DICINTAI KAKAK TIRI TAMPAN

DICINTAI KAKAK TIRI TAMPAN
BAB 38


__ADS_3

Matahari pagi mulai menyusup masuk melalui celah-celah jendela kamar, Saga yang masih tertidur di atas ranjang mulai mengerjapkan kedua matanya perlahan lalu membukanya dan memperhatikan seseorang yang tidur di sampingnya, ya ternyata Luna tertidur di kamar Saga.


“Pagi sayang” terdengar samar-samar suara berat laki-laki di telinganya, membuat Luna perlahan membuka kedua matanya, kepalanya menoleh


menatap laki-laki yang sedang berbaring di sampingnya seraya menyunggingkan senyum di bibirnya.


“Aku ketiduran yah” tutur Luna sembari menggosok kedua matanya dengan tangan.


“Bilang aja kamu emang nggak bisa jauh dari aku” tawa renyah terbit dari bibir Saga kemudian ia memposisikan dirinya duduk dengan menyender di sandaran ranjang.


“Iiih apaan sih” Luna mendengus ke arah Saga, ia mulai bangun dan hendak turun dari ranjang, namun ia urungkan niatnya karena mendengar suara Sonya dari luar pintu kamar Saga.


“Ga udah bangun belum, mamah bawa sarapan nih” teriak Sonya dari luar pintu.


Saga dan Luna terkejut dan saling beradu pandang, tidak sempat lagi bagi Luna untuk bersembunyi, Saga mulai berpikir keras menggunakan otak cerdasnya, satu-satunya yang terbersit di pikirannya menyembunyikan Luna di balik selimut yang menutupi tubuhnya.


“Masuk mah” ucap Saga, dia berusaha terlihat santai duduk di atas ranjangnya, sedangkan Luna bersembunyi di bawah selimut dengan posisi tubuh yang di apit kedua kaki Saga sedangkan kepalanya menyender di atas perut


Saga.


Sonya membuka pintu dan berjalan masuk mendekat ke arah Saga, wanita paruh baya itu menyunggingkan senyum kepada putranya kemudian ia meletakkan nampan yang berisi sandwich dan segelas susu panas di atas nakas.

__ADS_1


Lalu Sonya mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang “maaf ya Ga mamah nggak bisa nemenin kamu di rumah soalnya mamah harus ngecek lokasi pembangunan salon baru” Sonya mengusap lembut puncak kepala anaknya.


“Nggak apa-apa mah lagian di rumah juga masih ada bik Idah sama Luna, jadi mamah tenang aja” Saga meyakinkan Sonya agar tidak mencemaskan dirinya.


“Ngomong-ngomong soal Luna tadi mamah ke kamarnya tapi dia nggak ada, apa dia udah berangkat kuliah ya?” Saga diam ia bahkan tak menyahuti perkataan Sonya.


“Ya udah mamah keluar dulu yah, kalau butuh apa-apa panggil Bik Idah, jangan lupa sarapannya di habisin” Sonya beranjak dari duduknya dan berjalan keluar meninggalkan Saga yang tetap berada di posisi duduknya.


Saga menghela napas lega, jantungnya yang tadinya berdetak sangat cepat kini mulai kembali normal, setelah mendengar Sonya sudah keluar kamar, Luna segera menyibakkan selimut yang menutupi dirinya, terlihat keringat yang bercucuran di sekitar keningnya, rambutnya pun acak-acakan, Saga yang melihatnya hanya bisa tertawa.


 “Udah sana keluar, keburu mamah balik lagi loh” ucap Saga.


“Iya, ini juga mau keluar” Luna turun dari ranjang sembari merapikan rambutnya yang acak-acakan, kemudian ia melangkahkan kakinya berjalan ke arah pintu.


“Ada apa Mas?” Luna membalikkan badannya dan berjalan mendekat ke arah Saga, “kamu butuh sesuatu?” tanyanya lagi.


“Kamu ngelupain sesuatu yang penting Lun” ucap Saga seraya menatap manik mata Luna.


Luna mengernyitkan dahinya, ia tak mengerti dengan apa yang Saga ucapkan, “ngelupain apa?” tanya Luna masih dengan ekspresi wajah yang bingung.


Saga mengatakan sesuatu namun hanya bibirnya yang bergerak-gerak tanpa mengeluarkan suara ”c-i-u-m”. Luna yang tak mengerti dengan apa yang Saga katakan hanya diam dan memperhatikan saja “kamu ngomong apa sih Mas?”

__ADS_1


“Cium Lun, cium… sebelum kamu keluar cium aku dulu” tutur Saga sedikit kesal karena Luna tidak mengerti bahasa isyarat yang di tujukan padanya lalu Saga memonyongkan bibirnya ke arah Luna.


Luna tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya ia mendekatkan wajahnya dan “cup” ciuman mendarat sempurna di bibir Saga, Luna segera bergegas keluar dari kamar Saga karena tidak ingin kekasihnya itu melihat wajahnya yang merah merona karena malu.


Setelah Luna keluar dari kamarnya Saga beranjak turun dari ranjangnya berjalan tertatih-tatih menuju ke dekat jendela, ia berdiri pandangannya menatap jauh keluar seraya mengingat kembali kecelakaan yang di alaminya. Ia yakin ada seseorang yang ingin mencelakainya.


Di kampus.


Luna yang sedang berjalan menyusuri lorong-lorong kelas di kejutkan dengan teriakan Cheryl yang memanggil namanya.


“Luna…tunggu Lun” Luna menghentikkan langkahnya dan menengok ke belakang, melihat Cheryl yang sedang berlari mendekat ke arahnya.


“Ada apa Cher, lo sampe lari-larian gitu?”


“Bentar Lun gue tarik napas dulu, cape gue ngejar-ngejar lo” Cheryl membungkukkan badannya dengan napas yang masih terengah-engah sembari memegang lututnya, kemudian ia kembali berdiri tegak.


“Gue dengar Mas Saga kecelakaan?” tanya Cheryl dengan ekspresi wajah yang penasaran.


“Lo tahu darimana?” Luna balik bertanya, walaupun sebenarnya Luna sudah tahu darimana Cheryl mendapatkan kabar bahwa Saga kecelakaan namun ia ingin Cheryl yang mengatakannya sendiri, pasti seru melihat wajahnya yang malu ketika ia menyebut nama Tommy keluar dari mulutnya.


“E…itu Mas Tommy yang ngasih tahu” Cheryl tersenyum malu.

__ADS_1


“Ooh Mas Tommy, kayaknya sekarang kalian udah makin deket” goda Luna.


“Iihhh apaan sih” Cheryl menepuk bahu Luna dengan keras hingga membuatnya kesakitan, kemudian mereka berjalan beiringan masuk ke dalam kelas.


__ADS_2