
Luna masih menundukkan kepalanya ketika Wyman mencecar banyak pertanyaan kepada Saga, ia juga tak mungkin tetap menutup mulutnya sedangkan pacarnya menghadapi ayahnya seorang diri.
“Sudah berapa lama kalian berpacaran?” Wyman terus mengorek apapun tentang hubungan kedua anaknya itu.
Luna menggenggam tangan Saga seraya kepalanya menoleh menatap wajah lelaki bertubuh tegap yang duduk disampingnya itu “kami sudah lama berpacaran yah” giliran Luna yang menjawab.
“Ayah nggak tahu harus ngomong apalagi sama kalian berdua, awalnya ayah ingin meminta pendapat kamu tentang masalah perjodohan ini Lun, tapi sekarang ayah udah mutusin akan menjodohkan kamu dengan Adrian, ini
keputusan ayah” Wyman beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju kamar, diikuti Luna dari belakang mengejar ayahnya.
“Aku nggak mau yah dijodohin sama Ka Adrian” tutur Luna dengan mata yang berkaca-kaca dan bibirnya bergetar menahan tangis.
“Ini sudah keputusan ayah Lun” sahut Wyman seraya menutup pintu kamar dengan mambantingnya membuat Luna terkejut.
Luna menggedor-gedor pintu beberapa kali seraya berkata “aku berhak memilih siapa yang jadi jodohku nanti, ayah nggak boleh mengambil keputusan sendiri” Luna menjatuhkan tubuhnya di lantai dengan posisi duduk bersimpuh di depan kamar ayahnya.
Tangisan Luna akhirnya pecah, air matanya terus menetes jatuh di pipinya tiada henti, membuat Sonya yang melihatnya ikut meneteskan air mata, Sonya yang tak tega melihat Luna yang masih duduk bersimpuh di depan kamar ayahnya berjalan menghampiri gadis cantik itu.
Sedangkan Saga sendiri masih duduk di tempatnya dengan menundukkan kepalanya, tangannya mengepal erat seperti sedang menahan amarah.
“Bangun Lun, kita bicarakan lagi besok sama ayah kamu”
“Tapi ayah mah”
__ADS_1
“Ayo mamah antarkan kamu ke kamar” Sonya membantu Luna berdiri dan memapahnya berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya.
Kemudian Sonya kembali turun dan mendapati Saga masih duduk seorang diri, entah apa yang sedang dipikirkan anak laki-lakinya itu sekarang, Sonya mendekati Saga dan memegang pundak anaknya dengan lembut.
“Sebaiknya kamu pulang dulu Ga, besok baru kita bicarakan lagi bila keadaannya sudah tenang” tutur Sonya yang hanya direspon dengan anggukan oleh Saga.
Saga bahkan tak berani menatap wajah mamahnya, ia bangkit dari duduknya dan langsung melesat pergi keluar dari kediaman Wyman. Setelah masuk ke dalam mobilnya, Saga melampiaskan amarahnya dengan memukul setir kemudinya beberapa kali kemudian ia melajukan kendaraannya dengan kecepatan di atas rata-rata.
Sonya masuk ke dalam kamar dan melihat Wyman yang sudah meluruskan punggungnya berbaring terlentang di atas ranjang, wanita paruh baya itu menatap wajah Wyman sembari meyibakkan selimut dan ikut berbaring di samping suaminya namun dengan posisi miring membelakanginya.
***
Keesokan paginya seperti biasa Sonya menyiapkan sarapan pagi sebelum ia pergi ke salonnya, Wyman sendiri tengah duduk di meja makan, di tangannya terlihat koran yang sedang ia baca sambil sesekali matanya menatap ke lantai atas dimana kamar Luna berada, namun tak ada tanda-tanda anak gadisnya turun untuk sarapan.
Melihat suaminya yang terus menatap kamar anaknya, Sonya berinisiatif untuk memanggil Luna dan mengajaknya sarapan.
Berkali-kali ia mengetuk pintu kamar Luna, namun tak ada respon dari yang empunya kamar, lalu Sonya mencoba membuka pintu yang ternyata tidak terkunci, kebiasaan gadis itu yang selalu lupa untuk mengunci pintu kamarnya.
Tak ada siapapun di dalam ketika Sonya membuka pintunya, ranjangnya terlihat rapih dan tas yang biasa Luna pakai untuk ke kampus sudah tak ada lagi di tempatnya.
“Apa dia udah berangkat kuliah” gumam Sonya seraya menutup kembali pintu kamar dan berjalan menuruni tangga menuju meja makan.
"Luna mana?" tanya Wyman pada istrinya yang terlihat berjalan sendiri.
__ADS_1
“Di kamarnya nggak ada, mungkin udah berangkat kuliah” sahut Sonya.
Sonya mendudukkan tubuhnya d kursi dan menyantap sarapan yang ia buat sendiri, tak ada obrolan di antara suami istri itu, mereka sibuk dengan aktifitas masing-masing.
Di tempat lain Luna mengendarai mobilnya dengan perasaan yang masih campur aduk, ia terus mengingat kejadian semalam, entah disadari atau tidak Luna menghentikkan kendaraannya di depan gedung yang menjulang tinggi yaitu di apartemen Saga, pandangannya menatap jauh gedung yang ada di hadapannya hingga air matanya tiba-tiba jatuh di pipi mulusnya.
Suara dering ponsel miliknya membuatnya tersadar, tangannya merogoh benda pipih tersebut yang ia letakkan di dalam tasnya. Luna menekan tombol hijau ketika tahu siapa yang menghubunginya.
“Halo”
“Kamu udah berangkat kuliah?” tanya orang yang berada di seberang telepon yang tidak lain adalah Saga.
“Emmm” jawab Luna singkat.
“Tapi aku malah nyasar ke apartemen kamu” imbuh Luna lagi yang membuat Saga tertawa ketika mendengarnya.
“Aku tunggu kamu di atas” ucap Saga yang langsung mengakhiri panggilan teleponnya.
Luna menaiki lift menuju lantai 20 dimana apartemen Saga berada setelah sebelumnya ia memarkirkan mobilnya dahulu.
Setelah sampai tangan Luna langsung menekan nomor sandi untuk membuka pintu apartemen, mendengar bunyi tombol pintunya ditekan Saga yang sedang duduk santai langsung beranjak bangun dan berjalan ke arah pintu.
Bibirnya menyunggingkan senyum ketika melihat gadis yang dicintainya berdiri dihadapannya dan langsung menarik tangannya agar ia bisa memeluk tubuh pacarnya itu.
__ADS_1
Tinggalka jejak kalian di bawah ya...
terima kasih 😘😘