Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 108


__ADS_3

Malam itu Fian pulang rumah dalam keadaan sepi. Setelah mengantarkan Arin sampai dengan selamat di rumahnya, Fian langsung masuk kamar. Dia ingin berendam untuk menyegarkan pikirannya.


Fian merasa sangat kecewa. Arin menolaknya. Mungkin memang sudah sangat terlambat dia mengungkapkan semua isi hatinya. Atau mungkin karena memang Arin dari dulu hanya menganggapnya teman. Atau mungkin Arin sudah berpaling.


Fian sudah tidak ingin menduga-duga. Namun dia belum menyerah. Dia masih ingin berjuang. Fian masih ingin menaklukkan hati Arin. Karena dia yakin kalau Arin menyukainya.


Dia ingat saat dia akan pergi ke Surabaya. Saat dia mencium bibir Arin, Dia tidak menolak. Bahkan Arin terlihat sangat menikmatinya. Jika tidak suka tidak mungkin hal itu terjadi. Karena Fian tahu ,Arin bukanlah orang yang gampang diperlakukan seperti itu. Dia tentu saja sangat mengenal bagaimana sifat Arin.


Setelah mandi Fian turun ke bawah perutnya terasa lapar. Saat sampai di ruang makan, sayup-sayup terdengar suara orang yang sedang bercakap-cakap. Fian mendengarkan dengan seksama. Ternyata suara itu terdengar dari arah belakang rumah. Mungkin mereka berbincang-bincang di taman belakang dekat kolam renang.


Fian berjalan mendekati tempat itu. Terlihat tiga orang dewasa sedang duduk di gazebo dekat kolam renang. Fian tidak berani mendekat. Dia hanya berdiri di dekat pintu teras belakang, agak tersembunyi. Fian ingin tahu apa yang sedang diperbincangkan oleh mereka bertiga.


Fian mendengar percakapan antara kedua orangtuanya dengan Adam dengan seksama karena ketiga orang tersebut berbicara dengan nada yang pelan.


"Mas seharusnya permusuhan ini tidak berlarut-larut. Mas Yanto sudah mengalah. Dia sudah tidak mengungkit lagi apa yang Mas lakukan."


"Diam kamu. Walaupun warisan telah jatuh di tanganku, orang itu tidak boleh sama sekali tahu kalau aku yang telah mengerjainya."


"Mas, apa ini tidak berlebihan. Bahkan bisa Mas lihat bagaimana kehidupannya saat ini. Dia hanya menjadi buruh serabutan. Bahkan istrinya ikut banting tulang untuk mencukupi kebutuhan mereka."


"Biarkan saja. Itu hukuman untuk orang yang sok tahu. Sok suci. "


"Mas, kenapa jadi begini. Dia tidak bersalah sama sekali. Dia orang yang baik."


"Aku tidak perduli."


"Benar Pa, Mama juga berpikir begitu. Apakah kita akan bermusuhan seumur hidup. Bahkan Fian sudah menurut semua mau kita."


Maria yang tadi hanya diam mendengarkan perdebatan antara suami dan adiknya ,ikut mengutarakan isi hatinya. Sebenarnya selama ini dialah dalang semua permusuhan ini. Dialah yang telah membujuk sang suami untuk merebut harta yang sebenarnya adalah milik Yanto.


Maria mengetahui semuanya. Dia bahkan tahu kalau sebenarnya suaminya hanyalah anak angkat dari Orang tua Yanto. Maka dari itu dia berusaha membujuk suaminya untuk menguasai semua hartanya dengan cara memfitnah Yanto. Dan semua berhasil. Ayah mertuanya percaya dan mengusir Yanto tanpa sedikitpun harta. Dan pada saat itu Yanto pergi dari tanpa sedikitpun membawa harta. Kecelakaan kemarin sedikitnya telah membuka matanya. Dia mendengar dari suster bahwa yang menolongnya dan yang menyelamatkannya adalah keluarga Yanto. Dia merasa malu orang yang selama ini dia musuhi masih mau menolong nyawanya.


Dia ingat sekali saat dia memarahi Fian dengan mencaci maki Arin, dia melihat sekilas bayangan Arin di pintu. Dia merasa terkejut. Maria melihat bagaimana reaksi Arin, terlihat sangat sedih namun sekilas kemudian Arin sudah menghilang. Maria tertegun. Kala itu dia langsung terdiam. Hatinya langsung bekerja. Apa selama ini dia sudah terlalu berlebihan mengumbar kebenciannya pada Arin dan keluarganya? Apa dia sudah berlebihan memperlakukan keluarga itu. Sebenarnya dia hanya tidak ingin Fian berpacaran dengan Arin. Kalau soal tersebut dia memang tidak pernah menyetujuinya. Karena walaupun hanya saudara angkat, mereka berdua tetaplah saudara. Namun kalau hanya berteman Maria mengijinkan.


"Ma, kenapa. Kamu terlihat bersedih."


Maria memandang sang suami. Airmata menetes dari kedua matanya.


"Pa, selama ini kita sudah keterlaluan kepada mereka. Walaupun mereka hanya saudara angkat tapi mereka adalah saudara yang baik. Kita sudah berlebihan membenci mereka pa. Hiks.. hiks.. Mama terlalu jahat pada Arin. Mama sering memaki dia."


Adam dan Sutejo terdiam. Mereka melihat penyesalan terpampang nyata di wajah Maria. Adam menghela nafas panjang. Dia sangat bersyukur sang kakak telah menyadari perbuatannya selama ini. Sedangkan Sutejo hanya menunduk lesu.


"Memang benar. Selama ini keluarga Mas Yanto memang tidak pernah menuntut apapun. Mereka diam saja atas semua perlakuan kita pada mereka." Sutejo menarik nafas panjang. Kemudian melanjutkan ucapannya.


"Sebenarnya yang memajukan usaha Ayah adalah Mas Yanto. Sejak remaja Mas Yanto belajar dengan giat. Aku pernah mendengar sendiri waktu itu, Mas Yanto pernah berjanji akan membalas budi pada Ayah dengan bekerja keras memajukan perusahaan Ayah. Dan janji itu benar-benar dipenuhinya. Aku yang jahat. Aku punya pikiran dia akan merebut semua harta Ayah."


Setetes airmata menetes di pipi Sutejo.


"Selama aku yang serakah. Aku menemukan satu fakta yang membuat aku terkejut. Pas hari kita kecelakaan, Waktu itu tak sengaja aku bertemu dengan teman Ayah di restoran. Dia bercerita kalau ternyata akulah yang anak pungut. Sebenarnya akulah anak yang mereka adopsi."


Sutejo memukul kepalanya sendiri. Dia benar-benar menyesal dengan yang dia lakukan. Maria tidak terkejut karena dia memang telah tahu fakta itu dari dulu. Maria mendekati suaminya. Meraih tubuh itu dan memeluknya erat.


"Ternyata akulah anak pungut itu. Aku shock waktu itu dan saat mengendarai mobil itu aku sedikit melamun. Dan terjadilah kecelakaan itu." Sutejo masih saja memukul kepalanya sendiri.


"Sudah pa, sudah. Jangan seperti ini. Mungkin sudah saatnya kita mengembalikan hak mereka."


Maria memegangi tangan suaminya. Dia tidak ingin Sutejo memukul kepalanya lagi.

__ADS_1


"Iya Mas, kapan kita cari waktu untuk mengunjungi mereka. Kita minta maaf untuk semua yang telah kita lakukan. Kasian Fian. Dia adalah korban sesungguh." Adam mencoba mengingat Sutejo. Memang selama ini Adam selalu dihantui rasa bersalah. Karena semua kejadian dia yang melakukan atas perintah Sutejo dan Maria.


"Tidak .. tapi aku tetap tidak setuju Fian bersama Arin." Potong Sutejo cepat.


"Kenapa memangnya Mas. Mereka saling mencintai. Mereka pasangan yang cocok." Adam mencoba membujuk Sutejo.


"Aku tetap tidak setuju untuk hal ini."


"Alasannya apa. Dari kecil mereka telah bersama. Mereka telah saling mencintai sedari mereka belia. Apa salahnya kalau mereka bersatu. Dan jika mereka bersatu yang pasti harta mereka tidak jatuh ke tangan orang lain. Dan tetap di tangan Fian sebagai menantunya."


Sutejo menunduk. Dia bingung harus berkata apa. Tapi benar juga ucapan Adam. Jika Fian menikah dengan Arin, harta itu tidak kemana-mana. Yanto pasti akan mewariskan juga pada Fian.


"Baiklah. Aku setuju. Aku akan merestui mereka."


Maria menggenggam erat jemari tangan suaminya. Dia tahu apa yang suaminya rasakan. Karena dia merasakan hal yang sama.


Sebenarnya Maria pun tidak rela jika semua harta yang dia miliki harus kembali ke tangan Yanto. Tentu saja karena selama ini dia bisa hidup mewah dengan harta yang begitu banyak. Haruskah dia kehilangan semua kemewahan ini.


Namun Maria sadar sesungguhnya memang harta itu bukan miliknya.


"Pa, istirahatlah dulu. Kita pikirkan nanti."


"Iya Mas, Mas Tejo istirahat dulu. Tapi aku berharap permusuhan itu hanya sampai di sini. Dan ingat. Pertimbangkan apa perkataan tadi." Tambah Adam.


"Oh jadi begitu ceritanya..."


Mereka bertiga terkejut. Tiba-tiba terdengar suara Fian. Mereka dari tadi tidak menyadari keberadaan Fian.


"Fiaan.."


Fian hanya tersenyum. Dia memandang satu persatu wajah ketiga orang tersebut ada rasa kecewa dan juga sedih. Ternyata selama ini kedua orang tuanya lah yang bersalah.


Maria berusaha menenangkan Fian. Dia melihat muka Fian yang terlihat sangat marah.


"Aku malu Ma. Malu sama keluarga Arin. Mereka baik padaku. Ternyata kalian semua punya ide yang tak masuk akal."


Fian melangkah pergi. Dia banting gelas yang dia pegang sedari tadi. Terlihat gelas itu hancur berkeping-keping. Menyisakan beling yang berserakan.


Adam berusaha mengejar Fian.


"Fian tunggu. Dengarkan kami dulu. Fian berhenti."


Adam terus saja mengejar Fian yang terlihat berjalan cepat ke arah kamarnya.


"Apalagi yang harus aku dengar Om. Kenyataan apalagi yang harus aku dengar." Fian berhenti sebentar. Namun sejurus kemudian melangkah lagi menuju kamarnya. Dia hanya ingin mengambil kunci motornya dan ingin pergi dari rumah. Pikirannya sangat kacau mendengar semua yang orangtuanya katakan tadi.


"Fian. berhenti dengarkan penjelasan Om dulu."


Adam berhasil mengejar Fian sampai ke kamarnya. Adam takut Fian akan melakukan hal yang tidak-tidak. Adam berusaha merebut kunci di tangan Fian dan mendorong Fian masuk ke kamarnya lagi. Kemudian Adam menutup pintu kamar Fian dan menguncinya.


"Duduk dulu sini, Om ceritakan semuanya. Kali ini Om tidak akan berbohong lagi. Yang kamu dengar tadi baru sepotong-sepotong pasti kan."


"Fian, Om Adam buka pintu. Andra pengen masuk."


Ternyata dari tadi Andra menyimak apa yang terjadi. Namun dia hanya diam saja. Tidak seperti Fian yang langsung bertindak atas rasa kecewanya itu. Adam membuka pintu kamar Fian dan menyuruh Andra masuk


"Baiklah, Om akan bercerita yang sesungguhnya. Kalian dengarkan dengan seksama. Jangan memotong sebelum Om selesai bercerita."

__ADS_1


Adam duduk di sofa yang ada di kamar Fian. Andra duduk di sebelah Adam. sedangkan Fian berdiri bersandar di dinding sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Maria dan Sutejo juga ikut menyimak. Namun mereka hanya berdiri di samping pintu.


Adam menceritakan semua kejadian yang terjadi dua puluh tahun. Di mana saat itu, dia di suruh Maria untuk membuat fitnah , agar Yanto ayah Arin bisa di keluarkan dari perusahaan tempatnya bekerja. Adam menceritakan semua, sangat detil tanpa terlewat sedikitpun. Bagaimana cara dia memfitnah dan dia yang di bantu Santoso. Tidak lupa dia ceritakan siapa sebenarnya Yanto itu dan siapa sebenarnya yang ada di balik semua peristiwa itu.


Fian dan Andra mendengarkan secara seksama tanpa menyela sedikitpun. Adam benar-benar ingin menjelaskan yang terjadi sesungguhnya agar semua jelas dan tidak ada salah paham lagi.


"Tunggu Adam.."


Tiba-tiba Sutejo menyela perkataan Adam.


"Kenapa rasanya semua yang kamu ceritakan adalah tanggung jawab Aku. Rasanya semua kesalahan kamu bebankan padaku."


"Bukan begitu Mas, tapi bukannya memang begitu. Sudahlah semua sudah terjadi saatnya sekarang kita minta maaf pada keluarga Mas Yanto. Bukan begitu Fian , Andra."


"Iya Pa, kita luruskan permasalahan ini. Sudah saatnya kita berbenah diri. Lebih baik meminta maaf terlebih dahulu, agar semua kesalahpahaman segera bisa di selesaikan. Tidak enak rasanya bermusuhan dengan keluarga sendiri." Ucap Andra bijak.


Suteja menarik nafas berat. Dia merasa berat juga. Karena dengan begitu dia pasti akan menjadi miskin. Dan juga dia merasa malu pada keluarga besarnya. Namun daripada dia menanggung beban seumur hidup, memang lebih baik dia menurut apa yang Andra bilang.


" Fian , Andra maafkan papa. Papa telah serakah. Papa akan melakukan apa yang kamu bilang. Papa akan minta maaf pada mereka."


Fian hanya menunduk. Baginya semua sudah hancur. Sudah tidak ada harapan lagi untuk bersatu dengan Arin. Kesalahan kedua orang tuanya baginya sangat fatal. Dia sudah tidak punya muka lagi di hadapan Arin.


Sebelum dia tahu semuanya, dia masih berani berharap. Namun sekarang baginya semua sudah hancur. Dia hanya bisa menunduk lesu.


"Fian maafkan papa ya.."


",Maafkan mama juga Nak. Dalam hal ini mamalah yang sangat bersalah. Mama sering memaki mereka. Hiks.. hiks.. Maafkan mama Nak."


Fian diam saja. Hatinya hancur. Semua hancur lebur. Harapannya hilang sama sekali. Dia menarik nafas panjang. Kemudian dia mengangkat kepalanya memandang semua orang dengan pandangan sendu. Sejurus kemudian dia berjalan ke kamar mandi dan membanting pintu.


"Aaaaaaaaaaakh..."


Semua orang terdiam. Mereka semua tahu apa yang Fian rasakan. Mama sesenggukan di pelukan Andra. Sutejo hanya diam menunduk. Sedangkan Adam duduk menengadah memandang langit-langit kamar sambil berkata.


"Seandainya kita tahu dan berpikir sebelum bertindak. Bahwa apa yang kita lakukan dahulu akan menyakiti semua orang. Pasti tidak akan begini kejadiannya. Kita telah menyakiti orang-orang yang kita sayangi. Maafkan Om telah ikut andil dalam hal ini."


"Aaaaaaaaakh... buk.. buk.."


Terdengar teriakan suara Fian dari dalam kamar mandi. Semua orang meneteskan air mata. Penyesalan sudah tidak ada gunanya. Semua sudah hancur.


"Mama berjanji akan menyatukan Arin dan Fian. Mama yang telah merusak kebahagiaan anak mama sendiri. Hiks.. hiks.. hiks.. mama yang banyak salah Andra.. Maafkan mama Nak. Hiks.. hiks.. hiks."


" Iya Ma.. Sudah ya Ma. Kita cari waktu untuk menemui Om Yanto. Kita minta maaf pada mereka."


"Iya Andra. Papa juga sangat menyesal. Tidak usah menunda waktu lagi. Besok pagi kita kesana."


"Iya pa.."


Semua orang masih berada di posisi masing-masing. Mereka merenungi apa yang terjadi selama ini. Kesalahan- kesalahan yang mereka berbuat kembali terkenang. Makian yang mereka lontarkan serasa menggema di seluruh ruangan.


Inikah hukuman bagi para pendosa. Rasa bersalah yang begitu besar menyeruak di dalam dada. Rasa sesak memenuhi seluruh rongga dada. Sakit dan sakit. Air mata satu persatu jatuh membasahi pipi mereka. Tanpa Isak. tanpa suara.


Sementara Fian masih tenggelam dalam kehancuran di dalam kamar mandi. Karena dialah yang paling hancur dalam masalah ini. Dia masih bertahan berada di bawah kucuran air shower yang terus menyala. Menggigil, dalam balutan baju yang basah. Meratap, mengiba, mengharap ada keajaiban menolongnya.


Apa yang akan terjadi selanjutnya. Tunggu sebentar lagi kisah ini akan berakhir. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Kita tunggu saja episode- episode terakhir.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2