
Pusing yang melanda kepala ternyata tidak bertahan lama. Selang beberapa waktu setelah Marco dan Ella pergi ke sekolah, Vanya berpamitan pada nenek untuk memulai aktivitasnya bekerja di perkebunan.
"Nek, Vanya kerja dulu ya." Wanita itu meraih tangan nenek, lekas mencium punggung keriput nenek seperti rutinitas biasa saat ia hendak pergi ke luar rumah.
Nenek yang sedang duduk manis di depan televisi mendongak. Meneliti wajah Vanya yang saat di meja makan tadi sedikit pucat.
"Bukannya tadi kamu bilang pusing? Memangnya sudah sembuh?"
"Sudah, Nek! Tiba-tiba pusingku hilang begitu saja. Nanti tolong sampaikan pada Marco kalau Vanya sudah sembuh, dan langsung ke perkebunan."
"Ya sudah, hati-hati kamu! Kalau pusing lagi pulang. Jangan sampai membuat suamimu yang posesif itu marah-marah tak jelas!"
"Iya Nek!"
Vanya melangkah pergi. Nenek sendiri sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya di pekerkebunan. Kontraknya sudah habis, dan Vanya meminta nenek untuk jangan bekerja lagi.
Wanita itu khawatir nenek akan jatuh sakit karena terlalu lelah bekerja. Toh sekarang cucunya sudah menjadi milyader dadakan, dan pekerjaan di perkebunan hanya untuk kegiatan Vanya saja untuk menutupi kebosanan.
*
*
*
Tepat pukul delapan pagi, semua pekerja di perkebunan berpencar mengerjakan tugas yang sudah dibagikan oleh atasan. Beruntung hari ini Vanya mendapat pekerjaan cukup ringan.
Sambil sesekali bersenandung, wanita itu menghampiri satu-persatu pohon apel yang ada di perkebunan itu.
"Hei wanita sok jual mahal!" Vanya menoleh saat suara yang tak asing memanggilnya dengan begitu sarkasme.
Langkah sepatu bot pria itu bergesekan dengan rerumputan. Terus mendekat ke arah Vanya yang tengah menyemprotkan obat hama ke bakal bunga yang akan menjadi buah apel.
__ADS_1
"Selamat pagi Tuan Syam! Maaf sebelumnya. Jika Anda datang ke sini hanya untuk mengganggu saya, lebih baik Anda berhenti saja! Saya tidak punya waktu meladeni yang tidak penting!"
Vanya masih berusaha menunduk sopan. Meskipun pria itu sangat menyebalkan, Vanya masih menghargai kedudukannya di tempat ini sebagai mandor di perkebunan apel.
"Sombong sekali kau! Dasar wanita sok cantik! Apa kau berhenti menjadi buruh cuci di rumahku karena sengaja ingin menghindariku? Kau takut aku bertindak lebih dan memperkosamu di rumah?" Ia sedikit mencondongkan wajahnya ke arah Vanya hingga mesin penyemprot di gendongan wanita itu berguncang nyaris tumpah.
"Saya memang ingin berhenti," jawab Vanya.
Syam tampak semakin lebih murka mendengarnya. "Kau mau menjauhiku dengan cara sok jual mahal seperti itu?
"Saya memang ingin berhenti!" tegasnya sekali lagi. Gertakan Syam tak membuat Vanya takut sama sekali.
Selain menjadi mandor, Syam juga merupakan anak dari pemilik rumah tempat Vanya bekerja menjadi buruh cuci harian. Dan dari pekerjaan samping itu, ia mengenal Syam, sosok yang selama ini begitu menyukai Vanya.
Gara-gara cintanya selalu di tolak dan tak pernah kesampaian, Syam sampai berani mengeluarkan taringnya di tempat umum seperti ini. Ia merasa buntu dan sangat kepepet. Syam tak tahu lagi bagaimana caranya mengambil hati Vanya yang menurutnya sekeras batu.
"Aku mencintaimu Vanya! Tidakkah kau ingin memberiku kesempatan sedikit saja?"
"Jangan sembarangan Tuan Syam! Saya sudah berkali-kali menegaskan kalau saya sudah punya suami!" gertaknya sedikit ketus. "Apa Anda tuli?" lanjutnya.
Sekarang Vanya sedang berada di ujung perkebunan cukup sepi. Ia bisa saja teriak, namun tak mungkin ia melakukan itu karena dapat mengundang perhatian orang banyak.
Vanya yakin masih bisa mengatasi hal ini sendirian.
"Suami?" Syam meludah ke sembarang arah. Senyum kelicikan itu terbit sempurna dari bibirnya. "Suamimu adalah aku, Vanya! Cepat atau lambat kau akan menjadi istriku sepenuhnya. Jadi menyerahlah sebelum terlambat. Kali ini aku memberimu kesempatan untuk mengambil pilihan yang sangat menguntungkan."
Syam semakin merapatkan tubuhnya. Ia menarik tabung di punggung Vanya. Lantas menghempaskan tabung pembasmi hama itu ke sembarang arah hingga tumpah ke mana-mana.
Vanya yang sudah sangat geram sedikit berteriak. "Aku sudah memiliki suami! Suamiku kaya raya. Kupastikan dia akan membunuhmu jika kau berani macam-macam kepadaku!" hardik Vanya.
"Jangan banyak berhalu Vanya! Bahkan anakmu lahir tanpa seorang ayah. Jelas kau hanyalah wanita murahan yang sok jual mahal. Masih untung aku mau menerimamu dengan tulus! Tapi kau malah menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Dasar wanita bodoh! Tidak tahu diuntung."
__ADS_1
"Kau yang lelaki bajingan tidak bermoral!"
"Bangsat!"
Dicengkramnya bahu Vanya dengan kasar. Lantas ia hempaskan tubuh kecil itu hingga menghantam batang pohon apel tanggung. Vanya sedikit limbung akibat perlakukan Syam barusan.
"Kesabaranku sudah habis! Sebaiknya kamu diam. Ini adalah cara terbaik agar aku bisa memilikimu, perempuan murahan!"
"Lepaskan aku!" Vanya meludah di wajah sialan itu dengan wajah murka. "Atau aku akan teriak," ancam semakin berani.
Plakkk!
Satu tamparan mendarat kasar. "Beraninya kau meludahi wajahku yang berharga!"
"Kau kurang ajar padaku terlebih dahulu! Aku akan teriak agar semua orang datang memukulimu!"
"Teriak saja! Kita sedang di ujung perkebunan. Pekerja yang lewat pun jarang karena aku sudah mengatur semuanya!"
Syam tersenyum puas. Ia sengaja mengatur struktur tugas para buruh hari ini karena sudah berniat merencanakan aksinya dari jauh-jauh hari.
Dan ini adalah waktu yang tepat agar Vanya dapat ia miliki seutuhnya.
"Teriak saja! Aku tidak takut!"
*
*
*
Kalau kalian tebak Marco datang menjadi malaikat penyelamat terus gebugin si Syam, kalian salah besar. Kalau kalian tebak Vanya diperkosa juga salah. Ada sedikit pelajaran hidup yang akan aku ungkapkan di sini. Dan ini sangat menyakitkan.
__ADS_1