Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
chapter 54


__ADS_3

Rasa hati yang terluka


"Mau disuapin papa."


"Papa belum pulang sayang."


"Pokoknya mau disuapin papa. Tia mau makan sama papa."


"Iya nanti kalau papa sudah pulang ya. Sekarang sama suster dulu."


"Tidak mau... Hiks.. .Hiks tidak mau. Pokoknya mau sama papa."


Ayu sudah kewalahan membujuk Tia agar mau makan. Biasanya memang saat makan malam Arga yang menyuapinya. Entah mengapa Arga belum pulang dari kerja.


"Sayang ayo makan dulu. Sesuap saja. Katanya Tia mau cepet sembuh."


"Tidak mau.. pokoknya Tia mau papa"


Ayu sudah putus asa. Dia kebingungan dengan cara apa lagi membujuk Tia.


"Ya sudah Tia ga usah makan. Tapi Tia jangan menangis."


"Tidak mau, Tia mau papa. Papa..hiks.. hiks."


Tia masih saja merajuk. Dia malah menangis tambah kencang. Ayu bingung biasanya jam segini Arga sudah datang.


Mau menelpon Arga tapi Ayu takut.


Tia masih saja terus menangis. Suara tangisan Tia sampai keluar.


Fian yang baru datang dari luar mendengar suara tangisan Tia, dan dia berhenti. Dia mengintip dari jendela. Dia melihat seorang anak kecil yang sedang menangis. Fian tersentuh hatinya. Fian merasa kasian.


"Permisi kenapa anaknya sus.?" Fian masuk setelah mengetuk pintu. Namun mungkin karena suara tangisan Tia lebih keras. Suara ketukannya tidak terdengar oleh Ayu.


"Maaf sus saya masuk aja. Anaknya kenapa."


Ayu terkejut mendengar suara Fian yang tahu- tahu sudah ada di belakangnya.


"Mau ketemu papanya, tapi belum pulang mas." Jawab Ayu.


"Boleh saya bantu bujuk."


Ayu mengangguk. Tia masih menangis . Dia memandang ke arah Fian.


"Mau sama Om. Anak manis namanya siapa."


Tangis Tia sedikit mereda. Hanya tinggal isakannya saja.Tia masih memandang Fian.


"Mau di gendong Om. Yuk duduk di depan sambil menunggu papa." Fian berusaha membujuk Tia.


Tia menggeleng. Tentu saja Tia takut ada orang baru yang masuk begitu saja ke dalam kamarnya.


"Sus siapkan saja kursi rodanya biar saya dorong ke depan." Ucap Fian pada Ayu.


Ayu mengangguk dia.Langsung mengerjakan apa yang Fian bilang.


"Namanya Tia ya.Tia cantik jangan menangis ya. Yuk makannya sambil duduk diluar bagaimana. Mau ga. Om bawa kue juga ini."


Fian menunjukkan kantong yang dia bawa. Tia hanya memandang Fian masih ada sedikit isakannya.


"Kita kenalan dulu ya.Tia boleh panggil Om dengan Om Fian. Kita jalan-jalan keluar yuk. Tapi Tia harus makan dulu. Bagaimana setuju?"


"Om Fian, Tia mau papa. Tia mau makan tapi di suapin papa."


"Papa kan belum datang. Bagaimana kalau om saja yang menyuapi Tia."


Tia memandang Ayu. Dan Ayu mengangguk. Tia ikut mengangguk.


"Sekarang Tia duduk ya. Om suapin. Buka mulutnya yang lebar. Pinter Tia makannya pinter ya."


Dengan perlahan Fian menyuapi Tia. Dengan sabar dan telaten satu dua suap makanan masuk ke mulut Tia.Dan akhirnya habis juga sepiring makanan yang disediakan rumah sakit. Ayu tersenyum senang.


"Wah Tia pinter makannya. Sekarang saatnya minum obat."


"Tidak mau. Pahit Om.Tia tidak mau minum obat."


"Mana ada obat yang manis. Kalau yang manis itu permen. Tapi sekarang terserah Tia, Tia mau cepet sembuh atau ga. Tia mau cepet bisa bermain lagi ga?"


Tia memandang Fian. Dan dia mengangguk.

__ADS_1


"Tia mau cepet sembuh. Biar bisa main dan bisa ketemu kakak cantik. Suster Tia mau minum obet."


Ayu mendekat. Dia menyiapkan semua obat yang harus di minum Tia. Dengan susah payah Tia menghabiskan semua obat yang harus dia minum.


"Tia memang pintar. Suster ada pantangan makanan yang dimakan Tia tidak."


"Ada , tapi kalau kue apa biskuit boleh kok Mas,"


Fian membuka kantong yang dia bawa. Fian mengeluarkan sebungkus martabak manis dan membagi dua . Dia taruh setengah di atas piring yang disediakan Ayu.


"Kita bagi dua ya. Yang setengah buat Tia dan yang setengah lagi buat temen om. Tidak apa-apa kan?"


Tia mengangguk.Dia tersenyum.


"Terima kasih banyak ya om Baik.Tapi sudah ada dokter baik masa om baik. Suster sebaiknya Om Fian dipanggil apa."


"Wah ada panggilan khusus ya. Panggil saja om Fian saja. Biar tidak susah. Bagaimana kalau sekarang kita berteman." Fian mengacungkan jari kelingking nya. Tapi Tia masih diam saja.


"Nanti Tia pikir dulu deh. Tapi besok om main kesini lagi kan?"


"Tentu saja Om mau. Sekarang om pergi dulu ya. Sudah ditunggu makanannya sama temen om."


Fian mengangkat kantong yang dia bawa tadi .


"Dah Tia, Istirahat ya biar cepet sembuh. Selamat malam Tia."


Tia tersenyum .Dia sangat bahagia. ada satu lagi orang yang menyayangi nya.


"Terima kasih ya Mas. Tadi kalau tidak ada Mas yang menolong saya sudah tidak tahu lagi cara membujuk Tia."


"Sama-sama sus, saya permisi dulu. Sudah ditunggu makanannya ini."


Fian pergi meninggalkan kamar Tia. Bunda pasti sudah menunggu pikir Fian. Ini sudah lewat satu jam dari yang seharusnya dia sampai di kamar Arin. Kasian bunda pasti kelaparan. Kalau Arin dapat makanan dari rumah sakit. Fian mempercepat langkah nya agar segera sampai di kamar Arin.


🌸🌸🌸


Sementara itu di kantin rumah sakit seorang laki-laki terlihat duduk sendirian.Di depan nya tersuguh secangkir kopi hitam yang masih mengeluarkan asap. Terlihat baru disajikan. Dia hanya diam memandang cangkir kopi itu. Mungkin dia sedang banyak pikiran. Terlihat dia sering menarik nafas panjang.


Ternyata laki-laki itu adalah Arga. Sebenarnya tadi dia pulang pukul lima. Entah mengapa dia merasa begitu rindu pada anaknya,Tia. Dia yang selalu pulang malam hanya punya waktu sebentar untuk bisa berkumpul dan bercanda dengan si buah hati. Makanya hari ini dia menyempatkan waktu untuk pulang lebih awal.


Namun ketika sampai di depan ruang rawat Tia, dia terkejut. Dia termenung. Tia bersama orang-orang asing yang baru dikenalnya. Tia terlihat tertawa lepas seperti orang yang tidak sakit. Tia bisa begitu bahagia bersama mereka. Tia bisa tertawa lepas dengan mereka sedang dengan sang papa,Tia tidak pernah begitu. Arga memperhatikan mereka dari luar. Arga sengaja tidak masuk.Dia merasa malu. Dia yang ayah kandungnya malah tidak punya waktu buat anak kandungnya sendiri. Arga sengaja menghindari mereka.


Tia yang seharusnya masih perlu perhatian lebih dia telantarkan begitu saja. Tidak dia sapa. Bahkan dia acuhkan , dia abaikan. Karena Arga merasa Tia lah penyebab kematian Sheila. Kecelakaan yang merenggut nyawa Sheila saat Sheila menyelamatkan Tia dari terjangan truk yang remnya blong. Sheila yang rela mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan nyawa sang buah hati. Dan sekarang sang buah hati juga sedang sakit. Apakah Arga harus kehilangan lagi. Tidak.


Arga tersadar. Dia bangun dari duduknya. Berjalan cepat menuju ruangan sang putri. Arga setengah berlari. Tidak dia tidak boleh terlambat lagi. Arga tidak mau kehilangan orang yang dia sayangi lagi. Hanya Tia satu-satunya peninggalan dari Sheila. Satu-satu yang Sheila tinggalkan untuknya. Dia yang harus seharusnya membuat dia tertawa. Dia yang seharusnya merawatnya bukan suster.


Arga terus berlari. Jarak yang sebenarnya tidak jauh terasa lama baginya. Dia terus berlari dan berlari.


Namun ketika dia tiba di depan pintu. Saat dia mau membuka pintu dia mendengar suara seorang laki-laki sedang berbicara pada Tia.


"Apa aku terlambat lagi." ucapnya pelan. Air mata menetes dari kedua matanya.


"Ayah apa aku ini yang tidak bisa membuat anaknya tertawa. Ayah yabg hanya bisa membuat penderitaan."


Arga mengumpat dirinya sendiri. Dia benar-benar terlambat. Dia melihat anaknya tertawa dengan orang asing. Kapan waktuku tiba. Arga tidak berani melihat ke dalam. Hatinya terluka. Dadanya terasa sesak. Dia bersandar di pintu. Matanya telah basah dia menunduk memandang sepatunya. Arga ingin berteriak.Dia memukul dadanya berulang kali.


"Maafkan papa Nak. Papa terlambat lagi."


Arga menyingkir ketika mendengar pria yang di dalam ruangan pamit dan berjanji akan mengunjungi Tia lagi besok. Kenapa orang lain dengan mudah bisa memberikan kasih sayang kepada anaknya. Sedangkan dia malah mengabaikannya. Arga pura-pura bermain ponsel dan menghadap berlawanan dengan pintu. Dia tidak mau terlihat menyedihkan seperti saat ini.


Fian sudah menjauh. Fian sudah masuk ke dalam lift. Arga mencari toilet. Dia tidak mau terlihat berantakan didepan anaknya. Wajah Arga sudah terlihat segar. Dia sudah mempersiapkan diri yang terbaik untuk bertemu Tia.


Arga membuka pintu. Dia langsung masuk ke dalam ruangan dengan penuh rasa percaya diri. Arga sudah berjanji pada dirinya sendiri. Dia akan menjadi Ayah yang baik buat anak semata wayangnya.


Namun begitu sampai di dalam, Arga melihat Tia sudah terlelap. Tia sudah tertidur dengan sangat tenang. Wajah Tia terlihat lebih ceria dari biasanya.


"Ayu, Apa Tia sudah tidur dari tadi?" Tanya Arga berbasa-basi. Padahal dia tahu Tia baru saja tidur. Karena tadi saat Arga mau ke toilet, Tia belum tidur.


"Baru saja Pak, maaf Tadi Tia menangis menunggu bapak pulang."


"Oh."


Ayu tidak heran dengan jawaban majikannya yang pendek-pendek. Memang begitulah majikannya sangat irit bicara.


"Maaf, saya harus pulang sekarang atau saya yang menunggu Tia di sini." Tanya Ayu.


"Kamu pulang saja naik taksi." Jawab Arga.


"Ya udah saya pulang Pak. Permisi. selamat malam Pak."

__ADS_1


"Iya, selamat malam."


Ayu sebenarnya ingin mengomel melihat majikannya yang terlalu dingin itu. Arga yang tidak banyak bicara, membuat Ayu tidak enak mau menyampaikan apa yang terjadi dengan Tia. Ayu ingin menceritakan orang- orang baru yang baru saja Tia kenal. Biar nanti saat Tia terbangun dan menanyakan mereka Arga tidak kebingungan. Ayu bingung menghadapi Arga.


"Ya sudahlah. Biar pak Arga kebingungan sendiri nanti. Biar dia rasakan sendiri." Ucap Ayu sambil berjalan menjauh dari ruangan Tia.


Ayu bisa tidur nyenyak malam ini. Dia memang selalu pulang di malam hari bergantian dengan Arga. pagi harinya Ayu datang lagi saat Arga berangkat kerja.


Arga memandang Tia yang tidur terlihat sangat tenang. Tidak seperti malam kemarin. Tia yang menangis minta dibacakan dongeng terlebih dahulu. Tentu saja Arga kebingungan. Selama ini dia tidak pernah ikut mengasuh Tia. Sampai-sampai dia harus menelpon Ayu untuk membacakan dongeng via lewat sambungan telepon.


Mulai sejak itu Arga jadi mencari informasi tentang beberapa dongeng di internet. Dia sampai menghafalkan agar suatu saat jika Tia minta dibacakan dongeng lagi Arga tidak kebingungan.


Malam ini Arga bisa istirahat dengan tenang karena Tia tidur dengan nyenyak. Arga tidur di samping Tia. satu ranjang. Arga memang sengaja memesan ranjang yang agak besar. Tujuannya agar bisa tidur sambil memeluk Tia. Lama kelamaan Arga tertidur juga.


🌸🌸🌸


Fian berjalan menuju kamar Arin. Dia kasian sama bunda. Bunda jadi telat makan karena tadi dia menolong Tia dulu.


"Assalamu'alaikum bunda, Arin."


"Wa'alaikumsalam.Iya Fian."


"Bunda maaf. Fian kelamaan membeli makanannya.Tadi.."


"Sudah tidak apa-apa." potong bunda. Bunda tidak mau Fian merasa bersalah karena hal sepele.


"Tapi bunda jadi kelaparan. Makanannya datang terlambat."


"Tenang saja Fian. Disini banyak roti dan biskuit. Yang kamu belikan kemarin juga masih ada. Jangan khawatir."


"Mana cilok, cimol, tahu bulet gue."


"Yang sakit ga boleh makan aneh-aneh. Ini gue beli buat gue sendiri." Fian menyembunyikan semua makanan yang dipesan Arin.


"Fian jahat ikh. Itu kan gue yang pesan."


"Tapi lo lagi sakit tidak boleh makan sembarangan."


"Sudah-sudah, kalian berdua kalau bertemu seperti tom and jerry.Berantem terus. Tapi kalau berjauhan kengen matanya.


"Hehehe.. bunda bisa saja. Lagian Fian pelit bunda. Kan itu tadi Arin yang pesen." Arin saja ngotot minta makanan yang dibeli Fian. Dasar Fian juga suka meledek Arin. Jadilah mereka berebut.


"Bunda makan dulu. Itu tadi aku belikan nasi goreng. Semoga belum dingin. Maaf ya bun."


"Maaf terus. Bunda tidak apa-apa Fian."


Fian dan Arin makan cemilan yang dibeli Fian tadi sambil terus bercerita dan bercanda. Ada saja bahan candaan mereka. Saling meledek dan saling menggoda. Bunda duduk di sofa dan hanya memperhatikan mereka. Bunda duduk sambil terkantuk-kantuk. Mungkin karena lelah juga.


"Fian memang lo lama tadi dari mana aja sih."


"Oh iya. Gue mau cerita.Tadi gue habis nolong anak kecil yang ga mau makan


Kasian susternya kewalahan."


"Anak kecil. Kasian sekali sih. Memang ga ada orang tuanya."


"Ga tau juga. Tapi kata susternya tadi bilang anak menunggu papanya datang. Minta disuapi papanya. Kasian nangis sampai sesenggukan."


"Cewek apa cowok anaknya?"


"Cewek. Namanya Tia."


"Tia, astaghfirullah.. Itu gue kenal. Kenapa tadi tidak menelpon gue?'


"Lo sendiri sedang sakit. Mana gue tega."


"Terus bagaimana? Apa dia mau makan?"


"Alhamdulillah mau, setelah gue bujuk, akhirnya mau juga dan habis bubur sepiring.


"Syukurlah."


Ternyata dunia ini hanya selebar daun kelor. Di mana - mana bertemu orang yang sama.


Arin dan Fian masih terus berbincang sampai malam. Bunda sudah tertidur. waktu berjalan begitu cepat. Mendekati tengah malam Fian pulang dan berjanji besok datang lagi untuk menjemput Arin. Arin sangat senang bisa pulang besok. Semoga semua lukamu lekas sembuh Arin. Baik luka tubuh ataupun luka batin mu.


Bersambung.


Jangan lupa tinggalkan like dan komen.

__ADS_1


Terima kasih ❤️❤️❤️❤️


__ADS_2