
"Om Jo, Fian mana."
Semua orang melongo. Perkataan apa itu. Bukan pertanyaan itu yang mereka tunggu. Mereka sudah tegang menunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulut Arin.
"Fian sakit. Dia demam."
Sutejo menjawab dengan nada sedih.
"Kemarin dia tidak apa-apa. Kok tiba-tiba sakit."
"Ini salah kita Arin. Karena kita berdua Fian sakit." Maria menjawab dengan sedikit isak.
"Iya Arin tahu Om, Tante. Kalian memang bersalah. Tapi kalian apakan Fian. Kok bisa sampai sakit."
"Dia sangat kecewa pada kami, Fian memilih berendam di bawah guyuran air shower. Dia kedinginan." Maria berkata sambil menunduk. Air matanya kembali jatuh.
"Dan sekarang dia sakit. Dia sedang beristirahat di rumah." Sambung Maria. Dia usap air mata yang masih menetes.
Setelah mendengar jawaban dari Maria, Arin beralih menatap Kakek Sastro.
"Oh begitu. Kakek Sastro boleh Arin bertanya. Arin merasa masalah ini menjadi sangat pelik."
Arin berjalan menuju kursinya kembali. Semua orang hanya menyimak apa yang Arin lakukan.
"Silahkan Nak. Apapun itu jika kakek bisa akan kakek jawab." Suara parau kakek Sastro terdengar memenuhi ruangan.
"Akung sebelumnya Arin minta maaf ya. Kalau nanti sekiranya apa jawaban dari kakek Sastro sedikit melukai Akung."
"Iya cu, Akung sudah siap mendengarkan apapun kenyataan yang sebenarnya. Karena ini semua juga kesalahan Akung di masa lalu. Uhuk.. uhuk.. uhuk."
"Akung tidak apa-apa kan. Boleh saya periksa." Bara mendekati Akung Krisna. Bara merasa khawatir melihat kondisi Akung yang terlihat sangat shock menerima kenyataan yang ada.
"Tidak usah Nak, Akung tidak apa-apa."
Namun Bara tetap mendekat. Dia mengecek denyut nadi Akung. Bara duduk di sebelah Akung untuk menjaga segala kemungkinan. Dia tidak apa yang akan diucapkan oleh Arin. Bisa jadi itu sesuatu hal yang bisa berpengaruh pada kesehatan Akung.
Pandangan semua orang masih tertuju pada Arin. Tak ada sedikitpun perasaan takut ataupun risih pada diri Arin. Dia ingin membuka semua yang seharusnya diungkapkan hari ini juga. Karena dia berpikir apa yang tadi dia dengar belum jelas.
"Kakek Sastro tidak bohong kan dengan keterangan yang tadi kakek utarakan. Benar kalau Om Jo itu adalah anak kakek."
Kakek Sastro menghela nafas panjang. Dia sebenarnya tidak ingin membongkar aib tersebut. Namun semua demi kebaikan. Semua demi cucunya juga. Bisa jadi hal tersebut bisa menolong cucunya. Cucunya yang dia tahu sangat menyayangi Arin.
"Benar sekali. Kalau kalian tidak percaya kita bisa lakukan tes DNA. Ini aku juga membawa bukti. Silahkan lihat sendiri. Dulu aku sudah pernah melakukan untuk menyakinkan Narti. Namun hasilnya tetap saja tidak bisa merubah keputusan Narti untuk meninggalkan Krisna. Aku baru sadar ternyata aku cuma diperalat Narti untuk bisa mendapatkan Krisna."
"Uhuk..uhuk..uhukk."
"Akung.. Akung tidak apa-apa kan. Ini minum dulu." Arin bergegas mengambil segelas air putih untuk Akung .
"Maafkan aku Krisna. Aku tidak tahu kalau ternyata akhirnya begini."
"Tidak apa-apa Sastro, semua sudah terjadi. Syukurlah semua sudah terungkap sekarang. Kita sudah tua sudah saatnya kita beristirahat. Biarlah yang muda yang menyelesaikan semuanya."
"Terima kasih Krisna. Pantesan Narti begitu tergila-gila padamu ternyata kamu begitu gagah dan juga sangat baik."
"Hahaha.. kamu terlalu memuji."
" Terima kasih kakek Sastro. Semua menjadi jelas sekarang. Kalau ayah sama Om Jo bukan saudara kandung. Jadi Arin bisa mengambil keputusan yang terbaik menurut Arin."
Bara terkejut mendengar perkataan Arin. Pandangannya lurus menatap Arin. Hatinya berdebar keras. Mungkin ini akhirnya dari kisah cintanya.
Dari kursi sudut sang mama memperhatikan sikap Bara. Lalu mama menyentuh tangan suaminya. Mereka saling pandang sebentar dan kemudian Hary mengangguk. Mama hanya tersenyum. Entah apa yang sedang mama Bara pikirkan.
"Kakek Sastro datang sama bersama siapa? Tadi Arin lihat ada gadis cantik berdiri disamping kakek." Arin bertanya lagi. Karena memang tadi dia melihat seorang gadis tapi ternyata sekarang gadis itu tidak ada.
"Oh itu Ran namanya. Dia tadi bilang mau duduk di luar. Dia adalah cucu angkat. Dia aku ketemukan di depan rumah dua puluh tahun yang lalu. Aku belum menemukan orang tuanya."
"Oh begitu."
Arin terdiam dia merasa sangat familiar dengan gadis itu. Ada perasaan yang aneh saat tadi dia pertama kali melihat Ran.
"Kenapa Nak.. apa yang kamu pikirkan."
"Tidak ada kok bund." Tentu Arin tidak ingin membuat sang bunda khawatir. Dia akan menyelidiki nanti.
__ADS_1
"Sekarang semua sudah berdamai. Yanto kamu sudah memaafkan Tejo bukan. Dan Tejo kamu telah menyesali semua perbuatannya. Sekarang kita adalah keluarga bukan begitu Om Krisna, Om Sastro?"
Semua orang menganggukkan kepala tanda setuju dengan pernyataan Hary.
"Sekarang saatnya saya mengatakan tujuan saya kemari bersama keluarga saya."
Hary berhenti sejenak. Dia tatap sang istri yang terlihat tersenyum. Kemudian dia melihat ke arah Bara. Namun Bara hanya diam. Dia tidak tahu apa arti tatapan sang papa.
"Memang ada apa Hary. Apa masih ada sesuatu yang tidak saya ketahui."
"Hahaha.. santai aja Yanto. Tidak usah tegang seperti itu. Hanya sedikit ingin meminta sesuatu pada kamu. Mumpung keluarga besar berkumpul."
"Minta apa. Asal aku bisa memberikan pasti akan aku berikan."
Hary menarik nafas lagi. Dia tidak tahu apakah ini saat yang tepat atau bukan. Namun memang sudah niat dari rumah, Hary tidak ingin menunda lagi. Hary memandang Yanto dengan tersenyum. Tekadnya sudah bulat. Dia tidak mau terlambat. Apapun hasilnya nanti, yang penting dia sudah berusaha. Kemudian Hary memandang Arin dan Bara bergantian. Hari Bara semakin tidak karuan. Entah apa yang sedang direncanakan orang tuanya.
"Arin, Bara. Papa sebenarnya tahu semuanya. Papa sudah tahu hubungan kalian. Papa sangat senang. Papa menyetujui hubungan kalian. Dan kedatangan kita kesini sebenarnya juga akan meminta Arin untuk menjadi istri Bara."
Semua orang terkejut. Apalagi Bara.
"Pa.. apa maksud papa. Kenapa papa tidak bilang dulu pada Bara. Papa salah sangka." Bara berusaha menahan sang papa. Dia tidak ingin papanya berkata yang tidak-tidak. Karena dia tahu perasaan Arin yang sebenarnya.
"Kamu diam dulu Bara. Papa mau bicara sebentar pada Arin. Boleh kan kalau Om bertanya Arin."
Tentu saja Arin terkejut mendengar ucapan Hary. Hary menatap Arin dengan pandangan yang sangat lembut. Tapi dia mengangguk juga.
"Arin, Om pernah mendengar kamu meminta Bara untuk menjadi suamimu. Benar kan?"
Semua orang terkejut mendengar apa yang diucapkan Hary. Semuanya kemudian menatap ke arah Arin dan Hary bergantian dengan tatapan tak percaya. Apalagi bunda.
"Nak, benar kah? Ada apa sebenarnya. Apa ada yang bunda tidak tahu." Bunda menatap Arin. Ada gundah terlihat di wajah bunda. Bunda heran kenapa Arin melakukan hal ini.
Arin tertunduk. Dia bingung mau menjawab apa. Dia tidak tahu kalau apa yang dia lakukan kemarin ada yang mengetahui. Dia sebenarnya juga merasa takut melihat kedatangan Bara dengan orang tuanya. Dia takut Bara benar-benar memenuhi janjinya. Bukan dia tidak mau menikah dengan Bara. Namun Arin merasa belum pantas saja.
"Maafkan Arin bund, bukan maksud Arin apa-apa. Tapi saat itu Arin sedang benar-benar tidak berdaya. Maafkan Arin bunda, Ayah."
Arin mendekati bunda dan duduk bersimpuh di kaki bunda. Dia merasa sangat bersalah.
"Nak, tidak apa-apa. Bunda tidak marah . Bunda hanya ingin kamu jadi orang yang bertanggung jawab. Apa yang keluar dari mulut kamu harus kamu pertanggung jawabkan."
"Cie..cie bang Bara membela kak Arin. Cie.. cie.." Rama
"Hus Rama. Tidak boleh begitu."
"Bunda ikh.. Kan keren tuh Bang Bara segitunya membela kak Arin."
Semua orang tersenyum mendengar perkataan Rama. Mama Bara kini tahu, kalau gadis yang putranya ceritakan adalah Arin. Mama menyentuh lembut bahu sang putra bungsunya. Dia memberi semangat. Mama tahu sekarang masalah yang sebenarnya. Dia berbisik di telinga puteranya.
"Kejar sayang, dia gadis yang menarik. Mama mau dia menjadi menantu mama."
Bara menoleh ke arah sang mama dan menggeleng.
"Why?"
Bara menggeleng lagi. Akhirnya sang mama hanya bisa mengangkat bahu. Dia serahkan semua keputusan pada sang putra.
"Arin sebenarnya ada apa? Apa boleh ayah tahu."
Arin menunduk. Dia merasa malu bila mengingat hal itu. Ide tak masuk akal yang begitu saja terlintas di benaknya saat itu. Namun dia benar-benar tidak menyangka sekarang malah menjadi bumerang buat dia.
Kalau boleh jujur, sebenarnya Arin juga menyukai Bara. Semenjak mereka sering berinteraksi, perasaan Arin pada Bara telah berkembang. Namun tetap saja dia tidak berani mengambil keputusan sepihak. Dia harus bertanya pada Bara terlebih dahulu.
"Ayah, maafkan Arin . Arin kemarin merasa kalut dan pada saat itu Ada Bara datang dan pernyataan itu keluar begitu saja. Namun bila boleh Arin ingin berpikir dahulu. Arin ingin sholat istikharah dulu. Dan juga Arin ingin berbincang empat mata dulu dengan Apa."
"Cie.. cie.. panggilannya udah Aa. Hahahaha.." Rama sengaja ingin menggoda sang kakak. Pasalnya dia juga tahu bagaimana perasaan Arin. Dia hanya ingin Arin tersentuh hatinya dan menyadari apa yang sebenarnya dia rasakan.
"Hus Rama. Kamu meledek kakak kamu terus. Tapi bener si terdengar romantis. Hehehe.."
Akung menegur Rama. Namun sebenarnya dia juga setuju. Dia merasa Bara cocok buat Arin.
Sutejo dan Maria hanya bisa menyimak. Mereka berdua sudah merasa kalah. Perbuatan jahatnyalah yang membuat mereka berdua tidak yakin kalau lamaran mereka akan diterima.
"Sudah.. Sudah. Sekarang bagaimana Arin. Benar kan yang Om dengar waktu itu. Tentang permintaan kamu pada putra om."
__ADS_1
Arin mengangguk malu. Semua sudah terbongkar sekarang. Dia sudah tidak berkutik.
"Iya Om. Dan sesuai pernyataan saya tadi. Saya butuh waktu untuk meyakinkan diri dan hati saya terlebih dahulu. Satu lagi saya . Saya minta waktu karena seminggu lagi saya akan sidang skripsi. Jadi saya mohon dengan sangat pada semua orang yang disini, biarlah saya fokus dengan hal itu terlebih dahulu."
"Benar, Saya setuju dengan Arin. Hary kamu jangan memojokkan putri saya terus. Biarlah dia konsentrasi pada pendidikannya dahulu. Biar dia pantas jadi menantu kamu."
"Hahahaha.. Baiklah. Baiklah. Lagian siapa yang memaksa. Padahal tadi saya hanya berniat menggoda Putra saya. Hahahaha.."
"Papa.. " Bara menatap sang papa dengan pipi memerah. Dia merasa sangat malu dan tentu juga senang.
"Hahaha..kalian ini sudah dewasa tapi masih malu-malu. Seperti bocah saja.."
Semua orang tertawa kecuali Sutejo dan Maria. Mereka berdua hanya bisa tersenyum. Namun mereka merasa senang. Karena semua beban telah mereka keluarkan semua. Dan semua sudah baik-baik saja. Pertikaian ini sudah selesai.
"Ayah, Saya serahkan kembali perusahaan itu pada mas Yanto. Dia yang lebih berhak atas semuanya."
Akung memandang Sutejo dengan iba. Anak yang dia kira darah dagingnya ternyata anak dari musuhnya di masa lalu. Namun itulah kenyataannya. Akung hanya bisa menerima dengan lapang dada.
"Jo, aku sudah tidak ingin ikut campur lagi. Urus saja oleh kalian berdua bagaimana baiknya. Tapi satu hal yang ayah minta. Siapa pun kamu ayah sangat sayang sama kamu. Ayah harap kamu benar-benar berubah."
"Iya Ayah. Jo janji. Jo akan merubah sikap Jo. Jo akan menjadi baik kedepannya."
"Ayah pegang janji kamu Jo. Dan kamu Sastro. Apa yang terjadi di masa lalu lupakan. Maafkan saya yang telah melukai hati kamu juga."
"Tenang aja Kris, aku telah melupakan hal itu. Aku senang aku bisa bertemu anakku di sisa umurku ini. Tapi aku miskin aku tidak bisa mewariskan apapun padamu Jo."
Sutejo mendekati ayah kandungnya. Dia benar-benar tidak menyangka dengan kenyataan yang sebenarnya. Yang dia tahu Ayah Sastro adalah Ayah dari Santoso.
"Jo, maafkan ayahmu ini ya. Ayah baru menemui kamu saat ini. Ayah harus mengumpulkan bukti yang kuat dulu. Dan Santoso lah yang membantu ayah selama ini."
"Iya yah, semua sudah terjadi. Kita hanya bisa menerimanya."
Semua orang menyimak apa terjadi.
"Sekarang semua sudah terbuka . Untuk masalah harta silahkan urusi kalian sendiri. Saya tidak akan turut campur. Tugas saya sudah selesai di sini. Dan Kamu Yanto, saya senang bisa bertemu kembali dengan teman yang sangat hebat seperti kamu."
"Hahaha.. kamu terlalu memuji Har. Kamu juga hebat bisa membongkar semua ini. "
Hary dan Yanto saling berpelukan. Wajah mereka terlihat berarti. Walaupun kulit mereka sudah terlihat menua namun mereka masih terlihat gagah.
"Jo, kamu juga hebat. Kamu berani mengakui kesalahan kamu. Semoga kita akan menjadi saudara ke kehidupan selanjutnya."
"Terima kasih Har, kamu juga hebat. Kamu bisa membongkar silsilah keluarga kita. Semoga kita selalu diberi kesehatan. Bisa berkumpul lagi sampai kakek-kakek nanti."
"Iya Jo "
Ada haru di dalam ruangan itu. Air mata kebahagiaan menetes dari semua mata yang ada dirumah sederhana itu. Rumah keluarga Paryanto yang selalu penuh kedamaian. Masalah telah selesai. Pertikaian antar saudara telah terurai.
Semua bisa tersenyum bahagia. Semua hal yang terjadi selalu ada hikmahnya. Tergantung kita yang menyikapinya. Tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini. Tidak ada yang mustahil jika Allah menghendaki. Kita selayaknya hanya menerima dengan lapang dada.
"Kriuk... kriuk.. kriuk."
"Suara apa itu. Perut siapa yang berbunyi."
"Hahahaha.. astaga kakek tua ini tadi buru-buru perginya. Belum sempat sarapan. To ..Ayah mau numpang makan."
"Hahahaha ayah.. ayo kita makan bersama. Hari juga sudah siang. Mari kita makan seadanya.Untung hari ini aku masak banyak.."
Ayah mempersilahkan mereka semua masuk ke ruang makan. Meja makan yang sederhana itu penuh dengan makanan.
Hari ini adalah hari spesial. Namun tidak ada satu orang pun yang menyadarinya. Bunda sengaja masak berlebih, rencananya mau dibagikan pada tetangga. Beruntung sekali keluarga datang ke rumah ini.
"Wah masak besar. Ada acara apa ini.."
Akung yang telah terlebih dahulu sampai di ruang makan heran melihat meja makan yang penuh makanan. Ada tumpeng nasi kuning juga.
"Hari ini Hari ulang tahun ayah yang ke 55 Akung. "
"Wah kebetulan sekali. Kita pesta ya. Hahaha.. "
Semua orang menikmati masakan bunda. Bahkan Ayah lupa kalau hari ini hari ulang tahunnya . Dia merasa sangat bahagia. Di usianya yang diambang senja dia dikelilingi orang-orang yang sangat perhatian padanya.
Istri yang setia dan tidak pernah mengeluh. Serta putra dan putri yang sangat baik.
__ADS_1
Semua makan dengan lahab. Setelah apa yang mereka lalui di hari ini, ternyata Meraka butuh asupan. Makanan yang lezat tidak lama telah pindah ke perut mereka.
Bersambung