
Senyum pagi yang sangat indah
Arin melihat seorang gadis kecil duduk di kursi roda sama seperti dirinya. Anak itu terlihat sedikit pucat. Arin terus memandanginya. Wajah gadis cilik itu sangat cantik. Arin tidak bosan-bosannya memandangi nya. Dan gadis kecil itu menoleh. Seperti tahu kalau ada yang memperhatikannya. Dia tersenyum. Bibirnya yang terlihat pucat itu tersenyum sangat manis. Arin mengayuh kursi rodanya mendekati gadis itu.
"Biar saya bantu." Bara membantu Arin mendorong kursinya karena dia melihat Arin meringis menahan sakit Saat akan menggerakkan tangannya. Arin mengangguk tersenyum dan mengangguk.
Bara mendorong kursi Arin mendekati gadis kecil itu. Bara menyapa gadis cilik itu. Dia memang mengenal nya. Dia salah satu pasiennya.
"Selamat pagi Tia sayang, Bagaimana kabar kamu hari ini? Jangan lupa untuk selalu tersenyum."
"Alhamdulillah pak Dokter baik, Tia seneng ketemu pak dokter di sini." Jawab gadis kecil itu dengan sambil tersenyum malu.
"Bagus. Jangan lupa untuk selalu tersenyum ya Tia."
"Iya pak dokter." jawab Tia lagi.
"Pak Dokter ke sana dulu ya. Tia ngobrol sama kakak Arin."
Tia mengangguk.
"Makasih pa Dokter." Ucap Arin. Bara mengangguk.
Bara meninggalkan mereka berdua. Bara ingin melihat bagaimana interaksi Arin dengan anak kecil.
Gadis kecil itu memandang Arin dengan malu-malu.
"Hai, Aku Arin. Kamu siapa. Boleh kakak berkenalan?" Arin menyapa gadis kecil itu dengan ramah.
"Aku Tia." Jawab Tia dengan malu- malu.
"Salam kenal. Kamu sendirian.?"
"Salam kenal juga kakak. Tadi kesini diantar sama suster."
" Susternya ke mana dan Mamanya juga mana?"
Gadis kecil itu diam saja. Dia menundukkan wajahnya. Dia terlihat sedih. Arin melihat itu. Dia merasa bersalah bertanya yang membuat bocah kecil itu menjadi sedih.
"Oh maaf, apa mau bermain dengan kakak?"
Gadis kecil itu masih diam. Dia mengangkat wajahnya memandang Arin. Dan kemudian mengangguk. Arin merasa lega.
"Lihat bunga itu sangat indah, Warnanya merah, ada kupu-kupu hinggap. Cantik ya kupu-kupu itu. Sama seperti Tia yang juga cantik." Memang sangat kebetulan di taman itu banyak kupu-kupu beterbangan.
Tia memandang ke arah yang ditunjuk Arin. Dia ia tersenyum. Memang ada kupu- kupu berwarna warni sedang hinggap pada bunga sepatu. Di taman itu ditanami berbagai macam bunga. Dan saat ini banyak yang sedang mekar. Sangat indah, sedap dipandang mata. Taman yang lumayan luas itu menjadi tempat para pasien untuk sekedar menghirup udara segar sambil melihat bunga- bunga yang bermekaran, pasti akan membuat yang melihat merasa senang. Dan bisa menjadi terapi alami buat kesehatan pasien. Termasuk Arin dan juga Tia.
"Iya, kupu-kupunya sangat cantik. Seperti kakak yang juga cantik." Tia menjawab dengan malu-malu. "Kakak cantik sakit apa? Kok sama kaya Tia duduk di kursi roda." Ucap Tia lagi. Tia sudah mulai berani melihat ke arah Arin.
"Perut kakak yang sakit. Sebenarnya bisa berjalan tapi kata pak dokter tidak boleh banyak gerak dulu biar cepet sembuh." Arin diam sebentar. "Kalo Tia kenapa pakai kursi roda juga."
"Sama seperti kakak. Kata Pak Dokter baik .Tia juga tidak boleh capek. Biar Tia tidak merasa sakit."
"Hm. Kenapa Tia manggil pak dokter dengan sebutan dokter baik ." Tanya Arin penasaran.
"Karena pak Dokter memang baik. Pak dokter selalu membacakan dongeng dan memberi Tia coklat."
"Oh begitu."
Arin memandang Bara. Dia memang dokter yang baik. Dia juga membelikannya coklat dan es cream. Juga makanan lain. Apakah baik itu selalu identik dengan memberikan sesuatu ya. Arin tersenyum.
"Hayo kakak kenapa senyum-senyum sendiri. Kakak suka sama pak dokter ya. Tia juga suka Karena pa Dokter sangat baik.
"Hahaha... Iya benar Tia. Pak dokter memang sangat baik." Arin tertawa mendengar pernyataan Tia. Anak kecil yang sangat polos. Tapi memang benar kata Tia. Siapa yang tidak suka sama orang yang baik. Pasti semua orang akan suka kecuali orang yang iri hati.
" Kakak selalu ingat apa yang diucapkan pak dokter. Kan pak dokter selalu bilang, tersenyumlah maka akan segera bisa pulang. Begitu Tia." Tambah Arin lagi dengan masih tertawa.
"Kok sama ya kak. Pak dokter selalu bilang begitu juga sama Tia."
Arin jadi mengerti. Ternyata itu memang metode Bara untuk memberi semangat pada semua pasiennya. Tapi memang sangat efektif. Arin juga merasa menjadi bersemangat dengan semua ucapan Bara.
Tia dan Arin menjadi cepat akrab. Mereka berbincang sambil tersenyum dan tertawa. Seakan lupa kalau mereka sedang sakit. Tia sebenarnya anak yang ceria. Terbukti dia gampang banget tertawa. Sangat lucu dan manis. Banyak hal yang mereka obrolkan. Walaupun mereka berbeda usia, namun mereka bisa saling mengimbangi. Arin bisa mencari topik pembicaraan yang pas buat Tia. Sehingga membuat Tia merasa nyaman.
Dari kejauhan Bara memperhatikan interaksi antara Tia dan Arin. Bara tersenyum. Bara merasa mereka berdua sangat cocok. Seperti sudah saling kenal sejak lama. Padahal biasanya Tia susah bergaul dengan orang lain. Bara tau tentang Tia karena ayah Tia yang bercerita. Juga suster Tia suka bercerita.
Tiba-tiba datang seorang suster mendekati Tia dan Arin.
__ADS_1
"Tia lagi bicara sama siapa."
"Ini sus, sama kakak cantik." Jawab Tia.
"Hai sus, aku Arin. salam kenal." ucap Arin memperkenalkan diri.
"Hai juga kak Arin. Aku Ayu. susternya Tia.Terima kasih sudah menemani Tia. Tadi saya ke toilet sebentar."
"Tidak perlu berterima kasih, saya senang bisa berkenalan dan berbincang dengan Tia yang cantik." jawab Arin . Dia mencolek pipi tirus Tia.
"Tia juga senang bertemu dengan kakak cantik. Kakak cantik mau kan berteman dengan Tia?" Ucap Tia dengan tatapan memohon.
"Tentu Tia sayang. Tentu kita sekarang berteman. Arin mengacungkan kelingkingnya dan Tia menanggapinya. Mereka berdua salin menautkan kelingking.
"Ayo Tia kita kembali ke kamar. Sudah saatnya Tia sarapan. Nanti papa Tia mencari Tia. Pamit dulu sama kakak Arin." Ajak Ayu. waktu memang sudah menunjukkan pukul tujuh tiga puluh saatnya sarapan dan minum obat. Dan juga sebentar lagi jadwal dokter berkeliling di kamar pasien.
"Kakak Tia pamit dulu ya. Nanti kita bisa bertemu kembali kan."
"Tentu Tia. Kapan- kapan kita bisa ketemu lagi. Dah Tia. Jangan lupa tersenyum. Dah Tia sayang." Arin melambaikan tangan ke arah Tia.
"Dah kakak cantik." Tia juga melambaikan tangan.
Setelah Tia pergi, Bara mendekat Arin.
"Sudah berbincang nya. Ayo kita kembali. Hari sudah siang. Sudah saatnya kamu sarapan."
Arin mengangguk. Bara membantu mendorong kursi roda Arin, kembali ke kamar. Saat sarapan dan minum obat sudah tiba.
"Pak Dokter boleh tanya. Tia sakit apa?" Tanya Arin ditengah perjalanan menuju kamar.
"Tia terkena leukemia.. Kasian dia. Mamanya sudah meninggal dua tahun lalu. Sekarang dia hanya tinggal berdua dengan papanya."
Arin tertegun. Anak sekecil itu sudah harus menderita penyakit seperti itu. Mana sudah tidak punya mama lagi.
"Pak Dokter boleh tidak kalau saya main ke kamar Tia."
"Tentu saja boleh. Tapi dengan satu syarat kamu juga harus sehat terlebih dahulu."
"Iya pasti. Saya akan segera sembuh. Kan cuma luka kecil ini. Pasti tidak lama lagi akan sembuh."
"Hahaha.. baguslah.Kalau begitu besok kamu boleh pulang."
"Ok, nanti saya bicarakan dulu dengan Dokter Bram. Semoga dia memberi ijin."
Mereka berdua terus saja berbincang sambil terus berjalan menuju ruangan Arin. Tidak terasa telah tiba di depan ruangan.
"Bunda." Arin memanggil bunda. Dia tidak melihat bunda di dalam kamar. "Bunda di mana ya. Pak dokter tau ga."
"Bagaimana saya tahu. Kan kita masuk bersamaan."
"Iya juga. hehehe.." Arin tertawa.
Terdengar bunyi gemericik air dari dalam kamar mandi. Ternyata bunda sedang mandi.
"Mau berbaring atau tetep di kursi roda."
"Disini saja Dokter. Mau bersih-bersih badan dulu. Bukannya sudah seminggu saya tidak mandi."
"Pantas dari tadi tercium bau yang tidak sedap. Ternyata bersumber dari kamu ya." Bara menutup hidungnya.
"Ikh, pak Dokter bohong. Masih bau wangi juga." Arin menciumi tubuhnya sendiri. Dia jadi merasa tidak percaya diri.
"Hahaha. Mandi sono. Tapi hati-hati dengan lukanya. Kalau bisa ditutup dengan plastik agar tidak terkena air."
Terdengar pintu kamar mandi terbuka. Bunda keluar dengan wajah yang segar sehabis mandi.
"Bunda Arin mau mandi dan sehabis itu makan. Arin lapar." ucap Arin seperti anak kecil. Bara tertawa.
"Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu. Saya harus bertugas memeriksa pasien saya.Mari bunda. Arin ingat makan yang banyak biar cepat sembuh."
"Siap Dok." jawab Arin sambil mengangkat tangannya memberi hormat. Bara dan bunda tertawa.
Cuaca sangat cerah.Matahari sudah memancarkan sinarnya dengan terik. Padahal baru pukul delapan. Mungkin karena tidak ada sedikitpun awan mendung tampak. Langit sangat biru terlihat.
Hari ini memang sangat cerah seperti hati Bara. Bara yang selalu tersenyum. Bara yang selalu membuat para pasiennya termotivasi untuk segera sembuh. Bara selalu bisa memberi kata-kata semangat untuk para pasien. Tidak tua ataupun muda dan juga anak-anak.
__ADS_1
Bara sudah mengembalikan Arin ke kamarnya. Terapi hari ini sudah dia lakukan. Hari ini Bara melihat Arin menunjukkan kemajuan yang pesat. Ternyata kata-kata yang selama ini dia ucapkan sangat efektif buat penyemangat pasien. Bara juga sengaja mempertemukan Arin dengan Tia. Agar Arin merasa punya teman dan merasa bahwa bukan hanya dia yang menderita. Diluar sana masih banyak orang yang lebih susah dan lebih punya masalah. Maka bersyukurlah kita masih dikelilingi orang-orang yang menyayangi kita.
Ya, Tia gadis kecil yang sakit leukemia. Yang tidak punya ibu. Yang menunggu hanya susternya . Sedangkan papanya sibuk bekerja. Hanya datang di sore hari sepulang bekerja. Bara kasian melihat nasibnya. Bocah sekecil itu harus menderita penyakit yang obatnya masih terbilang susah. Dia hanya selalu memberikan motivasi pada Tia setiap hari agar punya semangat buat sembuh. Dan dengan mengenalkan kepada Arin dengan tujuan agar Tia merasa juga punya teman.
Bara sudah kembali ke ruangannya. Ini hari senin. Sebenarnya dia libur. Tapi karena sudah terlanjur ada di rumah sakit, Akhirnya dia bertukar jam kerja dengan rekan dokter. Karena kebetulan rekannya ada keperluan keluarga yang tidak bisa ditinggalkan. Jadi waktu Bara tidak terbuang percuma. Bisa bekerja dan juga bisa bertemu dengan Arin.
🌸🌸🌸
"Tia makan ya. Suster suapin."
"Suster, Tia pengen disuapin Papa"
"Iya nanti. Papa Tia kan lagi kerja. Nanti di suapin papanya pas makan malam. Saat papa sudah pulang. Sekarang sama suster dulu. Tia tidak ingat pesan Pak Dokter baik. Tia harus makan yang banyak biar cepat sembuh dan bisa bermain lagi."
" Tia ingat sus, baiklah , Sekarang Tia mau makan."
"Tia memang pintar. Sekarang di habiskan makanannya Nanti kalau papa pulang , pasti papa senang. Karena sekarang Tia sudah menjadi anak yang pintar."
"Tapi sehabis makan Tia mau ketemu kakak cantik lagi. Boleh ya?"
"Iya tentu boleh. Kalau udah habis makannya dan juga pintar minum obatnya. Nanti kakak cantik pasti kesini." Sang suster terus membujuk Tia untuk makan . Ayu kasian melihat Tia. Gadis sekecil itu sudah banyak sekali cobaannya.
Untunglah Tia mau makan. Setelah dijanjikan untuk bertemu Arin lagi.
Tiba-tiba pintu kamar Tia terbuka. Bara dan satu orang perawat masuk ke kamar Tia.
"Selamat pagi Tia, selamat pagi Ayu, Bagaimana kabar Tia hari ini?"
"Selamat pagi Dokter baik." Jawab Tia dengan wajah gembira.
"Tia sudah makan? Bagaimana makannya habis tidak?" Tanya bara sambil memeriksa Tia.
"Habis Pak Dokter baik." Jawab Tia lagi. Tia selalu bersemangat kalau ketemu Bara.
"Bagus, anak pintar. Bagaimana dengan obatnya . Apa sudah diminum?" Tanya Bara dengan penuh perhatian.
"Sudah pak dokter? Tia sekarang sudah pintar makan dan minum obatnya. Apa boleh Tia bertemu dengan kakak cantik lagi "
"Kakak cantik siapa Tia?"
" Itu kakak yang tadi. Kakak Arin. Tia manggilnya kakak cantik." Ayu menjelaskan kepada Bara.
"Oh, Baiklah. tentu boleh. Tapi sekarang Tia istirahat dulu. kan Tia habis dari luar. Jadi tidak boleh capek-capek dulu. Kakak cantiknya juga sedang Istirahat." Jawab Bara. Dia tersenyum mendengar Tia memanggil Arin dengan sebutan kakak cantik. Tapi Arin memang cantik.
"Pak dokter pergi dulu ya sayang. Harus nurut apa kata suster. Nanti kalau pak dokter sudah selesai kerjaannya. Pasti ke sini kita baca dongeng lagi. Bagaimana setuju kan?"
"Hore baca dongeng lagi. Pak dokter baik, Tidak seperti papa. Papa kerja terus. Tidak mau nemenin aku. Terima kasih pak Dokter."
"Papa bukan tidak baik Tia, tapi papa Tia memang sibuk. Nanti sepulang kerja pasti nemenin Tia." Bara mengelus kepala Tia. Dia merasa kasian melihat nasib Tia. Untung saja Tia punya suster yang baik dan sabar.
Bara ingat Tia datang ke rumah sakit ini lima hari yang lalu. Dia datang dalam keadaan pingsan dan hidung mimisan. Kata susternya Tia tiba-tiba pingsan tanpa sebab. Sang suster panik dan langsung membawa Tia ke rumah sakit ini. Setelah di periksa secara menyeluruh, ternyata Tia terkena leukemia stadium awal. Untung bisa langsung ketauan sehingga bisa langsung bisa diusahakan obatnya. Walaupun tidak bisa sembuh total paling tidak masih banyak waktu untuk terus berusaha semaksimal mungkin mencegah penyakit semakin parah.
Bara mulai akrab dengan Tia tiga hari yang lalu. Sebenarnya Tia bukan pasiennya, saat itu sore hari saat dia dari kantin dia melihat seorang anak menangis mencari Papanya. Karena Bara merasa kasian, Bara mendekat berusaha membantu menenangkan. Dan ternyata cara Bara berhasil. Sejak saat itu mereka akrab. Jika Bara tidak ada pekerjaan dia akan mendatangi kamar Tia untuk sekedar menemani Tia dengan membacakan dongeng. Dan Tia mulai tergantung sama Bara. Dia selalu merengek minta bertemu Bara. Papanya jadi merasa tidak enak sama Bara karena pasti mengganggu pekerjaan Bara.
Mungkin dunia ini terlalu sempit. Ternyata papa Tia adalah teman kuliah Bara. Mereka sama-sama dokter namun papa Tia masih dokter umum belum sempat mengambil spesialisasi karena keburu menikah. Mama Tia meninggal dua tahun lalu karena serangan jantung.
Bara kasihan melihat nasib Tia masih kecil sudah penyakitan mana tidak punya ibu. Tapi bukan karena itu juga dia dekat dengan Tia. Karena Tia anak yang cerdas dan juga lucu. Bara langsung suka pada pandangan pertama.
"Dokter permisi dulu ya, Dokter harus bekerja kembali. Pokoknya setelah selesai semua tugas dokter, nanti dokter membawa Tia ke kamar kakak cantik. Kalau tidak membawa kakak cantik ke kamar Tia.Bagaimana setuju kan?"
"Hore setuju, Terima kasih pak dokter baik."
Tia bersorak gembira. Dia selalu senang bila bertemu dengan Bara.
"Dah.. dah.. Tia. Jangan lupa tersenyum." Bara melambaikan tangan.
Bara meninggalkan ruangan Tia. Ini Baru jam sembilan tugas dia masih banyak. Mungkin jam sebelas baru selesai. Untung semalam dia bisa tidur nyenyak sehingga pagi ini dia merasa segar. Apalagi pagi-pagi sudah mendapatkan vitamin. Tambah semangat.
Bara tersenyum sendiri. Mengingat kejadian tadi pagi. Bara tidak sadar kalau dia sedang berjalan di koridor. Orang yang berpapasan dengannya ikut tersenyum. Senyum Bara menular ke mana-mana. Tapi tentu saja berbeda penyebabnya.
Tetaplah tersenyum, walau apapun yang terjadi dengan dirimu. Tunjukkan bahagiamu karena itu akan menjadi semangat buat dirimu sendiri. Lupakan sedihmu dan teruslah tersenyum.
Teteplah semangat dalam menjalani hidup.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like dan komen
Terima kasih❤️❤️❤️❤️❤️