
Semua selesai sudah
"Ayah.. Ayah.. "
Arin sudah selesai mandi. Dia sudah berpakaian rapi. Siap menyambut tamu yang akan datang. Waktu menunjukkan pukul delapan pagi. Matahari sudah sempurna keluar dari peraduannya. Panasnya sudah sedikit terasa di kulit.
"Iya nak, Ayah di depan. Sini kita berjemur sebentar mumpung hari masih pagi. Matahari belum panas ."
Dari halaman depan Ayah menjawab panggilan Arin. Arin berjalan menuju ke arah suara ayah berada. Ayah sedang duduk di teras depan sambil berjemur. Matahari pagi sangat baik untuk kesehatan. Arin mendekati Ayahnya.
"Ayah kok tamunya belum datang. Tadi janji sama ayah mau datang jam berapa."
"Sabar dong. Mungkin masih dalam perjalanan."
"Tidak ayah. Arin juga cuma nanya kok. Ayah hari ini ga kerja."
"Tidak. Ayah sudah ijin kemarin. Ayah harus segera menyelesaikan masalah ini. Ayah malas berurusan lagi dengan mereka."
"Arin nurut aja apa yang menurut ayah yang terbaik."
Arin berjalan keluar mendekati pinggir jalan. Dia melihat-lihat keadaan. Sepuluh hari di rumah sakit membuatnya merasa rindu dengan keadaan rumahnya. Dari kejauhan Arin melihat sebuah sepeda motor melaju dengan pelan. Dan berhenti tepat didepan Arin.
"Pagi Rin."
"Pagi juga. Mau kuliah Ndo."
"Hm.. sudah tau nanya."
"Nando.. maleslah gue. Mending masuk rumah."
"Dih marah. Iya Arin. Gue mau kuliah. Bagaimana keadaan kesehatan lo."
"Siapa yang marah. Lo sih menyebalkan."
"Wkwkwkw... iya maaf."
"Tidak di maafkan.. kecuali lo beliin gue cilok."
"Dih maksa.. Iya deh Iya. Apa si yang ga buat Arin. Wkwkwk.."
"Gitu dong.. Luka gue udah sembuh. Cuma masih sedikit nyeri aja. Palingan seminggu lagi udah sembuh."
"Baguslah. Hm.. udah dengar berita tentang Fian belum."
"Apa.. ada apa dengan Fian. Ada yang terjadi dengan dirinya." Arin terlihat tidak sabar mendengar ucapan Nando.
"Kalem dong. Kalau sudah masalah Fian jadi semangat banget. hahaha.."
"Apaan sih. Dia kan teman kita Ndo. Masa tidak boleh khawatir."
"Iya deh iya. Fian sakit di rawat di rumah sakit."
"Hah.. yang bener. Kemarin pagi masih baik-baik saja. Kapan masuknya. Semalam kita ngobrol dia tidak bilang apa-apa."
"Kemarin sore. tapi sudah membaik kok."
"Alhamdulillah. Semoga tidak parah ya sakitnya. Kan gue ga bisa nungguin dia seperti dia nungguin gue. Tau sendirilah."
"Iya tau kok. Lo jangan khawatir ya. Ada Bang Andra yang menunggu dia."
"Iya Ndo."
"Ya sudah gue berangkat dulu. Ingat jangan khawatir. Kesehatan lo lebih penting."
"Iya bawel"
Nando hanya tertawa. Dia tau bagaimana perasaan Fian dan Arin yang sebenarnya. Dia adalah saksi kisah mereka berdua.Nando semakin cepat melajukan motornya. Karena hari semakin siang. Dia tidak mau terlambat kuliah.
Setelah Nando pergi, Arin bergegas masuk ke dalam rumah. Dia mengambil ponselnya. Dia ingin menghubungi Fian. Arin ingin tau bagaimana keadaan Fian yang sebenarnya. Semalam Fian tidak bilang apa-apa. Fian tidak memberitahu keadaan dia.
Namun baru beberapa langkah dia memasuki pintu depan, terdengar suara mesin mobil memasuki halaman rumah. Arin berbalik arah, melihat siapa yang datang. Arin melihat Santosa dan Mia menuruni mobil. Arin terdiam. Waktunya telah tiba. Saat dimana dia harus tegas kepada orang Yang telah melukai keluarganya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam.. Silahkan masuk Om, Tante... Silahkan duduk. Saya panggil Ayah dulu."
"Iya Nak, terima kasih."Jawab Mia. Sedangkan Santosa hanya tersenyum dan menganggukkan kepala.
Arin pergi meninggalkan mereka. Dia mau memanggil ayah yang sedang berada di halaman belakang rumah.
"Ayah.. Ayah."
__ADS_1
"Iya Arin. Apa sudah datang tamunya."
"Sudah Yah. Mereka sudah Arin persilahkan duduk di ruang depan."
"Ok baiklah. Ayah cuci tangan dulu. Kamu bilang bunda untuk menyiapkan jamuan ya."
"Iya Yah."
Arin meninggalkan Ayah. Dia pergi ke dapur mencari bunda. Namun bunda tidak ada. Arin melihat sekeliling. Terdengar suara gemericik suara air dari kamar mandi. Ternyata bunda ada di kamar mandi.
"Bunda.."
"Iya Rin.. sebentar ya. Sedikit lagi selesai."
"Itu tamunya sudah datang. Arin mau bikin minum dulu buat mereka. "
"Iya Nak. Sudah bunda siapkan. Tinggal kamu tuang saja air panasnya. Dan cemilannya ada di meja."
"Iya bunda."
Arin berjalan menuju meja yang ada di dapur. Ternyata benar semua sudah disiapkan oleh bunda Arin tinggal membawanya ke depan.
Arin membawa semua yang telah disiapkan oleh bunda. Teh hangat dan juga combro dan misro buatan bunda. Ternyata ayah sudah datang dan menemani tamu berbincang.
"Tidak usah repot-repot Arin."
"Tidak kok Tante.. silahkan di minum dan dicoba makanannyw. Maaf cuma seadanya."
"Ini sudah cukup kok sayang. Terima kasih."
"Arin, bunda mana?"
"Bunda sedang di kamar mandi Yah. sebentar lagi juga menyusul kesini."
"Kamu duduk saja di sini."
"Iya Yah."
Arin duduk di kursi yang paling dekat dengannya berdiri saat ini. Tak lama bunda datang menyusul ke ruang tamu.
"Oh sudah datang tamunya. Silahkan pak, jeng Mia di icip cemilan buatan saya. Tapi maaf hanya makanan kampung."
"Apa sih jeng. Ini enak sekali. Buatan sendiri pasti lebih enak dan juga sehat."
"Mari kita mulai saja. Sudah siang juga."
Santosa akhirnya membuka suara. Mungkin karena dia ada acara lain. Harap maklum pejabat selalu sibuk dan tidak ada waktu untuk berbasa basi.
"Baiklah."
Ayah menarik nafas dalam. Dia mulai terlihat serius Ada ketegangan di wajah- wajah mereka yang ada di ruangan ini.
"Yanto.. Sebelumnya saya minta maaf dengan semua yang telah kami lakukan pada kamu dahulu. Tidak hanya peristiwa dahulu namun juga peristiwa kemarin yang telah dilakukan Omed pada Arin."
Santosa terdiam lagi. Dia memandang Ayah dan juga Arin bergantian. Terlihat ada rasa sesal yang mendalam di raut wajahnya.
" Kesalahan yang telah kami lakukan pada keluarga kamu memang sangat banyak. Maaf dulu kami sangat terpaksa melakukan itu. Kami tidak tahu kalau akibatnya sangat fatal buat keluarga kalian."
Santosa berhenti lagi. Dia menarik nafas panjang. Serasa beban yang dia pikul sangat berat.
Sedangkan Ayah masih diam saja. Ayah seperti sedang menahan amarah. Terdengar beberapa kali ayah menarik nafas panjang. Suasana yang sangat mencekam dan menegangkan.
"Iya, Yanto dan jeng Ida. Kami sangat menyesal dengan perbuatan yang telah kami lakukan dahulu. Mohon maafkan kami."
Mia ikut berkata menambahkan ucapan Santoso. Bahkan mata Mia terlihat berkaca-kaca. Bunda dan Arin hanya mendengarkan sambil menunduk. Ayah terlihat susah payah menahan perasaannya.
",Kami memaafkan semua perbuatan kalian dahulu. Semua sudah berlalu. Walaupun resiko yang harus kami tanggung harus kami rasakan sampai saat ini."
Ucap Ayah akhirnya. Nada bicara Ayah terlihat tenang namun seperti mengintimidasi. Santoso dan Mia memandang ayah.
", Maksudnya bagaimana Yan, apakah dia masih merasa dendam padamu. "
Ayah diam termangu. Arin merasa bingung ada apa sebenarnya yang terjadi di masa lampau. Namun Arin tidak berani bertanya.
"Sudahlah semua sudah terjadi."
"Tidak bisa begitu Yan, Biarlah kami yang akan turun tangan untuk menyelesaikan semuanya. Karena memang kami yang bersalah." Santosa terlihat bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Aku bilang sudah ya sudah." Ayah terlihat emosi. Nada suaranya mulai naik.
"Ayah.." Bunda memperingatikan Ayah. Bunda tidak mau ayah kenapa- kenapa tentunya.
__ADS_1
Ayah menarik nafas panjang. Ayah sudah terlihat tenang kembali. Dia memandang Santosa dan Mia. Arin hanya bisa menyimak perdebatan mereka. Ayah mulai berbicara lagi.
"Aku tau tujuan kedatangan kalian ke rumah ini. Dan aku setuju. Kami sekeluarga akan membebaskan Omed dan kedua temannya. Kami akan mencabut tuntutan kami. Dengan satu syarat..." Ayah menghentikan ucapannya. Dia menatap Santoso dan Mia bergantian.
"Apa syarat itu Yan.. Kami akan mengabulkan apapun syarat yang kamu ajukan." Mia memotong ucapan Ayah.
"Ma... diam dulu. Silahkan utarakan yang kamu inginkan Yan." Ucap Santoso memotong ucapan Mia.
Ayah diam lagi. Ayah memandang bunda dan Arin. Bunda mengangguk mantab.
"Begini ... Aku akan mencabut tuntutan itu dengan satu syarat. Jauhi keluarga kami. Kalian berdua dan Omed menjauhlah dari kehidupan kami. Jangan sekalipun Omed mendekati ataupun menemui Arin. Jika itu terjadi tidak segan-segan kami akan membuka kembali kasus ini."
Santosa dan Mia terkejut dengan pernyataan Ayah.
"Jadi kamu memutuskan tali persahabatan denganku Yan?"
Ayah diam saja. Mungkin ayah bisa memaafkan apa yang mereka lakukan pada ayah dahulu. Namun sebuah cerita tidak mudah untuk dilupakan.
Santosa memegang kepalanya. Inikah bayaran atas perbuatannya dahulu. Dia harus kehilangan sahabat terbaiknya. Dia menunduk. Ada gurat rasa kecewa dan sesal terlihat jelas. Berkali-kali Santosa menarik nafas panjang.
Mia , bunda dan Arin hanya menyimak. Mia juga terkejut mendengar ucapan Ayah. Dia terlihat berkaca-kaca.
"Yan.. apakah permintaan kami terlalu berlebihan. Sehingga kami harus membayar begitu mahal. Kita dulu sahabat baik lhoo Yan."
"Kalau kalian menganggap kita sahabat, kenapa dulu kalian memojokkan kami. Kenapa dulu kalian meminta kami yang harus bertanggung jawab atas perbuatan yang tidak kami lakukan. Jeng.. maaf kalau saya ikut berbicara di sini."
Bunda yang dari tadi diam akhirnya ikut berbicara. Rasa sakit yang dia rasakan dahulu seperti terbuka lagi.
Arin mengusap lengan bunda. Bunda terlihat ikut emosi mendengar ucapan Mia. Bunda tidak pernah seperti ini. Bunda selalu sabar dalam menghadapi setiap masalah. Selama ini bunda selalu bersikap tenang dan sabar. Arin jadi berpikir mungkin masalah di masa lampau sangatlah menyakitkan buat kedua orang tuanya.
Semua terdiam dengan pikiran masing-masing. Sebenarnya Arin ingin ikut bersuara, namun karena masih terlihat tegang lebih baik dia diam saja.
Ayah mengambil minumannya. Dia meminumnya dengan sekali minum. Santosa dan Mia tertunduk . Mia terlihat terisak. Masalah sepertinya terlihat semakin rumit.
"Di minum Om, tante. Bunda juga minum dulu. Kita makan combronya dulu." Ucap Arin akhirnya. Dia ingin mencairkan suasana yang sangat tegang ini.
"Ayah .. Bunda.. boleh Arin ikut berbicara di sini?" Ucap Arin lagi sambil memandang ke arah Ayah dan bunda bergantian. Ayah dan bunda hanya mengangguk pelan.
Sebelum melanjutkan ucapannya, Arin mengambil nafas dalam-dalam.
"Om dan Tante juga Ayah dan bunda.. Arin tidak akan mencabut tuntutan buat Omed dan kedua temannya. Biarlah mereka menjalani hukumannya sesuai prosedur hukum yang ada. Apapun motif dibalik kejadian itu tetap saja mereka bersalah menurut hukum. Bagaimana Ayah dan Bunda.. setuju kan?"
Santosa dan Mia terkejut atas ucapan Arin. Bukankah tadi Yanto bilang akan mencabut tuntutan nya. Namun mereka masih diam.
Arin menunggu reaksi ayah dan bundanya yang dari tadi terdiam. Ayah dan bunda memandang Arin secara bersamaan. Dan mereka mengangguk.
"Ayah setuju Nak. Biarlah mereka bertiga merasakan hasil dari buah perbuatannya." Ucap Ayah pelan.
Santosa dan Mia hanya diam saja. Ini adalah memang resiko yang harus ditanggung anaknya.
" Sebentar.. Bukankah tadi Yanto sudah bilang akan mencabut tuntutannya." Ucap Mia menyanggah perkataan Ayah. "Ma.. Tapi resikonya kira akan kehilangan sahabat kita. Apa mama mau?" Santosa memotong ucapan istrinya. Tentu saja dia sangat dilema. Disatu sisi dia akan kehilangan anak dan di sisi lain dia akan kehilangan sahabatnya. Sungguh pilihan yang sangat sulit.
"Ya udah Om setuju saja dengan apa yang akan kalian lakukan. Om sudah pasrah Arin. Semuanya memang kesalahan kami tidak bisa mendidik anak dan Buat kamu Yanto, saya berjanji akan meluruskan semua masalah yang terjadi dahulu."
Akhirnya Santoso dan Mia hanya bisa pasrah dengan keputusan Arin. Dia harus memahami situasi yang ada.
"Terima kasih Om untuk pengertiannya. Dan untuk masalah Ayah dan Om Santosa di masa lalu, Arin berharap Om bisa menyelesaikan dengan kepala dingin. Saya tau sifat Ayah dan Bunda saya. Kalau tidak keterlaluan tidak mungkin mereka akan bersikap seperti tadi. Saya berharap Om dan Tante memahaminya."
"Iya Nak.. Ini memang kesalahan kita. Yanto, jeng Ida. Kita berjanji akan meluruskan semua kesalahpahaman yang telah tejadi. Kami berdua berjanji untuk memperbaiki semuanya."
Santoso dan Mia tertunduk lesu. Memang benar apa yang diucapkan Arin. Santosa berpikir Arin memang sangat baik dan cerdas. Tidak salah kalau Omed, anaknya menyukai Arin sampai rela melakukan hal-hal yang tidak masuk akal. Arin memang pantas untuk diperjuangkan. Tapi setelah kejadian ini Santosa sangat pesimis untuk bisa menjadikan Arin menantu. Pasti sudah tidak ada celah lagi. Karena memang terlalu banyak cacat dan salah pada keluarga Santoso.
"Keputusan sudah diambil. Om dan Tante maafkan kami kalau keputusan kami tidak sesuai dengan keinginan kalian. Kami juga mau yang terbaik buat kami."
Arin terdiam lagi. Dia merasa lega apa yang dia inginkan bisa dia katakan saat ini. Sebenarnya Arin punya rencana tersendiri yang tidak dia ungkapkan pada mereka berempat. Arin hanya ingin tau kesungguhan keluarga Omed dalam menyelesaikan masalah mereka dengan Ayah dan bunda.
Mereka semua diam dengan pikiran masing-masing. Namun dalam hati mereka punya tekad untuk bisa menyelesaikan semua masalah yang sedang terjadi.
Santosa berjanji dalam hati untuk meluruskan masalah yang terjadi di masa lampau agar bisa mendapatkan maaf dari sahabat terbaiknya yaitu Yanto.
Ayah juga berpikir akan berusaha mengikhlaskan semua kejadian yang telah menimpa keluarga mereka. Demi ketenangan hati dan jiwanya.
Memang suatu kejadian yang menyakitkan akan sulit dilupakan walaupun kita sudah memaafkan.
Masalah yang kita hadapi akan menjadikan diri kita lebih kuat dan lebih sabar. Karena semua yang terjadi pasti ada hikmahnya. Tergantung bagaimana kita menyikapinya.
Arin tersenyum. Ini baru rencana awal. Dia punya rencana yang lebih lagi untuk keluarga mereka.
Apa kira-kira yang sedang direncanakan oleh Arin. Semoga itu adalah sesuatu yang membawa kebaikan. Aamiin.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like dan komen Terima kasih ❤️❤️❤️❤️❤️