
Luna duduk di meja makan sambil menyantap nasi goreng yang Saga buatkan untuknya hingga habis tak tersisa di atas piring.
“Kamu laper ya, sampe bersih gitu piringnya” ledek Saga.
Luna hanya tertawa ketika Saga meledeknya, kemudian ia beranjak dari duduknya untuk membersihkan piring kotor yang ia gunakan. Saga yang masih duduk tak melepaskan pandangannya sedikitpun dari gadis cantik yang sudah mengisi kekosongan hatinya itu, ia teringat kembali ketika Luna baru saja datang ke apartemennya matanya terlihat sangat sembab.
Luna mematikan keran air setelah ia selesai mencuci piring, kemudian ia membalikkan badannya dan mendapati Saga sedang memandang dirinya yang membuatnya salah tingkah.
“Sini duduk” titah Saga pada Luna.
Luna berjalan mendekat lalu memposisikan dirinya duduk di sebelah Saga “ada apa Mas?”
“Semaleman kamu nangis terus ya? mata kamu sembab” tutur Saga dibarengi dengan tangannya yang memegang pipi mulus pacarnya itu.
Luna terdiam dengan menutup rapat mulutnya, senyum tipis terlihat dari sudut bibirnya namun ada kesedihan yang terpancar dalam sorot matanya.
“Aku nggak tahu Mas harus gimana? Bawa aku pergi dari sini Mas” tutur Luna dengan suara yang bergetar, setetes air mata tanpa terasa mengalir turun dari sudut matanya.
Melihat pacarnya menangis membuat hati Saga menjadi sakit, lalu ia memeluk tubuh gadis yang ada di hadapannya itu.
“Mungkin kalau aku yang dulu, aku pasti udah bawa kamu pergi jauh dari sini” suara Saga lirih, ia menjeda kalimatnya sejenak lalu kembali berkata “tapi sekarang aku juga harus mikirin mamah dan juga karyawan yang bekerja di perusahaan, aku nggak bisa mengabaikan mereka begitu saja”
“Aku akan bicara sama Om Wyman agar beliau bisa merubah keputusannya” imbuh Saga lagi setelah melepaskan pelukannya.
__ADS_1
“Itu nggak mungkin Mas, sekalinya ayah udah ngambil keputusan dia nggak akan pernah merubahnya lagi”
“Setidaknya aku harus tetap mencobanya” ucap Saga, yang membuat hati Luna tersentuh.
Suara gemuruh petir di luar sana membuat perhatian dua orang insan yang sedang mengobrol teralihkan. Luna beranjak dari duduknyan dan berjalan menuju balkon dan mendapati langit mulai terlihat mendung, pertanda hujan akan turun sebentar lagi.
“Kamu nggak kuliah” Saga berjalan mendekati Luna yang masih berdiri di balkon.
Luna menoleh ke arah Saga yang berada di belakangnya sembari menggeleng pelan “nggak” jawabnya singkat.
“Oke kalau gitu, aku juga nggak akan ke kantor biar Tommy yang mengurus kerjaan ku hari ini”
Luna tersenyum dengan mengangkat jarinya ke atas dan membentuk tanda ok sambil mengedipkan mata.
kerjaannya.
Tommy menghela napas panjang hingga terdengar di telinga bosnya itu, kemudian Saga mengatakan pada laki-laki pemalu itu bahwa ia akan memberikan bonus dua kali lipat dari yang biasa ia dapatkan. Mendengar kata bonus dari mulut bosnya membuat mata Tommy berbinar senang ia bahkan berkata pada bosnya untuk sering-sering tidak masuk kerja agar ia cepat kaya sembari tertawa renyah.
Setelah selesai menghubungi Tommy, Saga membalikkan badan berjalan menuju kamarnya untuk berganti pakaian sedangkan Luna sendiri masih berdiri di balkon sambil memandang langit yang terlihat sudah sangat gelap bahkan tetesan air pun mulai turun dari atas sana.
Saga keluar dari kamarnya dengan mambawa tas yang melekat di punggungnya “ayo kita jalan” ucap Saga yang berdiri di depan pintu kamarnya.
Luna menoleh ke arah pacarnya itu dengan mengerutkan kening,merasa heran melihat Saga yang sudah bersiap untuk keluar “mau kemana Mas?” tanya Luna dengan wajah bingung.
__ADS_1
“Udah ikut aja, entar juga tahu” Saga berjalan keluar apartemen diikuti Luna di belakangnya mereka menuruni lift menuju parkiran tempat mobil Saga berada. Setelah masuk ke dalam mobil Saga menonaktifkan ponsel miliknya begitu juga dengan ponsel Luna, hari ini ia ingin menghabiskan waktu berdua dengan pacarnya tanpa ada yang mengganggu. Luna yang melihatnya merasa heran, entah apa lagi yang akan di perbuat oleh pacarnya itu, Saga pun masih belum memberitahu Luna kemana mereka akan pergi. Hujan deras mengiringi perjalanan mereka.
***
Sementara di kampus ada seorang gadis duduk menyendiri di sebuah meja yang ada di kantin, matanya terus menatap ke arah ponsel yang sedang di pegangnya.
“Nomor Luna kenapa nggak aktif ya?” gumam Cheryl seorang diri.
“Luna mana Cher, kok kamu sendirian” tegur Adrian yang ternyata sudah ada di depan Cheryl namun gadis itu tak menyadarinya hingga mmbuatnya terkejut.
“Eh Ka Adrian” suara Cheryl lirih.
“Aku juga nggak tahu Luna kemana dari tadi nomornya dihubungi tapi nggak aktif, kayakanya hari ini dia nggak ngampus deh” imbuhnya lagi memberitahu Adrian.
Adrian hanya manggut-manggut mendengarnya, kemudian ia pergi meninggalkan Cheryl yang masih duduk santai di kantin sembari mengingatkan gadis itu agar tak telat masuk ke kelasnya.
Restoran Wyman…
Byantara datang ke restoran Wyman setelah pria paruh baya itu menghubunginya lewat telepon untuk menemuinya karena ada hal yang ingin dia bicarakan.
“Jadi bagaimana? Apa kamu sudah memutuskan?” tanya Byantara tanpa basa basi dengan wajah penuh harap agar perjodohan anak-anak mereka bisa terjadi.
Wyman mengangguk tanda menyetujui perjodohan ini, ia ingin agar Luna dan Adrian bisa segera bertunangan untuk menghindari hal-hal yang tidak ia inginkan apalagi setelah tahu hubungan asmara antara Saga dan Luna.
__ADS_1
Like dan komennya jangan lupa 😘😉👇