
Sore itu Bara dan Bram sepulang kerja berjanji bertemu. Mereka berdua ingin menikmati sore ini dengan makan bakso. Sebenarnya mereka juga mengajak Bima dan Arga. Tapi Arga dan Bima tidak bisa. Karena memang mereka berdua sedang ada acara keluarga. Jadilah hanya Bara dan Bram saja.
Mereka berdua tidak ingin pergi terlalu jauh.Mereka hanya ingin makan bakso di warung bakso depan rumah sakit tempat mereka bekerja. Sebenarnya warung bakso itu juga langganan mereka. Mereka memang sengaja makan di situ. Bakso dan kuah yang enak bikin ketagihan untuk mencoba lagi.
Mereka berdua hanya berjalan kaki. Kendaraan mereka tetap mereka parkir di area parkir rumah sakit. Nanti setelah makan bakso tinggal kembali ke rumah sakit. Toh jaraknya hanya beberapa meter.
Mereka berdua berjalan sambil berbincang. Saking asyiknya berbincang, mereka tidak memperhatikan sekeliling. Bahkan orang yang mereka perbincangkan ada disitu pun mereka tidak sadar. Untung jarak mereka agak jauh. Jadi orang yang diperbincangkan tidak menyadari kalau dia menjadi bahan gibah dua Dokter tampan tersebut.
"Sudah sampai Bram. Gue yang pesen lo mencari tempat duduk."
"Udah sih bareng saja. Lagian cuma berdua. Pasti kebagian tempat duduk." Ucap Bram enteng. Bram lupa ini jam pulang kantor dan warung bakso ini akan ramai di jam-jam seperti ini.
Akhirnya mereka memesan bakso dulu baru mencari tempat duduk.
"Eh pak Dokter. Mau pesen apa?"
"Yang biasa aja mang. Mamang apal kan sama kesukaan saya."
Jawab Bara. Dia memang pelanggan setia. Sampai-sampai mamang tukang bakso hapal apa yang biasa Bara pesan.
"Mas satunya pesen apa."
"Samain aja mang sama Bara." Jawab Bram. Dia memang tak terlalu pilih- pilih. Apapun itu akan dia makan.
"Wah,.. semua bangku penuh. Kita duduk di mana nih Bram. Di bilang tadi lo harusnya mencari tempat duduk dulu. Kalau begini kita harus menunggu ada yang keluar dulu."
Mereka berdua melihat ke sekeliling. Semua bangku memang penuh terisi. Sudah tidak ada tempat lagi.
"Di situ aja Bar, kayaknya masih bisa untuk kita berdua." Bram menunjuk ke arah pojok. Memang ada sedikit sisa bisa untuk dua orang.
Bara melihat ke arah yang ditunjuk Bram. Memang ada bangku kosong tersisa sedikit. Ada dua pasang muda mudi duduk disana. Namun bila mereka yang di sana bergeser sedikit,masih muat untuk dua orang lagi. Bara dan Bram berjalan menuju ke sana.
"Apa kita tidak menggangu. Mereka berpasangan Bram. Apa tidak apa-apa."
"Ini tempat umum. Ayo tidak apa-apa kita duduk di sana."
Akhirnya mereka menuju tempat duduk yang dipojok.
"Permisi.....Arin.."
Bram baru saja mau bertanya. Namun dia terkejut. Ternyata yang duduk itu adalah Arin dan teman-temannya. Arin juga terkejut saat namanya dipanggil oleh seseorang .Dia menoleh. Arin tersenyum melihat dua orang yang dikenalnya berdiri di dekatnya.
"Pak dokter.. Kalian berdua mau makan bakso juga."
"Maaf .. sebelumnya apa bisa kita berdua bergabung. Kita tidak kebagian tempat duduk. Sepertinya disini masih muat untuk dua orang lagi."
"Silahkan pak dokter. Geser Cha, Wan."
Ocha, Wawan dan Joko mengangguk. Mereka bergeser sedikit untuk memberi tempat pada kedua orang tersebut. Tempat yang mereka duduki memang masih muat untuk dua orang lagi. Ocha memandang Arin ,memberi kode dengan mata, bertanya siapa dua orang itu.
"Duduk pak dokter. Maaf tapi sempit. Kita duduknya jadi begini."
"Tidak apa-apa Rin." Jawab Bram. Sedangkan Bara hanya terdiam. Dia tidak menyangka orang yang dia rindukan ada di depan mata. Bara menatap Arin tanpa berkedip.
"Bar... Bara. Oiii..."
"Eh... Iya. Kenapa Bram."
"Malah bengong. Duduk di situ di sebelah Arin."
"Eh iya."
Bram tersenyum. Dia tau kalau Bara sedikit nervous.
"Apa kabar Arin. Bagaimana keadaan kamu." Akhirnya Bara membuka suara. Dia merasa ini adalah suatu kebetulan yang sangat diinginkannya.
"Alhamdulillah sudah baik pak dokter. Eh maaf kenalin dulu ini teman-teman kerja saya."
Arin memperkenalkan mereka satu persatu.
"Kok masih manggil pak dokter. kamu kan sudah bukan pasien saya. Panggil seperti kemarin saja."
Bram melongo. Dia penasaran ada kemajuan apa hubungan antara Arin dan Bara.
Arin diam saja. Dia malu mau memanggil Bara dengan sebutan lain. Pasti dia akan diejek teman-temannya.
"Iya Aa Bara. Silahkan duduk." Arin ragu-ragu memanggil Bara dengan sebutan Aa.
Semua orang memandang Arin Yang terlihat sedikit gugup. Ada rona merah di wajah Arin saat dia menyapa Bara. Demikian juga dengan Bara. Dia tersenyum bahagia mendengar panggilan Arin yang begitu enak di dengar telinganya.
"Cie.. cie... cie.. Aa"
Arin tersipu. Bara hanya tersenyum.
__ADS_1
"Memangnya kenapa Bram kalau manggil Aa. Kan biasa panggilan untuk yang lebih tua."
"Memang tidak apa-apa. Hahaha.... jangan tegang Arin. Gue hanya bercanda."
Bram terkekeh melihat reaksi Arin. Dia senang sekali bisa menggoda Arin dan Bara yang nampak jadi salah tingkah.
Untung pesanan segera datang. Semuanya menikmati pesanan masing- masing.
"Selamat makan." Ucap Ocha. Dia sudah lapar. Dia tidak sabar menikmati bakso kesukaannya.
"Jangan banyak-banyak sambalnya."
Bara mengingatkan Arin. Saat dia melihat Arin menyendok sambal yang ketiga kalinya. Arin memandang Bara dan mengembalikan tempat sambal ke tengah meja tanpa mengucapkan sepatah kata. Yang lain hanya menyimak sambil tersenyum dan menikmati pesanan bakso mereka.
"Sepi sekali. Ada apa sih."
Bram membuka suara. Suasana menjadi canggung.
"Maaf bang, kita kan lagi makan. Tidak boleh ngomong saat makan. Kita tidak mau menanggung resikonya." Jawab Ocha. Dia bangkit dan mengambil kerupuk.
" Ada yang mau." Ocha menawarkan pada yang lain.
"Gue mau Cha." Arin menengadahkan tangan meminta kerupuk pada Ocha. Yang lain mengikuti tingkah Arin.
"Kompak bener. Hahaha..Uhuk.. uhuk."
Bram tersedak. Buru-buru Ocha mengambilkan minum. Karena dia yang paling dekat dengan Bram.
"Makanya kalau lagi makan jangan sambil ngomong. Itu akibatnya." Omel Bara.
"Iya .. iya. Habisnya sepi banget sih. Terima kasih Ocha." Sahut Bram Dia menerima gelas yang di sodorkan Ocha. Dan meminum setengahnya.
Mereka kembali menghabiskan bakso masing-masing. Tanpa ada suara apapun. Hanya bunyi sendok dan garpu. Hening semua dengan pemikiran masing-masing. Entah apa yang ada di otak mereka. Namun yang pasti sedikit demi sedikit makanan mereka telah habis pindah ke perut mereka.
"Akhirnya habis juga. Memang enak ya." Bram langsung bersuara ketika isi mangkoknya habis paling duluan.
"Mau nambah Bram."
"Tidak sudah cukup. Sudah kenyang gue." jawab Bram. Dia menolak tawaran Bara karena memang sudah kenyang.
"Eh iya.. Baru ingat." Bara menoleh ke arah Arin yang duduk di sampingnya.
"Ingat apa Aa."
Arin berpikir sebentar. Dia baru ingat kalau kemarin dia pulang tidak pamit pada Tia.
"Iya ingat Aa. Kenapa dengan Tia. Apa dia baik-baik saja."
"Dia baik Arin. Dia sudah tidak di rawat lagi. Ternyata diagnosa kami tentang penyakitnya salah."
"Alhamdulillah."
Yang lain hanya menyimak pembicaraan antara Bara dan Arin.
"Sebelum pulang Tia selalu menanyakan kamu. Dia sangat ingin bertemu dengan kamu. Maaf saya lupa. Karena akhir-akhir ini pekerjaan saya sangat banyak."
"Terima kasih atas infonya Aa. Kapan ya saya bisa bertemu Tia lagi."
"Ekhm.. ekhm."
Bara melihat ke arah Bram. Bram memang sengaja mengganggunya.
"Kenapa Bram. Sakit tenggorokan ya." Ledek Bara. Bram meringis. Dan kemudian terkekeh pelan.
"Kalian berdua berbincang seolah kita ga ada.Iya kan Ocha, Wan dan Jok. Kita tidak dianggap oleh mereka berdua."
Bram sengaja memprovokasi teman- teman Arin.
"Iya mas Bram. " Ocha menimpali. Wawan dan Joko hanya menyimak dan hanya tersenyum mendengar perkataan Bram.
"Mas Bram kok bilang begitu. Aa Bara itu temennya diajak ngobrol. Cemburu dia sama aku."
Balas Arin santai. Dia tersenyum. Dia tau maksud Bram berkata begitu.
"Dih Arin. Siapa yang cemburu. Gue masih normal ya.."
"Hahaha.. Iya kan Cha. Mas Bram terlihat cemburu kan?"
Ocha hanya tersenyum. Dia bingung apa maksud Arin. Namun Ocha mengangguk juga.
Arin kembali menggoda Bram. Dia tau kalau Bram juga sedang meledek dia. Padahal dia hanya berbincang hal yang wajar dengan Bara.
"Aa kapan aku bisa ketemu Tia. Aku kangen sama Tia."
__ADS_1
"Nanti kapan-kapan saya temuin kamu dengan Tia ya."
" Baiklah Aa. Terima kasih."
Bara mengangguk. Bram bangkit dari duduknya.
"Apakah kalian masih lama."
"Tidak mas. Kami sudah selesai kok."
Jawab Ocha. Hari memang sudah beranjak sore. Semburat jingga telah hadir di ufuk barat. Pertanda sebentar lagi senja akan tiba.
"Ayo kita pulang. Sebentar lagi gelap."
Wawan berkata sambil berdiri. Dia menuju kasir. Wawan mau membayar bakso yang mereka pesan. Kali ini dia tidak ingin keduluan Arin lagi.
"Bang berapa semuanya." tanya Wawan pada sang penjual bakso.
"Sudah dibayar sama mas Bram semuanya."
"Lho kok."
"Iya mas. Mas Bram memang begitu."
"Terima kasih kalau begitu Bang"
Wawan melambai ke arah teman- temannya . Dan memberi kode kalau dia menunggu di luar. Wawan berjalan ke luar warung. Yang lain mengikuti ke mana arah Wawan berjalan.
Wawan mendekati Bram yang ternyata sudah berada diluar warung.
"Makasih bro. Masih ingat sama gue kan " Ucap Wawan pada Bram.
" Sama-sama. Tentu masih ingat. Kenapa tidak menyapa tadi di dalam. Malu punya teman seperti gue."
"Bukan malu. Tapi momennya belum pas saja.Lama kita tidak berjumpa ya. Sejak lo pindah rumah. Sudah sepuluh tahun kayaknya." Wawan mendekati Bram dan memberi pelukan ringan.
"Gue tadi belum yakin aja. Takut salah orang."
Bram membalas pelukan Wawan.
"Ekhm .. ekhm.. jadi begini ternyata kalian berdua."
Tiba-tiba Bara sudah berada di dekat mereka. Bram dan Wawan terkejut.
"Apa maksud lo. Kita masih normal."
"Cie... cie.. ternyata.. hayoo."
Goda Arin. Dia semakin gencar meledek kedua temannya itu.
"Apaan sih Rin. Kalau kalian tau Wawan ini teman kecil gue. Tapi sepuluh tahun lalu kita berpisah dan baru ketemu sekarang. Tadi gue di dalam masih ragu." Jawab Bram menjelaskan situasinya.
Ternyata Bram dan Wawan adalah teman. Bahkan bersahabat dari kecil. Namun terpisah karena Wawan pindah rumah. Mengikuti Ayahnya yang sering pindah-pindah kerja.
"Ayo kita pulang. Gue duluan ya. Gue mau ke pasar dulu. Dadah.. Papay .. Assalamu'alaikum."
Tahu-tahu Arin sudah pergi duluan. Mereka tidak menyadari kalau Arin sudah terpisah dari mereka dan sudah ada di atas motornya. Bahkan sudah pulang duluan.
Bara dan Bram menggelengkan kepala melihat tingkah Arin. Bara sedikit menyesal kenapa tadi tidak minta nomor teleponnya.
"Kita juga duluan ya. Kendaraan kami masih terparkir di dalam rumah sakit."
Mereka berpisah di sini. Mereka pulang menuju rumah masing-masing. Bara merasa lega bisa bertemu Arin lagi. Dia senang Arin sudah terlihat lebih segar dan juga terlihat bahagia. Terlihat selalu tersenyum di saat berbincang dengannya dan juga dengan temannya.
"Ekhm.. ekhm. Melamun lagi. Sudah senang ya bisa berjumpa dengan pujaan hati."
" Apaan sih lo Bram."
"Tapi beneran lega kan. Sudah terobati rindunya."
"Ga jelas lo."
Bara mendahului Bram. Dia tersenyum senang. Akhirnya dia bisa bertemu dengan Arin. Sudah terobati rindunya. Walaupun dia tidak tau bagaimana isi hati Arin. Yang penting saat ini dia sudah bisa bertemu dan berbincang dengan Arin.
"Woiii .. tunggu. Kenapa gue di tinggal. "
Bram berjalan cepat menyusul langkah Bara. Bara juga mempercepat langkahnya. Hari sudah sore. Dia ingin segera pulang. Segera sampai rumah untuk beristirahat.
Mereka berpisah di tempat parkir. Mereka menuju tempat parkir kendaraan masing-masing. Mereka harus segera pulang. Karena hari memang sudah mulai gelap.
Bersambung
Jangan lupa tinggalkan like dan komen
__ADS_1
Terima kasih ❤️❤️❤️❤️