Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 25


__ADS_3

Mimpi Bunda


Hari ini hari ketiga Arin di rumah sakit. Dia belum juga sadar. Para team medis sudah bekerja semaksimal mungkin tapi belum ada hasilnya. Arin masih setia dengan dunia bawah sadarnya. Sekarang sudah tidak terdengar lagi Arin mengigau. Yang ada hanya eskpresi bahagia di wajahnya. Senyuman selalu muncul di bibirnya yang tipis. Sudah tidak ada lagi teriakan ketakutan dan kesakitan. Entah apa yang di rasakan Arin saat ini.


Bunda semakin khawatir melihat keadaan Arin. Bagaimana tidak, melihat keadaan Arin yang tidak kunjung sadar. Keadaan Arin yang belum menunjukkan tanda-tanda kalau dia mau bangun. Para dokter sudah mengupayakan segala cara tapi belum menunjukkan hasilnya. Mereka selalu memantau perkembangan kesehatan Arin. Sudah diadakan pemeriksaan secara menyeluruh pada tubuhnya. Namun tidak ditemukan kelainan sedikitpun dari semua organ tubuhnya. Semua baik-baik saja. Tetapi kenapa belum sadar juga. Arin seperti nyaman dalam dunia mimpinya. Arin seperti menemukan dunia baru yang membuatnya nyaman dan ingin terus berada di sana.


Pagi itu Bara berkunjung ke kamar Arin. Bunda sedang keluar sebentar untuk mencari udara segar. Bara mendekati tempat tidur Arin.Dia pandangi wajah Arin yang sedang tersenyum. Bara memegang jemari tangan Arin. Tiba-tiba Bara merasakan pergerakan pada jemari Arin. Bara terkejut.


"Arin.... kamu merespon, Alhamdulillah." Ada rasa bahagia dalam pada diri Bara melihat yang baru terjadi. Arin merespon sentuhannya. "Bangunlah Arin. Kenapa kamu ingin tidur terus? Apa yang kamu inginkan? Apa yang membuat mu begini? Bangunlah. Janganlah hanya bermimpi. Mari kita wujudkan dalam kehidupan nyata." Bara berkata di telinga Arin. "Ada banyak hal indah di dunia ini. Kenapa harus hidup di dalam dunia mimpi. Bangunlah. Mari kita nikmati dunia yang penuh warna ini. Jangan pernah takut sendirian. Banyak orang yang menyayangi kamu . Kita semua menyayangi kamu." Bara terus- menerus mengucapkan kata-kata motivasi buat Arin. Dilihatnya Arin tersenyum lebar. Entah apa yang ada di mimpi Arin saat ini. Bara tak tahu lagi harus bagaimana. Tapi dia tidak akan pernah menyerah. Sampai kapanpun. Dia akan selalu berusaha membuat Arin bangun. Dia sudah kerahkan yang dia bisa. Dia sudah usahakan semua kemampuan dia.


"Bro.. lagi apa. " Tiba-tiba terdengar suara Bram di sampingnya.


"Astaghfirullah.. Bram, lo buat gue kaget saja. Masuk itu mengucap salam dulu. Main masuk aja tanpa mengetuk pintu ." Bara kaget mendengar sapaan dari Bram. Tidak terdengar suara apapun saat Bram masuk tadi. Atau mungkin dia yang terlalu fokus pada Arin.


"Gue sudah mengucap salam dua kali . Tapi lo tidak menjawab, gue langsung masuk aja dong."


Jawab Bram santai.


"Mungkin karena gue sedang fokus memperhatikan Arin, jadi tidak mendengar salam dari lo."


"Bagaimana ada perkembangan pada kesehatan Arin sejauh ini? Sory, gue baru bisa kesini lagi hari ini. Beberapa hari ini gue sibuk mengurus surat pindah tugas gue."


"Memangnya lo pindah tugas di mana. Bukannya sudah enak kerja di rumah sakit yang lama."


" Coba tebak ,gue pindah dimana?"


"Lha, malah main tebak-tebakan . Jangan bilang... jangan-jangan lo pindah ke rumah sakit ini ."


"Yupz , betul sekali. Biar gue bisa memantau perkembangan kesehatan Arin. Sejak pertama bertemu Arin, gue merasa dia gadis yang unik. Gue hanya ingin lebih mengenal dia." Bram berterus terang tentang alasan kepindahan nya di rumah sakit ini.


Bara tersenyum tipis. Ada perasaan tidak nyaman timbul dalam hatinya. Tapi dia harus berpikir positif, segala hal usaha dan upaya demi kesembuhan Arin , dia rela mengorbankan apapun termasuk harus melepas harapannya untuk memiliki Arin. Dia harus siap sakit hati. Dia harus rela mengalah jika itu demi kebahagiaan Arin.


"Bagus deh, Bantu gue membuat Arin sadar kembali. Bantu gue membuat Arin bangkit dari tidurnya. Bantu gue memantau semua perkembangan Arin." Bara harus bisa menekan egonya. Ini semua demi Arin, demi kesembuhan Arin.


"Siap bro, tanpa lo minta pun , gue pasti akan berusaha membantu kesembuhan Arin. Karena ini kasus yang langka. Gue harus bisa memecahkan penyebab Arin tidak mau bangun." Bram melihat ke arah Arin. Saat itu Arin sedang tersenyum. Bram ikut tersenyum. "Ada apa dengan dirimu, Bangunlah, dunia ini sangat indah. Keluarlah dari mimpimu. Keluar lah dari zona nyaman mu. Mari kita berpetualang. " Bram memegang jemari Arin. Dan jemari itu bergerak.


"Lihat Bar, jemarinya bergerak. Dia merespon sentuhan gue." Bram merasa ini adalah sebuah kemajuan. Dia berteriak gembira." Gue akan gunakan semua kemampuan gue demi kesembuhan Arin." Ucap Bram lagi.


"Tadi juga begitu. Dia merespon setiap sentuhan pada jemarinya. Makanya gue tidak mendengar kedatangan Lo karena gue lagi fokus sama pergerakan jari Arin."


"Hm begitu rupanya. Semoga ini awal yang bagus."


"Semoga... mari kita upayakan yang terbaik buatnya. Semoga dia segera membuka matanya."


"Amin, semoga."


Akhirnya Bara dan Bram keluar ruangan Arin. Mereka menuju ruangan masing-masing karena pekerjaan mereka telah menunggu. Mereka juga mempunyai pasien lain yang membutuhkan keahlian mereka. Selamat bekerja para dokter.


🌸🌸🌸

__ADS_1


Sementara itu Keluarga Omed sedang dalam kebimbangan. Pasalnya mereka belum bisa menemui keluarga Arin. Setiap ke rumahnya selalu tidak ada orang . Rumah selalu kosong. Mau ke rumah sakit juga belum mempunyai waktu lebih, karena kesibukan pekerjaan Papa Omed . Memang dalam beberapa hari ini sedang ada proyek yang sedang butuh penanganan khusus. Sebagai aparatur pemerintahan dia tidak bisa sembarangan mengambil waktu cuti. Ya Papa Omed memegang jabatan sebagai Camat. Dia harus profesional.Dia harus mengutamakan kepentingan rakyat dari pada putranya. Sebenarnya semua urusan Omed sudah di serahkan pada pengacaranya. Tapi karena keluarga Arin juga sibuk mencari uang untuk biaya perawatan, mereka belum sempat ketemu. Padahal pihak kepolisian sudah memberikan surat panggilan buat keluarga Arin untuk datang ke kantor polisi. Keluarga Arin harus membuat surat tuntutan kepada para tersangka. Sebenarnya keluarga Arin sudah mengikhlaskan apa yang di alami Arin. Mereka hanya fokus buat kesembuhan Arin.


"Pa, lebih baik kita menemui mereka di rumah sakit saja deh. Sekalian melihat keadaan Arin. Sudah tiga hari anak kita dalam bui Pa. Mama tidak tega Pa melihat Omed." Mama membujuk Papa agar secepatnya menemui keluarga Arin. Mana tega seorang mama melihat keadaan anaknya yang sengsara.


" Iya Ma, nanti sore kita ke rumah sakit. Sepulang Papa kerja ya, harus sudah siap pas papa pulang. Papa masih ada acara nanti malam."


"Siap Pa, Mama siapin buah-buahan buat mereka. Kita ga mungkin tidak bawa buah tangan."


"Terserah bagaimana baiknya saja Ma. Papa berangkat dulu. Jangan lupa harus sudah siap. Papa tidak mau menunggu Mama berdandan. Bisa dua tahun mama dandannya."


" Namanya juga perempuan, harus terlihat cantik kan?"


"Iya..iya. Ya udah Papa berangkat dulu. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam. hati-hati Pa."


Papa sudah berangkat kerja. Tinggal mama sendirian di rumah. Dia akan mempersiapkan oleh-oleh buat menjenguk Arin nanti sore. Mama akan mencari yang terbaik. Siapa bisa memperlancar urusannya untuk meminta maaf. Semoga keluarga Arin memaafkan apa yang telah Omed lakukan kepadanya. Dan dapat memperingan hukuman nya.


🌸🌸🌸


"Kak Arin , hati-hati, jangan terlalu kencang, nanti jatuh." Rama berteriak dari jauh. Arin sedang naik ayunan dan mengayun terlalu kencang. Rama khawatir kakaknya terjatuh.


" Hahaha...Seru Ram, ayo sini ikut. Seru sekali Ram, kamu tidak ingin mencoba kah? Hahaha.." Arin terlihat sangat bahagia. Dia tertawa lebar. Suara tawanya yang terdengar begitu nyaring , menandakan dia sangat menikmati permainan itu.


"Rama sini , gantian sama kakak. Memangnya kamu tidak pengen naik. " Arin berteriak sambil terus mengayun. Dia mengayun sangat kencang , membuat Rama khawatir.


"Tidak apa-apa. Tidak akan jatuh. Kakak ingin terbang Ram. Kakak ingin terbang yang tinggi sekali sampai menyentuh awan."


"Kakak ngomong apa si, tidak boleh. Kakak berhenti ga. Rama takut kak. Rama takut kalau Kakak jatuh bagaimana."


Arin terus saja mengayun semakin kencang dan Rama juga berteriak semakin keras. Arin sudah tidak peduli lagi Teriakan Rama. Arin ingin terbang tinggi. Rama semakin ketakutan. Rama menangis. Tapi Arin sudah tidak memperhatikan Rama. Dia terus mengayun dan mengayun . Sampai tiba-tiba. Tali pengikat ayunan terlepas dan Arin terlempar jauh. Tapi tidak jatuh.


"Hore Arin bisa terbang. Arin bisa menyentuh awan."


"Ariiiiiiin ......." Bunda berteriak. "Astaghfirullah.... mimpi apa aku. Kenapa mimpinya seperti ini." Ternyata Bunda tadi tertidur dan bermimpi.Bunda berkeringat, bunda ketakutan. Dia mengucapkan istighfar berkali-kali. Akhirnya bunda bangun menuju kamar mandi . Dia ingin membasuh muka.Tapi teringat belum sholat dhuhur. Bunda sekalian berwudhu lalu menjalankan sholat dhuhur.


Selesai sholat dan berdoa bunda melihat ke arah tempat tidur Arin karena di dengarnya suara orang yang menggigil. Bunda sangat terkejut melihat tubuh Arin yan menggigil seperti kedinginan.


"Arin...Arin .. Dokter.. Dokter." Bunda berlari keluar mencari Dokter ataupun petugas medis lainnya. Bunda lupa, cukup dengan memencet tombol saklar untuk memanggil sang dokter atau perawat. Mereka akan tahu dan langsung datang ke ruangan. Bunda sangat panik melihat keadaan Arin.


Para dokter langsung hadir ke ruangan Arin. Tubuh Arin sudah normal lagi .Sudah tidak menggigil lagi.


" Kenapa tadi Bund,?" Bara bertanya, karena dilihatnya keadaan Arin tidak ada keanehan.


"Tadi tubuhnya menggigil seperti kedinginan Dok. Apa mungkin dia sedang bermimpi lagi ya. Ini kenapa ya Dok. Kapan Arin bangun. Saya harus bagaimana lagi ." Bunda menangis.


"Sabar bun, kan sudah saya bilang, mungkin Arin sedang ingin beristirahat. Sedang ingin tidur. Bunda jangan khawatir ." Bara memeluk bunda, dia bisa merasakan apa yang bunda rasakan. Rasa takut dan khawatir juga ada di hatinya.


"Sampai kapan, kenapa dengan kamu ,Arin. Kenapa kamu begini. Apa penderitaan kamu terlalu berat selama ini. Apa yang telah kamu alami sebenarnya?" Bunda masih menangis. Dia tidak sanggup melihat Arin yang begini.

__ADS_1


"Barusan Arin bermimpi lagi Bund. Mungkin karena mimpinya itu maka tubuhnya gemetar. Kita berdoa saja semoga tidak lama lagi Arin akan bangun." Bara terus saja menguatkan bunda . Walaupun hatinya sendiri seperti teriris. Tapi dia harus terlihat kuat, apalagi dia seorang dokter. Tidak boleh terlihat lemah.


" Bunda istirahat saja. Sudah makan atau belum bund. Jangan sampai Bunda ikut sakit nantinya. "


" Sudah Dok. walaupun tidak pengen tapi saya usahakan bisa makan ."


" Bagus , Kalau begitu saya permisi. Nanti kalau ada apa-apa bunda tidak usah berlari-lari ke ruangan saya . Cukup pencet saklar saja."


"Saking paniknya jadi lupa Dokter."


"Ya udah bunda istirahat ya. Saya permisi dulu."


Dokter Bara meninggalkan ruangan Arin . Bara menuju ruangan Bram . Dia mau mendiskusikan kondisi Arin. Sudah hari ke tiga belum ada kemajuan. Dilihatnya pasien Bram sudah tinggal satu orang . Bara menunggu sebentar, dia duduk di kursi tunggu pasien. Tinggal pasien yang terakhir. Bara menunggu sambil memainkan ponselnya. Dilihatnya galeri ponselnya. Banyak foto Arin tersimpan di situ. Perasaannya pada Arin semakin dalam. Tapi dia juga harus bersiap untuk kecewa. Sekarang yang jadi prioritasnya hanyalah kesembuhan Arin. Mengembalikan Arin pada dunia nyata. Bagaimana cara membuat Arin bangun lagi. Belum ditemukan caranya. Arin begitu nyaman dalam dunia mimpinya. Seandainya dia bisa melihat mimpi-mimpi Arin. Seandainya dia tau apa yang diinginkan Arin. Masalahnya mungkin bisa teratasi.


"Sudah lama menunggu bro, maaf tadi masih ada pasien yang konsultasi."


"Iya ,gue tahu. Jam kerja lo belum berakhir. Gue sabar menunggu."


"Kenapa? Ada apa? Apa ada yang terjadi dengan Arin? " Bram duduk di samping Bara.


"Iya. Hari ini tubuhnya gemetaran, menggigil seperti kedinginan. Entah apa mimpinya kali ini. Sampai gemeteran begitu." Bara mengambil nafas panjang dan melanjutkan ucapannya. "Baru kali ini ada kasus pasien seperti Arin. Kita sebagai petugas medis harus bisa memecahkan kasus ini. Bagaimana langkah yang harus kita ambil."


"Benar ini kasus pertama yang gue hadapi. Makanya gue bela-belain pindah tugas ke sini. Gue juga penasaran. Bagaimana kita menangani kasus ini . Gue merasa tertantang untuk bisa memecahkan masalah ini."


"Lo udah ada ide belum. Kita harus mengumpulkan data , kata-kata apa saja yang keluar dari mulut Arin saat mengigau. Mungkin kita bisa menarik kesimpulan apa yang Arin alami sebelumnya dan apa yang dia inginkan." Bara mengungkapkan apa yang dia pikirkan dari kemarin. Ide itu muncul ketika teringat keterangan Rama tentang apa yang pernah dialami Arin saat sakit yang pertama.


"Ok, kita coba ide lo. Semoga bisa ada hasilnya. Lalu, mau kita mulai kapan?" Bram menyetujui ide yang diungkapkan Bara.


"Bagaimana kalau langsung kita mulai sekarang. Tapi sebelum itu kita makan dulu. Gue lapar banget. Belum makan siang." Ucap Bara sambil memegang perutnya.


"Ayo, sama gue juga belum makan. Kita makan bakso aja bagaimana. Gue lagi pengen yang pedes-pedes."


"Gue tahu kedai bakso yang enak. Ga jauh dari rumah sakit. Cuma di depan pintu gerbang sebelah barat." Bara pasti akan makan bakso di tempat langganannya.


"Ayo, kalau begitu kita jalan kaki aja ke sana "


"Iyalah kan cuma di depan situ. Manja banget lo. Atau mau gue gendong."


"Gaya lo. Memangnya kuat? Berat badan gue lebih dari lo. Mana kuat lo ngangkat gue .hahaha.. Ayo kita sambil jalan ngobrolnya." Mereka berdua berdiri dan berjalan beriringan keluar dari rumah sakit . Siang-siang makan bakso yang panas dan pedes pasti sangat nikmat.


"Iya juga, dari tadi seharusnya, Sudah sampai kita. Dan kita sudah menikmati bakso yang sangat lezat."


Mereka berdua menikmati bakso yang super pedas. Sangat nikmat siang hari makan bakso. Ditemani segelas es teh manis. Makan sambil sesekali membahas tentang Arin.


Semoga langkah mereka kali ini bisa membuahkan hasil. Semangat untuk para dokter dan team medis.


Semoga Arin segera sadar.


Mohon dukungan untuk novel pertamaku. Mohon maaf bila masih banyak typo. Budayakan tinggalkan jejak like dan komen . Terima kasih telah mampir πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2