Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 76


__ADS_3

Arin melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Dia tidak pernah terburu-buru. waktunya masih panjang. Dia selalu sengaja berangkat lebih awal. Semua waktu selalu diperhitungkan dengan matang.


Sesampainya di tempat parkir, sudah ada Wawan dan Ocha menunggu kedatangannya. Kemarin mereka berempat sudah berjanji untuk bertemu di tempat parkir. Karena mereka akan membantu pekerjaan Joko terlebih dahulu. Mereka harus menyiapkan tempat dan makanan untuk acara penyambutan CEO baru. Sebenarnya acara akan diadakan pukul sepuluh pagi.


"Wan, bantu angkat kardus ini dong. Repot nih. Bawa langsung ke pantry ya." Joko yang melihat Wawan yang sedang duduk di parkiran langsung melambaikan tangan ke arah Wawan. Mereka berempat membawa kardus kue itu ke pantry. Arin dan Ocha hanya membantu membawa saja. Karena mereka berdua tidak bertugas dalam ranah itu. Mereka berdua tetep bekerja di bagian mereka. Cuma orang-orang kantor saja yang nanti akan mengikuti acara penyambutan ceo baru. Karyawan di bagian produksi tetap bekerja.


Setelah meletakkan kardus Ocha dan Arin kembali ke bagian produksi tempat mereka bekerja.


"Arin, gue pengen ikut menyambut ceo baru deh."


"Ya tinggal ikut saja sih. Ga ada yang melarang. Paling-paling nanti lo cuma diomelin sama si nenek sihir."


"Dih.. eh tapi ga takut gue ama dia."


"Ya udah dicoba saja."


Arin melenggang ke arah mesin uang jadi tanggung jawabnya. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan saatnya fokus pada pekerjaan. Karena kalau tidak fokus akan membahayakan keselamatannya dan juga hasil produksi bisa menjadi tidak berkualitas. Bisa jadi ada cacat kain yang tidak terlihat.


Pernah ada kejadian pekerja yang tidak fokus menjadi celaka. Kejadian tersebut terjadi pada pekerja yang terkena shift malam. Mungkin karena mengantuk atau tidak fokus pada pekerjaannya. Hari itu mungkin hari naas buat pekerja tersebut.


Kejadian itu terjadi pada pagi hari. Setelah sholat subuh pekerja tersebut menjalankan mesin. Mungkin karena kurang hati-hati, bajunya tersangkut mesin dan ikut tergulung. Untung ada temannya yang melihat kejadian tersebut. Dengan sigap dia menolongnya. Kalau tidak pasti badannya ikut tergulung mesin. untung hanya pakaiannya saja yang tergulung. Dia jadi telanjang tinggal pakaian dalam saja. Rambutnya juga sudah tergulung sedikit. Untung temannya datang tepat waktu untuk mematikan mesin tersebut. Semoga tidak terulang lagi kejadian tersebut. Tidak bisa dibayangkan bagaimana jika tubuh manusia sampai tergulung mesin. Pasti bisa hancur.


Arin selalu berkonsentrasi saat bekerja. Dia akan fokus pada mesin yang menjadi tanggung jawabnya. Dia tidak mau kejadian yang lalu terjadi pada dirinya.


"Arin.."


Arin terkejut. Dia sedang menyambung benang yang putus di mesin bagian depan. Harus konsentrasi penuh karena harus memasukkan juga ke dalam lubang yang sangat kecil. Arin menoleh. Dia menghentikan kegiatannya karena ada kepala pengawas di samping nya. "Pak teguh, bikin kaget saja. Ada apa?"


"Mau minta tolong untuk ikut membantu penyambutan ceo baru kita." Arin terdiam kan bukan pekerjaan dia. Tak seharusnya dia terlibat dengan hal tersebut.


"Kok saya Pak, saya kan bagian produksi. Tidak ada sangkut pautnya."


"Kamu sebagai perwakilan dari pihak produksi. Begitu yang tadi bapak Bagas bilang. Minta satu orang buat perwakilan dari pihak produksi dan saya memilih kamu."


"Lalu mesin saya bagaimana?"


",Gampang nanti bisa digantikan oleh yang lain. Sampai jam istirahat saja kok."


"Baiklah kalau begitu. Saya siap-siap dulu."


"Bagus. Dandan yang cantik. Saya tunggu di pintu depan."


Ucap pak Teguh sambil melangkah menjauh. Dia tersenyum sendiri. Dia membayangkan Arga pasti senang Arin ikut menyambutnya.


Sedangkan Arin bersikap biasa saja. Dia tidak terprovokasi dengan ucapan pak Teguh. Baginya itu biasa saja. Tidak ada istimewanya.


Arin masuk ke dalam ruang istirahat. Dia mencuci muka terlebih dahulu di toilet biar keliatan segar. Arin memperbaiki riasannya sedikit. Menambah bedak dan lipstik tipis-tipis agar kelihatan lebih segar.


Arin keluar ruangan dan ternyata pak Teguh sudah menunggu di sana.


"Ayo Arin sudah hampir jam sepuluh sebentar lagi Pak Arga datang."


"Baiklah pak. Seharusnya tidak dadakan seperti ini. Jadi saya bisa mempersiapkan diri. Semoga saya tidak grogi ya pak. Eh tapi tugas saya apa pak."


"Tugas kamu membawa nampan yang berisi bunga yang akan dikalungkan pada Pak Arga saat beliau masuk ke ruang rapat."


"Oh acara akan diadakan disana. Bukan di aula."


"Eh iya aula Rin. Lupa... Ayo cepetan nanti mampir ke ruangan saya dulu sebentar. Ada sesuatu yang harus saya ambil."


Mereka berdua berjalan menuju kantor umum. Tempat acara penyambutan diadakan. Arin sebenarnya sedikit nervous. Baru pertama kali dia ikut acara seperti ini. Acara yang akan dihadiri para petinggi perusahaan. Dia memang belum pernah berhadapan langsung dengan pemilik perusahaan. Kalau melihat memang sudah pernah tapi kalau berbincang belum pernah.

__ADS_1


"Tunggu di sini sebentar."


Pak Teguh menghentikan langkahnya saat berada di depan ruangannya. Dia masuk mengambil sesuatu.


"Ini pakai. Kamu ganti baju yang sedikit formal. Biar keliatan lebih rapi."


"Tapi pak.. apa perlu. Pakai seragam kerja juga sudah pantas bukan?"


"Sudah tidak ada penolakan.Ini di terima."


"Tapi pak.. "


Arin berusaha menolak tapi pak Teguh terus saja memaksanya. Akhirnya Arin menerima kantong pemberian pak Teguh. Dia berjalan menuju toilet. Dia mau mengganti baju kerjanya dengan baju yang di beri oleh pak Teguh.


Arin masuk salah satu toilet yang kosong.


Setelah dirasa sudah cukup rapi, Arin keluar dari toilet. Dia merasa aneh memakai baju pemberian pak Teguh. Padahal cuma stelan rok span di bawah lutut dan atasan putih yang terdapat aksen bergelombang di depan.


"Kamu cantik. Pas banget dengan pakaian ini."


Pak Teguh tersenyum. Dia merasa puas dengan penampilan Arin. Terlihat cantik dan elegan dengan baju tersebut. Tapi Arin malah jadi merasa risih.


"Pak.. Ga nyaman ini bajunya. Terlalu bagus buat saya. Pasti ini mahal ya pak. Pakai seragam aja ya."


Arin mau berbalik untuk mengganti lagi bajunya.


"Sudah sih tidak apa-apa. Kamu terlihat cantik dan elegan."


"Tapi pak.."


"Sudah Arin.. sudah mepet waktunya. Ayo kita menuju aula. Acara akan segera mulai."


Arin mengikuti langkah pak Teguh. Dia berusaha menenangkan hatinya. Dia harus bisa mengemban tugas ini. Toh tidak berat juga pikirnya. Arin tersenyum untuk menetralkan hatinya. Akhirnya pak Bagas dan Arga memasuki ruangan. Semua orang berdiri menyambut kedatangan mereka berdua. Arin yang berdiri di depan pintu tertegun melihat Arga. Arga terlihat berbeda. Tidak seperti hari kemarin. Sekarang terlihat berwibawa dengan stelan jas berwarna hitam. Tapi auranya terlihat begitu dingin.


Dari kejauhan terlihat Arga memandangi Arin. Dia baru sadar kalau itu Arin. Sedari masuk ruangan baru sekarang dia bisa memandang sekeliling. Dia tertegun. Arin begitu pas dengan baju pilihannya. Arga tidak berkedip memandang Arin. Sampai- sampai dia tidak sadar kalau pak Bagas telah selesai dengan sambutannya.


"Arga..Arga.."


Pak Bagas memanggil Arga pelan. Arga tidak menjawab. Arga malah semakin dalam dengan lamunannya. Akhirnya Bagas menepuk pundak Arga pelan.


"Eh iya Pa.. Ada apa."


"Kamu tuh malah melamun."


"Maaf pa."


Semua orang tidak ada yang berani berkomentar. Semua diam. Menunggu apa yang akan terjadi.


"Ya sudah kita sambung saja dengan acara ramah tamah. Silahkan para hadirin menikmati hidangan yang disediakan."


Ucap Pak Teguh setelah mendapat isyarat dari pak Bagas. Arin segera pergi meninggalkan tempat itu. Dia keluar ruangan dengan tergesa. Dia sudah merasa tidak nyaman di dalam ruangan dengan para petinggi. Gerak geriknya seperti diawasi.


Arin menuju toilet untuk berganti baju dengan baju kerja. Tidak mungkin dia bekerja dengan pakaian pemberian pak Teguh tadi. Setelah selesai berganti baju dia akan kembali ke gedung produksi. Namun baru keluar pintu toilet, dia mendengar ada suara anak kecil .


"Kakak cantik... Kakak cantik."


Arin menoleh. Arin seperti kenal dengan suara tersebut.


"Eh Tia.. kok di sini. Sama siapa?"


"Benar ini kakak cantik kan. Kakak Tia kangen."

__ADS_1


Tia menghambur memeluk Arin. Dia benar-benar merindukan Arin. Sudah satu bulan dia tidak bertemu kakak cantiknya itu.


"Kakak kemana. Kok tidak menengok Tia."


"Maaf ya Tia. Kakak lupa tidak pamit sama kamu. Eh ini Tia kok di sini. Suster Ayu mana?"


"Tia tadi pengen pipis. Suster Tia tinggal."


"Udah belum pipisnya."


"Udah.."


"Habis ini Tia mau kemana. Ayo kakak antar. Ini suster Ayu pasti pusing mencari Tia."


"Tapi Tia sudah bilang kalau mau ke toilet. Pasti suster ke sini."


"Tia kok di kantor,, sama siapa."


"Tadi ikut papa. Pulang sekolah dijemput sama papa dan diajak kesini."


"Maaf kalau boleh tau papa Tia namanya siapa?"


Sebelum Tia sempat menjawab, terdengar suara Ayu memanggil nama Tia.


"Tia.. .. Tia. Ikh kamu main lari saja. Suster ditinggal."


"Maaf sus, Tia sudah tidak tahan."


Ayu memandang Arin. Dia merasa pernah bertemu.Tapi dia lupa.


"Maaf , siapa ya? Terima kasih telah menolong Tia."


"Sama-sama kak. Tia sudah ada suater kan. Kakak pergi dulu ya."


"Yahh kakak.. Tia kan masih kangen."


"Tapi kakak harus bekerja. Lain kali kita bertemu lagi ya "


"Baiklah kakak cantik."


"Mari suster saya duluan."


Arin melangkah menjauh dari depan toilet. Dia sudah sangat terlambat. Untung dia lagi berhalangan jadi tidak sholat Dzuhur dulu. Sedangkan waktu istirahatnya telah habis. Arin belum sempat makan siang. Semoga perutnya tidak sakit.


Arin berjalan sambil berpikir, Tia anak siapa sebenarnya. Kenapa bisa berkeliaran di dalam lingkungan perusahaan. Apakah Tia anak petinggi perusahaan.


"Arin... Arin.."


Arin terkejut. Tidak sadar dia telah sampai ke dalam gedung produksi. Dia mencari sumber suara orang yang memanggilnya. Arin melihat ke sekeliling. Dia tidak melihat Siapa pun juga. Tiba-tiba dia merasa merinding. Bulu kuduknya meremang.


Entah tiba-tiba Arin memikirkan hal yang tidak-tidak. Atau mungkin karena Arin merasa lapar atau memang ada sesuatu.


Arin mempercepat langkah agar segera tiba di dalam gedung. Semua karyawan sudah masuk semua dan sudah mulai bekerja kembali setelah istirahat.


"Arin....."


Arin mendengar panggilan itu lagi. Dia semakin mempercepat langkahnya. Dia sudah dekat dengan mesinnya.


"Arin.. lo budeg apa bagaimana sih."


Arin melongo.. ternyata.....

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa tinggalkan like dan komen Terima kasih ❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2