DICINTAI KAKAK TIRI TAMPAN

DICINTAI KAKAK TIRI TAMPAN
BAB 11


__ADS_3

Saat akan sampai di dekat kampus, lagi-lagi Luna meminta Saga menurunkannya di halte dekat kampus.


“Kenapa Sih Lun nggak mau dianterin sampe kampus? Kamu malu dianterin sama aku?”


“Bukannya malu tapi kalau kamu yang nganterin bisa gempar nanti” gumamnya dalam hati.


“Malu! Nggak kok Mas” jawabnya sembari membuka pintu mobil.


Namun ketika Luna akan keluar, Saga menarik jepit rambut Luna yang berbentuk hati yang terselip dirambutnya “nggak usah dipakai, jelek” katanya sembari menatap jepit rambut itu dan memasukkannya ke dalam saku jas


yang ia kenakan.


“Balikin nggak?” pinta Luna.


“Nggak” jawab Saga singkat.


Luna mendengus kemudian menutup pintu mobil dengan keras “brak”.


“Nyebelin banget sih” di sepanjang jalan sampai ke kampus Luna terus saja menggerutu, rasanya ingin sekali ia memukul wajah ganteng kakak tirinya itu.


“Luna” panggil Cheryl yang sedang duduk di bangku taman kampus, Luna menoleh kearah Cheryl lalu menghampirinya dan duduk di samping sahabatnya.


“Gue liatin dari tadi mulut lo komat-kamit, kayak lagi baca mantra”.


“Lo kira gue dukun” seru Luna sembari mengambil cemilan yang di bawa Cheryl.

__ADS_1


“Kapan ortu lo pulang” tanya Cheryl.


“Minggu depan”.


“Pulang Kuliah kita nongki-nongki yu di kafe biasa” ajak Cheryl yang juga di setujui oleh Luna.


Di tempat lain Saga yang sedang duduk di kursi kerjanya terus mengamati jepit rambut bentuk hati milik Luna yang ada di tangannya.


Tok Tok Tok


Suara pintu di ketuk dari luar, kemudian Tommy membuka pintu sembari melangkahkan kakinya masuk ke dalam dan berjalan mendekat ke meja kerja bosnya. Ia menaikkan kedua alisnya karena heran melihat bosnya yang fokus


menatap sebuah jepit rambut di tangannya dan tidak menyadari kedatangannya.


“Tuan” panggilnya, namun tak di respon oleh bosnya,


 “Tuan” panggilnya yang ketiga kali dengan menaikan volume suaranya.


Saga mendongakkan kepalanya dan melihat Tommy yang sudah ada dihadapnnya.


“Kapan kamu masuk Tom” tanya Saga.


“Sudah beberapa menit yang lalu saat anda fokus mengamati jepit rambut itu” sahut Tommy sembari terkekeh.


Saga menatap lekat wajah asistennya itu, sadar karena bosnya marah Tommy menyunggingkan senyum canggung di bibirnya.

__ADS_1


“Bagaimana Tom, kamu sudah memberitahu perwakilan perusahaan IT Corporation tentang pembatalan kerjasama kita”.


“Sudah Tuan, namun sepertinya mereka tidak terima dan meminta untuk bertemu langsung dengan Tuan”.


“Baiklah, atur jadwal pertemuan dengan mereka, aku penasaran


apa yang ingin mereka bicarakan”


“Kalau begitu saya permisi Tuan” Tommy membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan ruang kerja bosnya namun saat akan membuka pintu, “tunggu Tom” pinta Saga.


Tommy kembali membalikkan badannya “ya Tuan, apa ada yang anda butuhkan lagi?” tanya Tommy.


Saga seperti akan mengatakan sesuatu namun entah mengapa ia urungkan dan menyuruh Tommy untuk keluar. Setelah keluar dari ruang kerja bosnya, Tommy merasa ada yang aneh dengan gelagat bosnya tidak seperti biasanya yang selalu fokus dalam bekerja.


Setelah kuliah selesai Luna dan Cheryl pergi ke kafe tempat mereka biasa nongkrong. Luna mencari tempat duduk dan memilih di dekat pintu masuk, sedangkan Cheryl memesan minuman.


“Pesanan datang Ice Caramael Machiato dan Ice vanila Latte” kemudian Cheryl meletakkannya di atas meja.


“Makasih sayang” ucap Luna sambil menyeruput es kopi pesanannya.


Saat mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menyapa mereka.


“Luna, Cheryl” sapanya sembari tersenyum.


Luna dan Cheryl menoleh kearah laki-laki tersebut “Ka Adrian” Sapa mereka yang terkejut.

__ADS_1


“Udah lama ya kita nggak ketemu, boleh gabung nggak?” tanya Adrian.


“Boleh-boleh” sahut mereka kompak.


__ADS_2