Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 41


__ADS_3

Apakah yang terjadi


Bunda mendengar suara orang yang sedang berbincang-bincang. Dia terbangun karena pengen ke toilet. Dilihatnya Arin dan Fian sedang berbincang dengan serunya sampai tidak menyadari kalau bunda terbangun. Bunda diam saja. Bunda tidak ingin mengganggu mereka berdua. Biarlah Arin merasa bahagia dengan Fian sejenak. Karena begitu Arin keluar dari rumah sakit semua akan berubah. Semua akan kembali seperti dulu. Ada batasan di antara mereka. Dengan perlahan bunda menuju kamar mandi. Semua dilakukan dengan pelan. Mereka berdua pun tidak mendengar suara apapun. Setelah selesai bunda kembali rebahan di sofa. Tapi bunda sambil mendengarkan percakapan mereka. Bunda tersenyum dia lihat Arin dan Fian terlihat begitu bahagia. Bunda tidak akan mengganggu momen langka ini. Tidak setiap waktu mereka bisa berdua seperti ini.


Tiba-tiba bunda melihat pintu terbuka. Bunda tetap diam saja. Ternyata Dokter Bara yang masuk. Bunda masih setia menyimak percakapan mereka. Bunda terharu Arin dikelilingi orang-orang yang menyayanginya. Tapi bunda heran kenapa kemarin Arin bisa merasa tidak ingin bangun? Apa yang Arin rasakan sebenarnya. Sebesar apa luka di hati Arin. Separah apa trauma yang dia alami. Tapi tadi pas bersama Fian, Arin terlihat tanpa beban. Tersenyum, tertawa dengan lepas. Bunda sangat bersyukur ada Fian yang selalu siap sedia menjaga Arin. Tapi bunda tahu ada tembok tebal menghalangi cinta mereka. Mereka berdua tidak bisa bersatu. Mama Fian nasih saja merasa dendam dengan kejadian di masa lalu. Andai saja Mama Fian tahu yang sebenarnya, mungkin dia tidak akan sebenci ini pada Arin. Ditengah obrolan mereka tiba-tiba terdengar suara Arin yang berteriak kesakitan.


"Aduh..aduh kepalaku. Aduh sakit.. sakit."


Semua orang terkejut. Bunda langsung Bangun dari tidurnya. Begitu pula Fian dan Bara.


"Arin kamu kenapa" Mereka bertiga berteriak bersamaan.


"Aduh..kepala gue sakit.. sakit." Arin masih mengeluh kesakitan.


"Arin, dengar saya. Dengar saya. Ambil nafas. Mana yang sakit." Bara langsung memberikan pertolongan pada Arin. Fian dan bunda berdiri di sisi ranjang yang lain.


"Kepala saya Dokter." Arin memegang bagian kepalanya yang sakit.


"Ok, sekarang minum obat penghilang rasa sakit dulu. Semoga sakitnya bisa reda."


Fian mengambil minum. Bunda mengelus lengan Arin, bermaksud menenangkan. Arin meminum obat tersebut. Dan Arin mulai tenang.


"Arin sekarang istirahat ya. Tidur ya. Jangan mikir yang macam-macam lagi." Arin mengangguk. Bunda masih mengelus lengan Arin.


" Usahakan buat tidur ya. Hari sudah larut malam. Dipaksakan buat tidur ya." Ucap Bara. " Fian dan Bunda, Arin jangan di ajak berbicara dulu. Biarkan dia istirahat." Tambah Bara.


Bunda dan Fian mengangguk.


" Tidurlah Rin, mau gue temenin disini atau mau sama bunda." Fian bertanya pada Arin. Karena dia tau Arin butuh dia.


" Mau sama bunda saja." Jawab Arin lemah.


"Ok Fian, kita keluar dulu yuk. Biar Arin istirahat." Bara mengedipkan mata pada Fian. Itu tandanya ada sesuatu hal yang ingin Bara bicarakan.


"Baik Dok. Arin istirahat ya. Gue diluar. Jika butuh sesuatu panggil aja ya. Bunda Fian keluar dulu ya."


" Iya Dokter, iya Fian."


Arin memejamkan matanya. Dia mulai merasa mengantuk. Mungkin pengaruh oba. Lama kelamaan dia tertidur juga.


Bara dan Fian keluar ruangan. Ternyata di luar ada Bram dan Bima sedang duduk di kursi tunggu.


"Kalian berdua disini. Tidak jadi pulang? "


Tentu saja Fian dan Bara terkejut melihat hal itu. Tadi mereka berdua pamit mau pulang. Ternyata masih ada di depan ruangan.


"Tadi pamit pulang. Kok ada di sini. Belum tega ninggalin gue?" Tanya Bara. Dia ikut duduk bersama mereka. Begitu pula dengan Fian.


"Hm, ya begitulah" jawab Bram sambil mengangkat bahu.


"Sudah dari tadi di sini. Atau baru datang. Ada apa kok ga jadi pulang?" Tanya Bara lagi. Bara tentu saja ingin tahu mengapa kedua temannya tidak jadi pulang.


"Sudah di bilang masih belum tega ninggalin lo. Siapa tahu lo berantem sama Fian. Hahaha..." Bima malah menggoda Bara.


"Kenapa harus berantem sama Fian. Kita kan sekarang teman ya Fian." jawab Bara sambil merangkul pundak Fian.

__ADS_1


"Wuiihh ... sudah menjadi teman. Tapi tidak teman makan teman kan?" Bima terus saja meledek Bara.


"Maksudnya apa Bim. Kita bener-bener sudah menjadi teman." Bara sedikit tersinggung diledek sedemikian rupa oleh Bima.


Fian hanya diam saja. Dia hanya menyimak percakapan mereka. Dia tahu apa yang dimaksud oleh Bima. Tapi Fian diam saja. Baginya tidak masalah bila Bara memang mau mendekati Arin. Dia rela karena dia tahu Bara orang baik. Walaupun Fian baru mengenal Bara tapi dilihat dari sikapnya selama ini menunjukkan kalau dia orang baik. Semoga Fian tidak salah menilai Bara.


"Sudah malam bang, jangan berisik" Fian mencoba melerai perdebatan mereka. Dia justru yang merasa tidak enak hati karena ucapan Bima tadi.


"Eh iya ini rumah sakit. Sudah malam pula. Dasar kalian dokter tidak tau sopan santun. Hahaha.." Bram malah semakin menambah kacau suasana.


"Iya kita jangan berisik mengganggu pasien yang sedang istirahat. Kita mau ngobrol di sini, atau di ruangan gue, atau di kantin sambil minum kopi?"


"Pertanyaan lo banyak banget Bar, enaknya di ruangan lo sambil rebahan sambil minum kopi. Bagaimana dengan kalian?" Bram memberikan usul menurut pendapatnya.


"Baiklah, gue setuju. Ayo fian lo ikut juga. Kita berempat kan sudah jadi teman. Hahaha.." Masih saja Bima meledek Bara.


"Bima, lo minta di suntik rabies rupanya. Omongan lo mulai kacau." Bara memeluk Bima dengan sangat erat. Sampai Bima tidak bisa bernafas.


"Bar..bara..sakit. Hah..hah tidak bisa bernafas gue. Gila lo ya.."


"Hahaha...masih saja kalian berdua seperti dulu. Tidak berubah sama sekali. Hahaha.." Bram malah menertawakan mereka berdua. Memang sejak dulu mereka kalau becanda seperti ini. Tapi seru dan malah menambah kedekatan.


Mereka berempat berjalan menuju ruangan Bara. Ruangan Bara memang lebih luas daripada ruangan Bram dan tentu saja lebih nyaman buat berkumpul berempat. Setelah sampai ruangan Bara membuat kopi buat mereka berempat. Teman ngobrol yang paling pas adalah kopi dan cemilan. Bara juga menyediakan nya. Dia tahu kalau temen-temennya akan sering main ke ruangan nya, maka dari itu dia selalu siap sedia. Memang sudah kebiasaan dari dulu, sejak jaman sekolah di SMA. Mereka sering berkumpul di rumah Bara. Sekarang teman mereka bertambah satu lagi yaitu Fian.


Melihat interaksi antara Fian dan Arin membuat Bara dan kedua temannya tertarik ingin mengenal mereka. Persahabatan dua orang beda jenis tidak akan mungkin ada yang murni sebagai sahabat. Pasti ada sesuatu rasa di antara keduanya. Bara dan Bram ingin mengetahui kisah mereka. Apalagi setelah mendengar kisah jalan hidup Arin yang begitu banyak cobaan. Ingin ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Arin. Ingin ikut larut di dalam kisah itu. Apalagi tadi mereka melihat Arin seperti shock melihat Bara. Dia seperti mengingat suatu hal yang membuat otaknya harus bekerja keras.


Bram sebenarnya sudah lama di luar. Begitu mendengar suara Arin kesakitan sebenarnya dia ingin masuk tapi tidak jadi karena sudah ada Bara yang menangani. Bram ingin Bara dan Arin semakin dekat. Entah mengapa dia merasa Bara dan Arin punya perasaan yang sama. Walaupun yang terlihat malah Arin yang menyukai Fian. Bram dan Bima hanya ingin membantu Bara. Tidak maksud untuk memisahkan hubungan Fian dan Arin.


Fian hanya diam saja ditengah percakapan mereka. Fian masih belum bisa beradaptasi dengan mereka. Memang mereka sangat baik dan terbuka. Tapi masih ada dinding pembatas. Fian masih belum terbiasa dengan mereka. Fian hanya duduk sambil menikmati kopi yang dibuatkan Bara. Dia hanya menunduk sambil memainkan gelas kopinya . Pikiran Fian masih pada Arin. Tadi dia melihat ekspresi Arin yang begitu terkejut saat Bara mendekat. Padahal ini bukan yang pertama kali Bara dekat dengan Arin. Tadi Bara juga sudah sempat berkunjung saat Arin baru saja sadar. Arin terlihat biasa saja. Tapi kenapa baru sekarang Arin menunjukkan respon yang begitu aneh. Apa ada sesuatu yang dia ingat.


"Fian, kok diem saja. Sini lho ikut nimbrung. Kamu mengerti kan dengan apa yang kita bahas." Bara melihat Fian yang hanya melamun dan memainkan gelas . Bara berusaha mengajak Fian berbicara. Karena dilihatnya Fian hanya diam saja.


"Kamu tidur saja Fian. Istirahatlah. Mau di ranjang juga boleh. Ada itu ranjang pasien." ucap Bara. Dilihatnya Fian yang memang sudah mengantuk.


Hari memang sudah larut malam.


" Tidak usah Bang. Gue duduk disini saja." Jawab Fian.


"Nah gitu, gue seneng lo panggil gue abang. Gue ga punya adik."


"Memang tidak apa-apa gue pakai bahasa seperti ini. Nanti dibilang tidak sopan." Sebenarnya Fian merasa tidak nyaman dengan panggilannya.


"Kan kita yang minta. Tidak perlu sungkan. Kecuali kalau ada dokter senior, baru lo panggil kita secara formal." Sahut Bram.


" Baiklah kalau itu memang mau kalian. Gue mengantuk bang, kalau gue tidur di depan ruangan Arin saja bagaimana. Biar kalau ada apa-apa bisa langsung tau."


Sebenarnya Fian hanya merasa tidak nyaman berada di dalam ruangan ini. Dia hanya mencari alasan agar bisa keluar dan menghindar dari mereka.


"Silahkan saja kalau memang itu yang lo mau. Tapi bukankah lebih nyaman istirahat di sini Fian." Bara mencoba menahan Fian.


"Iya si bang, tapi kasian bunda. Nanti kalau beliau butuh apa-apa biar lebih gampang membantunya." Fian terus mencari alasan yang lebih tepat agar dia bisa secepatnya pergi dari situ.


"Baiklah kalau memang itu kemauan mu." Akhirnya Bara membiarkan Fian keluar dari ruangan nya.


Fian berjalan sendirian di koridor rumah sakit yang sudah sangat sepi. Bagaimana tidak sepi jam sudah menunjukan pukul satu dini hari. Siapa yang mau jalan-jalan di malam hari. Satu dua masih ada petugas yang lewat.

__ADS_1


Fian sampai di depan ruangan Arin. Dia mengintip ke dalam. Sebenarnya ingin masuk tapi dilihatnya Arin sudah tertidur.


"Alhamdulillah Arin sudah bisa tidur. Tenang Arin gue akan selalu menjaga lo di sini. Tidur yang nyenyak. Biar besok pas lo bangun semua sudah baik-baik saja. Jangan takut gue akan berusaha semaksimal mungkin, untuk melindungi lo."


Setelah itu Fian duduk di kursi tunggu. Dia merasa capek dan mengantuk. Dia rebahkan tubuhnya. Dia pakai tangannya sebagai bantal. Pikiran tak pernah lepas dari Arin.


Fian merasa dia sudah terlambat. Seandainya dia menyadari perasaannya sejak dulu. Seandainya dia tidak egois. Seandainya dia membalas perasaan Arin sejak dulu.


Pikiran Fian dulu terlalu jauh. Seandainya semua dijalani sesuai dengan usianya, seandainya kedua orang tuanya tidak membenci Arin, sudah sejak dulu dia menyatakan perasaannya. Tapi sekarang dia sudah cukup bahagia walau hanya sebagai sahabat. Mungkin malah lebih sering bersama. Status tidak penting lagi buat Fian. Yang terpenting dia masih bisa terus bersama Arin.


Lama-kelamaan Fian tertidur juga. Terlalu banyak yang dia pikirkan membuat dia terlihat sangat capek dan mengantuk. Apalagi ditambah tidak bisa istirahat dengan baik si rumah sakit. Dia hanya tinggal menunggu reaksi mamanya besok. Tapi dia sudah siap dengan jawaban apa yang akan dia berikan. Bukan dia akan melawan orang tuanya tapi hanya sedikit ingin memberi pengertian kepada mereka.


🌸🌸🌸


Hari ini hari minggu. Dan sudah satu minggu Arin di rawat di rumah sakit. Pagi ini Rama dan Nia akan mengunjungi Arin. Sudah dua hari mereka tidak ke rumah sakit. Karena kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan itulah alasannya. Nia harus lembur kerja. Sedangkan Rama banyak kegiatan sekolah dalam persiapan ujian. Tahun ini dia ada ditingkat akhir SMA.


"Kak Nia, jadikan ke rumah sakitnya? Rama kangen kak Arin. Perasaan Rama ga enak. Sudah dua hari tidak bertemu kak Arin."


"Iya Ram, kakak juga kangen. Bunda kok tidak memberi kabar apa-apa ya. semoga Arin segera bangun ya Ram."


"Amin, Ayo berangkat sekarang saja. Mumpung masih pagi. Kasian bunda juga, pasti belum makan."


"Iya juga Ram. Ya udah kakak ganti baju dulu. Kamu udah siap memangnya?"


"Sudah ganteng begini kok belum siap si kak. Liat aku kan udah pake baju yang kak Arin belikan . Biar di seneng."


"Lebay kamu Ram. Mana si yang ganteng.Uluh-uluh yang gantengnya ga keliatan."


"Ayo kak, cepetan. Keburu siang ini. Panas nanti. Malah becanda."


"Sabar atuh Ram, kakak ganti bajunya sebentar kok. Kamu panasi motor dulu."


"Siap kakakku."


Rama berjalan keluar rumah. Dia mau memanaskan motornya. Sementara Nia berganti pakaian.


"Ayo kakak sudah siap. Tidak lama kan. Kamu yang di depan ya "


"Ok Kak. Lets go."


Mereka berdua akhirnya berangkat juga. Rama merasa senang sekali bisa bertemu Arin lagi, kakaknya yang paling dia sayangi.


Sesampainya di rumah sakit. Terlihat di kamar Arin semua sedang berkumpul. Ada bunda, Fian dan dokter yang sedang melakukan pengecekan. Arin masih tidur.


"Haus..haus ."


"Kak Arin, sudah bangun. Alhamdulillah." Teriak Rama saking senangnya.


" Kalian siapa?"


Semua orang terkejut. Semalem Arin baik-baik saja. Semua saling pandang.


Arin kenapa lagi. Kok dia lupa. Apa yang terjadi dengan Arin ?


Bersambung..

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like dan komen.


Terima kasih ❤️❤️❤️❤️


__ADS_2