
Hari yang di tunggu-tunggu Saga pun tiba, perasaan campur aduk menggelayuti hatinya, ada rasa senang, khawatir, semuanya jadi satu. Saga bergegas ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya. Tiba di kantor ia langsung naik ke lift menuju ruang kerjanya yang ada di lantai paling atas. Saga terlihat sibuk dengan dokumen di atas meja ketika Tommy berjalan masuk ke ruangannya, lagi-lagi Saga diingatkan oleh asistennya itu untuk rapat yang akan di adakan sebentar lagi.
Akhir-akhir ini Saga menjadi pelupa mungkin karena banyak hal yang ia pikirkan. Saga beranjak dari duduknya dan berjalan keluar ruangannya menuju ruang rapat bersama dengan Tommy yang berjalan di sampingnya.
Saat sedang rapat pun ia banyak melamun, raganya memang ada di ruang rapat namun jiwanya melayang entah kemana, sampai beberapa kali Tommy memanggil namanya namun tak ada respon dari Saga, hingga para karyawannya yang mengikuti rapat semua memandang ke arahnya.
Lantas Tommy mendekati Saga tangannya menepuk pelan bahu bosnya, akhirnya Saga pun tersadar dari lamunannya.
“Ada apa Tom?” tanya Saga dengan wajah bingung.
Tommy tersenyum lalu ia memberitahu tentang jalannya rapat yang sedang berlangsung, Saga mengalihkan pandangannya menatap karyawannya yang ada di ruang rapat kemudian mengatakan untuk melanjutkan rapatnya kembali.
Satu jam telah berlalu akhirnya rapat pun selesai, Saga keluar ruangan terlebih dahulu, saat Tommy akan menyusul bosnya salah satu teman kantornya menghentikan langkahnya dan bertanya pada Tommy ada apa dengan bosnya itu karena selama jalannya rapat ia hanya melamun, Tommy merespon dengan gelengan kepala karena ia sendiri juga tidak tahu.
Saga lalu meminta Tommy menyiapkan mobil, dan mengajak asistennya itu membantunya menyiapkan acara lamarannya di villa, saat ia sedang mengemudikan mobil Tommy memberanikan diri bertanya kenapa bosnya melamun saat di ruang rapat.
“Maaf Tuan kalau saya lancang, apa ada yang mengganggu pikiran Tuan soalnya dari tadi di ruang rapat Tuan tidak fokus dan hanya melamun?”.
__ADS_1
Saga menghela napas kasar, ia kemudian berbicara pada Tommy tentang apa yang menggelayuti pikirannya, setelah mendengar keluh kesah bosnya Tommy meresponnya dengan senyuman, baru kali ini ia melihat seorang Saga Ganendra tak percaya diri.
***
Pukul 14.00 Sonya mengajak Luna perawatan di salon miliknya, ia ingin anak sambungnya itu tampil cantik di acara nanti. Luna pun menuruti saja apa yang diminta mamahnya, ia tak lagi bertanya acara apa yang akan mereka datangi sehingga mamahnya membelikannya dress dan mengajaknya perawatan. Setelah selesai mereka pulang ke rumah, tak di sangka Wyman pun sudah ada di rumah.
“Jam segini kok ayah udah pulang?” tanya Luna yang heran ketika melihat jam di tangannya karena tak biasanya ayahnya sudah ada di rumah.
“Kita kan nanti mau pergi, jadi ayah juga pulang cepet” sahut Wyman ia berbicara-hati-hati agar tak keceplosan.
“Emang acara apaan sih yah, kayaknya penting banget deh, kemaren mamah beliin aku dress, sekarang mamah ngajak aku perawatan”
Saga dan Tommy sampai di villa, mereka langsung melakukan persiapan sebelum Luna dan orang tuanya datang, Bik Iroh juga membantu. Saga mempersiapkannya tidak di villa melainkan di tepi pantai, setelah persiapannya sudah selesai Saga berdiri sembari memandang lautan luas yang ada di hadapannya.
“Pah hari ini Saga mau melamar perempuan yang Saga cintai” gumam Saga seorang diri tak terasa air mata menetes dari pelupuk matanya.
Wyman, Sonya dan juga Luna terlihat sudah berada di dalam mobil, Wyman lalu melajukan mobilnya menuju tempat yang akan membuat anak gadisnya terkejut, sepanjang perjalanan Luna hanya fokus menatap layar ponselnya, beberapa kali ia mengirim pesan dan menghubungi nomor Saga, namun tak ada respon dari laki-laki itu sama sekali, ada perasaan kecewa dalam hati Luna.
__ADS_1
Kemudian Luna mengedarkan pandangannya keluar jendela, ia merasa tidak asing dengan jalan yang di laluinya.
“Ini kan mau ke villanya Mas Saga” celetuk Luna.
“Kamu udah pernah kesana Lun?” tanya Wyman sembari matanya melirik ke kaca spion memandang anaknya yang duduk di kursi belakang. Luna terdiam, ia tak langsung menjawab pertanyaan ayahnya.
“Eh kita udah mau sampai lihat tuh villanya ada di depan” Sonya membantu Luna mengalihkan perhatian suaminya.
Akhirnya mereka pun sampai, mobil Wyman terparkir di depan villa, namun tempat itu sepi seperti tidak ada penghuninya. Mereka bertiga turun dari mobil, Sonya lalu menghampiri Luna ia meminta ijin pada anaknya untuk menutup kedua matanya dengan kain.
“Ada apaan sih mah, kok mata Luna di tutup gini?” Luna yang kebingungan dengan kelakuan ibu sambungnya itu.
“Mamah mau ngasih kejutan buat kamu?”
“Tapi Luna hari ini kan nggak ulang tahun”
Sonya hanya tersenyum tak menjawab kata-kata Luna, lalu Wyman dan Sonya memapah Luna berjalan menuju pantai, tak berselang lama Cheryl datang, ia di beritahu Tommy untuk menyaksikan lamaran sahabatnya itu. Di balut mega merah yang meredup, nuansa sunset tepi pantai yang eksotis, ronanya menyinari seluruh sudut pantai
__ADS_1
Saga berdiri menunggu kedatangan pujaan hatinya itu. Akhirnya Luna pun sampai dan berdiri tepat di hadapan dirinya. Saga mengulurkan tangannya membuka kain yang menutupi mata Luna.