
Dua hari kemudian, setelah Saga sembuh dari cederanya, ia kembali memulai aktifitasnya seperti semula, duduk di balik meja kerja dengan segudang dokumen yang menumpuk. Selama beberapa hari ia tidak masuk banyak sekali pekerjaan yang tertunda.
Tok…Tok…Tok…
Suara ketukan pintu terdengar dari luar, terlihat Tommy memasuki ruangan bosnya dengan membawa berkas di tangan kanannya.
Tommy melangkahkan kakinya ke dalam kemudian berjalan mendekat ke meja kerja bosnya.
“Ini Tuan hasil penyelidikan kecelakaan yang anda minta” Tommy menyerahkan map berwarna merah dan menyerahkannya pada Saga.
Saga membuka map yang diberikan Tommy padanya, keningnya tiba-tiba berkerut melihat isi dari map tersebut. Ia menengadahkan kepalanya dan menatap Tommy yang berdiri di depannya.
“Jadi ini memang sudah di rencanakan dengan matang, mereka bahkan menggunakan plat mobil palsu”.
“Benar Tuan” Tommy menganggukkan kepalanya.
“Apa aku pernah menyinggung seseorang” gumam Saga sendiri.
“Di lihat dari cctv, mobil berwarna putih itu sudah dua hari berada di sekitaran apartemen anda, sepertinya mereka menunggu anda mengendarai mobil sendiri baru melancarkan aksinya”
Saga menutup berkas yang d pegangnya, kemudian meminta Tommy melanjutkan penyelidikan kembali agar cepat menemui titik terang, ia tak mau hanya berspekulasi tanpa ada bukti yang jelas. Setelah mendapat perintah, Tommy kemudian berjalan keluar meninggalkan ruang kerja bosnya.
***
Sementara di tempat lain, di sebuah ruangan kerja yang luas yang di dominasi dengan dinding berwarna abu-abu dengan banyaknya buku yang berjejer rapi di lemari kaca, terlihat seorang laki-laki tengah duduk dengan angkuhnya sembari melihat foto yang berada di atas meja.
“Ini baru peringatan awal akan ada peringatan-peringatan lainnya tunggu saja Saga Ganendra” laki-laki itu tertawa menggelegar hingga memenuhi seluruh ruangan kerjanya sembari menatap gambar foto Saga yang mengalami kecelakaan.
__ADS_1
Di kampus.
Luna duduk menyendiri di kantin hanya di temani dengan segelas es teh manis yang tinggal setengah. Ia mengedarkan pandangan ke tiap sudut kantin mencari keberadaan Cheryl namun sahabatnya itu tak nampak batang hidungnya.
Terdengar suara ponselnya berdering yang ia letakkan tidak jauh dari tangannya, dengan sigap Luna mangambil benda pipih tersebut.
“Halo Mas” jawab Luna menerima panggilan telepon dari Saga.
“Kamu pulang jam berapa?” tanya Saga dari seberang telepon sembari tangannya tidak berhenti mengetuk-ngetuk meja kerjanya.
“Sekitar jam 16.00, emangnya kenapa?” Luna balik bertanya.
“Entar aja ngomongnya sekalian jemput kamu” sahut Saga seraya menyunggingkan senyum tipis di bibirnya, kemudian langsung menutup sambungan teleponnya.
Luna mengerutkan dahi, tak mengerti apa lagi yang akan Saga rencanakan kali ini. Ia terdiam matanya terus menatap tanpa berkedip ke arah gelas yang berisi es teh manis, Cheryl kemudian datang menghampiri Luna dan langsung mendudukkan tubuhnya di samping sahabatnya.
“Main nyambar-nyambar aja lo” gerutu Luna.
Cheryl hanya tersenyum mendengar perkataanya Luna. Ia menghabiskan es teh manis tanpa tersisa sedikitpun di dalam gelas. Cheryl menaruh gelas yang sudah kosong di atas meja, kemudian ia bangkit dari duduknya berjalan ke tempat ibu kantin untuk memesan es teh lagi karena ia benar-benar kehausan.
Cheryl kembali dengan membawa dua es teh manis di tangannya kemudian ia letakkan di atas meja.
“Nih es tehnya gue ganti” Cheryl meletakkan segelas es teh manis di depan Luna.
“Eh lo tadi belum jawab pertanyaan gue, lagi mikirin apaan sih?” Cheryl bertanya lagi, lalu ia menyeruput minuman yang baru saja di bawanya.
“Mas Saga barusan telepon gue, tanya gue pulang jam berapa, terus gue jawabkannya eeh...giliran gue tanya balik emang kenapa nanyain gue pulang jam barapa?, malah nggak di jawab sama dia, teleponya langsung di tutup” urai Luna tangannya tetap sibuk bermain ponsel.
__ADS_1
“Mau di ajak ke hotel kali Lun” goda Cheryl.
“Ngapain ke hotel mendingan juga ke apartemennya dia” sahut Luna asal membuat Cheryl tersedak.
“Uhuk…uhuk…lo gila ya, sekarang berani banget, sahabat gue udah nggak polos lagi” Cheryl terkekeh sembari tangannya menepuk bahu Luna beberapa kali.
“Aduh pelan-pelan Cher nepuknya”
***
Sore harinya seperti ucapnya di telepon tadi, Saga sudah tiba di kampus dan memarkirkan mobilnya di sisi sebelah kiri dekat dengan pintu gerbang, Saga sendiri sudah mengganti baju kantornya dengan mengenakan celana
jeans panjang dan atasnya memakai kaos hitam polos di tutupi jaket bomber yang warnanya senada dengan warna kaosnya, serta tatanan rambut yang di buat sedikit acak-acakan.
Tak berselang lama Luna datang menghampiri mobil sport sedan berwarna hitam metalik yang sudah tidak asing lagi baginya. Saga yang melihat Luna datang langsung membukakan pintu mobil dari dalam sembari menarik kedua
sudut bibirnya tersenyum kepada Luna.
“Udah lama ya…nunggunya” Luna mendudukan tubuhnya di kursi dan tak lupa ia memakai safetybelt.
“Belum lama kok, paling sekitar 15 menitan” ucap Saga seraya tangannya mengusap lembut puncak kepala Luna. Mendengar ucapan Saga, Luna menoleh dan menatap Saga yang berbicara tanpa ekspresi.
“Kita mau kemana Mas?” tanya Luna yang penasaran.
“Kencan” jawab Saga.
“Kencan” Luna mengerutkan dahinya dan mengulang jawaban Saga,
__ADS_1
ia menoleh dan memicingkan matanya menatap curiga ke arah Saga yang sedang serius mengemudikan mobilnya.