
Arga kebingungan mencari Tia. Dia sudah mencari ke semua gedung. Tapi belum juga menemukan Tia. Arga sudah menghubungi Ayu dan jawaban Ayu membuatnya semakin bertambah khawatir. Tia tidak bersama Ayu. Tentu saja hal ini membuat Arga semakin takut. Bagaimana tidak, saat ini Tia berada di area pabrik yang banyak mengoperasikan mesin yang bisa membahayakan nyawa manusia. Arga menjadi semakin panik. Arga sudah meminta tolong Teguh untuk membantu mencari juga. Dan Teguh juga sudah mengerahkan satpam untuk membantu mencari . Namun belum mendapatkan hasil.
Arga dan Bagas kembali ke ruangan rapat. Mereka kembali mengingat dimana terakhir kali Tia berada. Teguh juga sudah muncul. Nafasnya terlihat terengah-engah. Tentu saja. Karena Teguh telah berlari kesana kemari memberi perintah kepada anak buahnya untuk membantu. Teguh malah yang terlihat sangat sibuk mencari.
"Teguh.. Bagaimana apa Tia sudah ditemukan."
"Kamu itu bodoh Arga. Kalau sudah ketemu pasti sudah dia bawa kesini."
"Maaf pak Bos saya sudah berkeliling ke seluruh gedung tapi Tia belum ditemukan juga."
"Kemana Tia.. Pa.. bagaimana kalau Tia tidak ketemu. Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan Tia."
"Berhenti berpikir yang tidak-tidak."
Bagas juga tidak mau terjadi sesuatu dengan cucu kesayangannya. Dia tidak ingin membayangkan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi pada Tia.
Arga berjalan mondar mandir. Dia bingung harus mencari ke mana lagi.
"Berhenti mondar-mandir. Bikin tambah pusing saja. Kamu itu teledor. Bukannya mengurus anak malah asyik sendiri."
"Maaf tuan.. Ini salah saya. Saya yang tidak becus mengasuhnya."
"Tidak Ayu. Kamu sudah bekerja keras selama ini. Bapaknya saja yang tidak becus mengurus anaknya."
Bagas sangat marah pada Arga. Karena memang selama ini Arga kurang perhatian pada Tia.
"Pa.. kenapa Papa selalu menyalahkan Arga."
"Sudah diam. Duduk saja. Diam.Ayu, coba kamu ceritakan apa yang terjadi sebelumnya."
Sebenarnya Ayu sangat merasa ketakutan. Semua adalah kesalahannya. Andai saja tadi dia fokus menemani Tia. Kejadian tersebut pasti tidak akan terjadi. Dia yang merasa bersalah. Ayu takut terjadi apa-apa dengan Tia.
"Begini Tuan.. Tadi sehabis dari toilet kita mau kembali ke sini. Namun di tengah jalan tiba-tiba Tia berbelok dan pada saat itu saya sedang mengambil ponsel saya yang terjatuh. Begitu saya menengok Tia sudah tidak terlihat."
Arga terlihat geram. Dia ingin marah pada Ayu yang teledor. Tapi itu tidak mungkin. Selama ini Ayu telah banyak membantunya. Sebenarnya semua kesalahan tidak terletak pada Ayu. Semua ini juga kesalahan Arga yang kurang perhatian.
"Teguh.. coba lihat cctv. Bukannya di setiap pintu masuk ada cctv nya."
"Betul juga ya pa. Kenapa Arga tidak kepikiran sampai ke situ."
"Dasar kamu bodoh. Tidak becus ngurus anak."
"Pa.. "
"Kenapa.. memang begitu adanya kan. Awas saja kalau sampai terjadi apa-apa dengan cucuku."
Arga terdiam. Kalau sudah begini, Arga tidak bisa membantah lagi.
"Mari pak kita menuju ke ruangan pemantauan cctv."
Teguh berjalan di depan. Bagas dan Arga mengikuti di belakangnya. Mereka berjalan begitu tergesa-gesa. Sangat takut dan panik tentunya.
"Tolong lihat semua kamera cctv nya. Perlihatkan semua area gedung dari satu jam yang lalu."
Petugas dengan cekatan melaksanakan apa yang diperintahkan Teguh. Semua terlihat di layar televisi. Semua bisa dilihat dengan jelas.
"Coba kamu buka dulu yang gedung utama."
Petugas dengan cepat mengerjakan apa yang diminta Bagas. Namun mereka kecewa tidak terlihat Tia kecuali pas bersama dengan mereka. Semua area sudah dilihat tinggal gedung produksi yang belum.
"Coba kamu lihat gedung produksi. Ada kemungkinan juga dia nyasar berjalan ke sana."
"Oh iya pak.. Saya mau menyampaikan sesuatu. Tadi pas di toilet Tia berbicara dengan seseorang. Tia memanggil orang tersebut dengan sebutan kakak cantik."
"Ayu kenapa kamu tidak bilang dari tadi. Apa kamu lupa kalau Tia selalu ingin bertemu dengan kakak cantik nya itu."
"Atau jangan-jangan... apa mungkin kakak cantiknya bekerja di sini.." Ucap Teguh. Dia pernah mendengar Tia merengek pada Arga ingin bertemu dengan kakak cantik.
"Ayu.. kamu ingat orang tersebut ga."
Ayu berpikir sejenak.Dia sedang berusaha mengingat sosok yang sedang mereka bicarakan.
"Iya sedikit ingat. Dia cantik. Tingginya di atas saya sedikit. Kulit sawo matang. Terus... apa ya.."
"Ayu bukan kah pas di rumah sakit kamu telah mengenali orang yang disebut kakak cantik."
Ayu masih mengingat-ingatnya. Dia terus berpikir apalagi yang spesifik dari orang tersebut.
"Eh... iya Pak. Tapi waktu itu dia terlihat pucat. Dan tadi yang berbincang dengan Tia terlihat lain. Bahkan saya tidak mengenalinya. Saya pikir itu bukan orang yang sama."
Semua orang menghela nafas. Untuk sedikit mengurai ketegangan.
"Bajunya.. dia pakai baju apa?"
__ADS_1
"Oh iya..bajunya ya.. pakai atasan berwarna cream kekuningan dan bawahan hijau."
"Itu baju karyawan di bagian tenun. Siapa ya. Apa mungkin Tia ke sana."
Teguh mengenali ciri-ciri baju yang didiskripsikan oleh Ayu.
"Tolong kamu cek cctv bagian gedung produksi."
Dengan cepat sang petugas mencari apa yang diperintahkan. Dan terlihat apa yang mereka cari.
"Itu Tia berjalan memasuki gedung produksi."
Arga tersentak. Dia segera bangun dan berjalan cepat menuju gedung tersebut. Gedung produksi gedung paling tidak aman buat anak-anak. Semua orang mengikuti Arga. Mereka semua berjalan cepat.
🌸🌸🌸
Jam menunjukkan pukul dua tiga puluh. Karyawan yang mendapatkan shift reguler sudah mulai keluar. Sudah saatnya mereka pulang.
Begitu juga Arin. Dia segera menuju ruang istirahat. Dia harus segera mengembalikan Tia kepada orang tuanya. Arin harus mencari keberadaan Ayu ataupun orang tua Tia.
"Arin.. Itu anak siapa yang tidur di ruang istirahat."
Teman-temannya heran ada anak kecil yang sedang tertidur pulas di dalam ruang istirahat.
"Justru itu gue bingung. Gue ga tau dia anak siapa."
"Kok bisa tidur di sini." Tanya teman yang lainnya.
"Tadi gue lihat dia berdiri di dekat mesin gue. Gue takutlah. Takut terjadi sesuatu gitu. Terus dia gue suruh duduk di samping mesin gue. Maksud gue biar gue selesaikan dulu benerin benang yang putus. Pas gue tengok udah pules dia. Mending gue angkat dan bawa kesini. Kan lebih aman."
"Betul juga.. "
Jawab teman yang lainnya. Mendengar penjelasan Arin mereka mengiyakan dan berlalu dari tempat itu. Akhirnya tempat itu sepi karena semua karyawan sudah keluar semua. Pulang ke rumah masing-masing.
"Arin.."
Arin terkejut mendengar teriakkan Ocha yang datang tiba-tiba.
"Ada apa sih Cha. Kebiasaan deh selalu bikin jantungan."
"Lo tadi kemana. Pas gue cari jam istirahat lo ga ada.. Eh .. tunggu dulu. Ini Siapa.. Arin jangan bilang.."
"Apaan sih .. Jangan suudzon. Mau bilang apa lo. Gue culik anak orang gitu."
"Terus itu pertanyaan lo apa maksudnya."
Arin sudah berkacak pinggang. Tidak tau kalau dia sedang panik . Dia tidak tau harus mengantar Tia kemana.
"Sudahlah.. gue lapar. Tadi ga sempet makan siang. "
Arin membuka kotak bekalnya. Tadi siang gara-gara menemani Tia dia jadi kehabisan waktu istirahat. Sekarang baru terasa perutnya yang lapar.
"Dih.. bisa-bisanya lagi panik malah makan."
"Panik juga butuh tenaga tau. Apalagi nanti harus mencari orang tua tuh bocil."
"Kakak cantik.."
Baru saja dia mau menyuap suapannya yang kedua, Tiba-tiba terdengar suara Tia memanggilnya. Arin menoleh. Ternyata Tia sudah bangun.
"Iya sayang . Ada apa. Kok sudah bangun. Brisik ya. Suara tante Ocha memang kenceng seperti pake toa."
"Ikh ..apaan sih."
Ocha menabok tangan Arin. Arin cuma nyengir.
"Kakak sedang apa."
Arin kembali melihat pada Tia. Dia tidak jadi menyuapkan nasi ke mulutnya.
"Sedang makan. Tia mau.."
Tia mengangguk. Arin melihat Tia memegang perutnya. Mungkin Tia lapar. Tapi makanan dia agak pedas.
"Tapi makanan ini agak pedas. Apa tidak apa-apa. Apa Tia bisa makan pedas."
Tia mengangguk.
"Ya sudah sini kakak suapin. Sendok bekas kakak tidak apa-apa."
Sekali lagi Tia mengangguk. Ocha cuma melihat saja interaksi keduanya. Dia sedang berbalas pesan dengan Wawan yang sedang menunggunya di tempat parkir.
"Rin, gue duluan ya. Wawan sudah menunggu gue di parkiran."
__ADS_1
"Tega banget lo. Tunggu gue sebentar. Kasian ini bocah."
"Kenapa lo tidak lapor sekuriti saja sih."
"Eh bener juga. Kenapa gue tidak kepikiran ya. Tapi tunggu dia selesai makan dulu."
"Dasar lemot lo."
"Sialan lo. Gue lapar jadi ga bisa mikir Ocha."
"Tadi lo dari mana sih. Kok ga ada pas jam istirahat." Ocha masih penasaran kemana perginya Arin tadi. Karena mau kemanapun biasanya Arin selalu bilang ke Ocha.
"Kepo..."
"Ikh awas ya.."
Mereka terus saja berbincang. Dan ternyata bekal makanannya sudah habis.
"Kak.. Tia haus."
Arin mengambil botol minumnya. Untung masih ada. Biasanya jam segini bekal minumnya sudah habis.
"Tia sudah kenyang kan."
"Sudah kak. Enak makanannya. Besok Tia mau lagi."
"Wkwkwk.. doyan apa laper cil."
"Hush.. Lo tuh ya sama bocah kalau ngomong yang bagus-bagus. Kena pengaruh kita bisa habis kita sama orang tuanya. Wkwkwk.."
"Dih sendirinya sama juga.."
"Tia sayang jangan di tiru ucapan tante Ocha ya."
Tia hanya mengangguk. Dia memang tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Arin dan Ocha.
"Cha .. gue mau ke toilet dulu. Nitip Tia ya. Sebentar doang kok . Kebelet ini."
"Iya.. iya sono. Lama juga ga apa-apa. Siapa tau bapaknya Tia datang dan dia ganteng. Duda lagi.Kan gue bisa dianggap pahlawan. Wkwkwk.."
"Terserah apa kata lo dah. Semoga benar dan berjodoh."
"Amin.. wkwkwk.."
Arin berlalu dari tempat itu. Dia sedikit berlari. Dia sudah tidak tahan ingin buang hajat. Perutnya tiba-tiba mules. Terasa sangat melilit. Mungkin karena telat makan jadi begini. Atau mungkin karena sedang datang bulan juga. Dia juga sekalian mau berganti pembalut.
Dari kejauhan dia melihat rombongan orang berbondong-bondong menuju gedung produksi. Tapi dia tidak perduli. Bukan urusan dia. Mungkin sedang ada sidak dadakan dari pusat. Bisa jadi bos baru mau survei lapangan.
Arin semakin mempercepat langkahnya. Dia sudah benar-benar tidak tahan. Untung saja toilet sepi. Jadi tidak perlu mengantri. Apa jadinya kalau harus mengantri dahulu. Entahlah tidak perlu diceritakan. Bisa dibayangkan sendiri.
Arin sedang asyik dengan kegiatannya. Dia tidak mendengar apa yang terjadi di luar sana. Dia hanya memenuhi kebutuhan hajatnya. Dia berpikir Tia aman bersama Ocha. Karena dia yakin Ocha teman yang sangat bertanggung jawab dan juga baik hati.
Tia juga pasti menurut pada Ocha. Toh dia hanya sebentar meninggalkan mereka hanya sekedar buang hajat. Paling sepuluh menit juga sudah cukup. Saat dirasa semua sudah aman, Arin keluar dari Toilet. Dia bisa bernafas lega. Perutnya sudah tidak mulas lagi. Sudah terasa nyaman. Perasaan makanan tadi tidak pedas,tapi kenapa perutnya bisa mules ya. Tapi Arin tidak mau memikirkan itu. Cuma ada perasaan lega saja di hatinya.
Arin kembali ke ruang istirahat.Dia berjalan santai bahkan sambil bersenandung. Entah kenapa hari ini dia merasa begitu senang. Mungkin karena ini hari sabtu dan tentu saja malam minggu. Tapi apa hubungannya. Toh dia tidak punya pacar. Arin hanya tersenyum.Dia heran sendiri kenapa otaknya tiba-tiba berpikir yang tidak-tidak.
Sesampainya di ruang istirahat. Dia heran . Kenapa ruangan terlihat sepi. Ocha kemana. Tia dimana. Tak satu orang pun tampak di sana. Arin mencari ke sekeliling ruangan. Malahan dia juga mencari di dalam lemari yang yang ada di dalam ruangan tersebut. Dan tidak ada Ocha maupun Tia. Arin panik.
"Duuh kemana ya mereka berdua. Ocha ga lucu deh becanda lo. Jangan ngerjain gue dong."
Arin berteriak memanggil Ocha. dan Tia.
"Ocha.. Tia.. di mana kalian sih."
Arin sedikit panik. Tas Ocha pun tidak ada. Yang ada hanya tas tempat bekalnya.
"Mungkin mereka sudah di pintu keluar."
Arin akhirnya memilih untuk menuju ke pintu keluar. Dia berharap Ocha dan Tia berada di sana. Arin berjalan cepat menuju keluar.
Namun sesampai di sana, keadaan terlihat sepi. Hanya ada pak satpam sedang duduk terkantuk-kantuk.
Lalu dimana Ocha. Dimana Tia. Masa mereka meninggalkan dia sendirian tanpa pamit. Atau mungkin orang tua Tia sudah menemukan Tia. Atau mungkin Ayu sudah datang dan bisa menemukan Tia.
Arin melihat ke sekeliling. Dia celingukan. Dia hanya khawatir terjadi sesuatu kepada Ocha dan Tia. Dia harus mencari kemana lagi. Arin sedikit panik. Dia takut Tia kenapa-napa. Anak orang itu.
"Duh bagaimana ini. Kemana mereka." Arin kebingungan. Akhirnya dia hanya duduk terdiam di bangku depan pos satpam. Sambil memainkan ponselnya berusaha menghubungi Ocha. Namun Ocha tidak menjawab sama sekali. Ponselnya tidak aktif.
Apa yang sebenarnya terjadi. Kemana Tia dan Ocha.
Bersambung
Jangan lupa tinggalkan like dan komen Terima kasih ❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1