Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 58


__ADS_3

Kejutan bikin shock


Tia dan Arga sudah ada di taman. Mereka duduk di dekat pohon bunga sepatu yang sedang dihinggapi kupu- kupu. Kupu-kupu yang mungkin sama yang dilihat Tia kemarin.


"Papa, Tia mau kupu-kupu itu. Papa bisa tangkap buat Tia ga."


"Tentu sayang, Papa coba tangkap ya."


Arga mencoba menangkap kupu-kupu tersebut.Tapi ternyata susah juga. Kupu-kupu itu terbang kian kemari sangat gesit menghindari tangkapan Arga. Arga kesulitan menangkap kupu-kupu tersebut.


"Ayo pa..Ayo.. Papa pasti bisa."


"Susah sayang."


"Semangat, papa yang semangat."


"Susah sayang, kupu-kupu nya ga mau ditangkap."


"Bisa, pasti papa bisa."


"Harus pakai jala sayang."


"Ya udahlah kalau ga bisa tidak apa-apa."


"Maafkan papa ya sayang."


"Iya pa.. tidak apa-apa. Tia tahu kok."


"Anak papa pintar. Kupu-kupu nya kita lihat saja. Kita nikmati keindahannya. Tidak usah ditangkap. Biar bisa terbang tinggi menghirup bunga yang harum baunya."


"Iya pa... Kakak cantik mana ya. Kok belum keliatan."


Tia melihat ke sekeliling taman. Namun dia tidak melihat Arin.


"Sayang, kamu mencari apa?"


"Papa, kakak cantik mana ya."


"Mungkin belum bangun. Atau mungkin lagi sarapan."


"Tapi kemarin Tia bertemu kakak cantik jam segini papa. Sekarang jam berapa pa."


Arga melihat jam tangannya."Sudah pukul delapan. Hem mungkin kakak cantik tidak datang Tia. Ayo kita kembali ke kamar. Sudah saatnya kamu makan dan minum obat."


"Tidak mau. Tia mau ketemu kakak cantik dulu."


"Tapi ini sudah siang. Sudah saatnya kamu makan dan minum obat sayang."


"Tidak mau.. pokoknya Tia tidak mau makan. Tia tidak mau kembali ke kamar kalau tidak bertemu kakak cantik."


Tia mulai merajuk. Mata Tia sudah berkaca- kaca. Sebentar lagi pasti Tia menangis. Arga pusing. Bagaimana cara dia menemukan kakak cantik yang selalu di sebut tia. Sedangkan dia belum pernah melihat wajah sang kakak cantik tersebut.


"Tia... mungkin kakak cantik tidak datang. Yuk kita kembali ke kamar. Nanti kalau Tia sudah makan dan minum obat, kita cari lagi."


"Tidak mau.. Tia mau ketemu Kakak cantik dulu. Baru Tia mau makan."


Arga semakin kebingungan. Tia mulai menangis. Arga melihat ke sekeliling. Siapa tahu dia bisa melihat seorang gadis cantik. Namun tak terlihat satupun orang yang punya ciri-ciri yang seperti disebutkan Tia. Di taman hanya ada pasien lansia dan anak-anak.


"Tia.. kok menangis. Jangan menangis sayang. Papa harus mencari kemana?"


"Hiks... hiks.. Tia mau kakak cantik. Kakak di mana sih. Kemarin berjanji akan datang lagi. Kok ini tidak ada. Hiks.. hiks.."


Tia masih menangis. Dia kekeh tidak mau kembali ke kamar. Padahal hari semakin siang. Sudah saatnya dia sarapan dan minum obat. Arga sudah membujuk. Tapi tidak berhasil juga. Arga sangat kebingungan. Di kejauhan Arga melihat Bram sedang berjalan melewati taman. Arga berteriak memanggil Bram.


"Bram."


Bram mencari sumber suara orang yang memanggilnya. Dia menengok ke kanan dan kiri. Tapi tidak melihat Arga yang berada di taman.


"Bram.."


Arga memanggil lagi sambil melambaikan tangan. Sekarang Bram melihatnya dan berjalan mendekati mereka.


"Ternyata lo yang memanggil. Ada apa?"


"Anak gue merajuk Ingin bertemu kakak cantik. Yang mana orang nya."


"Dokter ganteng. Hiks..hiks ..."


"Kenapa sayang. Kenapa Tia menangis?"


"Tia mau bertemu kakak cantik. Kakak cantik mana Dokter ganteng." ucap Tia masih dengan sesenggukan.


Bram baru inget hari ini Arin sudah diperbolehkan pulang. Dia berpikir harus menjawab apa ke Tia.


"Hm.. Begini Tia, Kakak cantik hari ini sudah diperbolehkan pulang. Tapi dokter tidak tau sudah pulang apa belum. Bagaimana kalau kita ke kamarnya saja." Jawab Bram akhirnya. Daripada dia berbohong memberi alasan yang di buat-buat, mending jujur saja ngomong apa adanya.


"Kok kemarin kakak cantik tidak bilang Dokter."

__ADS_1


"Mungkin lupa. Tia jangan sedih. Sekarang kita ke kamar kakak cantik yukk. Semoga belum pulang kakaknya."


"Ayo pak dokter ganteng. Tia mau banget. Ayo papa. Papa dorong kursi roda Tia. Kita ke kamar kakak cantik."


Dengan semangat Tia menarik tangan Papanya untuk segera mendorong kursi rodanya.


"Iya sayang, pelan-pelan."


"Hahaha... Tia sudah tidak sabar ketemu kakak cantik ya."


"Iya Pak Dokter ganteng."


Bram berjalan di samping Arga. Arga melirik Bram.


"Keren, Hm.. anak gue manggil lo dokter ganteng."


"Lhaa.. memang gue ganteng. Hahaha.." jawab Bram sambil mengedipkan mata.


"Serem gue sama lo."


"Kenapa? Gue memang ganteng kan. Tumben lo punya waktu buat Tia. Jarang sekali lo libur kan."


"Gue menyadari kalau gue salah. Gue sudah menelantarkan anak gue."


"Baguslah, Tia masih kecil. Masih butuh perhatian dan kasih sayang dari lo."


"Iya gue tahu. Gue salah selama ini."


"Baguslah kalau lo sadar. Jaga Tia baik-baik."


"Iya gue tahu. Dia anak gue pasti akan gue juga sepenuh hati gue."


"Baguslah. Tia sayang kita sudah sampai. Ini kamarnya."


Bram mendahului mereka berdua masuk ke kamar Arin. Namun di lihatnya kamarnya kosong. Bram melihat kamar sudah rapi. Sprei sudah diganti. Kamar sudah bersih.


"Tia kamar kakak cantik sudah kosong. Kakak cantik sudah pulang. Kita terlambat sedikit."


"Yahh .. sudah kosong. Kakak cantik sudah pulang ya." Ucap Tia merasa kecewa.


" Iya sayang, sekarang Tia kembali ke kamar ya." Ucap Arga sambil mendorong kursi roda Tia .


"Tidak mau pa." Mata Tia sudah berkaca-kaca. Tia mau menangis.


"Sayang, Tia... coba dengerin pak dokter mau ngomong. Sekarang Tia kembali ke kamar Tia dulu. Pasti Tia belum makan kan? Sekarang makan dulu , minum obat dan istirahat. Supaya Tia cepet sembuh. Kalau Tia sudah sembuh kita berkunjung ke rumah kakak cantik."


"Tapi Tia pengen ketemu nya sekarang."


"Tia... denger apa kata Pak Dokter. Kakak cantik nya sudah pulang. Sekarang makan dulu. Papa janji setelah kamu keluar dari rumah sakit Papa yang akan mencari kakak cantik buat kamu."


"Bener ya. Papa tidak bohong kan. Janji ya Pa."


"Iya sayang, papa janji."


Arga memeluk Tia. Dia tau anaknya sangat ingin bertemu dengan kakak cantik nya . Tapi kalau memang sudah pulang mau bagaimana lagi. Mungkin ini jalan yang terbaik. Arga harus bisa tegas sama Tia.


Bram senang melihat interaksi antara Arga dan Tia sekarang. Dia tau bagaimana sikap Arga kepada Tia kemarin. Ayu sudah menceritakan semua yang telah terjadi pada keluarga Arga. Bram turut prihatin. Kasian Tia menjadi korban ketidakpedulian Arga. Luka Arga karena di tinggal sang istri membuat dia mengabaikan sang anak.Padahal justru sang anaklah yang sangat terluka dalam kasus Arga ini.


Arga dan Tia kembali ke kamarnya. Tia berjanji mau makan. Dan memang dia buktikan. Dengan penuh semangat dia menghabiskan makanan yang telah di sediakan pihak rumah sakit. Arga merasa senang dan dia pun berjanji jika Tia sudah keluar dari rumah sakit dia akan mencari kakak cantik yang di maksud Tia.


Sementara Bram kembali ke ruangannya. Dia harus kembali bekerja karena jam praktek nya baru saja mulai.Tadi dia dari kantin untuk sekedar minum kopi pagi. Bram merasa sedikit mengantuk sehingga dia membutuhkan secangkir kopi untuk menambah semangat bekerja.


🌸🌸🌸


Setelah keluar dari ruangan Arin tadi pagi Fian langsung menuju mushola. Dia bangun kesiangan. Dia terlambat sholat subuh. Walaupun terlambat, Fian tetap melaksanakan sholat subuh. Karena memang dia tidak sengaja bangun siang. Mungkin Fian merasa nyaman tidur di samping Arin. Apalagi sambil menggenggam tangan Arin. Terasa sangat damai hidup Fian. Walaupun hanya sebatas itu yang bisa dia lakukan. Namun Fian sudah merasa sangat bahagia.


Setelah selalu sholat Fian tidak kembali ke kamar Arin. Melainkan masih duduk di dalam mushola. Fian sedang merenung, memikirkan semua kejadian yang telah terjadi dengan dirinya dan Arin. Tentang hubungannya dengan Arin.


Haruskah Fian menyerah begitu saja? Haruskah dia berhenti sampai di sini? Fian sangat menyayangi Arin.Dan Fian tahu Arin juga mempunyai perasaan yang sama. Semua terkendala restu. Seandainya tidak ada permusuhan di antara kedua orang tua mereka. Seandainya mamanya tidak membenci keluarga Arin. Ya sudahlah, Fian tidak bisa berbuat apa-apa. Dia juga tidak mau membantah orang tuanya. Bukan menyerah begitu saja, Namun Fian sedang mencari jalan untuk bisa membuka mata kedua orang tuanya agar bisa menerima Arin. Fian juga tidak bisa menyalahkan mamanya. Karena semua pasti ada sebab dan alasan yang belum dia ketahui.


Fian bangun dan melangkah meninggalkan mushola rumah sakit. Dia terus keluar menuju parkiran motor dan mengambil motornya. Namun dia belum ingin pulang. Dia ingin mengisi perutnya yang lapar. Dia tidak perlu memikirkan bunda lagi. Karena tadi Bara sudah membawakan makanan buat bunda dan Arin.


Fian menuju kedai bubur ayam. Dia memesan satu porsi bubur ayam lengkap dengan sate telur puyuh dan sate usus kesukaannya. Sama dengan kesukaan Arin. Mereka berdua Memeng mempunyai kesukaan yang sama.


Fian tersenyum. Dia mengingat kejadian tadi pagi. Saat Bara datang. Saat Bara mengintip. Dia tahu kalau itu Bara. Dia melihat saat Bara datang. Namun Fian pura-pura tidak tahu. Makanya Fian sengaja berpura- pura ingin mencium Arin. Dia sengaja ingin melakukannya untuk mengetahui reaksi Bara bagaimana. Ternyata benar Bara tidak menunjukkan sikap apapun. Fian tahu kalau Bara menyukai Arin. Fian tahu Bara sangat perhatian pada Arin.Karena sikap Bara yang sangat dingin, Ekspresinya tidak terlihat Namun tetap terlihat dari semua sikap dan tindakanya. Fian hanya tersenyum mengingat semua kejadian itu.


Fian sengaja berlama-lama makan buburnya.Dia mengulur waktu. Dia tahu Arin pulang pagi ini. Tak sengaja dia mendengar perkataan dokter Rizal sama Bara kemarin.Kalau Arin diperbolehkan pulang besok pagi. Dia sengaja ingin mengiringi kepulangan Arin. Dan saat melihat Mobil Bara keluar, Fian mengikuti dari belakang. Setelah dekat dengan rumah Arin, Fian sengaja berbelok kembali ke rumahnya. Sudah cukup dia mengawal Arin. Arin sudah sampai di rumahnya dengan selamat.


Fian memasuki pekarangan rumahnya. Mama sudah menunggu di depan pintu.


"Tepat waktu dan tidak meleset sedikit pun kan ma?"


"Bagus, semua sudah siap. Semua sudah di masukkan di bagasi mobil. Tinggal berangkat."


"Baik Ma. Fian mandi dulu sebentar."


"Waktunya untuk bersiap hanya tiga puluh menit."

__ADS_1


"Baik Ma."


Fian masuk ke kamar. Dia menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang dengan sangat keras. Dia berteriak sangat keras.


"Aaaaaahhkkkkk......"


Sesak rasanya. Sakit rasa hati Fian. Di saat cinta sedang tumbuh mekar di relung hatinya, dia harus menyerah pada keadaan. Di saat api cintanya membara, harus padam oleh hujan badai prahara keluarga.


Fian berlari menuju kamar mandi. Dia menyalakan kran air. Shower menyala. Fian mandi tanpa membuka pakaiannya. Biarlah basah semua yang ada di tubuhnya. Hatinya pun basah. Matanya juga basah. Fian ingin menangis menjerit seandainya dia tidak malu pada keadaan. Kenapa keadaan tidak pernah berpihak padanya.


Andra yang mengetahui itu, ikut menangis. Dia tahu penderitaan adiknya. Dia bisa merasakan apa yang Fian rasakan. Dia sangat tahu dengan apa yang Fian rasakan. Sakitnya pasti sama dengan rasa sakit hatinya. Tapi pasti lebih parah yang dialami Fian.


"Sabar Fian, semoga semua segera menjadi jelas." Ucap Andra pelan.


Karena Andra pun tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak berani membantah kedua orang tuanya.


Fian masih berada di dalam kamar mandi. Dia masih saja belum selesai mandi. Fian terduduk di bawah shower yang masih menyala dengan deras. Mata Fian sudah merah. Dia sudah menggigil kedinginan. Tapi dia tidak peduli. Dia hanya ingin menumpahkan Semua rasa sesak di dadanya.


"Fian.. Fian.."


Mama menggedor pintu kamar Fian. Ini sudah lebih dari tiga puluh menit yang mama bilang ke Fian. Namun Fian belum selesai juga.


"Fian.. kamu sudah selesai belum." Mama berteriak kencang. Mama sudah tidak sabar. Mama membuka pintu kamar Fian. Ternyata tidak terkunci.


"Fian.. Fian. Kamu di mana.Papa sudah menunggu di bawah."


Mama mencari Fian ke sudut Kamar. Namun tidak ada. Mama mendengar suara shower masih menyala.Jadi mama berpikir Fian masih mandi.


"Lama sekali kamu mandinya Fian. Cepat keluar. Jangan lama-lama mandinya."


Namun tidak ada sahutan. Kemudian Mama menggedor pintu kamar mandi. Tetap tidak ada sahutan. Mama mulai panik.


"Andra... Papa... kemari."


Mama panik. Andra dan Papa sudah muncul di pintu kamar Fian.


"Ada apa Ma?" Ucap mereka berdua bersamaan.


"Fian tidak ada di kamar. Dia di mana bang. Shower masih menyala. Pintu kamar mandi di kunci.Coba buka bang."


Mama menyuruh Andra menggedor pintu kamar mandi.


"Fian... Fian... lo di dalam?"


Tidak ada jawaban. Andra sudah berpikir macam-macam. Dia takut adiknya nekat berbuat sesuatu. Andra mendobrak pintu. Saat pintu terbuka. Semua orang terkejut.


Fian terlihat menggigil di bawah shower. Wajahnya pucat. Bibirnya biru karena kedinginan.


"Masha Allah. Fian. apa yang kamu lakukan."


Andra sangat panik. Dia memutar kran air yang semula dingin menjadi air hangat. Andra membuka baju Fian dengan paksa. Kemudian membilas tubuh Fian dengan air hangat.


"Fian... Fian..kenapa kamu begini."


Mama juga sangat panik.Sedangkan papa langsung masuk ke kamar mandi membantu Andra. Tubuh Fian dipapah oleh Andra dan papa ke dalam kamar menuju tempat tidur. Andra menyelimuti tubuh Fian yang sangat dingin.


"Nak, kenapa kamu lakukan ini."


Mama dan Andra mengoles tubuh Fian dengan minyak kayu putih agar hangat. Tak sedikit pun Fian berkata. Padahal dia tidak pingsan. Fian juga tidak tahu mengapa dia begini. Seingat dia tadi dia hanya mengguyur tubuhnya dibawah shower dengan masih memakai baju. Kemudian Fian tidak ingat apa-apa lagi. Yang dia rasakan hanya rasa dingin yang teramat sangat. Dia tidak bisa berteriak dan berkata-kata.


"Fian, Jangan begini. Mama khawatir sama kamu Nak.Papa hanya mengajak kamu berlibur. Apa yang kamu pikirkan sebenarnya. Mama yakin kamu mikir yang tidak-tidak. Sehingga kamu berbuat nekad seperti ini."


Mama masih mengoles tubuh Fian. Sekarang sudah mendingan. Sudah sedikit menghanga.Wajah Fian sudah tidak dingin lagi.


"Mama bikin minuman hangat dulu ya. Andra temani adikmu. Terus olesi dengan minyak kayu putih."


"Iya Ma." Jawab Andra.


Andra dan Fian tersenyum. Jadi yang mereka dengar kemarin malam apa. Apa mereka salah mengartikan ucapan mama dan Papa kemarin. Tapi Terdengar jelas.


Andra dan Fian saling pandang. Andra tertawa keras. Sedang kan Fian hanya tersenyum. Andra meninju tangan Fian keras.


"Sakit bang, tega banget sama gue. Ini adik lo lagi sakit." Ucap Fian memelas. Namun Andra terbahak.


"Jadi.." Andra dan Fian berkata bersamaan.


"Hore...."


Apa yang sebenarnya terjadi. Dan apa yang sebenarnya mereka berdua dengar kemarin malam.


Bersambung.


Jangan lupa tinggalkan like dan komen.


Terima kasih ❤️❤️❤️❤️❤️


,

__ADS_1


__ADS_2