Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 69


__ADS_3

Sore harinya Fian pulang ke rumah di jemput Andra. Mama dan papanya sedang menghadiri acara pernikahan teman sejawat papa. Mereka menyerahkan urusan Fian kepada Andra. Fian tidak heran. Dari dulu selalu begitu. Mama dan papa tidak pernah mengurusi Fian secara langsung. Selalu saja diwakilkan pada orang lain.


Tapi Fian tidak pernah mempermasalahkan semua itu. Dia tahu papa dan mamanya memang sibuk. Dia selalu berpikir positif. Dia yakin mama dan papanya pasti menyayanginya juga. Cuma karena sibuk jadi tidak pernah diperlihatkan.


"Fian, kamu istirahat dulu. Sono masuk kamar. "


"Iya bang, Gampang nanti pasti gue juga akan istirahat kok."


"Terus lo mau ngapain. Gue juga mau istirahat. Gue ngantuk. Semalam tidak bisa tidur."


"Iya bang, Ya udah gue masuk kamar dulu."


"Iya.. gue juga mau ke kamar. Kalau butuh apa-apa panggil gue aja."


"Iya bang. Terima kasih selalu ada buat gue."


"Lo saudara gue satu-satunya. Apapun akan gue lakukan buat lo."


"Terima kasih bang."


Fian masuk kamar. Perasaannya terasa tidak nyaman mendengar ucapan Andra. Seperti ada sesuatu yang dia sembunyikan. Namun Fian tak ingin menduga-duga dan berprasangka buruk.


Fian membuka lemarinya. Dia mengambil sebuah album foto Yang telah usang. Dia buka halaman pertama. Dia pandangi satu foto yang sangat menggangunya selama ini. Sebuah foto saat ulang tahun nya yang ke lima. Foto di mana dia hanya sendiri menghadap sebuah kue ulang tahun yang sangat sederhana.


Fian menghela nafas. Dadanya terasa sedikit sesak mengingat peristiwa itu. Ulang tahun yang dia harapkan dulu ternyata menjadi sebuah beban buat sang mama. Keinginan seorang anak kecil yang melihat kakaknya dibuatkan pesta dan pasti dia juga ingin mendapatkan hal itu juga.


Padahal dia tidak muluk-muluk. Hanya ingin pesta sederhana dengan kue ulang tahun dan balon. Tapi buat sang mama itu sangat berat. Entah kenapa mama merasa keberatan. Dulu Fian masih kecil tidak mengerti apa-apa. Hanya bisa mengangguk ketika mama bilang tidak bisa membuatkan pesta ulang tahun untuknya.


Tapi sekarang Fian paham. Ada suatu perbedaan antara dia dan abangnya. Fian tak mau ambil pusing. Dia hanya ingin menjadi anak yang baik saat ini.


Fian menutup album foto tersebut dan menyimpannya kembali. Dia tidak ingin tambah terluka.


Fian melangkah ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya dengan tangannya sebagai bantal. Dia pandangi langit-langit kamar. Sekelebat bayangan muncul di sana. Ya tentu saja wajah Arin yang muncul. Hari ini dia belum berkomunikasi dengan Arin.


Fian bangun lagi dan mengambil ponselnya yang dia taruh di atas meja. Dia mau menelpon Arin. Jam segini Arin pasti sudah tidak sibuk. Fian mencari nomer kontak Arin dan memencet tombol panggilan. Terdengar bunyi nada sambung. Tak lama kemudian terdengar suara di sana.


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam.. sore Arin."


"Fiaaannn.. lo jahat ya."


Fian terkejut mendengar suara Arin yang demikian keras. Telinganya sempat pengang sebentar.


"Ada apa sih. jangan teriak dong. Kaget gue."


"Ada apa lo bilang... lo sakit kenapa ga bilang ke gue semalam."


"Hehehe... maaf.."

__ADS_1


"Tidak dimaafkan. Kenapa tidak kasih kabar kalau sakit dan di rawat. Semalam kenapa diam saja."


"Iya maaf. Gue cuma ga mau lo khawatir."


"Bagaimana keadaan lo saat ini.Apa yang lo rasakan."


"Gue tidak apa-apa kok. Gue baik-baik saja. Gue udah sembuh."


"Serius. Ga becanda kan lo. Jangan ada yang ditutup-tutupi sama gue."


"Iya.. iya... Gue baik-baik saja. Gue sudah ada di rumah. Gue sudah pulang."


"Beneran... Syukur deh. Jaga kesehatan dong. Jangan sampai telat makan dan juga istirahat yang cukup."


"Nah ini yang gue suka. Perhatian banget lo sama gue. Hehehe.."


"Karena gue teman lo. Gue ga mau lo kenapa-kenapa."


"Iya deh iya. Keadaan lo sendiri bagaimana. Awas aja kalau terjadi yang aneh-aneh."


"Aneh apa coba."


"Kamu juga jaga kesehatan ya. Biar cepat sembuh itu luka. Biar kita bisa lomba lari lagi."


"Jangan salah ya. Saat ini pun gue masih bisa menang lomba lawan lo."


"Arin.. sedang ngobrol sama siapa kamu. Pasti Fian ya.. sudah Ayah bilang jangan dekat-dekat dia. Masih saja tidak menurut."


"Fian.. maaf ya. Kamu jadi mendengar suara ayah."


"Tidak apa-apa Rin. Toh kata-kata mamaku malah lebih menyakitkan dari ini. Ya udah gue tutup ya. Ingat jaga kesehatan lo dan juga istirahat yang cukup."


"Lo juga ya Fian, gue ga mau mendengar berita lo sakit lagi."


"Iya Rin. Sudah dulu ya . papay Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam.."


Mereka memutuskan sambungan telepon. Fian terdiam. Ternyata Ayah Arin juga tidak suka padanya. Tapi selama ini, selama dia main ke rumah Arin , ayah bersikap biasa saja. Mungkin karena ayah sudah tidak tahan dengan perlakuan mamanya kepada keluarga Arin. Sehingga ayah juga menunjukkan rasa tidak sukanya.


Fian berusaha untuk tidak memikirkan hal itu. Saat ini dia memang sudah merasa menyerah pada keadaan. Dia sedang tidak ingin berjuang.Dia hanya ingin menjalani hidup sesuai alurnya. Mengikuti kemana arus akan membawanya berlabuh. Akan dia hadapi semua halangan dan rintangan yang menghadang.


Fian mencoba memejamkan mata. Dia ingin tidur. Dia ingin istirahat. Ingin bisa tidur nyenyak. Beberapa hari ini tidurnya terganggu dengan beban pikiran yang menggangunya.


Fian masih terus memandang langit-langit kamar. Matanya terpejam. Angannya jauh melayang pada gadis yang telah menemaninya. Gadis yang selalu ada didekat nya, selama hidupnya sampai di detik ini.


Dia terus mengkhayal dan berharap. Sampai dia terlelap dan memulai menikmati alam mimpinya.


🌸🌸🌸

__ADS_1


Arin memutuskan sambungan teleponnya. Ayah masih ada di dalam kamar Arin. Arin meletakkan ponselnya di atas bantal. Dan duduk menghadap ayah yang duduk di depan Arin.


"Nak, Ayah mau berbincang sebentar. Apa ayah mengganggu?"


"Tidak Yah. Silahkan Ayah. Arin tidak terganggu kok." Arin memandang wajah ayah yang terlihat sedih.


"Maafkan Ayah ya Nak. Bukan ayah tidak setuju kamu berteman dengan Fian. Ayah hanya tidak ingin melihat kamu tersakiti. Kamu tau bagaimana sikap orang tua Fian kepada kita. "


"Iya Yah."


Arin hanya mampu menjawab dengan kalimat itu. Hatinya terasa sakit. Dia hanya ingin berteman dengan sahabatnya yang telah menemaninya sejak kecil. Dia tidak mengharap apa-apa dengan kelanjutan hubungan mereka ini. Selain sebagai teman dan sahabat. Tidak lebih. Karena Arin sangat tau diri. Tapi sepertinya hubungan persahabatan itu menjadi beban masalah buat orang-orang di sekitar mereka.


"Kenapa kamu diam. Apakah kamu marah sama ayah ,Nak."


"Kenapa harus marah. Tidak ada yang membuat Arin harus marah Yah. Arin tau kok maksud ayah baik. Tenang aja Yah, Arin tidak akan berhubungan dengan Fian lagi."


Mata Arin berkaca-kaca. Dia menahan gejolak di hatinya. Perasaannya sangat sakit. Tapi dia tidak boleh menangis di depan ayah. Dia harus terlihat kuat di depan sang ayah.


"Sekali lagi maafkan ayah ya Nak."


Arin memberanikan diri memandang ayah untuk membuktikan bahwa dia tidak apa-apa.


"Iya ayah. Tidak perlu meminta maaf. Arin tidak apa-apa."


Ayah mengelus kepala Arin sebentar kemudian bangun dan melangkah ke luar kamar Arin. Ayah meninggalkan kamar Arin dengan perasaan yang terluka juga.


Sepeninggal ayah, Arin menutup pintu kamarnya dan menguncinya. Arin bersandar di pintu. Dia terisak pelan. Sebelumnya dia tidak pernah merasa begitu hancur seperti saat ini. Dia dulu merasa kuat karena selalu ada Fian di sampingnya. Sekarang pun masih tetap ada Fian. Namun setelah mendengar perkataan ayah tadi, entah mengapa Arin jadi merasa sendirian.


Apalagi setelah dia mendapatkan kejadian kemarin. Dia merasa tidak percaya diri. Semua terasa semakin menghancurkan pertahanannya. Bisakah dia bangkit kembali?


Setelah terisak sebentar Arin kembali nenuju tempat tidur. Dia merebahkan dirinya. Dia ingin istirahat. Dia ingin tidur saja. Dia tidak ingin memikirkan apapun saat ini. Dia ingin melupakan saja semuanya. Dia tidak ingin peduli sama apapun. Arin merasa lelah hati dan pikirannya.


Kejadian demi kejadian yang dia alami belakangan ini sangat menguras pikirannya. Dia benar-benar merasa lelah. Kadang Arin berpikir untuk menyerah. Tapi di saat yang lain dia ingin bangkit dan melawan keadaan.


Haruskah dia kalah di titik ini. Padahal perjalanannya masih panjang. Ini baru permulaan. Perjalanan yang sebenarnya baru saja di mulai. Kisah hidup yang sebenarnya baru saja di buka.


Perjalanan hidup menuju masa kedewasaan baru saja di jalani. Tak seharusnya Arin dan Fian menyerah. Justru harus semakin semangat. Tantangan dan rintangan seharusnya malah membuat mereka semakin kuat.


Arin lelah terus menangis, dia harus merubah rencana hidupnya. Dia harus tetap melangkah menggapainya impiannya. Ini sudah ditengah jalan. Tidak boleh berhenti di tengah jalan atau semua akan menjadi sia-sia.


Arin menghela nafas panjang. Dia usap air matanya. Pikirannya mulai terbuka setelah dia merenung sejenak barusan. Apa yang terjadi tidak boleh membuatnya jatuh. Dia yakin masih banyak orang-orang yang masih menyayanginya dengan tulus.


"Ok Ayah. Arin akan tetap semangat."


Arin bangun dan berjalan keluar. Dia lihat jam masih menunjukkan pukul sepuluh malam. Dia menuju kamar mandi dan membasuh mukanya yang sembab. Dan tidak lupa mengambil air wudhu.


Setelah itu Arin mengambil air minum dan meneguknya satu gelas penuh. Dan kembali lagi ke kamar. Karena hari sudah malam Arin berniat akan tidur saja. Dia benar-benar ingin tidur dan bangun besok pagi dengan harapan baru dan semangat baru.


Saat besok pagi dia terbangun dia ingin bangun dengan semangat baru dan harapan baru. Karena yakin semua akan baik-baik saja.

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa tinggalkan like dan komen Terima kasih ❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2