
Saga tersadar, matanya menatap sekeliling ruangan yang asing baginya, dari arah pintu datang seorang perawat menghampirinya.
“Anda sudah sadar?” tanya seorang perawat yang berjalan mendekat ke arah Saga.
“Aku dimana?” perlahan Saga bangun dan memposisikan tubuhnya duduk, salah satu tangannya memegang kepalanya yang terluka.
“Anda di rumah sakit, tadi ada orang yang membawa anda kemari setelah mengalami kecelakaan, kami juga sudah menghubungi keluarga anda, mungkin sebentar lagi mereka datang” setelah mengecek keadaaan Saga, perawat itu meninggalkan Saga yang masih kebingungan, ia berusaha mengingat apa yang terjadi padanya.
“Saga!” dari arah pintu Sonya berlari menghampiri anaknya yang sedang terluka, di susul Wyman dan Luna yang berjalan di belakangnya. Sonya menangis dan langsung memeluk tubuh anaknya.
“Pelan-pelan mah, kalau Mamah meluknya kaya gini, aku malah tambah sakit” seloroh Saga yang masih bisa bercanda agar Sonya tidak terlalu khawatir.
“Kenapa kamu bisa kayak gini Ga? Pasti kamu bawa mobilnya ngebut ya?” Sonya melepaskan pelukannya dan menatap lekat wajah anaknya.
“Nggak kok mah, aku nggak ngebut, cuma kurang hati-hati aja” Saga tidak mungkin menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada mereka, ia tidak mau membuat keluarganya lebih khawatir lagi.
Seorang perawat datang menghampiri mereka di ruangan dan meminta salah satu anggota keluarga Saga mengikutinya untuk bertemu dengan dokter. Sonya yang di temani Wyman berjalan keluar mengikuti perawat tersebut, dan meninggalkan Saga dan Luna berdua di dalam ruangan yang di dominasi dengan warna putih.
Saga menatap Luna dengan senyum tipis menghiasi wajahnya, ia melihat gadis yang di cintainya menangis tanpa mengeluarkan suara hanya air matanya saja yang jatuh membasahi pipinya.
“Mau sampai kapan kamu berdiri di situ, kamu nggak mau meluk aku” Saga membentangkan keduan tangannya berharap gadis yang di depannya datang dan memeluk dirinya.
Luna berjalan menghampiri Saga dan memeluk erat tubuh tegap laki-laki yang ada di depannya, tangisannya seketika pecah, membuat hati Saga teriris perih, ia mengusap lembut rambut Luna yang terurai berusaha menenangkan, seolah-olah mengisyaratkan bahwa ia baik-baik saja.
__ADS_1
“Udah nggak usah nangis terus, jelek tahu” kelakar Saga membuat Luna memukul punggung Saga dengan tangannya.
Luna melepaskan pelukannya, salah satu tangannya memegang luka di kepala Saga yang sudah di perban “sakit ya Mas?”.
“Awww sakit banget Lun, tapi kalau di elus-elus sama kamu pasti jadi nggak sakit” Saga tersenyum hingga deretan gigi putihnya terlihat seraya mendekatkan kepalanya ke arah Luna kedua tangannya masih melingkar erat di pinggang kecil Luna.
Luna menghela napas pelan di saat seperti ini Saga masih saja bisa bercanda ia yang tadinya khawatir kini mulai merasa tenang.
Terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah mereka, Luna secepat kilat memundurkan tubuhnya beberapa langkah ke belakang agar menjauh dari Saga, terlihat Sonya dan Wyman berjalan memasuki ruangan.
“Kata Dokter hanya luka luar jadi sekarang kamu bisa pulang Ga, untuk sementara kamu tinggal sama mamah ya…, mamah nggak akan biarin kamu tinggal sendirian di apartemen sampai luka kamu sembuh, setidaknya kalau di rumah ada mamah, ada Bik Idah dan juga Luna yang bisa merawat kamu.
“Iya mah” Saga mengangguk pelan, terbersit dalam hatinya perasaan senang, dari perkataan Sonya ia lebih menekankan pada kalimat Luna bisa merawat kamu, ia pasti akan melakukan berbagai cara agar Luna merawatnya, senyum seringai terlihat di wajahnya.
Saga turun dari ranjang pasien sedikit kesusahan ketika akan berjalan karena kakinya juga terluka, Wyman yang melihatnya kemudian meminta Luna membantunya karena dia yang berdiri tak jauh dari Saga.
Setelah itu mereka keluar dari ruang pasien, ketika di lobi rumah sakit Saga dan keluarganya bertemu dengan Tommy yang baru saja sampai.
“Maaf Tante saya baru datang” Tommy menundukkan kepalanya.
“Nggak apa-apa Tom, lagian kita juga udah mau pulang” sahut Sonya.
“Mungkin beberapa hari ini aku nggak datang ke kantor, jadi untuk sementara kamu yang urus pekerjaan aku” tutur Saga yang sedang di papah oleh Luna.
__ADS_1
“Baik Tuan”.
“Satu lagi urus juga mobil ku Tom” imbuh Saga sembari matanya menatap tajam ke arah Tommy seperti sedang mengisyaratkan sesuatu.
Tommy yang cerdas langsung mengerti arti dari tatapan tajam bosnya, ia kemudian berpamitan meninggalkan rumah sakit menuju tempat kecelakaan terjadi.
***
Tak berselang lama mereka akhirnya sampai di rumah, Bik Idah yang membukakan pintu terkejut melihat keadaan anak majikannya itu, “aku nggak apa-apa kok bik” ucap saja seraya tersenyum kepada Bik Idah.
“Lun anterin Saga ke kamarnya ya? biar dia langsung istirahat” pinta Sonya yang berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai bawah.
Luna memapah Saga hingga masuk ke kamar dan membantunya berbaring di atas ranjang, ketika Luna membalikkan badan melangkah untuk pergi, Saga langsung mencegah Luna dengan memegang tanganya.
“Jangan pergi temenin aku dulu sebentar” pinta Saga dengan ekspresi wajah yang memelas.
Luna yang tak tega akhirnya memenuhi keinginan kakaknya itu, ia memposisikan dirinya duduk di tepi ranjang namun Saga malah menarik tangan Luna hingga tubuhnya terjatuh di sebelah Saga.
“Mas jangan kayak gini nanti kalau ada orang yang tiba-tiba masuk gimana?” protes Luna yang berada di dekapan Saga.
“Tenang aja mamah sama om Wyman pasti udah tidur, bentar aja Lun kamu boleh pergi kalau aku udah tidur yah” rengek Saga.
“Dia kalau lagi sakit manjanya ngelebihin anak kecil” gumam Luna dalam hati.
__ADS_1