Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 66


__ADS_3

Bismillah aku bisa


Fian terbangun , Dia mendengar Toni dan Irwan berpamitan pada Andra. Padahal ini masih sangat pagi. Adzan subuh baru saja berkumandang. Disusul bunyi ayam jantan bersahutan. Namun Toni dan Irwan sudah mau pulang. Tapi mungkin karena ada kuliah pagi. Fian mencari keberadaan Andra.Dia melihat ke sekeliling. Tidak ada siapapun.


Andra masih di kamar mandi. Terdengar suara gemericik air, mungkin Andra sedang mandi. Padahal dia sangat ingin buang air kecil. Sudah tidak tahan . Fian bangun dari posisi tidurnya. Lalu berjalan menuju kamar mandi.


"Bang.. cepetan. Gue sudah kebelet ini."


Andra mungkin tidak mendengar karena suara air terdengar lebih kencang.


"Bang.."


Fian menggedor pintu kamar mandi. Dia sudah sangat tidak tahan. Rasanya sudah mau keluar.


"Bang... Bang Andra. Cepetan.."


"Iya sebentar. Ini tinggal memakai baju."


Andra berteriak dari dalam kamar mandi. Untung dia sudah selesai mandi nya. Andra membuka pintu kamar mandi.


"Cepet keluar bang . Sudah tidak tahan ini."


"Sabar dong. Hahaha.. jangan ngompol. udah sono masuk."


Andra menyingkir dari pintu. Dia memberi jalan pada Fian. Fian dengan cepat masuk ke dalam kamar mandi. Dia benar-benar tidak dapat menahan rasa buang air kecil. Sudah diujung rasanya.


"Abang, tolong handuk gue ya. Gue mau mandi sekalian."


" Memangnya ga dingin Fian."


"Tidak bang. Malah terasa segar."


"Ya udah. Hati-hati kantong infusnya."


"Iya bang. Bisa kok gue."


Andra mengambil handuk milik Fian dan menyerahkan kepada Fian. Hari masih sangat pagi. Dia merasa lapar. Sebenarnya mau keluar untuk mencari sarapan, Tapi Fian masih dikamar mandi. Tidak mungkin dia meninggalkan Fian. Walaupun perutnya terasa lapar sekali.


Andra membuka biskuit yang dia beli kemarin. Sekedar untuk mengganjal perutnya sambil menunggu Fian keluar. Andra masih trauma dengan kejadian kemarin. Saat tiba-tiba Fian pingsan di dalam kamar mandi.


"Fian.. Jangan lama-lama mandinya."


Andra berteriak mengingatkan Fian. Tentu saja dia tidak mau kejadian kemarin terulang kembali. Andra mendekati kamar mandi. Dia berdiri di depan pintu. Dia tempelkan telinganya di pintu.


"Fian.. Fian. Kok sepi . Tidak ada suara air. Fian.... Fian."


Andra panik. Dia sudah berpikir yang tidak-tidak. Dia sangat khawatir terjadi sesuatu pada Fian.


"Apa sih bang. Berisik tau. Ga jadi keluar kan. Takut denger suara abang."


"Hahahaha... pe a lo. Ya sudah terusin."


Andra menjauh dari dari pintu kamar mandi. Dia lega sekaligus geli. Dia tertawa teringat perkataan Fian barusan. Jadi Fian sedang buang air besar. Pantas tidak terdengar suara gemericik air. Ternyata kekhawatiran Andra terlalu berlebihan. Itu sebagai bukti bahwa Andra sangat menyayangi Fian.


"Abang.."


"Ada apa lagi."


"Daleman gue mana. Yang ini jatuh. Basah. Masa gue ga ganti "


"Sebentar gue cari."


Andra membuka tas milik Fian yang berisi baju ganti. Tapi yang dicari tidak ketemu. Andra sudah mengeluarkan satu persatu isinya. Tapi yang di cari tetap tidak ada. Andra tersenyum. Dia lupa memasukkan ****** ***** milik Fian.


"Fian .. celananya tidak ada. Gue lupa tidak memasukkannya kemarin. Bagaimana dong."


"Yang bener saja bang. Yang ini basah. Masa gue ga pake daleman. Bisa masuk angin milik gue."


"Hahahaha... ya maaf. Kemarin sudah panik sekali. Lo sih bikin kita khawatir. Ya udah ga usah pakai dulu."


"Ikh abang gue parah. Belum tua udah pikun. Ya udah deh ga apa-apa. Terpaksa."


Fian keluar dari kamar mandi. Dia terlihat sangat risih. Tapi tak apalah yang di sini juga cuma ada Andra.


"Bagaimana rasanya. Sejuk kan?"


"Sejuk.... sejuk.. Meledek ya. Tega banget lo. Kalau masuk angin bagaimana."


"Hahaha.. sekali-sekali biar bebas dia. Hahaha.."

__ADS_1


"Tertawa aja terus. Udahlah gue mau rebahan aja. Di tutup selimut juga ga keliatan."


"Iya betul. Kamu diam aja di tempat tidur. Nanti gue telpon mama biar bawa celana kamu."


"Bang gue lapar. Jam berapa sih . Jatah sarapan kok belum datang."


"Hahaha.. dasar pasien culamitan. Masih pagi ini. Lihat di luar masih gelap."


"Gelap apaan abang. Makanya buka itu gordennya.Lihat sudah jam enam lebih. Pantas gue udah lapar."


"Ya udah gue keluar dulu cari sarapan. Lo diam-diam aja di situ. Jangan kemana-mana."


"Memangnya gue mau kemana dalam keadaan seperti ini."


"Hahaha.. iya-iya gue lupa. Ya udah gue pergi dulu."


"Jangan lama-lama ya bang."


"Iya-iya.. bawel."


Andra pergi keluar. Perutnya juga terasa lapar. Dia berjalan pergi meninggalkan rumah sakit. Mencari sarapan sesuai keinginannya.


Sepeninggal Andra, Fian hanya rebahan di tempat tidur. Waktu terasa sangat lambat. Perutnya sudah berbunyi. Sarapan dari rumah sakit belum juga datang. Fian mengambil ponselnya Yang dia letakkan di atas nakas. Fian membuka aplikasi WhatsApp. Siapa tau ada pesan dari Arin.


Semalam dia sengaja tidak memberitahu pada Arin kalau dia di rawat. Lagian penyakitnya tidak parah juga. Ingat penyakit, Fian ingat kalau hasil laboratorium belum keluar. Dia hanya berharap dia tidak mengidap penyakit berbahaya.


Sudah pukul tujuh tapi Andra belum kembali. Cacing-cacing di perut nya sudah demo. Perutnya sudah melilit. Tidak biasanya dia merasa lapar sampai begini.


Fian kembali fokus pada ponselnya. Dia melihat ada pesan masuk.Tapi bukan dari Arin. Melainkan dari Nando. Ya dia sama Nando sudah tidak bertemu sekian empat hari. Fian membuka pesan dari Nando.


Nando :Fian.. lo dimana


Fian berpikir apakah dia harus jujur sama Nando apa yang terjadi sebenarnya. Dia tidak ingin Nando khawatir. Karena khawatirnya Nando akan melebihi seorang ibu. Dan Nando akan lebih bawel dari Arin. Entahlah kenapa dengan Nando yang begitu posesif padanya dan pada Arin. Tidak ingin membuat Nando semakin penasaran, Fian berencana jujur pada Nando tentang yang terjadi sebenarnya.


Fian: Gue di rumah sakit.


Tak lama terdengar ponsel Fian berbunyi. Ternyata balasan dari Nando.


Nando :Ada apa di rumah sakit. Bukannya Arin sudah pulang. Atau jangan-jangan lo iri sama Arin ya.


Fian tersenyum. Ternyata Nando tidak tau apa yang terjadi padanya. Padahal kemarin sore Toni cerita kalau semalam dia ketemu Nando. Jadi Toni tidak cerita pada Nando.


Nando: Memangnya lo bisa sakit .


Fian: Gue masih manusia ya.wajarlah kalau gue sakit!!!


Nando: Wkwkwk.. ga usah pakai gas dong. Gue becanda. Lo sakit apa?


Fian : Gue cuma mriang. Cuma Demam kayaknya.


Nando.: Ok .. Nanti sepulang kuliah gue mampir.


Fian : Jangan lupa bawa parsel ya.


Nando: Enak aja. Ogah gue. Berat di kantong.


Fian : Sadis sama teman sendiri begitu ya.


Nando: Harus begitu.Mau bagaimana lagi.


Fian: Gue laper. Bang Andra belum kembali dari beli sarapan. Jatah dari rumah sakit belum datang.


Nando: Kasian amat ya hidup lo wkwkwk.


Fian: Dasar teman ga punya hati.


Nando: Wkwkwkw. Udah ya gue mau berangkat kuliah dulu. Bye.


Fian cemberut. Andra tidak datang- datang. Dia kesepian dan juga lapar. Tak lama kemudian terdengar suara pintu di ketuk.


"Permisi."


"Ya mas ."


"Jatah sarapan bang. Saya taruh meja ya."


"Iya mas. Terima kasih."


Ternyata yang datang petugas yang mengantar makanan. Kebetulan sekali yang di tunggu telah tiba. Fian langsung mengambil nampan yang berisi menu sarapan. Dia langsung melahab isi piring dengan cepat. Dia seperti orang kelaparan. Tidak butuh waktu lama, ludes itu isi piring.

__ADS_1


"Kenyang. Jam berapa sih kok bang Andra belum kembali. Sudah hampir dua jam dia pergi."


Fian melihat ponselnya ternyata sudah jam setengah delapan.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam. Lama amat sih bang. Belinya di mana. Keburu lapar. untung jatah sarapan sudah datang."


"Uluh-uluh adik gue kelaparan. Ini tadi sekalian pulang mengambil barang kamu. Pakai dulu sana. Nanti terbang rugi kamu."


"Oh .. gue kira abang pergi beli sarapannya ke Yogya. sini langsung gue pakai aja."


Fian mengambil kantong dari Andra. Kemudian dia ke kamar mandi. Terasa nyaman sekarang. Dan aman juga tentunya. Fian tersenyum. Abangnya memang yang paling baik dan pengertian.


"Udah lega sekarang. Ini pesenan makanan punya lo."


"Taruh aja di meja. Buat nanti. Sekarang gue sudah kenyang."


"Permisi.. Waktunya kunjungan dokter ya. Bagaimana keadaan pasien."


Tiba-tiba terdengar suara orang berbicara. Ternyata dokter yang bertugas mengunjungi pasien.


"Lhoo.. ini Fian kan. Kamu kenapa?" Ternyata dokter yang bertugas adalah Bara.


"Sakitlah dok, kan ini di rumah sakit."


"Hehehe.. iya tau. Sakit apa kamu. Kemarin kita bertemu kamu masih baik-baik saja."


"Ya namanya sakit dok, tidak dapat diprediksi." jawab Fian lagi. Dia malu kalau harus jujur apa yang sebaiknya dia alami.


"Maaf hasil lab sudah keluar silahkan di ambil dahulu jadi saya bisa diagnosa pasien."


"Baik dok."


Kali ini Andra yang menjawab. Dia langsung keluar ruangan menuju laboratorium di rumah sakit itu. Dia yakin adiknya sehat dan tidak mengidap penyakit apapun. Dia yakin kalau fian hanya demam biasa.


"Apa yang kamu rasakan Fian.Yang sakit sebelah mana." Bara memeriksa kondisi badan Fian. Dia mulai mengukur suhu tubuh dan detak jantung. Dia merasa Fian baik-baik saja.


"Cuma demam saja kemarin dok, mungkin karena semalaman tidak tidur dan langsung mandi, menjadi penyebab saya sakit. Bisa jadi cuma masuk angin kan."


"Baguslah. Semua normal. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Tinggal menunggu hasil lab. Semoga tidak ditemukan sesuatu mengkhawatirkan."


"Semoga ya dok. Maaf mau nanya boleh ya dok."


"Silahkan Fian. Selama saya bisa menjawab akan saya jawab."


"Keadaan Arin bagaimana dokter. Secara kejiwaannya. Kalau secara fisik saya yakin tidak ada luka serius."


"Kamu tau sendiri Fian. Arin pintar menyembunyikan perasaannya. Semoga dia selalu baik-baik saja."


"Aamiin."


Andra masuk ditengah mereka sedang bercakap-cakap tentang Arin. Dia membawa sebuah amplop yang berisi laporan hasil lab dan menyerahkan amplop itu kepada Bara.


"Ini dok hasil lab Fian."


Bara menerima dan segera membukanya. Dia membacanya sebentar dan tersenyum.


"Alhamdulillah Fian. Kamu sehat. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Semua hasil lab normal. Jadi karena kondisi kamu juga sudah membaik. Sore ini kamu sudah boleh pulang."


"Alhamdulillah." Ucap Fian dan Andra bersamaan. Tentu saja mereka senang. Fian dalam keadaan sehat.


"Kalau begitu saya permisi. Oh ya Fian. Jaga kesehatan kamu ya. Kamu adalah orang yang dibutuhkan Arin."


Ucap Bara sebelum keluar. Sebenarnya dia tidak yakin dengan ucapannya itu. Dia merasa hatinya sedikit sesak. Andra hanya terdiam. Sebentar lagi Fian pulang dan harus pergi jauh. Andra mengambil nafas panjang. Tidak sengaja tadi pas pulang mengambil ****** ***** Fian dia mendengar ucapan mama dan papanya.


Andra merasa sangat kasian sama adiknya tersebut nasibnya sungguh malang.


"Kenapa bang kok diam saja. Ada sesuatu kah yang abang sembunyikan dari gue?"


"Tidak ada. Alhamdulillah kamu sudah sehat dan tidak ada penyakit yang berbahaya di tubuh kamu."


Andra terdiam lagi. Dia kasian melihat Fian. Kisah cintanya tidak berjalan sesuai yang diinginkan. Entah ada apa dengan orang tua mereka. Dan entah apa rencana mereka terhadap Fian.


Yang Andra harapkan semoga Fian selalu diberi kekuatan untuk menghadapi semuanya. Semoga Fian selalu bisa menghadapi semuanya dengan hati yang lapang.


Apa ya kira-kira rencana papa dan mama Fian. Semoga semua bisa menerima takdir yang harus mereka jalani.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like dan komen Terima kasih ❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2