DICINTAI KAKAK TIRI TAMPAN

DICINTAI KAKAK TIRI TAMPAN
BAB 112


__ADS_3

Minggu pukul 16.00 Saga datang ke sebuah kafe yang berada di pusat kota untuk memenuhi permintaan Tania yang ingin bertemu dengannya, ia tak sendirian Luna pun ikut dengannya hanya saja gadis cantik itu menunggu di dalam mobil.


“Beneran kamu nggak mau ikut ke dalam?” Saga yang terus bertanya berkali-kali hingga Luna bosan mendengarnya.


“Iya Mas, aku tunggu di mobil aja” Luna pun menyuruh Saga untuk masuk ke dalam, karena ia tahu Tania sudah menunggu nya.


Akhirnya Saga berjalan masuk ke dalam kafe dengan langkah berat, ia heran kenapa Luna tak mau ikut ke dalam bersamanya. Tania melambaikan tangan ketika melihat Saga mengedarkan pandangan mencari keberadaanya, setelah melihat Tania, laki-laki ganteng itu melangkah perlahan ke arah gadis cantik yang tengah duduk seorang diri.


“Udah lama ya nunggunya?” tanya Saga pada Tania seraya duduk di kursi.


“Nggak kok” sahut Tania dengan gelengan, kemudian ia menanyakan pada Saga ingin memesan minum apa? dengan sopan Saga menolaknya ia menjelaskan pada Tania bahwa ia tidak punya banyak waktu jadi ia meminta Tania mengatakan langsung tujuannya ingin bertemu dengan dirinya. Tania menatap Saga dengan pandangan sayu menurutnya Saga kini telah banyak berubah bukan seperti Saga yang dulu dikenalnya.


“Selamat ya Ga, bentar lagi kamu bakalan nikah sama Luna” tutur Tania dengan senyum yang dipaksakan.


“Seandainya waktu itu aku nggak pergi keluar negeri apa posisi Luna sekarang jadi milik aku” imbuh Tania lagi dengan wajah sendu.


“Mungkin” sahut Saga dengan memperlihatkan senyuman tipis dibibirnya.


“Tapi semuanya udah berlalu Tan, jadi alangkah lebih baik nggak perlu di bicarakan lagi”


“Apa kamu akan ngundang aku ke pernikahan kamu Ga?”

__ADS_1


“Kalau kamu di undang apa kamu mau datang, aku malah takutnya kamu akan berbuat macam-macam” sindir Saga yang di tanggapi dengan kekehan Tania.


“Jadi dimata kamu, aku perempuan seperti itu? Aku udah lelah Ga, aku bodoh kalau aku terus ngejar kamu, masih banyak laki-laki di dunia ini yang lebih baik dari kamu” ledek Tania.


“Kayaknya kamu udah banyak berubah sekarang”


Setelah selesai mengobrol mereka berdua akhirnya keluar dari kafe, Tania yang melihat Luna berada di dalam mobil, berjalan perlahan menghampiri gadis itu.


“Kenapa nggak ikut ke dalam Lun?” tanya Tania.


“Aku kasih kesempatan Ka Tania sama Mas Saga ngobrol dari hati ke hati” sahut Luna dengan senyum tipis menghiasi bibirnya.


Dengan gelengan kepala Luna berkata “nggak, aku percaya kok sama Mas Saga, dia nggak akan tergoda sama perempuan lain”


Tania tersenyum, sekeras apa pun dirinya berusaha untuk menghancurkan hubungan Luna dan Saga sepertinya itu nggak akan berhasil, melihat dua orang ini benar-benar saling percaya satu sama lain membuatnya iri, mungkin karena itu kenapa Saga sangat mencintai Luna. Melihat Saga dan Luna pergi tak terasa kedua sudut matanya berair, Tania terlihat mengusap air mata yang menetes dipipinya.


\~\~\~


Kemudian ia masuk ke dalam mobil dan mengendarainya menuju klub malam. Ia duduk seorang diri sembari meminum minuman beralkohol, Tania menghabiskan beberapa gelas dalam satu tegukkan membuatnya sedikit mabuk, setelah itu ia keluar mencari udara segar dengan langkah gontai.


Tiba-tiba ada orang yang berjalan dan menabrak tangan Tania hingga membuatnya hampir terjatuh namun tak disangka ada seseorang yang menangkap tubuhnya. Tania memandang wajah laki-laki itu dengan tatapan tajam.

__ADS_1


“Kayaknya ini cowok nggak asing” batin Tania.


Laki-laki itu kemudian memposisikan tubuh Tania berdiri seraya berkata “mba nggak apa-apa kan” ia mendengus mencium aroma alkohol dari tubuh Tania.


“Lo mabuk ya?” tanya laki-laki itu yang tidak lain adalah Adrian.


“Bukan urusan lo” bentak Tania ia kemudian berjalan terhuyung-huyung menjauh dari Adrian, karena tak tega melihat perempuan dalam keadaan mabuk berjalan sendirian di malam hari, akhirnya Adrian mengikuti Tania dari belakang.


Tania menghentikkan langkahnya dan membalikkan tubuhnya “Ngapain lo ngikutin gue” dengusnya dengan wajah marah.


“Lo mabuk, bahaya kalau jalan sendirian” tutur Adrian, ia kemudian meraih tangan Tania untuk mengajaknya pergi dari tempat itu.


“Lepasin!” Tania menghempaskan tangan Adrian.


Namun Adrian tetap menarik tangan Tania dan membuatnya mengikuti langkah laki-laki itu, entah kemana Adrian akan membawa Tania, mereka berjalan cukup jauh membuat Tania mengeluh sepanjang perjalanan.


“Gue mau dibawa kemana sih?”


Adrian hanya diam tak menjawab pertanyaan Tania, ia terus saja berjalan menyusuri jalanan malam yang di hiasi lampu-lampu di setiap sisi jalan.


 Selamat malam dan selamat membaca...

__ADS_1


__ADS_2