
Hari telah larut malam. Bara sudah siap untuk tidur. Dia sudah berbaring di tempat tidur. Bahkan lampu sudah dia matikan. Matanya sudah terpejam. Namun tiba-tiba terdengar suara notifikasi pesan masuk. Bara terlonjak. Dia terkejut. Matanya langsung terbuka kembali.
Bara lupa tidak mematikan volume notifikasi ponselnya. Biasanya kalau dia mau tidur, dia kecilkan dahulu. Supaya tidak terlalu nyaring dan mengganggu istirahat.
Bara mengambil ponselnya. Dia melihat siapa pengirim pesan tersebut. Ternyata pesan tersebut dari Arin. Bara membuka pesan tersebut.
Arin : Assalamu'alaikum.. Maaf mengganggu istirahat Aa. Arin cuma mau bilang maaf atas kejadian tadi sore. Tapi Arin serius dengan perkataan Arin yang tadi. Arin hanya berharap Aa bisa mengerti keadaan Arin. Tidak lebih. Sekali lagi Arin minta maaf karena Arin seperti memaksa.
Bara membaca ulang pesan tersebut. Dia bingung mau membalas dengan kalimat apa. Dia ragu bukan karena tidak sayang pada Arin. Namun justru karena dia sangat menyayangi Arin dan ingin melakukan yang terbaik buat Arin.
Bara teringat kejadian tadi sore. Waktu itu, saat dia pulang setelah makan bakso bareng Arin, Dia merasakan perasaan yang tidak nyaman. Kemudian dia berbalik arah. Dia menjalankan mobilnya ke arah jalan rumah Arin.
Namun di tengah jalan dia melihat motor Arin terparkir di pinggir jalan dekat dengan jembatan. Pikiran Bara sudah ke mana-mana. Dia sudah memikirkan hal yang tidak-tidak. Padahal dia yakin Arin tidak akan melakukan hal tersebut.
Bara menghentikan mobilnya di dekat motor Arin terparkir. Kemudian dia melihat ke sekeliling. Dia terkejut saat melihat Arin berdiri di jembatan. Posisinya yang seperti orang mau terjun ke bawah. Padahal di bawah air sungai mengalir dengan derasnya. Bara sangat panik. Dia segera berlari. Dia berteriak keras memanggil dan berusaha membujuk Arin.
"Arin.. Berhenti. Apa yang kamu lakukan. Turun!! Jangan seperti itu."
Bara melihat Arin tidak bereaksi sedikitpun. Arin malah merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Dia melepaskan pegangannya. Tentu saja Bara semakin panik.
"Arin.. jangan seperti ini. Apa yang mau kamu lakukan."
" Jangan mendekat Aa. Aa diam saja di situ."
Bara semakin ketakutan mendengar perkataan Arin. Dia benar-benar takut Arin berbuat nekat.
"Baik.. Saya diam. Tapi tolong turun. Itu sangat berbahaya. Kalau kamu jatuh bagaimana?"
"Tidak apa-apa Aa. Jatuh paling ke bawah. Lagian di bawah sana adalah air. Jatuh pasti tidak sakit. Dan pasti Arin bisa pergi jauh lewat aliran sungai."
"Arin please.. jangan kamu katakan yang tidak-tidak. Saya sangat menyayangi kamu."
Arin diam mendengar perkataan Bara. Pandaan mata Arin lurus menatap ke bawah. Dia melihat derasnya air di bawah sana.
Bara memandang Arin dengan sendu. Bingung dan sedih. Dia sangat berharap Arin tidak berbuat nekad. Dia sangat takut jika Arin benar- benar sampai melompat.
"Arin please. Sini saya tolong kamu turun ya. Kamu jangan seperti itu. Pegangan ya. Nanti jatuh."
Bara berjalan perlahan mendekati Arin.
"Cukup Aa. Berhenti. Saya akan turun jika Aa mau menikahi saya."
Bara terkejut tapi juga merasa senang. Karena memang itulah yang dia inginkan. Dia sangat mencintai Arin. Tentu saja dengan senang hati dia akan melakukan permintaan Arin.
"Baiklah.. Apapun keinginan kamu akan saya turuti. Sekarang turun dulu."
Arin terlihat berpikir. Dia masih memandang ke bawah.
"Saya maunya secepatnya."
"Ok.. baiklah. Kapan pun kamu mau saya siap."
Bara berkata dengan tegas. Dia hanya ingin Arin segera turun. Urusan permintaannya dia pikirkan nanti saja. Bukan dia tidak mau tapi dia juga masih kepikiran Fian.
Bara semakin mendekati Arin. Arin menoleh ke arah Bara. Ada senyum tersungging di bibir Arin. Sangat manis sekali. Bara ikut tersenyum. Mereka saling bertatapan. Namun hanya sebentar. Arin sudah memalingkan wajah.
Dengan perlahan Arin turun dari jembatan. Bara membantunya. Dia merengkuh pinggang Arin yang ramping. Sangat pas diperlukannya. Bara kembali tersenyum dia sangat bahagia bisa seperti ini.
Namun tiba-tiba.
"Plak."
"Haduh."
Bara mengaduh. Arin memukulnya. Arin memukul lengannya dengan cukup keras. Bara terkejut dan tentu saja merasa sakit.
"Jangan curi kesempatan. Enak saja."
Arin melengos. Dia melenggang mendekati motornya dan menyalakan mesinnya. Meninggalkan Bara dalam kebingungan.
"Terima kasih Aa. Aku mau pulang dulu. Terima kasih telah perhatian pada Arin. Aa pulang ya sudah magrib. Tidak baik ada di luar rumah."
Arin menjalankan motornya dengan cepat. Dia ingin cepat-cepat sampai di rumah.
__ADS_1
Bara melongo. Barusan apa yang terjadi sebenarnya. Arin terlihat biasa saja bahkan seperti tidak ada apa-apa. Pergi begitu saja.
Namun Bara masih merasa khawatir. Dia segera masuk ke dalam mobilnya dan menjalankannya mengikuti Arin. Walaupun dia tidak tahu Arin kearah mana. Bara menjalankan mobilnya ke arah rumah Arin.
Dan dia bernafas lega ketika melihat motor Arin terparkir di rumahnya.Dia bisa pulang dengan tenang. Karena Arin telah sampai di rumahnya dengan selamat.
Bara memutar arah. Dia kembali melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah. Dia merasa lega karena Arin terlihat baik-baik saja. Bara harus segera pulang karena magrib akan segera berakhir. Tapi dia memilih berhenti di sebuah masjid agar tidak tertinggal waktu Maghrib.
Setelah melaksanakan sholat maghrib, Bara pulang ke rumah. Dia langsung mandi dan berendam. Melemaskan pikirannya yang sempat tegang tadi. Arin yang berbuat tak masuk akal membuat pikirannya sakit.
Apalagi ditambah permintaannya. Bukan dia tidak sayang tapi banyak hal yang dia pertimbangkan. Pertama Arkhan mau menikah dua minggu lagi. Dan yang kedua tentang perasaan Arin yang sebenarnya.
Bara sangat mengerti perasaan Arin yang sebenarnya. Jika di paksakan, apakah nantinya tidak akan menimbulkan masalah. Bara ingin mengalah saja sebenarnya. Dia malah punya keinginan menyatukan Arin dengan Fian. Namun belum menemukan jalannya.
Saking banyaknya yang dipikirkan, Bara tertidur di bathtub. Untung saja tidak tenggelam. Bara terbangun ketika pintu kamarnya diketuk sang mama.
Bara buru-buru berbilas dan keluar kamar mandi. Ternyata mama sudah duduk di atas tempat tidur, menunggu dia selesai mandi.
"Ketiduran lagi pasti kan."
Bara mengangguk. Dia berjalan menuju lemari untuk mengambil baju ganti. Mama memalingkan muka. Walaupun darah dagingnya, dia tetap menghargai untuk tidak melihat langsung.
Setelah selesai berganti baju, Bara mendekati bunda. Memeluknya dengan manja.
"Kangen Ma."
"Hilih.. masa. Kan setiap hari kita bertemu."
"Tapi tetep kangen. Pengen disuapin seperti dulu."
"Sudah saatnya disuapin sama istri kamu. Mama sudah bebas tugas harusnya."
Mama mengelus lengan Bara dengan lembut. Kemudian mengacak rambut Bara yang basah.
"Belum dapat calon Ma."
"Kamu sibuk bekerja. Sekali-kali jalan-jalan sono. Cuci mata di mall siapa tahu ada jodohmu di sana."
Bara merebahkan tubuhnya. Kepalanya dia taruh di pangkuan sang mama.
Mama tersenyum. Dia mengusap-usap kepala Bara.
"Kalau memang itu jodoh kamu, Mama tentu harus siap."
Bara menghela nafas. Ingin rasanya dia bercerita tentang Arin. Namun dia belum siap . Mungkin nanti saja setelah acara pernikahan sang abang selesai. Saat ini bunda pasti masih banyak pikiran.
"Mama is the best pokoknya."
Bara menciumi tangan sang Mama. Mama tersenyum bahagia. Dia pandangi anak bungsunya yang sudah memasuki usia dewasa. Anak rumahan yang tidak pernah berbuat aneh-aneh dan selalu menuruti apa kata orang tuanya. Mama sangat bangga pada Bara.
"Bagaimana persiapan pernikahan kakakmu, apa semua sudah siap. Masa bunda tidak boleh sama sekali mengetahuinya."
"Mama tenang saja. Seminggu lagi mama akan tahu hasilnya. Pokoknya serahkan saja pada yang punya hajat. Biarkan dia memenuhi semua keinginannya."
"Iya sayang. Mama setuju apa kata kamu. Konsepnya bagus kok dan semua rencana mereka mama setuju. Terus kapan kamu menyusul."
Bara terdiam mendengar pertanyaan mama. Ingin sekali dia bercerita tentang Arin. Tapi dia masih ragu.
"Cerita saja . Mama yakin kamu sedang memikirkan suatu hal yang menjadi beban buat kamu."
Bara terkejut. Sebegitu peka kah seorang ibu, sampai hal seperti ini bisa beliau ketahui.
Bara menengadahkan memandang wajah sang mama yang di umurnya yang mendekati kepala enam masih terlihat sangat cantik.
"Ma...." Bara berhenti berbicara. Dia masih ragu.
"Hm.. kenapa Nak. Bilang saja mama siap mendengarkan."
"Sebenarnya... sebenarnya Bara punya gadis yang Bara sukai."
Bara diam lagi. Sejujurnya dia sangat tidak percaya diri bercerita soal Arin.
"Lalu... Kok diam. Bilang saja. Siapa gadis tersebut?"
__ADS_1
Bara bangun dari pangkuan sang Mama. Dia kembali memeluk sang mama dari samping dan meletakkan kepalanya di pundaknya.
"Gadis itu Bara kenal lima tahun yang lalu sebelum Bara kuliah di luar negeri."
Bara diam lagi. Begitu pula dengan mama. Tangan mama mengusap pelan pipi Bara untuk memberi semangat.
"Dan enam bulan lalu kita bertemu kembali. Namun sayangnya dia menyukai cowok lain."
Mama kembali mengusap pipi Bara. Kali ini lebih lama.
"Tapi hubungan mereka tidak direstui keluarga laki-laki. Bara harus bagaimana ma. Bara bingung."
"Nak.. Seberapa besar perasaanmu ke dia."
"Sangat besar ma. Dia cinta pertama Bara."
"Alasannya apa sampai tidak mendapatkan restu."
"Alasannya karena keluarga sang lelaki tidak menyukai keluarga perempuan yang hanya dari keluarga sederhana."
"Alasan yang tidak masuk akal. Bagaimana cowoknya. Apakah dia memperjuangkan hubungan mereka."
Akhirnya Bara menceritakan semuanya. Tentang Fian yang menyerah. Tentang Arin yang sangat tegar dan tentang semua yang Bara ketahui tentang Arin. Kecuali tragedi saat mereka pertama bertemu.
Mama terlihat menghela nafas berat ketika Bara menyelesaikan ceritanya.
"Nak, berjuanglah. Kalau memang kamu benar-benar menyayanginya. Mama mendukungmu sepenuhnya apapun yang akan kamu lakukan."
Bara tersenyum dia merasa punya kekuatan. Tapi seperti tekadnya. Dia akan tetap berusaha untuk mempertemukan Arin dengan Fian terlebih dahulu.
Malam semakin larut. Mama sudah kembali ke kamarnya setelah memberi banyak wejangan buat Bara. Bara merasa plong setelah bercerita sama mama. Hatinya merasa lega.
Dan saat dia membaca pesan Arin tadipun. Dia tetap yakin dengan jalan yang akan dia tempuh.
Semua perlu dicoba. Semua harus diperjelas dahulu sebelum dia mengambil langkah selanjutnya.
🌸🌸🌸
Arin masuk rumah selepas senja. Dia masih beruntung masih kebagian waktu Maghrib. Begitu sampai rumah langsung masuk kamar mandi untuk sekedar membasuh badannya yang terasa lengket. Dia mandi tidak lama agar waktu maghrib masih dia dapatkan.
Selesai sholat magrib dan di lanjutkan sholat isya, Arin hanya rebahan di tempat tidur. Pikirannya jauh ke belakang. Saat di mana kebersamaannya bersama Fian. Persahabatan yang telah dia bina sejak kecil telah menciptakan beribu kenangan. Tidak mudah untuk melupakan begitu saja semua kenangan tersebut. Tentu saja akan terkenang selalu selama hidup. Kecuali jika kita amnesia tentunya.
Arin menghela nafas panjang. Dia teringat kembali kejadian tadi siang di rumah sakit. Ini bukan pertama kalinya terjadi. Sudah sering dia mendengar Mamanya Fian menghujatnya. Memakinya dengan kata-kata yang tidak enak di dengar. Kata-kata yang kasar. Kata-kata yang selalu memojokkannya.
"Sebenarnya salah gue apa. Sehingga kebencian itu mendarah daging."
Arin bergumam. Air matanya menetes tanpa dia sadari. Entah kenapa kali ini makian itu terasa berbeda dia rasakan. Terasa sangat menyakitkan. Meskipun bukan pertama kali dia dengar.
Bagaimana jika bunda yang mendengar. Bagaimana jika ayah juga mendengar. Ayah pernah bercerita asal muasal mereka membenci keluarganya. Menurut Arin semua bukan salah sang Ayah. Tapi entahlah mungkin penilaian mereka berbeda.
Sekarang Arin hanya bisa pasrah. Dia sudah tidak memikirkan hubungannya dengan Fian. Arin memilih untuk menghapus semua perasaannya. Walaupun itu sangat sulit baginya. Perasaan yang muncul sedari kecil. Perasaan kebersamaan itu tidak mudah untuk dilepas begitu saja. Perasaan nyaman yang hadir kala menjalani suatu hubungan itu sangat sulit untuk dihilangkan.
Namun Arin telah berjanji pada dirinya sendiri untuk melupakan semua itu. Sudah saatnya dia sadar kalau hubungan itu tidak akan baik untuknya dan keluarganya.
Malam semakin larut. Arin masih merenung sendirian. Tiba-tiba senyumannya muncul. Dia teringat kejadian tadi sore. Saat dia berdiri di jembatan.
Sebenarnya dia hanya ingin membuang bungkus makanan ke sungai. Namun tiba-tiba dia mendengar suara orang yang sangat di kenalnya. Jiwa usilnya muncul. Entah mengapa ide gilanya tiba-tiba datang. Dia malah naik ke atas jembatan. Berakting seperti orang mau melompat ke bawah.
Dan ternyata tepat sasaran. Bara benar-benar panik. Ya orang yang berteriak tadi adalah Bara. Sekalian Arin ingin tahu kesungguhan hati Bara.
Bara yang terlihat sangat panik menyetujui permintaan Arin. Permintaan Arin yang terbilang sangat nekad. Yaitu untuk menikahinya secepatnya. Padahal Arin sendiri tidak yakin dengan itu. Sebenarnya Arin tidak percaya diri bila berhadapan dengan Bara. Dia laki-laki yang berpendidikan tinggi sukses dan mapan. Akankah nantinya dia bisa mendampingi Bara.
Namun karena mungkin otak Arin sedang tidak sinkron, muncullah ide yang gila tersebut.
Sekarang Arin baru berpikir. Apakah Bara bisa menerima permintaannya atau tidak. Namun melihat bagaimana sikap Bara selama ini padanya. Arin yakin Bara pasti memenuhi permintaannya tersebut.
Arin mengambil ponselnya. Dia melihat jam masih pukul sepuluh. Pasti Bara belum tidur pikirnya. Kemudian dia mengirimkan pesan singkat di WhatsApp nya buat Bara. Arin berharap Bara mengerti yang sebenarnya. Arin berjanji pada dirinya sendiri jika sudah siap dia akan bercerita kepada Bara apa yang sebenarnya terjadi. Agar tidak ada kesalahpahaman seperti dengan keluarga Fian.
Arin akan berterus terang tentang hubungannya dengan Fian karena Arin berpikir bahwa selama ini tidak mungkin kalau Bara tidak melihat interaksi diantara mereka.
Arin berharap semuanya segera bisa terselesaikan agar dia bisa merasa tenang melanjutkan kehidupannya.
Bersambung
__ADS_1
Terima kasih ❤️❤️❤️❤️