Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 26


__ADS_3

Bangunlah Arin


"Papa tau Arin di rawat di rumah sakit mana? Dan kamar berapa?" Mama Omed sudah siap mau berangkat menjenguk Arin. Sudah dengan oleh- oleh spesial yang dia siapkan tadi siang. Dan tentu sudah berdandan sangat cantik.


"Tidak Ma, Papa tidak tau, Papa kira Mama tau dimana Arin di rawat. Kenapa kemarin tidak bertanya pada Rama."


"Papa bagaimana si, boro-boro bertanya. Mama sudah ketakutan melihat Rama emosi mau memukul anak kita. "


"Terus bagaimana, Kita bertanya sama siapa?" Mereka berdua kebingungan. Padahal semuanya sudah siap. Tinggal berangkat. Malah tempat tujuannya tidak tahu.


"Coba Mama bertanya sama Fian. Pasti Fian tau mereka kan berteman."


"Fian siapa Pa ?" Mama lupa siapa Fian. Sebenarnya sering bertemu, mungkin karena dalam kondisi panik,menjadi lupa. Padahal Fian anak dari sahabatnya sendiri.


"Astaga Mama, Fian anaknya Pak Sutejo yang perwira itu. Yang rumahnya di RW lima belas."


"Ya Allah, sampai lupa. Iya Mama ingat. Tapi Mama kan ga punya nomer telpon Fian, Pa."


"Tanya sama mamanya Fian dong Ma. Kan Mama kenal. Bukankah dia temen Mama. Jangan bilang tidak punya. Lama-lama Papa ***** ni." Papa terlihat sangat gemas sama mama.


"Apa si Pa, main ***** nya nanti malam Hehehe.." Mama mengedipkan mata ke Papa. Dia malah menggoda papa.


"Haduh Mama , cepet keburu magrib . Punya kan nomer telpon mamanya Fian." Papa semakin tidak sabar melihat tingkah mama. Waktu terus berjalan. Senja akan segera tiba. Mama malah mengajak Papa bercanda.


" Iya ada Pa. Ya udah Mama menelpon mama Fian dulu." Mama mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Dia mencari nomer telpon dan ketemu. Mama mulai menelpon Mama Fian. Terdengar nada panggilan dan di angkat ternyata tersambung.


Mama Omed : "Assalamu'alaikum, Halo jeng"


Mama Fian:" Wa'alaikumsalam , iya jeng . Ada apa? Baru tadi kita ketemu. Apa ada yang penting."


Mama Omed: "Maaf jeng , mau nanya apa Fian ada?"


Mama Fian : "Fian belum pulang. Ada apa tumben tanya tentang Fian?"


Mama Omed: "Mau nanya, Apa Fian tau ruang rawat Arin , anaknya Pak Yanto?"


Mama Fian:"Anak itu di rawat? Kenapa lagi dia? " Mama Omed: "Sakit jeng, Minta tolong dengan sangat jeng. Tolong tanyakan pada Fian. Ini penting sekali."


Mama Fian:"Sejak kapan anak itu jadi penting buat jeng Mia?"


Mama Omed:"Maaf jeng, tidak bisa cerita. Tapi ini penting sekali buat kami."


Mama Fian: "Maaf sepenting apapun kalau tentang dia, Saya tidak peduli. Silahkan bertanya sama orang lain. Maaf jeng saya tutup telponnya. Assalamu'alaikum."


Mama Omed:"Wa'alaikumsalam. Sudah ditutup beneran."


"Apanya yang ditutup? Bagaimana? Mama sudah tahu kan Dimana rumah sakitnya? Kamar apa nomer berapa?" Papa langsung bertanya setelah telpon ditutup.


"Belum Pa, telponnya langsung ditutup saat Mama bilang tentang Arin. Ada apa ya Pa. Sepertinya Mama Fian tidak suka sama keluarga Arin. Memang ada masalah apa ya?" Mama Omed kebingungan saat tahu sikap Mama Fian yang langsung menutup telponnya.


"Terus kita bagaimana, kita tidak jadi menjenguk Arin, Ma?" Papa sudah tidak bersemangat lagi.


"Terus anak kita bagaimana nasibnya? Omed malang benar nasibmu. Kita mencari informasi ke mana lagi Pa. Ayo dong Pa." Mama berjalan mondar-mandir .Dia bingung harus bagaimana, satu-satunya orang yang kemungkinan tahu, malah tidak mau memberitahu.


"Ya sudah,kita kerumahnya saja. Siapa tahu kali ini kita beruntung." Ucap Papa akhirnya.

__ADS_1


"Ya udahlah, Ayo Pa. semoga kita bisa bertemu kali ini."


Papa dan Mama Omed akhirnya memutuskan pergi ke rumah Arin. Semoga kali ini Ayah masih di rumah. Belum menyusul bunda ke rumah sakit.


Di tengah perjalanan papa Omed melihat Fian berjalan berdua bersama Nando.Papa menghentikan mobilnya.


"Kenapa berhenti Pa.. ada apa? Ini masih jauh kan?"


"Itu bukannya Fian dan Nando ya Ma. Mama ingat wajah mereka kan?"


"Mana si Pa, Mama tidak melihat."


"Itu lho Ma yang ada di depan warung. Kelihatan kan? Benar itu Fian dan Nando kan?"


"Benar Pa , Ayo kita samperin. Cepet Pa , keburu pergi." Mama dengan cepat membuka pintu mobil. Dan keluar mendekati Fian dan Nando


"Fian dan Nando kan? Benarkan?"


"Benar tante. Maaf siapa ya. Tante mengenal kita?" Fian heran . Ada tante-tante mengenalnya. Apa dia setenar itu.


"Astaga, kamu lupa sama tante.Tapi benar,sudah lama kita tidak pernah bertemu. Kalo pas tante main ke rumah, pasti kamu tidak ada di rumah."


"Siapa si Fian? Gue kok merinding." Nando berbisik pada Fian.


"Ga tau juga. Gue juga ga kenal." Saut Fian pelan juga.


"Kalian berdua,tidak kenal sama saya? Ini saya Tante Mia sahabat mama Kamu Fian. Tante ini Mamanya Omed. Kalian kenal Omed kan?"


Fian dan Nando saling pandang. Tiba-tiba perasaan mereka menjadi tidak nyaman. Ada rasa ingin marah . Tapi kan orang tuanya tidak ikut mencelakai Arin.


"Oh, Tante Mia, ada apa Tan?" Fian bertanya , nada suaranya terdengar agak sinis.


"Tidak ada apa-apa Tante. Maaf sebelumnya, Tante ada perlu apa menemui kita." Fian jadi merasa tidak enak dengan sikapnya. Tidak seharusnya dia bersikap sinis kepada Mama Omed.


"Begini, kamu kenal Arin kan, anaknya pak Yanto." Akhirnya mama omed mengatakan tujuannya menemui Fian dan Nando.


"Iya kenal . Ada apa Tante mencari Arin." Fian semakin merasa curiga dengan maksud Mama Omed.


"Tante mau tanya, Arin katanya sakit. Dia dirawat di mana? Tante mau menjenguk."


"Di rumah sakit Sari Asih kamar delapan. Tante mau ke sana sekarang. Kalau begitu bareng kita saja. Kita juga mau ke sana." Nando yang menjawab karena dia melihat Fian yang menunjukkan sikap tidak suka kepada Mama Omed. Alasannya tentu karena dia Mamanya orang yang telah melukai Arin.


" Baiklah Tante ikuti motor kalian dari belakang. Tante sama Om, itu di dalam mobil." Mama Omed menunjuk ke arah mobil. Fian dan Nando melihat ke arah mobil yang ditunjukkan. Papa Omed yang merasa mereka berdua melihat ke arahnya hanya menganggukkan kepala.


Akhirnya mereka berangkat menuju rumah sakit. Mama Omed merasa senang karena akhirnya bisa menjenguk Arin.


🌸🌸🌸


Sore itu semua keluarga Arin berkumpul di rumah sakit. Ada Ayah ,Nia dan Rama juga. Karena Dokter akan memberikan informasi tentang kesehatan Arin . Makanya hari ini mereka berkumpul di ruang Arin.Ayah dan Rama sudah datang tadi jam empat. Sedangkan Nia baru saja datang. Nia langsung ke rumah sakit sepulang kerja.


"Bun, memangnya Pak Dokter mau memberi informasi tentang apa? Ayah merasa takut ada apa-apa dengan kesehatan Arin." Ayah benar- benar merasa takut dengan keadaan Arin. Dia merasa menjadi ayah yang tak berguna, karena tidak bisa melindungi anaknya.


"Bunda tidak tahu Yah, semoga ini informasi yang bagus untuk perkembangan kesehatan Arin." Bunda memang tidak tahu. Tadi bara cuma bilang, agar seluruh keluarga berkumpul. Karena ada sesuatu yang akan disampaikan.


"Assalamu'alaikum." Bara dan Bram memasuki ruangan Arin.Dilihatnya seluruh keluarga berkumpul.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam, Eh pak Dokter."


"Bagaimanapun Arin , apakah masih mengigau lagi." Bara mendekati tempat tidur pasien. Dia memeriksa Arin.


"Tidak Dok, terakhir tadi siang." Jawab bunda


"Semua normal. tekanan darah, suhu tubuh juga normal." Bara menjelaskan hasil pemeriksaannya.


"Alhamdulillah ,tapi kenapa kakak belum sadar juga Dok?" Rama bertanya,dia ingin mengetahui kepastian keadaan kakaknya.


"Sebentar Rama, nanti kita jelaskan semuanya secara terperinci." jawab Bara


"Keluarga sudah berkumpul semua. Baiklah akan kita jelaskan keadaan Arin yang sebenarnya." Bram mengambil nafas panjang, dan melanjutkan ucapannya.


"Begini, secara keseluruhan kesehatan Arin tidak ada masalah. Kemungkinan keadaan mental Arin yang terganggu. Arin seperti nyaman dalam tidur panjangnya. Mungkin di dunia mimpinya dia menemukan kebahagiaan yang dia cari selama ini." Bram berhenti sebentar. Tiba-tiba pintu dibuka dari luar dan terdengar suara orang.


" Apa Dok? Ulangi Dok saya pengen mendengar" Fian tahu-tahu sudah masuk ke dalam ruangan.


" Assalamu'alaikum, maaf kami mengganggu."


Semua orang terkejut dengan tamu yang datang.


" Maaf ,siapa y?" Bara bertanya kepada para tamu.


"Bapak Santoso, ada apa kalian kemari?" Ayah terkejut mengetahui siapa yang berkunjung. Ternyata yang datang adalah Papa dan Mama Omed serta Fian dan Nando.


"Maaf kami menyela, kami mau menjenguk Arin. Ini sedikit bingkisan dari kami." Mama Omed berkata sambil menyerahkan bingkisan yang dibawanya kepada bunda


"Terima kasih jeng." Bunda menerimanya dan meletakkannya di meja


"Maaf Dokter, apa kita boleh ikut mendengarkan penjelasan Dokter tentang Arin?" Papa Omed bertanya karena dia bukan termasuk keluarga pasien.


"Maaf kalau boleh tahu anda siapanya pasien." Bram ingin tau siapa mereka.


"Maaf kami orang tua dari pelaku perampokan pada Arin." semua orang terdiam. Tak ada yang berkata-kata mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Bagaimana keluarga, apakah mengijinkan mereka ikut mendengarkan?" Bram bertanya sambil memandang Ayah dan bunda. Tapi ayah dan bunda cuma saling pandang.


"Terserah bagaimana baiknya Dok."Akhirnya ayah yang menjawab.


"Baiklah, menurut kami boleh ikut mendengarkan . Siapa tahu bisa membantu kesadaran Arin." Bram memperhatikan satu-persatu orang-orang yang ada di ruangan Arin. Tiba-tiba terdengar suara Arin.


"Tidak.. tidak mau Ayah . Fian jangan pergi. Fian tunggu gue...hiks.hiks."


Semua orang menoleh ke arah tempat tidur. Fian langsung mendekati Arin.Dia pegang jemarinya.


"Arin, ini gue. Gue Fian. Gue tidak akan pernah ninggalin lo. Gue akan selalu ada di samping lo. Menemani lo. Jangan takut ya." Ucap Fian dengan sepenuh hati.


Semua orang yang berada di ruangan menitikkan ari mata . Sedih melihat keadaan Arin yang terus tertidur dalam kegelisahan.


Mama Omed mendekati bunda."Maafkan kami. Ini salah anak kami. Kami akan bertanggung jawab atas kesembuhan Arin." Mama Omed memeluk bunda. Mereka berdua terisak bersamaan.


"Kami tidak pernah menyalahkan Nak Omed ,jeng. Ini semua adalah takdir Arin." Jawab bunda membalas pelukan mama Omed.


Semua orang terdiam. Termasuk Bara dan Bram. Mereka berusaha menahan kesedihan yang mereka rasakan.

__ADS_1


" Cepet bangun Arin, kami semua menyayangimu." Ucap mereka semua dalam hati. Sambil menghapus air mata masing-masing.


Bangunlah Arin..Pembaca juga menunggu mu..😘😘😘


__ADS_2