
Apa yang sebenarnya terjadi
Hari masih pagi. Jam lima pagi Fian terbangun dari tidurnya. Bukan terbangun, tapi memang dibangunkan oleh security yang lewat karena Fian tidur di bangku koridor. Memang di rumah sakit ada larangan untuk tidak tidur di kursi tunggu . Apalagi hari sudah pagi. Sebentar lagi pasti ada pasien yang datang untuk mengambil nomer antrian.
Fian bangun dan menuju mushola rumah sakit. Dia akan melaksanakan sholat subuh dan setelah itu akan mencari sarapan buat bunda. Kasian pasti bunda belum makan apa-apa. Fian menuju kamar Arin. Bunda sudah bangun. Tapi dilihatnya Arin masih tidur nyenyak. Mungkin karena pengaruh obat tadi malam. Sehingga tidurnya nyenyak.
"Bunda, Ini Fian belikan sarapan bubur ayam. Mumpung masih hangat. Langsung dimakan saja bund."
"Bunda mandi dulu aja ya. Kamu jagain Arin sebentar."
"Iya bunda Pasti Fian jagain."
Bunda menuju kamar mandi. Sedangkan Fian mengambil kursi dan menarik kursi tersebut mendekati ranjang. Dia duduk di samping ranjang. Dia ingin dekat dengan Arin.
"Kok belum bangun. Sudah pagi ini. Bangun yuk. Kita jalan-jalan ke taman. Kita hirup udara segar di sana. Sambil memandang bunga yang sedang mekar."
Fian berusaha membangunkan Arin secara perlahan. Tapi Arin tidak bangun juga. Arin masih terlihat sangat pulas. Wajah Arin sudah terlihat segar tidak seperti yang kemarin. Sudah terlihat merah berseri-seri. Sudah tidak pucat seperti kemari.
Bunda telah selesai mandi. Bunda juga terlihat segar.
"Fian, kamu tidak makan. Sekalian bareng bunda sini."
"Fian sudah makan tadi di sana bun. Keburu lapar soalnya." Jawab Fian.
"Ya sudah bunda makan dulu."
"Iya bun, silahkan."
Fian kembali fokus ke Arin. Dia masih memandangi wajah Arin. Dia pegang tangan Arin. Terasa hangat. Fian masih ingat, tangan kecil ini yang selalu dia gandeng ke manapun mereka pergi. Kemanapun mereka selalu bersama. Saling bergandengan. Teringat jelas fi ingatan Fian semua kenangan itu. Sanggupkah nanti jika dia harus terpisah dari Arin. Sanggupkah dia jauh dari Arin. Masih bisa kah dia menggenggam tangan Arin seperti ini lagi. Masihkah Arin memberi kesempatan padanya.Masih bisakah Fian menggandeng tangan kecil ini. Fian tersenyum. Semua yang akan terjadi biarlah terjadi. Yang ada dipikiran Fian hanya asal Arin bahagia Apapun akan dia lakukan.
"Fian, bunda sudah selesai makan. Kamu tidak pulang. Bagaimana kalau nanti mama kamu mencari kamu? Mama pasti marah kalau tau kamu disini."
Fian terkejut mendengar ucapan bunda. Karena tadi dia sedikit melamun. Fian hanya diam saja. Dia bingung mau menjawab apa. Takut kata-katanya menyinggung hati bunda.
"Fian udah pamit sama Bang Andra, nanti dia yang akan menyampaikan pada Mama."
"Kamu pasti membohongi mama kamu ya?"
"Sedikit bunda. Kan tidak apa-apa kalau cuma sedikit."
"Mana bisa. Yang namanya bohong mau banyak atau sedikit sama saja dosanya."
"Iya bund, maaf. Sekali ini saja Fian bohong. Fian janji. Fian masih mau menunggu Arin. Fian masih mau disini sebentar lagi." Ucap Fian sendu. Selalu saja kalau diingatkan tentang mamanya hanya rasa sedih yang muncul di dalam hatinya.
"Ya sudah nanti sampai rumah ngomong yang sebenarnya sama mama ya."
"Tapi bund.."
"Tidak ada tapi-tapi. Bunda tidak apa- apa. Bunda tau apa maksud kamu. Tapi tetap kamu tidak boleh membohongi orang tua." Bunda memotong ucapan Fian.
"Baik bunda, setelah ini Fian berjanji tidak berbohong lagi."
"Bunda tidak ingin kamu jadi anak durhaka. Bunda sudah terbiasa dengan perlakuan mama kamu. Bunda akan baik-baik saja. Jangan kamu ulang lagi. Dengar ucapan bunda. Surga ada di telapak kaki ibu. Apapun sikap mama kamu, kamu tidak boleh kasar padanya." ucap bunda tegas.
"Iya bunda, Fian tidak akan bohong lagi. Fian sayang bunda. Hati bunda sangat baik dan kuat. Maafkan mama ya bund. Semoga mama segera mendapatkan hidayah. Amin."
"Amin. Tanpa kamu minta, bunda sudah memaafkan mama kamu."
Bunda mengelus bahu Fian. Bunda tau pasti Fian merasa serba salah. Fian anak yang baik. Dia pasti bingung mau bersikap seperti apa untuk menghadapi keadaan ini. Seperti makan buah simalakama saja.
Tok..Tok..tok.
Pintu di ketuk. Ternyata dokter yang akan mengecek kondisi kesehatan Arin. Dokter Rizal, Bara dan Bram yang datang.
"Silahkan pak Dokter. Mau memeriksa Arin ya. Tapi Arin belum bangun." Ucap bunda menyambut para dokter.
"Tidak apa-apa. Biarlah dia istirahat. Bukankah dia tidur larut tadi malam?" Dokter Rizal menyahut perkataan bunda.
Bara mulai memeriksa keadaan Arin. Semuanya diperiksa.Dokter Bara mengangguk pada Dokter Rizal.
"Keadaan Arin sudah stabil. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Luka diperutnya juga sudah mulai mengering. Kalau keadaannya seperti ini terus, besok dia sudah diperbolehkan pulang."
"Alhamdulillah.." Fian dan bunda menjawab bersamaan. Mereka sangat senang mendengar kabar ini.
__ADS_1
"Tapi ingat, jangan sampai Arin mendapatkan perlakuan seperti kemarin lagi. Sekali lagi hal itu terjadi padanya, Saya tidak tahu akan bagaimana keadaannya nanti. kemungkinan besar dia akan menjadi trauma berat." Dokter Rizal menambahkan penjelasan nya.
"Baik Dokter, Kami akan menjaganya dengan baik." Jawab Fian.
"Ya sudah saya permisi dulu. Dokter Bara dan Dokter Bram masih mau disini kah? "
"Iya Dok, masih ada yang akan kami pantau. Karena ada sesuatu yang belun kami pahami." Ucap Bram.
"Baiklah kalau begitu. Saya duluan. Mari semua."
"Silahkan Dokter.."
Jawab mereka bersamaan. Dokter Rizal kembali ke ruangannya. Sedangkan Bara dan Bram masih di ruangan Arin
"Bagaimana bunda, apa Arin semalam ada mengigau lagi?"
"Tidak ada Dokter Bram. Semalam Arin tidur pulas. Bahkan belum bangun sampai sekarang."
" Tidur yang sangat nyenyak. Fian semalam jadi tidur di depan ruangan?" ucap Bara.
"Iya Dokter. Sekalian menemani bunda. Kalau butuh apa-apa biar gampang."
Bara manggut-manggut.
"Assalamu'alaikum.. bunda, kak Arin.. Eh ada Pak Dokter Bara sama Dokter Bram. Selamat pagi semua. Maaf main masuk saja . Bagaimana kak Arin bund?"
"Rama kamu sama siapa? Lihat saja sendiri itu kakakmu dia masih tidur pulas." Jawab bunda.
"Pagi Rama , pagi Nia" Jawab Bram dan Bara bersamaan.
"Ada bang Fian juga. Sudah lama di sini bang?" Tanya Rama pada Fian saat dia melihat Fian di sana. Sebelum Fian sempat menjawab, Tiba-tiba terdengar suara.
"Haus... haus.. minum..minum." ",Kak Arin...Kak Arin sudah bangun. Akhirnya.. Alhamdulillah.. Kakak Rama kangen. Bunda kak Arin bangun." Rama terlihat begitu gembira. Memang dia belum dibertahu kalau sebenarnya Arin sudah sadar.
Rama mendekati ranjang dan ingin memeluk kakaknya itu. Tapi tiba-tiba dia menghentikan langkahnya. Arin menolak dan berkata.
"Stop berhenti, Kamu siapa?"
Semua mata melihat ke arah Arin.
Semua terlihat bingung melihat sikap Arin. Semalam tidak begini. Semalem Arin normal-normal saja. Bara dan Bram saling memandang dan kemudian mengangguk.
"Arin, gue siapa? Lo pasti inget gue kan?" Fian mencoba bertanya pada Arin. Dia yang paling dekat dengan ranjang Arin.Fian terkejut ketika Arin juga tidak mengenalinya.
"Kamu siapa. Haus.. mau minum."
"Ini nak, minum dulu." Bunda maju sambil membawa segelas air minum. Bunda membantu Arin, menegakkan sedikit badannya agar mudah meneguk minumannya.
"Sudah cukupkah?" kata bunda ketika Arin menghentikan minumnya. Arin mengangguk.
"Maaf , kalian siapa kenapa berkumpul di sini?" Arin melihat satu persatu orang-orang yang ada di dalam ruangan.
Satu persatu dia amati orang-orang itu. Pada saat memandang Bara, dia berhenti. Dia amati secara seksama. Arin mengerenyitkan mata , dia ingat sesuatu. Air muka Arin berubah. Ada rasa sedih terlihat. Matanya berkaca-kaca.
Semua orang saling pandang, tidak ada yang berani bersuara. Takut salah berkomentar.
"Arin kenapa? Ada yang salah dengan saya?" Bara bertanya pada Arin. Bara merasa Arin mengingat sesuatu.
"Kenapa menangis Nak, Ada apa? Sini cerita sama bunda."
Bunda mendekati Arin. Tapi Arin diam saja. Dia masih memandang Bara. Entah apa yang Arin pikirkan.
"Arin, lupa sama gue? Ini Fian, Fian. Ingat kan. Gue teman lo. Kita sahabat dari kecil." Ucap Fian. Dia berusaha mendekati Ari.
"Stop. Semua berdiri pada tempatnya masing-masing." Ucap Arin lagi.
"Arin. Coba pejamkan mata kamu sebentar. Tarik nafas panjang." Bram mencoba menetralisasi keadaan Arin yang terlihat tegang.
Arin benar-benar memejamkan mata. Dia benar-benar melakukan apa yang Bram ucapkan. Dia terlihat tersenyum. Mukanya sudah terlihat biasa lagi. Tidak tegang seperti tadi. Kemudian dia membuka mata. Dia melihat ke arah Bram. Arin tidak berani memandang Bara.
" Dokter saya lapar, boleh saya minta makan."
"Tentu boleh. silahkan makan yang banyak ya. Sudah seminggu kamu tidak makan. Tentu merasa lapar."
__ADS_1
Semua orang tersenyum melihat tingkah Arin. Bunda tertawa. Arin memang selalu begitu. Dia selalu bisa membuat suasana jadi tidak kaku. Tapi bunda masih merasa heran. Apa benar Arin hilang ingatan? Bunda menyiapkan semua keperluan makan Arin. Yang lain hanya melihat saja.
"Mau bunda suapin atau makan sendiri."
"Makan sendiri saja. Maaf bisa minta tolong di dekatkan nasinya." Ucap Arin lagi. Semuanya hanya bisa tersenyum.
"Sekarang Arin makan dulu. Kami tunggu di luar ya. Ayo Bara dan Fian ikut keluar sebentar."
Bram ingin berbicara sama mereka berdua tentang keanehan pada diri Arin. Bara, Bram dan Fian keluar ruangan. Sedangkan bunda membantu Arin yang sedang makan.
"Kakak bener lupa sama Rama."
Arin memandang Rama dan mengangguk. Dia meneruskan makannya. Terlihat dia sangat lapar. Tidak butuh waktu lama sepiring jatah makan dari rumah sakit telah habis dia lahap.
"Kakak lapar apa rakus. Hehehe.." Rama mencoba menggoda kakaknya. Siapa tahu bisa mengetahui kakaknya itu lupa ingatan beneran apa pura-pura. Karena Rama tidak percaya kalau Arin lupa padanya. Arin hanya memandangi Rama saat mendengar pertanyaannya. Dia tidak menunjukkan ekspresi apapun.
"Sudah kenyang boleh minum lagi."
Bunda meladeni Segal permintaan Arin dengan sabar dan telaten.
"Sekarang obatnya di minum lalu istirahat lagi."
Arin meminum obatnya. Setelah itu dia meminum obatnya. Kemudian dia merebahkan tubuhnya lagi. Arin memejamkan mata. Walaupun sebenarnya tidak tidur. Dia tersenyum. Bunda ,Rama dan Nia juga tersenyum. Mereka bahagia karena Arin telah sadar kembali. Arin akan segera pulih seperti sedia kala.
🌸🌸🌸
Bram, Bara dan Fian keluar ruangan. Mereka duduk di kursi tunggu. Mereka seperti sedang berpikir keras. Apalagi kalau bukan tentang Arin yang lupa ingatan.
"Bram, lo percaya kalau Arin amnesia."
"Tidak, aneh saja. Tiba-tiba bisa lupa sama kita semua. Tidak ada benturan apapun terjadi kan."
" Tidak ada. Apa mungkin dia pura-pura. Tapi apa alasannya? Tidak masuk akal." Ucap Bara sambil terus berpikir.
"Apa yang menjadi penyebab semalam dia sakit kepala lagi? "
"Setahu saya, Arin memandang Dokter Bara. Kemudian tiba-tiba dia mengeluh sakit kepala. Tapi kalau karena Dokter Bara, bukannya sore hari sudah sempat ketemu pak Dokter kan. Seharusnya sudah tidak terkejut lagi." Fian mengatakan asumsi yang ada di otaknya.
"Iya juga. Sore hari kita sudah sempat berbincang sebentar. Tapi dia biasa saja. Tapi pas malam hari gue lihat memang dia sedikit tegang pas memandang gue. Apa ada yang salah di diri gue semalam ya Fian. Coba kamu ingat." Bara bener-bener tidak mengerti dengan semua ini.
"Tidak ada Dok, kita berbincang biasa saja tidak ada yang aneh. Bahkan Arin terlihat tertawa. Terlihat tidak ada beban sama sekali." Jawab Fian sambil mengingat-ingat yang terjadi semalam.
"Apa mungkin Arin berpura-pura. Tapi untuk apa?"
Mereka bertiga masih memikirkan segala kemungkinan yang bisa terjadi pada Arin. Karena semuanya terlihat aneh. Tadi juga saat di dalam, saat Arin memandang Bara , ekspresi wajahnya terlihat berubah. sedikit memerah dan tegang.
"Atau jangan-jangan Arin mengingat kejadian yang lalu ya." Ucap Bram lagi.
"Maksudnya Bram, bagaimana? Coba jelaskan. Jangan membuat gue penasaran." Bara menyenggol lengan Bram
"Jangan Arin teringat kejadian pas dia mencium lo. Ups." Bram menutup mulutnya.
"Saya sudah tau Dok. Tidak usah ditutupi. Saya melihat kejadian itu." Sahut Fian. Hati Fian berdenyut kencang saat mengingat kejadian itu. Rasa perih itu masih ada. Tapi berusaha dia abaikan.
"Maaf Fian. Saya tidak bermaksud apa-apa. Cuma siapa tahu, kemungkinan karena kejadian itu Arin menjadi malu dan pura-pura lupa ingatan." Bara merasa tidak enak hati membicarakan hal tersebut.
"Tidak apa-apa dokter. Saya mengerti. Pada saat kejadian keliatannya Arin juga tidak sadar. Tapi semoga ini benar. Dia tidak lupa ingatan beneran tapi cuma karena malu sama Dokter Bara." Ucap Fian . Walaupun hatinya sakit tapi dia harus bersikap biasa saja. Karena semuanya demi Arin.
"Ya sudahlah kita lihat bagaimana selanjutnya.Kita lihat saja bagaimana sikap Arin selanjutnya. Kita pantau aja Bram." Ucap Bara menyemangati semuanya.
"Betul Bar, semoga Arin tidak mengalami trauma berkepanjangan. Dilihat dari reaksinya tadi, tidak ada reaksi yang berlebihan seperti kemarin. Semua tampak wajar."
Bram mengambil kesimpulan dari apa yang dia lihat dan dia amati. Tapi memang benar Arin tidak terlihat shock lagi seperti dua hari yang lali. Tidak ada ketegangan berlebihan terlihat di wajah dan tindakannya.
Mereka semua bersyukur Arin telah bangun kembali. Arin telah bangun dari semua mimpinya. Karena itu yang terpenting. Keluarga Arin sangat bahagia. Fian, Bram dan Bara pun terlihat bahagia juga. Akhirnya Arin telah bangun dari tidur panjangnya.
Semua orang tidak ada yang menyadari jika dongeng putri tidur benar terjadi di dunia nyata. Hanya Fian, Bara, Bram dan Bima yang mengetahui yang telah terjadi sebenarnya. Tapi mereka tidak tahu siapa sang pangeran yang sesungguhnya. Entah Bara atau Fian. Karena kedua orang tersebut yang telah memberi ciuman pada Arin. Adakah seorang putri diperbolehkan mempunyai dua pangeran pujaan hati sekaligus? Wajarkah jika itu benar-benar terjadi. Apa tidak akan menjadi bahan pergunjingan orang. Biarlah. Yang terpenting Arin bahagia. Tidak perduli apa kata orang. Seandainya bisa...tapi itu tidak mungkin.
Siapa sang pangeran sesungguhnya.?
Benarkah Arin amnesia ?
Bersambung..
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like dan komen.
Terima kasih ❤️❤️❤️❤️❤️