
"Teriak saja! Aku tidak takut!"
"Dasar pria sialan! Jangan harap kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau." Didorong dada Syam hingga posisi mereka sedikit menjauh. "Pergi!" teriaknya.
Vanya berusaha menunjukan keberaniannya pada Syam. Pria yang selama ini pura-pura bersikap baik pada Vanya itu mendekat. Semakin dekat hingga Vanya dapat merasakan napasnya yang dipenuhi hasrat-hasrat gila.
Bau alkohol menguar pekat dari bibirnya. Membuat Vanya semakin kalut karena saat ini Syam mungkin setengah tidak sadar diri. Pantas ia meracau tidak jelas sedari tadi, pikir Vanya.
Bugh!
Vanya menendang kaki Syam hingga pria itu hilangan keseimbangan. Tak mau kalah, Syam balas melakukan hal yang lebih gila.
Plak!
Tamparan dasyat melebihi gertakan yang tadi menghantam pipi Vanya. "Kau pikir aku tidak berani bersikap kasar padamu, j*lang! Asal kau tahu, semua kebaikan dan kelembutanku selama ini sudah habis dimakan kesombonganmu!" Suara Syam terdengar sangat menakutkan. Tak ada ramah-ramahnya sama sekali di setiap nada bicaranya.
"Sakit bukan? Itulah yang aku rasakan saat kau menolakku terus menerus.
Sudut bibir wanita itu berdenyut ngilu. Menghadirkan sebuah cairan merah yang perlahan menetes.
__ADS_1
Menarik napas panjang, otak Vanya terus berputar memikirkan bagaimana caranya lepas dari bajingan satu ini. Melawan orang mabuk dengan kekerasan dan kata-kata kasar sama sekali tidak ada gunanya. Vanya harus memikirkan cara lain jika masih ingin mempertahankan kehormatannya sebagai wanita.
"Apa maumu Tuan Syam?" Pertanyaan bodoh ia lontarkan demi mengulur waktu sedemikian rupa.
"Mauku?" Syam menyunggingkan bibirnya bengis. Ia cengkram lengan Vanya sekuat tenaga hingga urat nadi wanita itu setengah memucat. "Tubuhmu! Berikan saja tubuhmu secara sukarela jika tidak ingin merasakan sakit lebih gila!"
Syam semakin brutal. Tinggal satu gerakkan lagi, maka habislah Vanya di tangan pria itu. Namun sebuah keajaiban datang, Vanya mendapatkan sebuah ide berlian. Meski sedikit ragu, ia mencobanya.
"Akan kuberikan," jawabnya lantang.
Rasa nyeri pada bibir dan lengannya tak ia hiraukan sama sekali. Ia harus segera pergi dari belenggu Syam secepat mungkin sebelum pria itu melakukan tindakan lebih gila. Badan Vanya yang kecil jelas tak akan mampu jika dipakai untuk melawan pria bertubuh besar itu.
"Aku tidak mungkin melawanmu! Nikmati saja tubuh ini sesuka hati. Tetapi berjanjilah untuk tidak memberitahu siapa pun bahwa kita telah melakukan hal terlarang di perkebunan. Aku malu."
"Tsk. Sudah kubilang kau itu murahan. Kenapa tidak dari tadi saja kau menawarkan diri?" Syam tertawa puas. Tanpa sadar ia melepas cengkraman kuatnya pada lengan Vanya. Lantas menyeruakkan kepalanya di antara perpotongan leher wanita itu
Merasa mendapat sinyal kuat, Syam melingkarkan tangannya di pinggang Vanya. Ia hirup parfum beraroma mawar yang semakin memabukkan pikirannya. Syam mulai lengah, dan inilah saat yang tepat ....
Bugh!
__ADS_1
Vanya menendang rudal sensitif Syam sekuat tenaganya. Pria itu tersungkur. Memegangi bagian tubuh bawahnya yang mendadak hilang rasa sejenak.
"Sialan!" Syam menggeram kesakitan setelahnya. Rasa nyeri dan pengaruh alkohol yang mulai bereaksi di dalam tubuhnya membuat kepala Syam terasa pusing. Beberapa saat ia baru menyadari bahwa Vanya sudah tidak ada lagi di tempat itu.
"Berani-beraninya kau mengelabuhiku! Awas saja! Kali ini aku tidak akan mebiarkanmu hidup tenang Vanya!"
Sementara Vanya terus berlari secara membabi buta. Membelah perkebunan apel untuk mencari bantuan orang sekitar. Gudang tempat penyimpanan peralatan kebun terdekat menjadi tujuan utama wanita itu. Di sana ia akan aman karena banyak orang yang lalu lalang mengambil peralatan atau pupuk dan obat hama.
“Tolongg … tolong aku!” Mulutnya tak bisa tinggal diam mencari bantuan.
Vanya masih terus berlari sambil sesekali menoleh ke belakang. Ia begitu takut Syam berhasil mengejarnya sebelum sampai di tempat tujuan.
Bugh!
Di tengah ketakutannya, ia menabrak badan seseorang hingga tubuhnya tersungkur ke atas tanah.
***
Kalo bab berikutnya belum muncul sabar. Tungguin. Aku gak minta komen dan like karena aku yakin kalian akan melakukannya tanpa diminta.
__ADS_1