Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 23


__ADS_3

Kabar tentang Arin


Fian dan Nando berlari menjauh dari Ai dan Via. Berlari sejauh mungkin untuk menghindari mereka. Padahal mereka tidak mengejar ,tapi entah kenapa Fian dan Nando masih terus berlari. Namun akhirnya mereka berhenti juga di sebuah bangku taman di dekat masjid kampus.


"Kenapa kita harus berlari dari mereka .. capek sekali Fian. Kita seperti anak kecil yang sedang main kejar-kejaran." Nafas Nando terdengar memburu. Pasti capek karena berlari lumayan jauh.


"Bukannya tadi lo yang nyuruh lari. Ga jelas banget ."


"Iya juga ..ga sadar gue...hahaha.."


"Pingsan dong..dudul."


"Hahaha..bukan pingsan tapi lupa ingatan."


"Pantes..sudah mulai oleng hahaha.."


Mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Saling melempar ejekan. Tidak tau apa yang mereka tertawa kan. Mungkin menertawakan diri mereka sendiri yang bertingkah aneh.


"Hus brisik banget kalian berdua ." Ada segerombolan mahasiswa yang lewat menegur mereka.


"Sirik aja lo..." Jawab Nando masih tertawa."Fian denger udah adzan , sholat dulu yukk. Habis itu makan. Laper gue , capek juga . Dari tadi diajak lari-larian sama lo. Mana kita bolos mata kuliah penting lagi. Tanggung jawab ya."


"Iya tenang saja gue pasti tanggung jawab. Memangnya sudah telat berapa bulan. Ayo gue antar periksa ke dokter ." Fian malah meledek Nando.


"Asem , memang gue cowok apaan. Walaupun gue cewek ,ga bakal nafsu sama lo. heh.. " Nando memukul Fian. Mereka berdua berhenti tertawa. Namun masih terus becanda, sambil berjalan menuju masjid kampus . Masjid terlihat ramai. Ternyata banyak mahasiswa yang rajin menjalankan ibadah.


Setelah sholat mereka menuju kafe yang ada di depan kampus. Mereka merasa lapar , mereka malas mencari tempat lain untuk makan siang , mereka mencari kafe yang terdekat saja.Sambil menunggu pesanan datang , Fian bermain ponsel.


"Oh iya, tadi kan mau menelpon Arin. Pas banget jam istirahat. Pasti Arin bisa mengangkat panggilan telepon kita." Fian sangat percaya diri,kalo telponnya pasti diangkat oleh Arin.


"Lho..kok ga di angkat, yang jawab operator nya. Nomer yang anda tuju di luar jangkauan. Arin kemana ya." Fian masih mencoba lagi. " Jawaban nya masih sama. Nomer yang anda tuju diluar jangkauan."


" Mungkin Arin lagi sholat,, tunggu sebentar lagi."

__ADS_1


"Oklah kalo begitu. Kita makan dulu. Lapar gue. Alhamdulillah pesenan kita sudah langsung datang ."


Fian dan Nando makan menu makan siang mereka tanpa ada perbincangan. Selain lapar mereka ingin cepat- cepat selesai. Dan segera bisa mencari kabar tentang Arin.


"Tumben anteng kalian berdua." Ai mengapa mereka. Tentu saja mereka berdua terkejut.


"Astaghfirullah, lo ya kalo ngomong ga usah pakai otot . Sakit telinga gue. Pakai kode dulu bisa ga . Kaget gue. Kirain ada penampakan. Ada suara doang ga ada orangnya." Nando dan Fian kaget mendengar suara Ai yang tiba-tiba sudah ada di dekat mereka. Ai dan Via hanya tertawa.


"Lagian makan nya serius banget si. Takut lauknya ilang .hahaha.." Ai menarik bangku di samping Fian dan menduduki nya.


"Heran gue, di mana-mana kok selalu ketemu lo berdua. Sengaja ngikuti kita ya." Fian memandang Ai dan Via bergantian, ada rasa tidak suka dalam diri Fian karena memang sepertinya mereka berdua mengikutinya, kemana pun pergi pasti bertemu. Apa dunia sesempit itu?


"Dih.. Sory ya gue ngikutin lo berdua. Jangan kepedean lo . Gue kesini udah dari tadi. Malah duluan kita dari pada kalian. Ga sengaja kita lihat lo . Ya kita samperin." Via tidak terima di katain mengikuti Fian dan Nando. " Lagian ini kan tempat umum. Tidak salah dong kita ada di sini juga." Tambah Via lagi


"Iya deh iya.. Percaya kita sama lo berdua. Tapi kalo percaya sama lo , kita musyrik dong. Ga mau gue.." Fian berkata sambil berdiri ,berjalan menjauhi Ai dan Via, tapi tak urung sambil tersenyum juga. Senang aja menggoda Ai dan Via. Di samping itu juga karena memang makanan mereka sudah habis. Nando pun ikut berdiri dan berkata, "Jangan ngikut lagi. Sudah sampai di sini saja. Denger kan kalian berdua? Sekali lagi jangan ikuti kita." Fian menuju meja kasir ,membayar semua makanan yang mereka makan. Nando sudah mendahului keluar menuju tempat parkir. Fian mengejar langkah Nando. Sampai di tempat parkir Fian ingat sesuatu. "Aku nelpon Arin dulu. Masih penasaran ada apa sebenarnya. Kalo Arin masih juga tidak mengangkat panggilan gue. Gue mau nelpon Rama."


"Ya udah cepet nelpon sekarang. Mumpung masih jam istirahat."


"Iya.. bawel banget sekarang lo . Kaya mak gue ." Fian mengambil ponselnya yang dia taruh di saku baju. Dia cari nomer ponsel Arin. " Masih sama. Nomer yang anda tuju berada di luar jangkauan. Masih tidak aktif. Kemana dia ya? " Fian mencoba lagi dan jawabannya masih sama. Di coba lagi dan masih sama.


"Udah coba aja, siapa tahu anda beruntung hehehe." Nando malah menggoda Fian.


"Semoga gue beruntung.." Fian tersenyum manis dan mencoba menelpon Rama. Panggilan pertama belum diangkat. Namun Terdengar aktif. Panggilan kedua ada yang menjawab.


"Yes..ada yang menjawab. Assalamu'alaikum. Rama ..iya. Mau tanya semalem lo nelpon gue ada apa. Hah? Apa? Arin ditusuk orang. Dirawat . Belum sadar. Rumah sakit mana. Ok..ok.gue ke sana" Fian kaget sekali mendengar berita tentang Arin.


" Apa Fian. Ada apa kok muka lo tegang begitu. Tadi apa lo bilang. Arin ditusuk. Siapa yang menusuk. Haduh... jelasin dong . Jangan bikin penasaran." Nando ikut panik mendengar percakapan antara Fian dengan Rama yang dia dengar hanya sepotong-sepotong.


"Ndo... Arin ..Arin ditusuk orang .Dia dirampok kemarin sore . Sekarang di rawat di rumah sakit." Fian menjawab pertanyaan Nando dengan nada yang sedikit gemetar .Dia sangat khawatir dengan keadaan Arin. .


" Apa ..siapa yang menusuk. Di rampok . Arin di rampok . kok bisa." Nando juga tak percaya berita itu. Tapi tadi dia mendengar sendiri percakapan Fian dan Rama walaupun tidak begitu jelas.


"Apa.. siapa yang di rampok? Katakan Fian . Siapa si yang lagi di omongin?" Ai tiba- tiba sudah ada di tempat itu juga. Dia ikut penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.

__ADS_1


" Arin, dia yang di rampok sekarang di rumah sakit." Nando yang menjawab pertanyaannya Ai. Fian sudah sangat panik ,dia sudah tidak bisa berkata- kata. Segala sesuatu yang berhubungan dengan yang dialami Arin , Fian akan memperlakukan dengan berlebihan.


"Ayo kita ke rumah sakit untuk melihat keadaan Arin. Kata Rama tadi belum sadar dari kemarin." Akhirnya Fian bisa mengendalikan perasaannya.


" Gue berdua ikut ." Via memotong perkataan Fian . " Arin juga teman kita. Kita pengen tau keadaan dia. "


" Ya udah ayo. Kalian bawa motor kan. Ikuti kita ya." Nando memberi arahan.


Mereka berempat pergi ke rumah sakit bersama-sama. Nando yang memboncengkan Fian. Nando tau perasaan Fian yang sangat khawatir dan pasti dia tidak akan konsen mengendarai motor.


🌸🌸🌸


Selesai makan bakso ,Rama langsung pulang ke rumah di antar Bara sampai depan pintu rumah.Namun dia langsung balik lagi ke rumah sakit . Bara khawatir karena dilihatnya Rama masih penuh amarah. Memang benar masih ada amarah di hati Rama. Dia mengenal Omed , bagaimana sikap Omed selama ini. Omed memang suka nongkrong bersama Asep dan Maul. Setau Rama, Omed memang sering iseng mengganggu para pejalan kaki. Tapi tak pernah di sangka berani mengganggu kakaknya. Rama tahu kalau Omed menyukai Arin dan itulah yang membuat dia sangat kecewa. Adakah orang yang menyakiti orang yang disukai nya? Jahat sekali orang tersebut. Dan orang itu ada di depan mata. Dia belum puas ingin memukul Omed. Kalo tidak ada Bara pasti Omed dan kedua temannya sudah babak belur.. Dia mau berendam mendinginkan kepalanya yang sedang panas , menahan amarah. Walaupun tadi sudah sedikit terlampiaskan dengan satu pukulan dan diteruskan dengan makan bakso super pedas, namun dadanya masih bergejolak. Rama tidak mau jadi pendendam. Makanya dia segera mandi dan melaksanakan sholat.


Selesai sholat terdengar ponselnya berbunyi. Ada panggilan telepon dari Fian. Dia lupa belum memberitahu sahabat kakaknya itu. Dia angkat telepon dan dia jelaskan yang sebenarnya terjadi. Dan sehabis itu Rama tertidur pulas.


🌸🌸🌸


Sementara itu Bara sudah kembali ke rumah sakit. Dia langsung menuju ruang rawat Arin. Dilihatnya Bunda yang duduk terkantuk-kantuk di kursi di samping tempat tidur.


"Assalamu'alaikum.." Bara mengucapkan salam dengan pelan. Takut bunda kaget .


"Wa" alaikumsalam. Eh Pak Dokter. Maaf ketiduran. " Bunda meras tidak enak hati terlihat tertidur.


" Bunda kalo mau tidur bisa di sofa itu biar lebih nyaman dari pada di kursi. " Bara menunjuk sofa di belakang bunda.


"Iya Pak Dokter. " jawab bunda" Bagaimana kondisi Arin, kok belum bangun juga Dok, Bunda takut. "


" Berdoa saja Bund, semoga Arin segera sadar. Bunda tidak usah khawatir ya. Kami tim dokter akan mengupayakan yang terbaik buat Arin."


"Iya Dok. " Jawab bunda pelan. Hati bunda penuh rasa khawatir melihat keadaan Arin yang belum sadar juga. Tiba-tiba terdengar salam.


"Assalamu'alaikum.."

__ADS_1


Siapa yang datang ?


__ADS_2