
Di Perusahaan...
Saga masih disibukkan dengan segudang pekerjaan yang menumpuk, terlihat jelas rasa lelah yang nampak di wajahnya, sesekali ia mengusap tengkuk lehernya dengan tangan, hingga ia pun tak menyadari meraih gelas kosong yang ada di atas meja kerjanya, kemudian ia letakkan lagi gelas kosong tersebut, dan beranjak dari duduknya berjalan keluar ruangan. Saga menuruni lift menuju kantin perusahaan, saat berjalan masuk ke dalam kantin, para pegawainya terlihat heran melihat atasan mereka datang ke kantin, Saga duduk sendiri di sudut paling belakang, kemudian penjaga kantin datang menghampiri Saga dan menanyakan apa yang atasannya butuhkan, Saga hanya meminta di buatkan secangkir kopi.
Sembari menunggu kopi yang sedang di buatkan oleh penjaga kantin datang, tangannya sibuk memainkan benda pipih yang di pegangnya, seharian ini dia memang belum menghubungi Luna, gadis itu pun tak memberi kabar pada Saga. Saat nama Luna ada di layar ponselnya, Saga menekan tombol hijau dan menghubungi pacarnya itu. Teleponnya tersambung namun tak ada respon dari orang yang di hubungi, beberapa kali Saga mencoba tapi hasilnya sama nihil, Luna tidak mengangkat telepon darinya.
Lalu Saga teringat kejadian saat mengantar Luna pulang ke rumahnya, gadis itu sedikit berbeda karena pas perjalanan pulang ia hanya diam seribu bahasa dan terlihat dingin.
“Apa Luna lagi marah sama aku , kenapa aku telepon nggak di angkat?” gumam Saga.
Kemudian datang penjaga kantin membawakan kopi yang dipesan Saga dan meletakkannya di atas meja, Saga tersenyum sembari mengucapkan terima kasih, penjaga kantin itu lalu pergi untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.
***
Sementara Tommy setelah selesai berkeliling membeli barang yang di butuhkan di Mall, ia kemudian mengajak Cheryl untuk menemaninya ke viila bosnya yang ada di tepi pantai.
“Sebenarnya Mas Saga mau ngadain acara apa sih Mas?” tanya Cheryl yang penasaran saat berada dalam perjalanan menuju villa milik Saga dengan Tommy.
“Aku juga nggak tahu, Tuan Saga nggak bilang apa-apa”
__ADS_1
Butuh beberapa jam perjalanan bagi Tommy untuk sampai di viila karena lokasinya yang lumayan jauh dari kota, saat sampai Cheryl tak henti-hentinya merasa takjub karena tempatnya yang sangat indah, villanya yang langsung menghadap ke pantai membuat siapa saja yang tinggal disini pasti tidak ingin kembali.
Bik Iroh yang mendengar suara mobil berhenti di depan villa keluar dan mendapati asisten anak majikannya sedang menurunkan barang dari bagasi, Bik Iroh sendiri sudah di beritahu oleh Saga bahwa Tommy akan datang menemuinya , jadi ia tidak terkejut ketika melihat Tommy membawa banyak barang.
“Mas Tommy” panggil Bik Iroh dengan senyum mengembang di bibirnya.
Tommy menoleh ke arah suara wanita tua yang memanggilnya tak lupa sembari tersenyum dan melambaikan tangan.
“Biar bibik bantu Mas, tadi Mas Saga udah telepon cuma bibik heran sebenarnya Mas Saga mau ngadain acara apa ya?”
“Aku juga nggak tahu bik, tapi menurut aku sih ini semacam pesta kejutan”
Saat memasuki villa Cheryl juga terpesona dengan desain interior kontemporer yang mengusung konsep minimalis “wah keren nih yang bikin desainnya” ucap Cheryl.
“Ini Tuan Saga sendiri yang mendesain” ujar Tommy yang bangga karena atasannya memang serba bisa.
“Tuan Saga juga udah nagsih tahu kan bik kalau hari jum’at nanti dia akan kesini?” tanya Tommy.
“Iya Mas, tadi Mas Saga udah ngasih tahu semuanya, sepertinya ini acara penting”
__ADS_1
“Oh iya waktu itu Mas Saga dan Mba Luna juga menginap disini selama dua hari” imbuh Bik Iroh yang sedang berjalan menuju dapur.
Tommy dan Cheryl saling beradu pandang sembari menyunggingkan senyum simpul dibibir mereka, Cheryl memang sudah tahu tentang Luna dan Saga yang menginap di villa karena sahabatnya itu sudah menceritakan semuanya pada dirinya.
Setelah menaruh barang-barang di dalam villa, Tommy mengajak Cheryl berkeliling di sekitaran villa, dengan mata yang berbinar karena senang Cheryl tak sadar menarik tangan Tommy dan menggandenganya keluar menuju pantai yang hanya berjarak beberapa meter dari villa.
Sementara di perusahaan setelah dari kantin Saga kembali lagi ke ruang kerjanya, di benaknya masih memikirkan Luna yang tak mengangkat telepon darinya, andai saja hari ini ia tak lembur pasti Saga akan datang ke rumah pacarnya itu.
Suara dering ponsel terdengar di telinganya membuat Saga tersadar dari lamunannya, tangannya mengambil benda pipih tersebut di atas meja, terlihat nama Tommy berada di layar, Saga mengangkat telepon dari asistennya itu dan ia di beritahu bahwa semuanya sudah beres, kemudian sambungan telepon pun terputus.
Di kediaman Wyman, Luna berbaring di atas ranjang sembari memainkan ponsel, matanya fokus menatap layar yang terlihat nama Saga di dalamnya.
“Telepon nggak, telepon nggak” berkali-kali jarinnya ingin menekan tombol hijau yang terdapat pada layar untuk menghubungi Saga namun ia selalu mengurungkan niatnya, Luna masih mengingat saat berada di rumah Saga, ia merasa pacarnya itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya yang membuatnya menjadi curiga. Luna ingin sekali bertanya namun karena rasa gengsinya yang tinggi akhirnya ia membiarkan dirinya berpikiran negatif pada Saga.
Masih bersambung ya...
nantikan kelanjutannya
selamat membaca, terima kasih...
__ADS_1