Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Seratus Satu


__ADS_3

Beberapa menit kemudian kamar itu terbuka dengan pemandangan menyeramkan. Lebih horor dari rumah angker yang dihunii oleh ratusan Iblis dan Setan.


"Eh!!" Marco langsung salah tingkah. Vanya tampak murka dengan mata melotot tajam ke arahnya.


"Apa yang kamu lakukan? Apa kamu tidak tahu betapa susahnya aku menidurkan Ella, hah?" sembur Vanya penuh kebencian , kali ini memukul bahu Marco dua kali saking tidak tahannya.


Psikopat gila ini, ingin rasanya Vanya menggigit jarinya sampai putus.


"Maaf, Van!" Pria itu meringis malu, sejurus kemudian ia menghembuskan napas yang berarti kelegaan. "Aku pikir kamu membawa anakku kabur, Van. Aku benar-benar takut sekali. Jangan pernah berpikir untuk kabur dariku lagi."


Kabur?


Vanya semakin kesal mendengarnya. Bisa-bisa istri yang sedang berjuang susah payah menidurkan anak dibilang kabur. Tsk. Sepertinya otak pria ini benar-benar sudah tidak waras. Tapi bukan Marco kalau tidak mudah berprasangka buruk pada orang lain. vanya sudah hafal watak pria itu dengan gamblangnya.


Tahan .... Tahan! Aku harus bisa tahan dengan iblis penggoda iman yang satu ini.


Vanya berjalan masa bodo melewati Marco. Pria itu lekas mengekori gerakan Vanya menuju meja dispenser untuk mengambil segelas air minum.


"Van," lirih Marco dari belakang.

__ADS_1


Satu gelas air putih yang baru saja ia tuang dari dalam dispenser tandas diminum diri sendiri. Vanya tidak berniat memberikan minum untuk Marco. Biarlah ia pergi kalau perlu.


Vanya kembali berjalan menghindar, kali ini menuju sofa tamu untuk menghempaskan tubuh.


Rumahnya yang berukuran minimalis membuat ia tak mudah berlari menghindari suami sialan yang sejak tadi mengekori kemana pun ia pergi.


"Kalian tinggal berdua saja, Van?" Marco ikut duduk di sofa. Tepat di hadapan Vanya.


"Ada nenekku," jawab Vanya datar.


Kamu benar-benar tidak tahu malu Marco. Bisa-bisanya kamu tidak merasa canggung setelah menelantarkan kami bertahun-tahun. Batin Vanya terus menjerit. Perasaan rindu sekaligus emosi saling adu tubruk.


Marco mengedarkan pandangannya ke segela penjuru ruangan yang semuanya serba sederhana. Lantai dari kayu, peralatan rumah seadanya, tembok usang dengan banyak coretan di mana-nama, juga atap lapuk yang sudah bolong di berbagai sisi.


"Ngomong-ngomong di mana nenekmu, Van? Kenapa aku tidak melihatnya sedari tadi?"


Vanya menarik buku bacaan usang untuk mencari kesibukan. "Nenek sedang bekerja di perkebunan apel milik tetangga."


"Bekerja?" Alis pria itu berkerut karena terkejut. "Kenapa kamu membiarkan nenekmu bekerja?" Kembali bertanya tanpa rasa dosa sehingga Vanya harus mengelus dada berkali-kali.

__ADS_1


"Aku benci dengan pertanyaanmu, Marco!"


Buku yang hendak ia baca terlempar sempurna ke wajah Marco.


"Tentu saja manusia hidup harus bekerja, Bodoh! Aku dan nenek saling bahu membahu agar kami bisa bertahan hidup di tengah-tengah kesusahan. Sebagai seorang suami yang mencampahkan anak dan istri, seharusnya yang seperti itu tidak pantas kamu tanyakan!"


"Maafkan aku sekali lagi Van, aku pasti akan mengganti biaya finansial kalian selama empat tahun ke belakang. Jika nenekmu sudah pulang nanti, aku akan menjelaskan semuanya pada kalian, semoga semuanya mau mengerti keadaanku."


Kali ini aku tidak akan luluh begitu saja, batin Vanya seraya memandang Marco bersungut-sungut.


Dua tangannya terlipat di depan dada. "Aku tidak habis pikir dengan jalan pikiran pria! Bisa-bisanya kamu sekedar meminta maaf setelah semua yang kamu perbuat kepada kami. Apa memang semua pria berwatak enteng seperti ini? Tidak punya pikiran tidak enak saat berbuat salah. Coba kamu pikir berapa kali kamu meminta maaf dan mengulangi kesalahanmu berulang-ulang?"


"Mau bagaimana lagi Van? Selama ini aku sudah berusaha benar walau banyak melakukan kesalahan " Marco memasang ekspresi termenyedihkan agar Vanya segera luluh


"Aku bukan setan dan Malaikat. Aku manusia biasa. Hidupku berada di antara benar dan salah."


Kontan Vanya meradang.


Menyebalkan! Pintar sekali mulut pria ini kalau sudah bicara!

__ADS_1


***


Semarakan cerita ini dengan berbagai komen dan keseruan kalian.


__ADS_2