DICINTAI KAKAK TIRI TAMPAN

DICINTAI KAKAK TIRI TAMPAN
BAB 58


__ADS_3

“Aku suka sama Mas Tommy” Cheryl mengungkapkan perasaannya pada laki-laki yang ada di hadapannya itu, ia tidak peduli dengan jawaban Tommy, mau menerimanya atau malah justru menolaknya, ia hanya ingin orang yang


disukainya tahu tentang perasaannya selama ini.


Tommy terdiam setelah mendengar ungkapan perasaan dari Cheryl, perempuan yang di sukainya juga, namun Tommy sadar dengan statusnya yang hanya dari keluarga sederhana di banding dengan keluarga Cheryl, orang


tuanya seorang pengusaha, ia tidak berani bermimpi terlalu jauh.


“Maaf Cher aku…”


“Nggak perlu dilanjutin Mas, aku udah tahu kamu mau ngomong apa” potong Cheryl seakan dirinya sudah tahu apa yang akan Tommy katakan, Cheryl meremas dress yang di pakainya dengan tangan, hatinya terluka.


Tommy menatap lekat manik mata Cheryl yang terlihat jelas sedang menahan air mata yang mungkin sebentar lagi akan jatuh bercucuran membasahi pipinya, ada rasa sakit yang menusuk dihati Tommy. Kenapa dia harus menjadi laki-laki pengecut, bukannya hanya perlu mengatakan kalau perasaanya juga sama seperti yang di rasakan Cheryl terhadapnya, namun bibirnya kelu.


Kantor Saga


“Tom, serahkan dokumen ini ke bagian personalia” perintah Saga, ia mengudarakan tanganya yang memegang dokumen ke arah Tommy untuk di bawanya ke bagian personalia, namun laki-laki bertubuh tegap itu tak merespon


perintah bosnya.


“Tom” panggil Saga lagi sembari menatap wajah asistennya itu.


“Ada apa sama Tommy, nggak biasanya dia kayak gini, semenjak dia kembali setelah minta ijin keluar, dia jadi tidak fokus” batin Saga yang masih terus mengamati asistennya yang berdiri mematung di hadapannya.

__ADS_1


“Tom” panggil Saga lagi dengan meninggikan volume suaranya.


Tommy tersadar “iya Tuan ada apa?” tanya Tommy bingung.


“Kamu kenapa? Apa ada masalah?” giliran Saga yang bertanya, kemudian ia beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Tommy.


“Nggak ada kok Tuan” Tommy mengambil dokumen yang ada di tangan Saga lalu berjalan keluar ruang kerja bosnya.


Namun belum lama keluar Tommy kembali lagi dan menanyakan tentang dokumen yang di pegangnya harus di serahkan kemana?


Saga menggelengkan kepalanya “serahkan ke bagian personalia” tuturnya.


Ketika sedang berjalan menuju bagian personalia, wajah Cheryl terus membayangi pikiran Tommy  membuatnya tidak bisa konsentrasi dalam bekerja.


“Hiks…hiks…” Cheryl terus menangis di pelukan Luna, ia tidak menyangka ternyata rasanya sesakit ini ketika perasaannya tak terbalas oleh laki-laki yang disukainya.


“Kenapa Mas Tommy nolak aku Lun? Apa aku nggak pantas buat dia?”


Luna ikut sedih melihat sahabat dekatnya terus saja menangis tanpa henti, rasanya ia seperti ikut merasakan kesedihan yang Cheryl alami.


“Dari pada kamu nangis terus di sini, mendingan sekarang kita pergi, aku turutin kamu mau pergi kemana?”


Cheryl berpikir sejenak, lalu ia membuka mulutnya dan berkata “aku mau ke pantai” tutur Cheryl lalu ia mengusap air mata yang masih menempel di pipinya.

__ADS_1


“Oke” sahut Luna menuruti keinginan sahabatnya, kemudian Luna melajukan mobilnya menuju pantai.


Dua jam perjalanan akhirnya Luna dan Cheryl tiba di pantai, Cheryl keluar dari mobil dan berlari ke arah tepian pantai pasir putih yang luas.


“Lun sini” teriak Cheryl memanggil sahabatnya dengan melambaikan tangannya ke arah Luna yang masih berdiri di samping mobil.


“Iya” sahut Luna, kemudian ia berjalan mendekati Cheryl yang terlihat asyik bermain air laut. Untuk sejenak Cheryl mungkin melupakan kesedihan yang baru saja dialaminya.


Karena keasyikan bermain di pantai, Luna dan Cheryl sampai lupa waktu, matahari sudah condong ke barat menandakan bahwa hari sudah sore, Luna mengajak Cheryl untuk pulang ke rumah namun gadis yang sedang patah hati itu menolak, ia masih ingin mendengarkan deburan ombak dan merasakan semilirnya angin pantai yang membuat hatinya tenang.


Luna hanya bisa pasrah menuruti keinginan sahabatnya itu, dia berpikir mungkin kalau dirinya yang ada di posisi Cheryl sekarang, ia juga akan melakukan hal yang sama seperti yang sahabatnya lakukan.


“Baru kali ini aku di tolak laki-laki, biasanya aku yang menolak mereka, ternyata rasanya kayak gini, apa ini yang dinamakan karma” pungkas Cheryl tersenyum kecut, mereka berdua duduk di atas pasir putih di tepian pantai.


“Huss! Kalau ngomong tuh jangan sembarangan” protes Luna ketika mendengar ocehan sahabatnya.


Cheryl kembali menitikkan air mata “malam ini aku nggak mau pulang Lun” ucapnya.


Luna bangkit dari duduknya memposisikan tubuhnya berdiri di samping Cheryl, lalu menarik tangan sahabatnya agar ikut berdiri “yuk kita cari penginapan di sekitar sini” ajak Luna yang di respon dengan anggukan kepala oleh Cheryl tanda ia setuju dengan pemikiran Luna.


Mereka kemudian menaiki mobil dan melesat mencari penginapan yang tempatnya tidak jauh dari pantai yang mereka datangi.


Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian di bawah

__ADS_1


Terima Kasih 😘


__ADS_2