Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 38


__ADS_3

Jujur saja lebih baik


"Fian, Tunggu.Mama mau tanya.Jangan pergi dulu." Mama memanggil Fian yang terus saja melangkah walaupun mama masih terus memanggil. "Fian, dipanggil mama malah pergi. Gara- gara bergaul sama anak pembantu. jadi tidak punya sopan santun."


Fian menghentikan langkahnya. Dia menarik nafas panjang. Dia bingung mau di ladeni pertanyaan mama nanti pertanyaan nya pasti aneh-aneh. Mau di cuekin pasti keluar kata-kata makian buat Arin. Pasti mama menyalahkan Arin. Fian merasa serba salah.


"Ada apa si ramai banget." Andra keluar dari kamarnya.


"Adikmu Ndra di tanyain mama malah pergi. Tidak menghormati orang tua. Gara-gara bergaul sama anak pembantu." Mama terus saja menyalahkan Arin.


Andra ngasih kode ke Fian agar berhenti dan menjawab pertanyaan mama. Fian cuma mengangkut bahu. Andra mendekati mama.


"Sudahlah Ma, mungkin Fian capek. Dia kan baru pulang."


"Tapi kan duduk sebentar bisa, kita kan berbincang nya sambil duduk Ndra."


"Iya juga si Ma. Ya udah biar Andra yang manggil Fian. Biar Andra yang membujuk dia."


"Tidak usah Ndra. Mama mau berbincang sama kamu saja." Akhirnya mama malah menahan Andra untuk menemani berbincang.


"Ada apa si ma. Ada yang Mama pikirkan kah?" Andra mendekati mama dan duduk disampingnya.


"Iya, Mama ingin bercerita sama kamu."


"Cerita apa Ma? Andra siap mendengarkan."


Andra duduk menghadap Mama. Dia hanya ingin membuat mama senang. Dia sudah siap mendengarkan cerita mama.


"Ma, jadi pergi ga. Katanya mau ke rumah pak Santosa." Pak Sutejo datang sudah dengan pakaian rapi.


"Eh, iya Pa, maaf mama lupa. Sebentar mama ganti baju dulu. Andra besok lagi ya kita ngobrolnya."


"Iya Ma, Mau ke mana si Pa? Ke rumah pak Santosa yang camat itu?" Andra bertanya sama papa.


"Iya Ndra, mau mengucapkan ikut turut prihatin. Kan anaknya terkena kasus. Sekarang di penjara dia " Ucap Papa menjelaskan.


"Anaknya Om Santosa bukannya cuma satu ya Pa. Omed kan? Kena kasus apa Pa?"


"Apakah kamu belum mendengar? Kalau Omed merupakan dalang penusukan anaknya Pak Yanto."


"Jadi yang menusuk Arin itu Omed." Andra terkejut mendengar berita itu. Tidak di sangka temannya tega melakukan kejahatan kepada Arin.


"Andra naik dulu Pa." Andra langsung pergi ke atas, ke kamarnya. Tapi tidak jadi. Dia malah mengetuk pintu kamar Fian.


"Fian.. buka pintunya. Fian.. tidur ya ..buka sebentar." Andra menggedor pintu kamar Fian.

__ADS_1


Dengan mata mengantuk Fian membuka pintu. "Ada apa bang? Baru saja tidur. Kaget gue."


Andra masuk ke kamar Fian. Dia menutup pintu kamar dan menguncinya .


"Gue mau nanya. Benar Arin sakit karena ditusuk sama Omed?"


"Iya." Fian menjawab dengan malas. Dia masih mengantuk. Dia naik ke ranjang lagi dan memejamkan mata.


"Fian... Jangan tidur dulu. Sebentar gue mau tanya." Andra menarik tubuh Fian.


"Apa si bang, gue ngantuk, capek juga. Semalam gue ga tidur."


Andra masih saja mengganggu Fian. Dia masih penasaran tentang yang diucap Papa.


"Fian, gue mau tanya masalah Arin. Sebelum lo menjawab, gue akan terus mengganggu lo."


"Tutup pintu dulu, nanti mama sama papa mendengar apa yang kita omongin."


"Sudah gue kunci juga. Lagian mereka berdua pergi keluar juga. Sekarang jelasin semuanya. Gue pengen tau, semuanya."


" Iya apa yang pengen lo tau si bang."


"Semuanya. Semuanya tentang penusukan Arin. Tentang semua yang Arin alami." Andra memaksa Fian untuk bercerita.


Fian menceritakan semua yang telah dialami Arin. Dari awal mula kejadian sampai yang terjadi tadi pagi. Sejelas-jelasnya, Biar Andra tidak penasaran lagi. Tapi yang Bara mencium Arin, tidak dia ceritakan. Juga tentang dia yang mencium Arin juga tidak dia ceritakan. Fian tau perasaan Andra seperti apa. Dia tahu isi hati Andra. Fian tau kalau abangnya juga suka sama Arin. Dulu tidak sengaja Fian melihat Andra memandang Arin tidak berkedip dan itu sering dilakukan Andra. Pernah juga suatu saat Fian mendengar Toni yang menggoda Andra dan menyebut nama Arin. Fian cuma pura-pura tidak tahu. Fian menghargai perasaan abangnya. Biarlah mereka berdua bersaing secara jantan. Itu yang dipikirkan Fian.


" Tidur tinggal merem. Eh Fian, lo sudah nengok Omed belum?"


"Sudah tadi, Gue tadi ke kantor polisi sama Ai sama Via. Kan kasusnya belum dilaporkan secara resmi sama keluarga Arin. Emosi gue melihat Omed. Pingin mukul rasanya. Pingin gue bikin hancur itu muka."


"Kenapa ga ngajak gue?"


"Memang jalan sendiri ga bisa. Abang udah keluar sono. Gue ngantuk.Kan sudah gue ceritain semuanya. Kalau mau menjenguk Arin, nanti sore gue mau ke rumah sakit lagi, lo mau ikut tidak."


"Nanti sore, boleh deh "


"Udah belum. Sekarang keluar. Astaghfirullah Bang Andra. Bener- bener pusing kepala gue. Bakal ga bisa tidur kalau sudah begini."


"Iya, sekarang gue keluar. Cerewet sekali lo. Tapi, terima kasih infonya ya adikku sayang."


" Lebay, sudah tau pintu di manakan? Jangan lupa tutup kembali."


Tangan Fian menunjuk ke arah pintu. Rasanya pengen marah. Dari tadi dia di ganggu abangnya itu. Mana dia masih emosi gara-gara bertemu Omed. Sekarang Andra yang datang mengganggu. Ada saja yang menggangunya istirahat. Tadi bertemu Omed, belum ilang itu emosi. Di rumah bertemu mama dengan pertanyaan- pertanyaan yang bikin dia kabur. Baru saja Andra yang datang ke kamarnya. Kepalanya menjadi pusing. Fian sudah tidak dapat tidur lagi. Akhirnya dia hanya berbaring dengan berbantal kedua tangannya. Pandangannya menerawang ke atas. Dia teringat kejadian tadi pagi. Saat dia mencium Arin. Fian tersenyum. Akhirnya dia bisa mencium Arin. Dia bisa melampiaskan semua rasa rindunya selama ini. Dia bisa mencium orang yang dicintainya. Bukan karena nafsu. Tapi karena ingin membuatnya terbangun dari tidur panjangnya. Walaupun belum berhasil paling tidak dia sudah berusaha. Mungkin efeknya tidak langsung terjadi. Siapa tahu bisa membuat Arin merasa bahagia dan itu bisa menjadi sebuah motivasi buat dia kembali ingin hidup di dunia nyata. Dilihat dari respon Arin tadi, Dia terlihat bahagia. Dia tersenyum. Raut wajahnya menunjukkan bahwa dia merasa bahagia. Semoga kedepannya Arin akan terus bahagia. Lama kelamaan Fian merasa mengantuk juga. Dan akhirnya jatuh tertidur pulas. Dan bermimpi tentang putri Arin sang pujaan hati.


🌸🌸🌸

__ADS_1


Sore yang indah. Langit terlihat cerah tidak ada awan. Yang ada hanya semburat warna jingga di ufuk barat. Menandakan senja segera tiba. Mentari sudah mulai tenggelam. Walaupun sebentar, senja akan menghadirkan keindahan. Warna jingga keemasan, menghantarkan sang mentari ke peraduan. Pertanda berhenti nya aktivitas kehidupan. Semua orang menuju tempat peristirahatannya. Senja yang akan selalu dinanti, memberi warna walau sekejap mata. Penghilang rasa lelah dan gundah.


Senja itu Fian sudah sampai kembali di rumah sakit. Setelah seharian dia istirahat di rumah. Begitu juga dengan Bara, dia telah sampai juga di rumah sakit untuk memulai tugasnya sebagai seorang dokter. Jam praktek bara di mulai pukul tujuh. Sekarang baru pukul enam. Senja baru saja tenggelam. Semburat jingga masih terlihat. Bara memandangnya dari jendela. Senja yang indah tak ingin dia lewatkan. Seperti melihat wajah Arin di sudut senja. Terlihat begitu sayang untuk dilewatkan. Menambah semangat kerja. Seandainya tidak terbentur waktu kerja Bara akan betah berlama-lama menikmati senja.


Hari ini Bara belum ada waktu untuk melihat Arin . Tadi dia datang sedikit terlambat. Karena mama mengajak ngobrol dahulu, sampai dia lupa waktu, sehingga Bara berangkat kesorean. Untung hanya terlambat beberapa menit. Karena sebenarnya Bara adalah orang yang sangat disiplin. Jadi dia merasa tidak enak kalau sampai datang terlambat.


Pasien Bara sudah ada yang menunggu. Siapa yang tidak mau dilayani seorang Dokter yang tampan. Makanya selama ini pasien Bara selalu banyak. Semua sudah siap. Bara memulai melayani pasiennya. Tidak banyak, sengaja pakai kuota, biar pas sampai jam sepuluh malam saja. Sehabis itu, Bara dapat tugas mengunjungi pasien rawat inap. Termasuk Arin juga jadi tanggung jawabnya sepenuhnya. Ya malam Bara akan kembali menunggu Arin seperti kemarin. Semoga malam ini ada keajaiban.


,🌸🌸🌸


Fian duduk di bangku depan ruangan Arin. Dia datang tadi sebelum Maghrib. Siang hari dia tidur dengan sangat nyenyak. setelah tadi ada drama terlebih dahulu, Drama dia yang diganggu Andra dan berakhir ngobrol sama Andra. Semalam dia tidak tidur sama sekali, sehingga siang hari dia tidur pulas. Untung mama tidak curiga.Untungnya mama diajak pergi sama papa . Kalau tidak pasti mama sudah masuk kamarnya dan bertanya macam-macam. Bukan Fian tidak mau berbincang dengan mamanya, cuma kalau sudah ngobrol sama mama, pasti tidak jauh akan menjelekkan keluarga Arin. Sebenarnya ingin sekali Fian bertanya alasannya kenapa mamanya begitu membenci keluarga Arin. Tapi dia tidak tega juga, takut ada cerita menyakitkan dibalik rasa benci itu. Dia tidak tega bila melihat mamanya terluka.Fian juga tidak rela jika keluarga Arin dihina juga dicaci maki. Fian serasa memakan buah simalakama. Selalu dalam kebimbangan. Selalu dalam dilema. Memang hidup itu selalu ada dua sisi yang kadang membuat kita dalam kebimbangan. Yang membuat kita merasa berat untuk memilih satu hal. Seandainya bisa memilih keduanya, seandainya tidak harus membuat salah satu menjadi terluka. Untuk itu kita dituntut bersikap bijaksana dan penuh pertimbangan agar tidak berat sebelah.


Kembali ke Fian yang sedang duduk bersantai menunggu bunda yang sedang sholat di dalam ruangan. Tadi Fian sudah sholat Maghrib di mushola dan baru ke kamar Arin. Dia membawa makan malam buat bunda. Fian merasa kasian sama bunda yang tentu merasa capek menunggu sendirian. Ini malam minggu mungkin keluarga Arin ada yang datang menjenguk menggantikan bunda menunggu Arin. Tapi tadi dia sudah menelpon Rama, katanya Rama sibuk ada kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan. Sedangkan Ayah dan Nia ada jam lembur kerja, lumayan buat tambahan biaya rumah sakit. itu pikir mereka berdua.Bukan keluarga Arin tidak sayang pada Arin. Tapi memang keadaan lah yang mengharuskan begitu. Tapi bunda sangat mengerti, memang inilah keadaan yang harus mereka jalani ini.


"Fian, bunda sudah selesai sholat. Masuklah sini. Temani bunda berbincang." Bunda memanggil Fian yang sedang asyik memainkan ponselnya.


" Iya bun, Bagaimana keadaan Arin hari ini? Apa siang ini dia mengigau lagi?"


"Tidak Fian, Siang ini Arin bisa istirahat dengan tenang. Tidurnya terlihat sangat damai dan tenang."


"Syukurlah bunda, semoga ini pertanda baik ya Semoga ini malam terakhir dia tertidur. Dan besok sudah bangun kembali."


"Amin Fian, semoga ya. Kita hanya bisa berdoa dan berharap. Semoga keajaiban datang hari ini."


"Amin, semoga cukup satu minggu dia menginap di rumah sakit. Jangan lama-lama."


Mereka berdua masih terus saja berbincang sambil melihat ke ranjang Arin. Bunda duduk di sofa. Sedangkan Fian berdiri di samping ranjang. Fian masih saja memandangi Arin.


"Fian, bunda makan dulu ya. Terima kasih telah membawakan makanan buat bunda. Bunda selalu merepotkan kamu. Maafin bunda dan Arin ya."


"Apa si Bun, tidak merepotkan kok. Fian malah senang bisa membantu bunda dan Arin. Kita kan sudah seperti keluarga. Jadi bunda jangan sungkan ya."


Bunda mengangguk dan memulai makan malamnya. Bunda sangat menikmati makanan nya. Sedangkan Fian mengambil kursi dan duduk di samping Arin. Fian mengambil ponsel dan mengambil beberapa foto Arin yang tidur itu. Dia lihat kembali hasil jepretan nya itu. Dia tersenyum dia lihat Arin sangat cantik, walaupun sakit Arin tetap terlihat cantik. Arin akan selalu kelihatan cantik dalam keadaan apapun.


Fian tidak sadar kalau ada pergerakannya dari tubuh Arin. Tiba-tiba terdengar suara.


"Haus...haus...minum..minum. Tolong.. minum..haus."


Fian terkejut. Dia langsung menoleh.


Suara siapa itu. Siapa yang minta minum.


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan like dan komen.

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2