Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 36


__ADS_3

Semangat Fian


Bunda dan Fian sarapan bersama. Sehabis sholat subuh tadi, Fian keluar mencari makanan. Perutnya sudah lapar dan juga dia butuh makanan untuk bisa bertahan dalam menghadapi kenyataan. Bunda juga belum makan, makanya pagi-pagi Fian sudah membeli beberapa macam makanan.


Arin masih tertidur lelap. Entah kapan dia benar-benar mau bangun. Rencananya Fian mau pulang, tapi melihat Arin sempat sadar kemarin dia membatalkan rencananya. Fian ingin kalau Arin benar-benar bangun nanti, dia ingin dialah yang pertama kali melihatnya. Fian tentu sangat merindukan Arin. Biasanya mereka selalu bercengkrama berdua . Fian teringat bagaimana pembawaan Arin yang ceria walaupun sedang bersedih. Arin yang tak pernah mengeluh. Atau kalau pas dia lelah dengan hidupnya, dia akan lari ke Fian. Melampiaskan segala kekesalan berdua. Berteriak sekeras mungkin di pinggir kali. Atau pergi memancing bertiga dengan Nando. Dia rindu Arin nya. Arin hanya miliknya. Fian selalu berpikir begitu sejak dulu. Walaupun diantara mereka tidak ada status apapun, tapi mereka berdua selalu menekankan bahwa mereka berdua saling memiliki. Arin nya Fian dan Fian nya Arin. Sejak kecil, sejak sekolah dasar mereka sudah mengklaim begitu. Pemikiran yang aneh sebenarnya. Tapi itulah mereka berdua. Mereka selalu ingin yang terbaik buat temannya itu. Apapun akan Fian lakukan asal Arin bahagia, begitu juga sebaliknya. Apapun akan Arin lakukan asal Fian bahagia. Itu dulu sebelum tragedi lima tahun lalu terjadi. Semenjak tragedi itu terjadi Arin mulai berubah. Dia mulai sedikit menutup diri. Tidak semua hal dia ceritakan lagi ke Fian. Arin mulai tertutup. Semua dia pendam sendiri. Bukan Fian tidak tahu, Tapi dia pura- pura tidak tahu. Yang penting bagi Fian adalah bisa membuat Arin selalu tersenyum. Bahkan dia sering menekankan pada Arin, bahwa semua masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah apapun keadaannya. Tapi Arin mungkin sudah tidak percaya diri lagi seperti dulu. Tapi bagi Fian prinsip itu masih ada. Apapun akan Fian lakukan asal Arin bahagia. Arin pun juga masih sama prinsipnya. Namun tidak secara terbuka seperti dulu.


Sebenarnya hari masih pagi. jam masih menunjukkan pukul tujuh. Mereka berdua sudah selesai sarapan. Jam kunjungan dokter nanti pukul delapan. Selesai sarapan bunda pamit keluar sebentar. Katanya mau menghirup udara segar di taman. Kasian bunda kalau di kamar terus. Biarlah dia berjalan-jalan sejenak. Melihat pemandangan di luar. Mumpung masih pagi, udara masih terasa sangat segar dan bersih.


"Fian bunda jalan-jalan dulu ya. Nitip Arin. Nanti kalau ada apa-apa tinggal pencet ini." Bunda menunjukkan tombol saklar. Sebenarnya Fian sudah tau. Fian hanya mengangguk.


" Iya bund, bunda jangan jauh-jauh, nanti nyasar ."


"Tidaklah, kan bisa nanya kalau salah."


"Betul juga, bunda pinter deh."


"Apaan si, ada-ada saja kamu. hahaha. Jagain Arin ya."


"Siap komandan." Fian memberi hormat pada bunda. Bunda tertawa. Fian senang melihat bunda sudah bisa tertawa. Fian senang bunda terlihat bersemangat.


Sepeninggal bunda, Fian menarik kursi ke dekat ranjang. Fian duduk di kursi itu. Fian memegang tangan Arin.


"Selamat pagi Arin. Apa kabar lo hari ini. Gue tahu lo sudah bangun. Gue tahu lo mendengar kata-kata yang gue ucapkan. Bangunlah. Bangun yuk. Temani gue berbincang. Gue sendirian Arin. Gue ingin berbicara banyak hal lagi seperti dulu." Fian berhenti berbicara. Dia memainkan jari-jemari tangan Arin. Jari itu bergerak. Fian melihat ke muka Arin. Ada senyum terhias di bibir seksi Arin. Fian ikut tersenyum.


"Lo cantik kalau tersenyum begitu. Teruslah tersenyum buat gue, buat bunda dan buat keluarga lo." Fian diam lagi. Dia tarik nafas panjang.


"Arin, gue tahu lo mendengar ini semua. Memangnya lo tidak capek tidur terus? Tak ingin kah lo bermain lagi bareng gue? Ingat ga pas kita memetik bunga ilalang di pinggir sungai, dan lo tercebur. Hahaha, celana lo sobek terkena kayu, Mana baju dan celana lo basah lagi. Dan akhirnya gue yang mengalah melepaskan kaos yang gue pakai untuk lo pakai. Padahal kaos itu kedodoran. Hahaha." Fian tertawa sendiri. Tapi ada air mata yang menetes di pipinya, Buru-buru dia hapus.Dia sedih mengenang momen itu sendirian.


"Gue ingin mengulang masa-masa kecil kita. Gue ingin mengenang semua yang pernah terjadi pada kita dulu. Biasanya kita mengenangnya berdua, kalau ga kita bertiga bersama Nando di bale-bale di samping rumah lo sambil menikmati rujak buatan lo yang pasti sangat super pedas." Fian berhenti lagi. Haus berbicara terus. Dia mengambil botol air mineral dan menenggaknya hingga habis separo.


"Arin, gue tahu hati lo terluka lagi. Gue tahu apa yang lo rasakan. Karena lo itu adalah gue dan gue adalah lo. Kita bisa saling merasakan yang kita rasakan dan kita berdua alami. Ayo kita lampiaskan apa sedang kita rasakan seperti dulu. Kita berteriak lagi di pinggir sungai. Melepaskan semua beban kita."


Fian terdiam lagi. Dia mainkan lagi jari jemari itu. Masih sama seperti yang tadi, jemari Arin merespon. Bahkan saat itu hari itu menggenggam erat jemari Fian. Fian tersenyum. Dia tahu Arin akan membalas semua perlakuan yang dia lakukan. Fian kembali memandang wajah Arin. Arin juga terlihat tersenyum.


"Teruslah tersenyum Arin gue."


Fian bangun dari duduknya. Dia mendekati wajah Arin. Dia dekatkan bibirnya ke bibir Arin.


"Maaf, ini harus gue lakukan, semoga lo mau bangun dengan cara ini." Ucap Fian. Dan Fian mencium bibir Arin secara perlahan. Dia tempelkan bibirnya ke bibir Arin, dia ***** sedikit bibir itu. Bibir Arin bergerak seperti menyambut. Ya Arin membalas ciuman Fian. Mereka berciuman cukup lama. Fian menyudahi ciumannya. Dia usap bibir Arin yang basah. Arin tersenyum. Fian juga.


"Bangunlah sayang. Gue menyayangi lo sepenuh hati gue."


Fian duduk kembali di kursi. Dia genggam lagi jemari Arin.


"Selamat pagi Fian."


Tiba-tiba terdengar suara Bara. Fian sedikit panik. Dia takut kalau Bara melihat yang dia lakukan.


"Eh, Selamat pagi juga Dokter Bara. Sudah saatnya jam kunjung dokter ya? Ternyata sudah jam delapan. Silahkan Dokter."


Fian berdiri dari duduknya dan menjauh sedikit, memberi tempat untuk melakukan pemeriksaan.

__ADS_1


Bara memeriksa semuanya . Mengecek satu persatu yang seharusnya di cek. Dia tersenyum. Dia tahu kalau sebenarnya Arin sudah bangun. Tapi sengaja masih ingin terlihat tertidur.


"Bagaimana keadaan Arin Dok? Apa sudah ada kemajuan?" Fian bertanya setelah dia melihat Bara menyelesaikan tugasnya dan merapikan semua alatnya.


"Sudah, semua sudah membaik.Tinggal menunggu kapan Arin siap untuk bangun." Jawab Bara dengan senyuman menghias bibirnya.


Kring... Terdengar nada dering ponsel milik Fian berbunyi.


"Maaf gue keluar dulu Dok, Mau mengangkat telepon." Fian pamit keluar ruangan. Di lihatnya panggilan dari Ai. Dia tidak ingin mengganggu istirahat Arin. Makanya dia mengangkat telpon di luar.


"Silahkan." Bara mengangguk.


Setelah Fian keluar, Bara duduk di kursi.


"Masih tidak mau bangun kah? Masih ingin tidur lagi kah? Sudah siang juga. Tidak ingin kah menikmati makanan yang di bawa Fian?" Bara memancing agar Arin mau bangun, karena Bara tau kalau Arin sudah bangun dari tidurnya. Pengaruh obat itu sudah habis.


Arin belum menunjukkan tanda-tanda kalau dia ingin membuka matanya.


"Dokter Bara, Bagaimana keadaan Arin." Bunda tiba-tiba sudah ada di dalam ruangan.


"Bunda, kapan masuk? Maaf saya tidak mendengar bunda datang. Arin sudah membaik. Mungkin sebentar lagi dia bangun."


"Benarkah Dokter, Alhamdulillah. Saya senang mendengarnya." Bunda merasa gembira dengan berita itu.


Bara pamit kepada bunda. Dia mau pulang jam dinasnya sudah selesai. Dia datang sore hari lagi karena dia kena shift malam.


Bunda duduk di samping ranjang. Dia tersenyum melihat Arin yang terlihat tidur dengan tenang. Wajah Arin juga terlihat berseri-seri. Dari tadi pagi Arin sudah tidak mengigau lagi.


"Bunda, sudah jalan-jalannya. Fian tidak melihat bunda masuk." Fian telah selesai menerima telpon dari temennya dan masuk ke ruangan lagi. Dilihatnya bunda sudah duduk di samping ranjang.


"Iya bun, Dokter Bara sudah pergi bun?"


" Sudah, baru saja dia keluar. Kamu tidak bertemu di depan?"


"Tidak bund. Bunda aku mau pulang dulu ya. Sebenarnya mau menunggu di sini. Tapi barusan ada telpon dari teman minta di anterin ke penjara. Pengen menengok Omed katanya."


"Iya Fian , silahkan. Terima kasih sudah menemani Arin. Salam buat Omed ya. Setelah Arin sadar nanti, kita akan mencabut tuntutan buat Omed."


"Mau dicabut? Kenapa bun. Biar saja dia merasakan di penjara. Salah siapa berbuat jahat." Fian terlihat emosi mendengar kata-kata bunda.


" Omed sudah menyesali perbuatannya. Biarlah Fian semoga dia sudah sadar bahwa perbuatan salah. Semoga dia tidak mengulangi nya lagi."


"Fian tidak setuju. Bunda terlalu baik sama orang yang telah jahat sama keluarga bunda. Sama mama, bunda juga tidak pernah marah. Padahal mama sudah begitu banyak menyakiti hati bunda." Fian memeluk bunda. Dia merasa tidak enak hati bila mengingat perlakuan mamanya ke keluarga Arin.


"Sebagai manusia biasa bunda juga merasa terluka Fian. Tapi semuanya sudah terjadi. Mau sebenci apapun bunda sama mereka, apa akan bisa membuat semua kembali ke awal .Kan tidak. Lebih baik kita mendoakan yang baik-baik buat mereka. Agar mereka bisa berubah lebih baik. Jadi Biar Allah saja yang membalas semua perbuatan mereka."


"Bunda memang yang terbaik. Mau jadi anak bunda saja Fian."


"Hus, tidak boleh begitu. Selama ini bunda sudah menganggap kamu seperti anak bunda sendiri. Dan jangan lupa doakan saja semoga mamamu segera di bukakan pintu hatinya."


"Amin."

__ADS_1


"Fian... Fian.. jangan pergi."


Tiba-tiba terdengar suara Arin. Arin mengigau lagi. Bunda dan Fian terkejut. Dilihatnya Arin masih memejamkan mata. Jadi dia mengigau lagi. Fian tersenyum. Dia tahu Arin sudah bangun. Tapi belum mau membuka matanya.


"Arin, gue tidak kemana-mana. Gue akan tungguin lo. Tapi sebentar saja ya mau antar teman menengok Omed. Tidak apa-apa kan. Nanti balik lagi kesini setelah dari kantor polisi. Gue janji tidak akan lama." Fian mendekati ranjang dan menggenggam tangan Arin. Arin pun membalasnya. Bunda tersenyum melihat itu semua.


Fian bangun dia sebenarnya tidak ingin pergi. Apalagi mendengar kata-kata Arin barusan. Tapi dia sudah terlanjur janji. Sebagai lelaki sejati dia harus menepati janji.


,🌸🌸🌸


Bara pulang setelah dari ruangan Arin. Jam kerjanya sudah selesai. Dia dapat shift malam.


Sampai rumah Bara disambut sang Mama. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Mama sedang menyiram tanaman. Banyak jenis bunga ditanam mama. Halaman menjadi terlihat sangat indah. Bunga mawar segala warna bermekaran. Bunga anggrek segala jenis juga ada. Semua terawat dengan baik dan menghasilkan bunga yang sangat indah dan berwarna warni. Sedap dipandang mata. Membuat tenang suasana hati siapa saja yang memandangnya.


"Assalamu'alaikum, selamat pagi Mamaku sayang. Bunga indah sekali. Secantik mama." Bara mendekati sang mama dan mencium tangan serta pipinya.


"Baru pulang sayang, tumben agak siang. Bagaimana pekerjaanmu hari ini?"


Bara duduk di ayunan besi. Sengaja sama papa di pasang sebuah ayunan besi untuk bersantai dan juga ada beberapa bangku yang sengaja di letakkan di taman untuk bersantai.


"Alhamdulillah Ma, pekerjaan Bara semua lancar dan pasien yang Bara tangani sudah ada kemajuan. Mungkin nanti malam dia sudah mau bangun."


"Amin, semoga semua pekerjaan kamu dilancarkan oleh Allah ya Nak. Kamu sudah makan belum. Mama membuat nasi goreng teri kesukaanmu. Abang kamu juga lagi sarapan kayaknya. Sono masuk. Keburu dihabiskan Arkan."


"Mau disuapin Ma."


"Dasar anak manja. Sudah gede masih saja minta di suapin."


Tiba-tiba papa sudah ada di antara mereka.


"Pagi Pa. Boleh dong Pa disuapin, masih pengen jadi anak kecil." Bara mendekati papa dan mencium tangannya juga.


"Ya udah Ma, Pa, Bara masuk dulu. Mau makan keburu dihabiskan Bang Arkan. Sudah lama tidak makan nasi goreng buatan Mama."


Bara masuk ke dalam rumah. Di lihatnya abangnya turun dari tangga memakai baju renang.


"Mau berenang bang."


"Sudah tau nanya. Baru pulang lo. Sarapan dulu Sono. Mama bikin nasi goreng teri enak banget. Gue udah makan dua piring."


"Doyan apa doyan tu. Masih ada jatah buat gue kan? Ga di habisin sendiri kan?" Bara berjalan beriringan menuju belakang.


"Telat sedikit saja, ludes itu nasi goreng. Habis buatan Mama selalu enak." Ucap Arkan sambil berjalan ke belakang menuju kolam renang. "Oh ya, jangan lupa janji lo mau cerita yang kemarin." ucap Arkan. Dia balik lagi ke meja makan hanya untuk mengingatkan Bara cerita tentang Arin.


"Masih ingat aja. Udah sono kalau mau berenang. Jangan ganggu gue, gue lapar." saut Bara. Di dorongnya tubuh Arkan menjauhinya.


Bara makan dengan lahap. Padahal tadi di rumah sakit sudah sarapan bubur ayam. Mungkin tadi sarapannya kepagian. Atau memang Bara rindu masakan mama. Baru jam sembilan sudah lapar lagi. Atau mungkin karena nasi goreng itu buatan mama. Yang akan selalu enak karena dibuat dengan cinta dan kasih sayang. Juga karena sudah lama Bara tidak makan masakan mama. Karena baru seminggu Bara pulang ke rumah. Ditengah makannya, Tiba-tiba Bara terdiam. Entah mengapa dia jadi teringat kejadian tadi. Kejadian yang tidak sengaja. Kejadian yang membuatnya berpikir. Kejadian yang membuat dadanya berdebar. Dia termenung. Bara menghentikan makannya. Dia malah Melamun.


Apa yang ada dipikiran Bara ya..


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like dan komen.


Terima kasih ❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2