
Sonya yang tak mudah percaya begitu saja, lalu kembali menghubungi sahabat putrinya itu. Awalnya saat ditanya jawaban Cheryl sama seperti yang ia katakan pada Wyman, namun Sonya terus mendesak Cheryl hingga akhirnya gadis cantik itu memberitahu yang sebenarnya, bahwa ia juga sudah berusaha menghubungi Luna namun nomornya tidak aktif membuatnya terpaksa memberikan jawaban yang tidak sebenarnya, walaupun dalam hatinya ia merasa bersalah karena telah berbohong pada Wyman.
“Nggak apa-apa Cher, mungkin emang lebih baik kamu bohong, soalnya ada keyakinan dalam hati tante Luna sedang bersama dengan Saga” Sonya berusaha menenangkan kegundahan hati Cheryl yang terpaksa harus berbohong.
“Aku pikir juga begitu tante” ujar Cheryl, ia berhenti bicara sejenak sebelum melanjutkan perkataan yang ada di pikirannya “mereka nggak mungkin kawin lari kan tante?” suara Cheryl lirih.
“Itu yang tante takutin Cher, tante takut mereka berdua berpikiran sempit, nekat kabur”
“Terus sekarang gimana dong tante?”
“Coba kita tunggu sampe besok yah” ujar Sonya, lalu ia mengakhiri sambungan teleponnya karena takut Wyman mendengar pembicaraannya dengan Cheryl.
Sonya menyusul Wyman masuk ke kamar dan mendapati suaminya sudah berbaring di atas ranjang. Cukup lama ia menatap wajah suaminya yang sedang tertidur seraya melontarkan kata “maaf” dari mulutnya, ia sadar menyembunyikan kebenaran dari suaminya adalah hal yang salah namun wanita paruh baya itu pun tak ingin kedua anaknya menderita karena keegoisan suaminya yang menentang hubungan mereka. Lalu Sonya mematikan lampu kamar dan membaringkan tubuhnya untuk beristirahat.
Di Villa…
Malam semakin larut, udara mulai terasa lebih dingin di banding sore hari, semilir angin sejuk menerpa wajah dan rambut panjang Luna yang tergerai, tubuhnya mulai terasa kedinginan ia memeluk dirinya sendiri seraya menggosokkan kedua tangannya pada lengan yang terbuka, Luna hanya memakai kaos pendek dan celana panjang yang membungkus tubunya. Saga yang baru saja keluar membalikkan badannya kembali ke dalam untuk mengambil jaket yang ia simpan di kamar ketika melihat Luna yang kedinginan.
Luna yang masih berdiri di luar terkejut ketika ada seseorang yang memakaikan jaket ke tubuhnya.
“Dingin” tutur Saga, tangannya mengulur ke perut Luna seraya memeluk tubuh pacarnya itu.
“Tenang” Luna menjeda ucapannya, kemudian melanjutkannya lagi “aku pengen pergi dari rumah Mas, aku sudah berusaha bersikap biasa aja, tapi kalau ingat lagi ayah ternyata jodohin aku, rasanya aku pengen pergi jauh” imbuhnya lagi, pandangan matanya menatap jauh ke pantai yang terlihat gelap, hanya deburan ombak yang terdengar di telinganya.
__ADS_1
“Masalah tidak akan selesai kalau kita melarikan diri, akan lebih baik kalau kita menghadapinya” tutur Saga, ia tak ingin Luna mengambil keputusan yang salah.
“Kamu mau tinggal disini?” tanya Saga, yang di jawab cepat oleh Luna tanpa berpikir terlebih dahulu.
“Iya” sambil mengangguk.
Saga tersenyum lalu menggelayutkan kepalanya ke bahu Luna seraya berkata “Dingin Lun” tangannya memeluk erat tubuh Luna agar merasa hangat.
“Kita masuk aja Mas”
“Nggak, aku masih pengen disini” kemudian Saga membalikkan tubuh Luna agar wajah mereka saling berhadapan, cukup lama mereka saling memandang satu sama lain.
Luna mengangkat kedua alisnya dan melebarkan matanya seraya mengangkat kepalanya seakan menanyakan apa maksud dari Saga yang terus memandangnya tanpa berkata apa pun.
Saga menarik kedua sudut bibirnya lalu mengambil kesempatan untuk mendaratkan sebuah kecupan di bibir Luna, gadis itu tertegun ketika mendapatkan serangan mendadak dari laki-laki di depannya itu. Tangannya memukul dada bidang Saga seraya berkata “nakal” tutur Luna yang dibarengi dengan tawa mereka berdua.
“Mas Saga sama Non Luna…” ucap Bik Iroh dengan suara lirih.
***
Cahaya matahari pagi mulai menelisik masuk ke celah gorden kamar yang di tempati Saga, ia menyipitkan matanya karena terkena silaunya cahaya yang mulai terasa panas ketika menerpa tubuhnya. Saga turun dari ranjang dan berjalan keluar kamar, ia menengok ke kamar sebelah tempat dimana Luna tidur dan mendapati gadis itu sudah tidak ada di dalam kamarnya.
“Bik liat Luna nggak?” Saga bertanya pada Bik Iroh yang sedang sibuk di dapur.
__ADS_1
“Bibik liat Non Luna pagi-pagi udah keluar, mungkin dia ke pantai Mas?” sahut Bik Iroh.
Saga yang masih mengenakan baju dan celana serba pendek keluar untuk menyusul Luna ke pantai. Langit di atas sana tampak biru sejauh mata memandang, Luna tampak duduk seorang diri di atas hamparan pasir putih yang luas, di sekitarnya juga banyak orang yang melakukan hal yang sama duduk santai sambil menikmati sinar matahari pagi dan deburan ombak yang menyejukkan hati.
“Aku cariin tertnyata kamu disini” ujar Saga yang langsung memposisikan tubuhnya duduk di samping Luna.
“Aku lagi berjemur sambil menikmati pemandangan yang luar biasa indah” tutur Luna di barengi senyuman yang terukir indah dari kedua sudut bibirnya dan tak lupa ia membentangkan kedua tangannya hingga terkena leher Saga yang duduk di sampingnya.
Saga menepis tangan Luna “kamu tuh udah kelamaan berjemur, yuk balik” ajak Saga sembari menarik tangan Luna.
“Bentar lagi Mas” rengek Luna.
“Sekarang”
Luna menghela napas pelan, walau tak ingin beranjak pergi namun tetap saja ia menuruti perkataan Saga yang menyuruhnya untuk pulang dengan setengah hati. Saga yang berjalan lebih dulu di depannya, menghentikkan langkah kakinya dan berjongkok.
“Ayo aku gendong”
Luna tersenyum di barengi dengan gelengan kepalanya dan berlari naik ke punggung Saga “aku berat loh Mas” ucapnya.
“Aku tahu kok” sahut Saga yang kemudian berdiri dan mulai mengayunkan kakinya.
“Jadi aku emang berat” Luna mendengus.
__ADS_1
“Kan kamu tadi yang bilang sendiri, tenang aja lebih berat beban hidupku di banding berat badan kamu kok” seloroh Saga.
😉😉😘👇