tinggi lagi. Namun kepalanya masih terasa sakit. Dia tidak menyangka lama tidak terkena air hujan akibatnya sedemikian fatal.


Dulu saat kecil dia sering bermain hujan bersama Arkan, sang kakak. Suatu hari saat hujan deras selokan di depan rumahnya airnya meluap. Jadi selokan itu tidak tampak karena airnya sampai ke jalanan.


Dia bersama Arkan main hujan sambil kejar-kejaran. Dan Bara terpeleset masuk ke dalam selokan dan terhanyut. Dia terseret arus cukup jauh. Walaupun dia bisa berenang tapi karena arusnya sangat deras, usahanya jadi sia-sia. Untung di selokan tersebut ada penyaring sampah di ujung nya. Di pertemuan dengan sungai besar dan beruntung juga Bara tersangkut di tempat tersebut.


Kalau tidak tentu dia tidak bisa terselamatkan. Dia akan terbawa arus sungai yang besar dan entah akan sampai ke mana.


Sejak saat itu dia berjanji pada sendiri untuk tidak bermain hujan. Dan semenjak itu pula tubuhnya selalu bereaksi bila terkena air hujan. Teman-temannya selalu mengejeknya seperti anak manja. Tapi mau bagaimana lagi memang keadaannya seperti itu.


Bara masih rebahan di atas tempat tidurnya. Badannya masih lemas. Dia juga malas mau melakukan apapun. Bara ingin menghubungi Arin. Namun takut suara dia terdengar berbeda. Akhirnya Bara hanya mengirimkan pesan singkat. Bara juga takut Arin sakit karena terkena air hujan semalam.


"Assalamu'alaikum"


Tulis Bara di aplikasi wa nya. Lalu dia kirim. Terlihat pesan itu si terima. Namun belum di baca. Lama Bara menunggu balasan. Tidak juga ada balasan. Akhirnya Bara meletakkan ponselnya di atas bantal.


Bara teringat kejadian semalam. Dia merasa lega telah mengungkapkan isi hatinya. Walaupun dia masih penasaran dengan jawaban Arin. Namun dia tidak banyak berharap. Dia tahu bagaimana perasaan Arin.


Selama di rumah sakit kemarin saat Arin sakit, Bara bisa melihat sikap Arin dan Fian bagaimana. Sedikit nya dia bisa membaca bahasa tubuh mereka berdua. Di tambah lagi percakapan dia dengan Fian kemarin.


Bara juga bisa melihat bagaimana Arin jika di depan Fian. Benar tidak begitu kentara tapi pandangan mata tidak bisa membohongi.


Tiba-tiba terdengar notif pesan masuk. Buru-buru Bara membuka pesan tersebut. Benar balasan dari Arin. Bara tersenyum dia merasa senang Arin membalas pesannya.


Arin: Wa'alaikumsalam. Ada apa Aa


Bara langsung membalas pesan dari Arin mumpung Arin masih terlihat online.


Bara : Bagaimana keadaan kamu. Tidak apa-apa kan terkena hujan semalam.


Tak lama Arin membalas pesan tersebut. Dan jadilah mereka berbincang lewat pesan singkat.


Arin : Saya tidak apa-apa Aa. Cuma sedikit pusing.


Bara : Hah.. kamu pusing. Kamu sakit. Semalam apa saya bilang. Kan seharusnya kita berteduh dulu.


Arin : Tidak apa-apa Aa. Cuma sedikit kok tidak banyak. Aa sendiri bagaimana keadaannya.


Bara : Saya tidak apa-apa juga. Hanya sedikit demam.


Arin: Haduhh Aa.. maaf. Karena saya Aa jadi sakit. Maafkan saya ya.


Bara : Tidak usah merasa bersalah. Mungkin karena kondisi tubuh saya saja yang tidak fit.


Arin : Beneran Aa tidak apa-apa. Tidak parah kan.


Bara : Tidak Arin. Saya hanya butuh rebahan sebentar. Nanti pasti lekas membaik.


"Dor.. hayooo senyum-senyum sendiri. Lagi ngobrol sama siapa?"


Bara terkejut. Tiba-tiba sang Mama sudah ada di sampingnya. Dia ketahuan lagi berbalas pesan dengan Arin.


Bara menjadi salah tingkah. Karena belum saatnya dia memberitahukan semua ini. Karena memang hubungan nya dengan Arin belum jelas.


Rencana nya dia akan memberitahukan jika Arin menerima dan mau membalas perasaannya.


"Apa si Ma. Ini lagi ngobrol sama teman. Mama bawaannya curiga kalau Bara punya pacar."


" Bukan curiga sayang. Tapi mama senang kalau kamu punya pacar."


"Mama yang di pikir pacar terus. Biar Abang dulu lah yang menikah."


"Memang Abang kamu dulu. Ini mama mau bilang ke kamu kalau minggu depan Abang kamu mau melamar pacar nya. Dan rencananya bulan depan abang kamu akan menikah."


"Benarkah ma. Secepat itu.Tapi Bara turut bahagia."


Tentu saja Bara bahagia. Itu artinya sang mama akan sibuk dengan segala pernak pernik acara sang abang dan mama pasti tidak punya waktu untuk bertanya tentang pacar lagi sama dia. Bara bisa sedikit bernafas lega. Dia bisa memanfaatkan waktu tersebut untuk meluluhkan hati Arin.

__ADS_1


Bersambung


Terima kasih untuk semuanya ❤️❤️❤️


__ADS_2