Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Sembilan Puluh Dua


__ADS_3

"Kalau kedua orang tuamu bersikeras mengatakan tidak setuju setelah bertemu, apa kamu masih ingin memperkenalkanku pada mereka?" Pertanyaan Vanya lebih terdengar seperti sebuah tuntutan tersendiri.


Marco mengangguk pasti. "Tentu saja aku akan tetap memperkenalkanmu pada mereka. Mami dan papiku harus tahu siapa wanita yang paling dicintai oleh anaknya. Ya, meskipun bayang-bayangannya terlihat sulit, aku akan berusaha menyatukan kamu dengan kedua orang tuaku. Ingat janjiku yang satu ini!"


Vanya sedikit merasa lega mendengar ucapan Marco barusan. "Lalu bagaimana dengan masalah perusahaan? Sebenarnya aku agak heran kenapa masalahnya bisa datang secara beruntun seperti ini. Pertama mamimu tahu pernikahan kita, kedua berita pernikahan kita tersebar luaskan. Sangat aneh, bukan?"


Marco mengangguk.


"Ini sudah jelas siasat! Tapi kamu tenang saja, Hero sedang menyelidiki masalah ini. Bahkan kali ini papi juga ikut turun tangan dan membantu menyelesaikan masalah perusahaan. Entah itu musuh dalam selimut atau saingan bisnis I-Mush Grup, kami berjanji tidak akan berhenti sebelum menangkap dalang di balik semua ini."


"Semoga saja bukan Nadia ya Co, jujur aku sedikit curiga pada wanita itu. Aku takut dia sakit hati karena kamu ceraikan."


"Semoga saja bukan Adit, karena pria itu bisa saja melakukan ini dengan alasan dendam," balas Marco tak mau kalah.


"Menurutku mas Adit bukan tipe orang yang seperti itu. Meski pernah melakukan kesalahan fatal karena menjual istrinya, dia bukan tipe orang pendendam. Buruk-buruk begitu juga aku mengenalnya dengan baik."


"Van ...." Membuat Marco memasang ekspresi merajuk tiba-tiba. "Jangan pernah sekali-kali membela mantan suamimu di hadapan suamimu! Aku sama sekali tidak suka mendengarnya!" tukasnya.


"Eh, maaf! Aku tidak sadar, aku hanya terbawa emosi saja." Vanya sedikit terkekeh memamerkan deretan gigi putihnya.


"Oh, ya ...." Tangan Marco sudah mulai menjelajah. Namun lagi-lagi Vanya belum puas mengorek informasi dari mulut pria itu. "Memangnya tidak masalah jika kamu menemuiku seperti ini? Sedangkan masalahmu saja belum ada yang kelar. Aku kasihan pada Hero, pasti kamu melimpahkan segala urusan kepadanya."


"Justru Hero yang menyuruhku datang ke sini. Ia ingin aku menyelesaikan masalah satu-persatu mulai dari kamu dulu. Mungkin dia begitu karena tahu aku tidak bisa konsen kerja. Otakku terus-menerus memikirkanmu di sana, aku khawatir. Ugh!" Marco mengeluh.

__ADS_1


"Ini apaan sih? Kenapa kamu menaruh guling di tengah-tengah kita seperti ini?" Marco lanjut mengomel saat tersadar dengan kehadiran benda menyebalkan itu.


Skat guling yang baru saja dijadikan penghalang untuk pertahanan Vanya terlempar ke lantai dengan sekali hempas. Marco mulai merapatkan tubuhnya hingga Vanya tak mampu berkelit lagi. "Berhenti mengobrol, aku benar-benar sudah lelah karena belum mendapatkan jam tidur sedikit pun. Bisakah aku menjenguk putri kita sebelum istirahat?"


Matahari tepat berada di atas puncak kepala saat Marco mendaratkan sapuan lembut pada permukaan bibir basah wanita itu.


Vanya mengiyakan keinginan Marco tanpa kata. Membiarkan pria itu meloloskan satu-persatu kain penghalang yang membalut bagian tubuhnya.


"Aku sangat rindu padamu, Van." Dihirupnya aroma tubuh wanita itu dalam-dalam. Jemarinya mulai bergerak seirama dengan decapan dua bibir yang sejak tadi enggan terpisah dalam melepas rindunya masing-masing.


Sesaat kemudian ciuman mereka terlepas. Di mana pria itu memandang wajah Vanya dengan lekat diikuti pelukan erat. "Aku mencintaimu, Van! Sangat-sangat mencintaimu!"


Kalimat itu bagaikan angin penenang yang masuk ke hati untuk menyejukkan ruang panas di dalam sana.


Vanya tersenyum. Dua tangannya menarik kepala Marco ke dalam dekapannya. Tempat ternyaman untuk pria itu melepas lelah.


Beban hidupnya terangkat sepenuhnya setelah bercinta dengan Vanya. Segala bentuk masalah hilang perlahan berganti ketenangan.


Mata pria itu terpejam damai dengan posisi kepala yang menyandar pada bagian favorit milik Vanya.


Dasar bocah manja, batin wanita itu ikut memejamkan mata juga.


Siang itu Marco tertidur nyenyak setelah mendapat jatah nutrisi terbaiknya. Pria itu melewati matahari tenggelam hingga jam makan malam pun tak ia dihiraukan. Vanya sempat membangunkan Marco berulang-ulan, namun tubuh lelah pria itu tak kunjung terangkat hingga pada akhirnya Vanya membiarkan Marco tertidur sampai pagi.

__ADS_1


Mata pria itu mulai mengerjap saat sinar surya yang menyilaukan dari arah jendela mulai mengusik tidurnya. Tangannya membelai permukaan seprai, mencari-cari kehangatan yang sangat ia butuhkan di pagi hari.


"Selamat pagi, Tuan!"


Terdengar suara Hero menyapa. Marco yakin ia hanya bermimpi karena kasihan terhadap Hero yang akhir-akhir ini sangat bekerja keras. Pria itu pun kembali memejam.


"Peluk aku, Van. Aku kedinginan." Bibirnya bergumam-gumam. Masih menepuk-nepuk seprai untuk menjangkau tubuh sang istri yang sulit sekali ditemukan dalam keadaan setengah sadar.


"Van ...." Matanya membola saat menyadari hanya ada ruang hampa di sampingnya. Ia begitu terkejut saat Vanya tidak lagi ada di atas ranjang bersamanya. Lebih terkejut lagi saat melihat Hero tengah berdiri di samping tempat tidur seraya menatapnya.


"Di mana istriku?" Marco tak sempat menanyakan sejak kapan Hero datang ke pulau sebrang. Pikirannya langsung menjurus negatif saat Vanya tak menjadi pemandangannya pagi ini.


"Selamat pagi Tuan. Sekarang nona sudah berada di tempat yang aman," jawab Hero pelan.


"Apa yang kau lakukan bodoh! Di mana kau menyembunyikan Vanya?" Marco begitu murka mendengar jawaban Hero yang mengandung arti ketidakjelasan.


Berharap semua ini hanya sebuah prank.


***


Kasih komen dan like buat yang mau nambah chapter...hari ini. wkkwkkw


 

__ADS_1


__ADS_2