Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 99


__ADS_3

Dua hari telah berlalu. Belum ada tanda-tanda Sutejo dan Maria bangun dari komanya. Kecelakaan itu cukup parah. Benturan terjadi cukup keras. Mobil yang dikendarai Sutejo terlihat mengalami kerusakan parah.


Luka yang dialami mungkin luka dalam. Karena terlihat darah keluar dari kedua kepala sang korban. Di lain tempat hanya terdapat luka memar. Bisa menjadi mengalami gegar otak.


Yang diharapkan semua keluarga tentu segera bangun dari koma.


Fian menunggu di dalam. Dia pandangi wajah sang mama. Fian sangat sedih melihat sang mama tertidur dalam koma. Walaupun mamanya selalu galak padanya, tapi Fian tahu kalau sang mama sangat menyayanginya. Fian pun juga sangat menyayangi sang mama.


Di samping ranjang sang mama, terdapat juga ranjang sang papa. Memang di sengaja mereka di taruh dalam satu ruangan. Agar memudahkan mereka untuk menjenguk.


Fian menggenggam tangan sang mama. Dia elus pelan. Dengan perasaan hancur karena melihat sang mama dan papa tergeletak tak berdaya. Fian berbisik di telinga sang mama. Dia ingin mencoba memberi sock terapi. Karena kata dokter kita harus sering-sering berkomunikasi dengan pasien yang mengalami koma.


"Ma, ini Fian. Fian rindu mama. Tiga bulan kita tidak bertemu. Mama tega sama Fian. Mama jangan lama-lama tidurnya."


Fian menghela nafas panjang. Dia jadi teringat saat Arin mengalami koma. Tak henti-hentinya dia berkata sendiri untuk memancing respon otak Arin. Dan ternyata membuahkan hasil.Dan sekarang dia ingin mempraktekkan pada sang mama dan papa.


"Ma, Fian sudah tidak sabar ingin menikmati masakan mama. Fian ingin makan soto sama perkedel buatan mama. Ma.."


Fian terus saja berkata. Dia ciumi tangan sang mama. Ada setetes air mata jatuh di pipi Fian. Fian sedih sekali. Sang mama belum bangun juga. Tiba-tiba Fian merasakan ada yang bergerak. Jari tangan sang mama bergerak perlahan.


"Ma.. mama merespon. Alhamdulillah. "


"Haus.. minum.."


"Mama.. huaa mama.. Mama bangun. Dokter ... suster.."


Fian berlari keluar sambil teriak memanggil dokter dan Suster. Tapi dia sadar seharusnya dia menekan tombol panggil yang ada di dalam ruangan. Dan tidak perlu berlari keluar ruangan. Fian buru-buru menekannya. Tak lama berselang seorang dokter dan seorang suster sudah datang.


"Pak dokter, Mama sudah bangun. Tadi tangannya bergerak. Dan tadi Saya lihat matanya terbuka."


"Ok baiklah. Maaf, biar saya periksa dulu ya mamanya. Silahkan tunggu di luar terlebih dahulu."


"Baik Dok.."


Fian melangkah keluar. Dia merasa sangat senang. Mama sudah sadar. Fian sangat merindukan sang mama. Dia berjalan mondar-mandir di depan ruangan. Dia berharap sang mama segera bisa di temui.


"Fian.. ada apa Fian. Kenapa di luar." Tanpa Fian sadari, Andra telah ada di dekatnya.


",Eh, Bang. Mama bang.. Mama." Fian memeluk sang kakak sangat erat. Tentu saja Andra kebingungan.


"Kenapa mama Fian.. kenapa? Jangan bikin gue berpikir macam-macam."


"Mama sudah sadar. Sekarang lagi diperiksa. Semoga papa segera sadar juga ya Bang."


Fian menggoyang tubuh Andra saking senengnya.


"Alhamdulillah.. "


Andra kembali memeluk Fian. Tentu saja dia juga merasa bahagia. Mereka berdua melihat dari jendela. Namun tidak terlihat. Karena jendela tertutup tirai. Tak lama pintu di buka dan keluar lah sang suster.


"Keluarga pasien."


"Iya sus.."


Fian dan Andra menjawab bersamaan. Mereka segera mendekati sang dokter.


"Pasien sudah sadar. Silahkan masuk dokter mau berbicara dengan keluarga pasien."


Andra dan Fian masuk ke dalam ruangan. Dan mereka melihat sang mama sudah sadar sempurna.


"Mama.. mama sudah bnagun."


Ucap Andra dan Fian bersamaan.


"Betul. Mamanya sudah bangun. Jangan terlalu lama di ajak bicara dulu. Alhamdulillah semua baik-baik saja. Dan jika terjadi sesuatu segera hubungi kami kembali." Ucap sang Dokter menjelaskan keadaan sang mama.


"Baik dokter."


" Ingat jangan terlalu banyak diajak berbincang. Biarkan mamanya istirahat dulu. Kalau ada apa-apa silahkan panggil kami. Kalau begitu saya permisi.."


", Siap dok.. Silahkan Dokter. Dan terimakasih."


Jawab Andra dan Fian bersamaan.


Sang dokter dan suster berlalu dari tempat itu.


Setelah sang dokter pergi, Andra dan Fian mendekati ke tempat tidur sang mama. Mereka sudah tidak sabar ingin melihat keadaan sang Mama. Mama terlihat memejamkan mata. Mungkin masih belum sadar sepenuhnya.Fian menyentuh lengan sang mama dan mengelusnya perlahan.

__ADS_1


"Ma.."


Mama membuka mata ketika mendengar suara Fian.


"Nak, kamu udah pulang."


"Udah ma, keadaan mama bagaimana? Mana yang sakit ma?"


"Mama tidak apa-apa. Papa mana .. Papa mana?"


"Papa masih tidur, Itu di ranjang sebelah."


Mama melihat ke arah yang ditunjukkan Fian. Mama melihat keadaan suaminya langsung terisak.


"Pa, Bangun pa. Maafin Mama . Ini semua gara-gara Mama."


Andra mengelus tangan sang mama yang satunya.


"Papa pasti bangun. Mama jangan bersedih ya. Kita tunggu sebentar lagi."


"Andra.. Fian.. Tolong Mama .Mama ingin ke tempat papa."


"Mama istirahat dulu ya. Sebentar lagi Papa pasti bangun."


"Sebentar saja Nak.. Ya.. boleh ya. Lagian Papa hanya di ranjang sebelah."


"Baiklah.. Tapi apa Mama sudah kuat berjalan. Kata Dokter tadi Mama belum boleh banyak bergerak."


"Boleh ya nak. Mama janji cuma sebentar."


"Ya udah tunggu sebentar. Biar Fian cari kursi roda dulu."


Andra dan Fian saling pandang. Kemudian Fian keluar ruangan. Dia ingin mencari kursi roda buat mama. Andra mendekati sang mama.


"Keadaan Mama bagaimana. Yang sakit yang mana Ma."


"Cuma sedikit pusing aja kok. Kamu jangan khawatir ya Nak."


"Mama harus cepat sembuh. Agar cepat pulang.


"Tidak Ma, Dia bersikap biasa saja. Mengapa Mama tidak berterus terang saja pada Fian."


"Tunggu sebentar lagi. Pasti mama akan buka semuanya."


"Baiklah Ma. Bagaimana baiknya saja menurut mama."


Tak mereka sadari di luar ruangan sepasang mata sedang mengawasi mereka. Dia memasang telinganya baik-baik. Dan dia mendengar semua yang mereka bicarakan. Raut mukanya terlihat kecewa.


"Jadi selama ini mereka menyembunyikan sesuatu dari gue."


Ya ternyata Fian mendengar semua yang di bicarakan sang mama dan sang Abang. Fian merasa kecewa sekali. Kenapa dirinya tidak boleh mengetahui hal yang mereka sembunyikan itu. Fian masuk ke dalam. Dan melihat raut terkejut dari orang yang di dalam.


"Apa yang kalian bicarakan."


"Fian.."


Mama dan Andra terkejut mendengar suara Fian. Mereka saling pandang.


"Memang apa Fian? Kita sedang membahas kesehatan mama."


"Oh.. baguslah. Terus maksud dari ucapan belum saatnya apa? Ma, ada apa sebenarnya. Apa yang kalian sembunyikan dari Fian? Kenapa Fian tidak boleh tahu?"


Fian berjalan menjauhi mereka. Fian menjatuhkan dirinya di sofa. Dia pijit pelipisnya. Seandainya sang mama tidak sakit tentu dia akan mendesak sang mama untuk membuka semuanya. Fian menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Matanya terpejam. Namun setetes air mata jatuh dari matanya. Hatinya terasa perih. Fian menarik nafas panjang.


"Fian mana kursi rodanya."


Fian diam saja. Dia tidak mendengar pertanyaan Andra. Pikirannya sedang tidak di tempatnya. Fian sedang menerawang jauh. Jauh di masa kecilnya. Jauh ke masa remajanya.


"Fian.. Fian.."


Andra menepuk bahu Fian pelan. Dia tahu perasaan adiknya. Tapi dia tidak punya kuasa untuk bercerita. Itu bukan ranahnya. Dia tidak berani untuk membuka apa yang dia tahu.


"Eh iya..Apa bang."


Fian tersadar. Dia terkejut.


"Mana kursi rodanya. Katanya tadi mau meminjam kursi roda ke pihak rumah sakit."

__ADS_1


"Astaghfirullah.. lupa."


Fian langsung terbangun. Dia berjalan keluar ruangan. Kursi roda yang dia bawa malah dia tinggal di depan ruangan. Dia tadi sudah terlalu penasaran dengan yang dia dengar. dan kursi roda tersebut terlupa.


Untung masih ada di depan ruangan. Tidak diambil petugas nya lagi. Fian segera mendorong kursi roda itu ke dalam ruangan.


"Maaf ma, Fian lupa."


"Apa yang kamu pikirkan. Sampai-sampai buat sang mama saja bisa lupa. Di pikiran kamu hanya ada cewek sialan itu. Cewek miskin yang tak berguna itu masih saja kamu pikirkan!!!"


"Ma, ini tidak ada hubungannya dengan Arin."


"Terus siapa lagi kalau bukan dia yang ada diotak kamu. Pakai pelet apa sih dia. Sampai kamu tergila-gila sama dia."


"Ma, Arin tidak ada hubungannya. Ini murni karena Fian lupa."


"Tidak usah membela dia. Sampai mama lihat kamu bersama dia lagi. Mama tidak akan mengakui kamu sebagai anak."


Deg. Dada Fian seperti di pukul Godam. Sebegitu bencinya sang mama sama Arin. Padahal Arin begitu baik pada keluarga mereka. Fian sudah menurut semua perkataan sang mama. Tapi masih saja sang mama menghujat Arin. Masih saja Mama menyalahkan Arin.


"Terserah mama."


Fian meletakkan kursi roda itu disamping tempat tidur. Kemudian dia melangkah keluar. Hatinya terasa sangat hancur. Apa yang dia lakukan selalu salah di mata sang mama.


"Fian mau kemana?" Andra berteriak memanggil Fian. Namun tak sedikitpun Fian berhenti.


"Mama istirahat saja ya."


"Mama ingin melihat papa , Nak. Bantu mama duduk di kursi roda ya. Jangan perdulikan anak tak tau diri itu."


"Ma, mama jangan marah- marah. Mama harus menahan emosi mama."


"Entahlah, jika melihat Fian mama selalu teringat gadis miskin itu."


"Ma, sudah ya. Sini Andra bantu. Janji mama jangan mengungkit hal itu di depan Fian."


"Iya.. iya. Cepetan bantu mama."


Andra membantu memapah mama untuk duduk di kursi roda. Setelah mama duduk, Andra mendorong kursi roda itu ke arah ranjang papa yang masih terlihat tidur pulas.


Sementara Fian terus berjalan menjauh dari kamar. Dia merasa kecewa dengan ucapan sang mama. Dia ingin meredam perasaannya.


Sesampainya di luar Fian berjalan menuju taman. Tapi dari kejauhan dia seperti melihat bayangan orang yang dia kenal. Fian mengikuti orang tersebut. Namun orang tersebut berjalan begitu cepat. Fian tidak putus asa. Dia terus mencarinya. Dia sangat merindukan orang tersebut. Fian ingin bertemu dengannya.


Fian berputar-putar mencari orang tersebut. Sampai di dekat taman dia melihat pemandangan yang sangat tidak ingin dia lihat. Dia mundur selangkah dia tidak sanggup melihat itu semua.


Pemandangan yang begitu menyakitkan. Pemandangan yang tak pernah ingin dia lihat. Akhirnya Fian memilih untuk menjauh. Akhirnya Fian memilih pergi ke taman samping kantin. Di sana juga ada taman yang bisa untuk meredam rasa marah dan kecewanya.


Fian duduk di bangku yang ada di taman itu. Bangku yang ada di bawah pohon Flamboyan. Terasa teduh namun tidak bisa meredam semua rasa yang dia rasakan.


Hatinya terasa hancur melihat kejadian hari ini. Perlakuan yang selalu dia dapatkan dari sang mama saja sudah membuatnya tak berdaya. Ditambah pemandangan yang baru saja dia lihat.


"Kenapa? Kenapa harus begini? Salah aku apa Tuhan. Aku manusia pendosa. Tuhan, Kau hukum aku beserta bunganya seperti ini"


Perasaan Fian benar-benar tidak karuan. Rasa Kecewa , marah, terluka, dan tak berdaya, tumpah menjadi satu dalam hatinya.


Selama ini dia sudah berusaha menjadi anak baik, anak penurut, tapi terasa tidak dihargai oleh orang tuanya. Fian sudah meninggalkan Arin. Fian sudah menjauh, masih saja orang tuanya menghujatnya dan juga menghujat Arin.


"Apa yang harus gue lakukan sekarang. Arin gue kangen. Gue butuh lo ada di sini. Arin.. Arin. Aaakkkhhh.."


Fian berteriak. Dia lupa kalau ada di area rumah sakit. Untung sore ini di taman masih sepi. Jadi tidak ada orang yang memperhatikannya. Kecuali seseorang yang dari tadi duduk di bangku di sisi pohon yang lain. Yang kehadirannya tidak di sadari oleh Fian. Sedari tadi orang tersebut hanya memperhatikan Fian tanpa ingin ikut campur. Dan malah terlihat tidak perduli.


Fian masih duduk terpekur di bangku taman. Pikiran nya masih jauh berkelana. Hatinya masih menangis. Perasaannya masih sakit. Dia belum ingin beranjak dari tempat itu bahkan sampai matahari mulai beranjak ke peraduan. Bahkan sampai waktu Maghrib telah tiba. Bahkan Sampar senja kemerahan muncul di langit barat.


Bahkan dia melewatkan senja yang selalu ingin dilihatnya setiap sore. Karena pemandangan waktu senja sangat indah.


Barulah ketika terdengar suara adzan Maghrib berkumandang Fian tersadar. Bukan begini cara yang benar mengahadapi masalah. Tapi alangkah baiknya jika semua dipasrahkan kepada Sang Pemberi hidup.


Fian bangun dari duduknya. Dia berjalan ke arah suara adzan terdengar. Fian melangkah menuju mushola rumah sakit. Dia ingin mengadu kepada Sang Maha Pencipta. Dia ingin menyerahkan, dirinya kepada Sang Khaliq.


Dengan langkah pasti Fian menuju ke sana. Dia tidak boleh meratap. Dia tidak boleh cengeng. Dia hanya boleh menangis di dalam setiap doanya. Dia hanya boleh mengadu pada Sang Pencipta.


Fian mengambil air wudhu dan terasa sangat segar di wajahnya. Bahkan kesegarannya menyentuh hatinya. Membuat jiwanya terasa sedikit tentram.


Segara dia menyelesaikan wudhu nya dan segera memasuki musholla untuk melaksanakan sholat maghrib berjamaah.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2