
"Van!"
"Hmmm." Wanita berdeham tanpa kata. Wajahnya merona kembali saat Marco meletakan telunjuknya di atas bibir wanita itu.
"Semua yang aku dengar dari bibir ini nyata, 'kan? Aku bukan sedang bermimpi atau lain sebagainya?"
"Tampar aku sekarang Van!"
"Tampar!"
"Bantu aku tersadar dari mimpi indah ini!"
Satu cubitan mendarat gemas di pipi Marco. Pria itu memekik. Bola matanya melotot penuh sambil mengaduh-aduh sakit.
"Sakit bukan? Itu artinya semua yang kamu dengar juga nyata!"
Detik itu juga Marco langsung menghambur memeluk Vanya. Matanya berlinang penuh rasa haru nan bahagia.
"Akhirnya apa yang aku impikan selama ini jadi kenyataan, Van! Akhirnya aku mendengar pengakuan cintamu! Tidak ada hal lain yang aku tunggu-tunggu selain momen ini. Meskipun diucapkan dalam keadaan tidak tepat, aku bahagia sekali mendengarnya."
__ADS_1
Jantung Marco masih terus berdebar saat mengatakannya. Selaksa angin segar menyeruak masuk. Menyapu bersih semua rasa lelah yang tertumpu pada tubuh pria itu.
Marco seperti superhero yang mendapat kekuatannya kembali setelah hilang bertahun-tahun.
Meskipun sudah sering membayangkan akan mendengar momen indah seperti ini, tapi jantunggku masih saja belum siap. Ini jauh mendebarkan dari yang aku perkirakan, batin Marco.
"Tapi sebenarnya aku takut Co! Aku benar-benar takut! Aku takut kamu pergi meninggalkanku." Tangannya yang mengepal kuat mulai basah oleh keringat.
"Apa yang kamu takutkan? Sekarang aku ada di sini bersamamu! Aku tidak akan pernah meninggalkanmu jika kamu tidak menginginkannya." Dikecupnya pipi Vanya berkali-kali penuh rasa syukur.
"Aku takut kamu meninggalkanku seperti cerita-cerita yang ada di dalam film dan novel." Vanya merajuk di pelukan Marco. Masalah rumit yang sedang pria itu hadapi menjadi ketakutan terbesar yang merundungi benak hatinya saat ini.
Ia takut Marco goyah dan meninggalkannya. Karena butuh perjuangan dan pertimbangan sulit untuk Vanya agar bisa membuka hatinya seperti ini.
"Tapi aku juga takut kamu kembali pada Nadia. Meskipun kalian sudah pernah menegaskan tidak saling mencintai, tapi aku tetap saja takut wanita itu sebenarnya mencintai dan ingin merebutmu dariku. Karena yang aku tahu, wanita selalu memiliki rahasia tersembunyi di balik wajah ayunya."
"Contohnya seperti kamu!" Marco terkekeh sedikit. Membuat Vanya menggigit bahu pria itu sambil memukul-mukul punggungnya, sebal.
"Aku sedang serius! Dari segi hukum dia akan menang karena statusnya adalah istri pertama. Sementara aku yang dianggap wanita pengganggu akan tersingkir dengan sangat mudah!" Vanya kembali memandang Marco dengan wajah cemas.
__ADS_1
Guratan-guratan itu semakin kentara tatkala ia menyadari derajatnya yang begitu rendah. Perbedaan mereka sangat mencolok karena Vanya bukan anak bangsawan, atau setidaknya berada di kasta yang sama seperti Marco dan Nadia. Pasti sulit bagi seorang Marco mempertahankan orang seperti Vanya di sisinya.
"Itu tidak akan terjadi. Nadia sudah menyetujui surat perceraian yang aku ajukan. Setelah aku menstabilkan saham-saham perusahaanku, aku akan segera mengurus proses sidang itu secepat mungkin agar kita bisa bersama selamanya. Bersabarlah, kita pasti bisa menjemput bahagia setelah melewati cobaan ini."
Vanya merasa diterbangkan hingga melambung tinggi. Tapi ia wajib berpura-pura merajuk untuk menutupi kebahagiaannya. "Kupegang semua janjimu. Awas saja jika kamu berani melirik wanita lain di luar sana!"
"Tenang saja! Dari dulu kamu selalu satu tiga empat di hatiku!"
Vanya mengernyit.
"Tidak pernah ada duanya!"
Pelukan mereka terlepas. Vanya mengalungkan dua tangannya di pundak Marco. "Jangan menggombal! Urusan kita masih belum selesai. Aku ingin kamu menjelaskan semua yang sudah terjadi. Dari mulai kamu meninggalkanku di tempat ini sendirian, sampai kamu datang dengan wajah jelek ini!"
Pria itu tersenyum. "Iya, aku akan jelaskan semuanya. Tapi sebelum itu izinkan aku mengunjungi anak kita yang katanya sangat merindukan ayahnya." Lantas mendaratkan sebuah kecupan rindu di bibir Vanya. Membaringkan wanita itu pelan-pelan di atas ranjang.
"Tunggu dulu," lirih Vanya.
"Apalagi?" Marco memasang wajah cemberut saat wanita itu menahan dadanya dengan kedua tangan. Mereka kembali mengambil posisi duduk saling berhadapan.
__ADS_1
"Ada yang ingin aku tunjukkan kepadamu." Vanya sedikit mengangsur tubuhnya. Kemudian mendekati nakas untuk menarik gagang laci di bawahnya.
"Apa ini?" Marco menatap amplop putih yang baru saja diterimanya dari tangan Vanya. "Ini bukan surat perpisahan, 'kan?"